Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
29 part 2


__ADS_3

...Dilarang memplagiat, mengcopy, atau pun menjiplak karya ini!!!...


...Terimah kasih bagi yang sudah membaca cerita ini:)....


...Happy Reading❤....


Posisi yang sangat tidak nyaman bagi Denara, kenapa dia selalu terjebak dalam perdebatan antara Ares dan Tian. Niat menghindar, malah di pertemukan.


Apalagi Denara berdiri persis di tengah-tengah mereka, membuat Denara bingung untuk menghindari mereka berdua. Posisi ini sungguh-sungguh tak aman baginya.


Denara perlahan-lahan mulai mundur ke belakang, sembari mereka masih sibuk beradu tatapan tajam.


''Mau ke mana??'' Tanya mereka kompak, bahkan menoleh padanya juga kompak.


Denara langsung berhenti dan menatap ke arah Ares dan Tian dengan wajah bingung. Padahal dia sudah sepelan mungkin untuk berjalan, tapi mereka berdua dengan cepat menyadari Denara yang mulai beranjak pergi.


''Mau masuk, soalnya pekerjaan masih numpuk.'' Ucapnya.


''Bagus, masuk sana....'' Ujar Ares setuju.


Lalu Denara menatap ke arah Tian, sembari berkata. ''Nanti aku kabari, jika ada waktu luang.''


Dan di balas anggukkan oleh Tian, lalu Denara mulai beranjak masuk ke dalam rumah.


Sekarang, tinggal Ares dan Tian saja. Mereka berdua masih berdiri di posisi yang sama tanpa beranjak sedikit pun.


......................


Denara sudah menutup pintu rumah Ares, tapi tak sepenuhnya. Dia mencoba mengintip dari jauh walaupun tak kelihatan, karena rumah Ares yang sangat luas. Membuatnya tak bisa menatap Ares dan Tian dengan jelas.


''Semoga aja, mereka gak pake baku hantam.'' ucapnya, lalu menutup pintu dengan sempurna.


......................


''Apakah kau tak punya pekerjaan??'' Sindir Ares pada Tian.


''Tentu aku punya, memangnya apa urusanmu.'' Balas Tian sewot.


''Kalau begitu, cepat pergi dari rumah saya dan jangan kembali atau pun berkunjung ke sini!!!'' Usir Ares, terang-terangan.


''Hei, aku ke sini bukan untuk mengunjunggimu, melainkan menemui Denara.'' Ujar Tian mengingatkan Ares.


''Saya tak menerima alasan apa pun.'' Jawab Ares tegas.


''Aku sungguh penasaran, dengan tingkahmu yang mirip seperti orang yang cemburu.''


''Apakah kau juga menyukai Denara?? Atau mungkin memang suka.'' Sambung Tian.


Ares tak menjawab sama sekali, dia masih bingung dengan apa yang di rasakannya.


''Kenapa?? Apa aku benar,'' Kata Tian.


''Bukan urusanmu, untuk mengetahuinya.'' Ucap Ares memalingkam wajahnya.


''Bukan urusanku katamu?? Tentu saja ada Ares, jika kau menyukai Denara maka sudah di pastikan. Kau adalah sainganku.'' Jelas Tian.

__ADS_1


......................


Denara sudah selesai memasak, tapi sejak dia selesai sampai menghidangkan makanan di atas meja. Ares belum juga masuk ke dalam rumah juga sejak tadi.


Membuat Denara berpikir, jika Ares dan Tian benar-benar melakukan baku hantam untuk memyelesaikan masalah. Sama seperti anak-anak tawuran.


Dari pada pemikirannya yang mulai menduga-duga hal-hal yang tidak-tidak tentang Ares dan Tian, Denara memutuskan untuk keluar rumah. Bermaksud untuk memastikan saja. Jika pikirannya salah.


Gagang pintu mulai Denara tarik dan mulai berjalan keluar, tapi saat dia menatap ke arah depan. Pintu gerbangnya sudah tertutup.


''Apa mereka udah selesai debatnya.'' Gumannya.


Denara menolehkan kepalanya ke segala penjuru, untuk menemukan mereka. Tapi sepertinya, tak ada tanda-tanda mereka sama sekali di sana.


Denara lalu berbalik untuk kembali masuk ke rumah tapi sayangnya dia menabrak sesuatu yang keras, membuat dahinya merasakan sakit, bahkan tubuhnya sampai mundur beberapa langkah.


Tangan Denara mengusap dahinya pelan, lalu mendongakkan kepalanya ke atas, ternyata yang dia tabrak tadi bukanlah dinding beton. Melainkan dada Ares yang bidang serta berotot.


'Matilah kau Denara.' Batinnya gelisah.


''Maaf Tuan, saya gak tahu kalau Tuan ada di belakang saya.'' Ucap Denara menunduk, karena takut dengan wajah Ares yang akan marah.


''Hmm, memangnya apa yang di bicarakan orang itu padamu.'' Tanya Ares.


''Tian maksud Tuan??''


''Tentu, memangnya kau pikir siapa lagi yang mau berteman denganmu.'' Ujar Ares dengan wajah tampang dosa.


''Ohh itu, Tian mau mengajakku jalan-jalan bersama sore ini.'' Jawabnya bersemangat.


''Loh, kenapa. Bukannya tugasku sudah selesai?? Tuan bilang, aku boleh pergi jika pekerjaan sudah beres.'' Protes Denara.


''Kau melupakan satu hal Denara.'' Ujar Ares dengan tangan yang bersedakap dada.


''Apa???'' Balas Denara.


''Kau harus dapat izinku terlebih dulu, baru boleh pergi. Ingat kata itu....'' Ucapnya dengan sombong.


Membuat Denara bungkam, Ares ini memang pintar sekali merusak suasana. Padahal dia sudah membayangkan, tempat-tempat yang akan di kunjunginya. Apalagi itu gratis tanpa mengeluarkan biaya.


''Tuan?? saya selalu merasa aneh dengan tingkah Tuan yang luar biasa ini.'' Ucap Denara dengan penekanan.


''Aneh bagaimana??''


''Coba saja Tuan ingat-ingat, setiap kali saya dan Tian dekat. Pasti Tuan selalu marah-marah dan sensi terhadap Tian, seperti wanita yang sedang pms.'' Dengan mata yang di buat serius mungkin.


''I-itu karena saya tak suka saja.'' Ucap Ares gugup.


''Sungguh bukan maksud lain,'' Kata Denara, yang mulai melangkah maju ke arah Ares.


Ares mulai berjalan mundur ke belakang, saat Denara yang mulai dekat.


''T-tentu, me-memangnya hal lain apa!!'' Jawab Ares yang masih berjalan mundur.


''Mungkin saja Tuan cemburu..'' Ucap Denara tersenyum manis.

__ADS_1


Deg...


Deg...


Deg...


Melihat itu, membuat jantung Ares langsung berdetak kencang, Ares merasa sudah lama sekali jantungnya bereaksi seperti ini. Hanya karena senyum Denara, jantungnya berdegup kencang.


''Tuan.... Tuan...'' Ucap Denara yang melambaikan tangan di depan wajah Ares.


'Kenapa Tuan melamun seperti ini??' Batin Denara.


''TUANN...''


Teriakkan itu, berhasil membuat Ares tersadar. lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah menuju kamarnya, meninggalkan Deabra yang masih berdiri di depan pintu.


......................


Malam telah tiba, waktu Tian untuk berangkat kerja. Rasanya sudah lama sekali baginya, tak bekerja setelah libur panjang.


Suasana ramai serta bau-bau alkohol yang kuat adalah makanan sehari-hari yang selalu di dapat oleh Tian saat bekerja.


''Tian, akhirnya kau muncul juga.'' Sapa teman kerjanya.


''Tentu, apakah belakangan ini ramai???'' Tanya Tian, yang sudah berdiri di balik meja.


''Tentu saja, populasi di sini semakin bertambah. Membuatku kualahan.'' Jelasnya.


Benar apa yang di ucapkan oleh teman kerjanya, Club ini akan selalu bertambah ramai setiap malam. Dan akan sangat heran baginya, jika tempat ini sepi, dari lautan manusia seperti ini.


''Kau, benar.'' Jawab Tian.


''Tapi kenapa wajahmu terlihat tak senang, bukannya liburanmu menyenangkan??'' Tanya.


Membuat Tian menoleh ke arah teman kerjanya, ini sama sekali tak ada kaitannya dengan liburan. Tian hanya memikirkan perkataan, Ares saat mereka berdebat tadi. Dan hal itu membuatnya sedikit terganggu.


Flashback on


''Bukan urusanku katamu?? Tentu saja ada Ares, jika kau menyukai Denara maka sudah di pastikan. Kau adalah sainganku.'' Jelas Tian.


Ares kembali menatap Tian, lalu berkata.


''Saya tak tahu dengan hal itu...." Lalu Ares menaruh tangannya persis, di mana jantungan berada.


"Tapi satu hal yang akan terjadi ketika saya berada di dekatnya atau pun hanya melihatnya saja. Entah kenapa di sini, selalu berdetak kencang. Apakah itu juga bisa di sebut dengan rasa suka?? Tian.'' Sambung Ares, sambil menatap ke arah Tian.


Flashback off.


Bersambung......


...................


Apa yang bakalan terjadi selanjutnya???


Yuk berikan dukungan pada cerita ini, dengan cara like, vote, favorit dan rate 5😊. Karena itu adalah semangat buat Dao up dan nulis.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya yah🐣, sayonara 👋🏻


__ADS_2