
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!...
...Happy reading....
... Typo bertebaran....
Denara sudah merasa lebih baik saat ini, setidaknya untuk saat ini Jesi tidak akan menganggunya lagi. Denara bahkan sudah tampak cerah dan riang saat ini.
''Ra.... Ra.... Kamu udah lihat gosip belum.'' Heboh Lili pagi-pagi.
Lili memang orang yang cukup banyak bicara, tapi meskipun begitu. Denara tetap menyukainya, walau pun terkadang berisik.
''Apaan sih Lili pagi-pagi juga, gosip mulu nih pikirannya.'' Balas Denara yang sedang memgelap meja.
''Ih... Ini lagi heboh loh Ra, nyesel kamu kalo gak tahu.''Balasnya.
''Apa??''
''Ini baca.'' Menyodorkan majalah gosip padanya.
Di sana tertulis jika, Ares dan Jesi membatalkan peetunangannya secara tiba-tiba. Hal ini tentu saja membuat Denara terkejut sekaligus panik.
Karena pikirannya teringat tentang ingatan Jesi yang dirinya ancam wakru itu, Denara takut. Jika ini ada sangkur pautnya dengan hal itu.
''Ra, kok ngelamun sih?? Orang di ajak ngobrol juga.''
''Li, aku ke belakang bentar. Kamu lap aja mejanya.'' Memberikan Lap itu pada Lili.
''Ihhh.... Denara....'' Kesalnya.
......................
Ares sedang berhadapan dengan Jesi saat ini, hal yang waktu itu terjadi di rumahnya ternyata tidak membuat Jesi untuk menyerah.
Meskipun Om Bima sudah lepaskan semuanya, tapi hal itu tampak berbeda bagi Jesi. Jesi sepeetinya tidak mau melepaskan semuanya termasuk pertunangan itu.
''Kau pasti sudah pahamkan, aku susah membatalkan semua.'' Ucap Ares.
Jesi yang mendengar itu, langsung saja melempar majalah gosip tepat di meja Ares.
''Apa maksudnya ini Ares!!!!!'' Marah Jesi.
''Bukanya kau sudah melihatnya??''
''Kau sudah keterlalulaan Ares, apakah harus samapai melakukan hal ini!!!'' Pekik Jesi.
''Aku melalukan itu, karena aku tidak ingin wartawan mengejarku lagi dan mempertanyakan hal yang tidak perlu.'' Balasnya.
''Apakah sebegitu inginnya kamu menjauh dariku??? Kenapa Ares!!!''
''Jangan mempertanyakan hal yang sudah kamu ketahui sendiri jawabannya.''
......................
Jesi membanting pintu mobil miliknya dengan cukup kuat, hal itu tentu saja karena saat ini dirinya sedang marah. Jika Ares berpikir Jesi akan memyeeah begitu saja. Maka Ares salah, karena Jesi akan membalaskan semua rasa sakit yang dirinya rasakam saaf ini pada Ares.
''Membalas adalah cara yang paling tepat, yang ku lakukan saat ini.''
......................
''Ra, kamu baik-baik aja??''
Denara memgangguk dengan lesu.
''Ra kenapa sih, lemes amat. Lagi sakit yah??''
Denara menggeleng.
__ADS_1
''Lagi diem.''
Denara menarap datar ke arah Inem. Sedangkan Inem hanya terkekeh, dirinya cukup tahu Denara saat ini. Dirinya hanya ingin menghibur Denara demgan membuat lelucon lucu.
''Santai dong Ra mukanya. Akukan nanti terpesona.''
''Gak lucu yah Nem, orang aku lagi gak bercanda.''
''Kamu udah lihat, berita tentang Ares??''
''Hmm.''
''Terus gimana??''
''Gak tahu, aku gak mau pikirin pusing.''
Denara beranjak dari dapur menuju kamar.
......................
Pagi mulai menyapa, Ares mulai membersihkan diri serta bersiap untuk pergi ke kantor. Bu Siti sudah menyiapkan sarapan untuknya. Bu Siti merupakan Istri dari Pak Tejo. Mereka memang tinggal bersamanya.
Sebelum ada Denara pun, Bu Siti memang srlalu masak dan bersih-bersih di rumahnya. Meskipun Ares melarangnya, tapi Bu Siti tidak mau. Dia bilang, jika beberes serta memasak bukan lah pekerjaan yang berat baginya.
''Makasih Bu Siti.''
''Panggil Bibi aja Tuan, gak usah panggil Ibu. Saya teh gak enak.''
''Gak apa-apa Bu, saya sudah terbiasa memanggil Ibu seperti itu.''
''Makasih banyak, atas bantuannya selama ini.''
''Gak usah sungkan Bu, saya sudah anggap Ibu sama Pak Tejo. Keluarga sendiri.''
......................
''Sejuk...'' Gumannya.
Tapi saat di belokkan. Denara tiba-tiba saja melakukan rem mendadak. Bukan apa-apa, di depannya saat ini.
Terdapat 3 orang laki-laki berbadan besar menghadangnya, jika kalian bertanya apakah Denara takut. Tentu saja jawabannya adalah iya.
''Ikut bersama kami.'' Ucap salah satunya.
''Tidak mau.'' Denara mulai memundurkan sepedanya.
Melihat itu, tentu saja mereka bergerak cepat. Dan segera menahan sepeda Denara.
Denara yang merasakan sepedanya di tahan, sontak saja melepaskannya dan segera melarikan diri.
''Kejar dia!!!!!'' Pekik salah satu laki-laki berbadan besar itu.
Denara berlari sekuat tenanga yang dirinya bisa, kaki kecilnya mencoba menghindari kejaran 3 orang yang berada di belakanganya.
''Hosh. . Hosh.... Kenapa mereka mengejarku.'' Ujarnya sambil berlari.
Denara berbelok, ke kanan dan ke kiri. Hal itu di lakukannya untuk mengecoh mereka. Tapi semuanya itu sepertinya sia-sia saja. Karena mereka sama sekali tidak kelihatan lelah mengejarnya.
Berbanding terbalik dengan Denara, yang sudah penuh dengan keringat dan tenaganya juga sudah mulai habis. Karena berlari.
''Heiii.... Berhentilah!!!!''
Tapi Denara tidak menurutinya, dirinya terus berlari. Sampai ada orang yang tiba-tiba muncul di depannya. Membuat Denara kaget dan alhasil berhenti berlari.
Hal itu di manfaatkan oleh orang yang berada fi belakang Denara, orang uang mengejarnya tado sudah mendekat.
''Lepaskan, apa yang kau lakukan!!!''
__ADS_1
''Kau harus kami tangkap.''
''Lepaskan atau aku teriak.''
''Lakukan saja, itu hanya sia-sia saja.''
''TOLONGGG..... TOLONG...... TOLONG....''
Teriakan Denara benar-benar tidak berguna sama sekali.
''Bukankah sudah ku bilang jika itu sia-sia.''
Bug...
Tubuh Denara langsung jatuh pingsan karena pukulan di tengkuknya. Dengan sigap mereka membawa Denara dam memasukkannya ke dalam mobil.
''Bos, kami sudah membawanya.'' Ucap salah satu dari mereka.
''Kembalilah dan taruh dia di tempat itu.'' Ujar telpon di sebrang sana.
''Baik..''
Setelah menutup telpon, laki-laki itu mulai melajukan mobilnya.
......................
Inem merasa khawatir saat ini, semenjak tadi. Denara sama sekali belum pulang. Padahal ini sudah jam pulang Denara biasanya.
Inem juga bertanya pada Lili, tapi Lili bilang. Jika Denara tidak berangkat kerja hari ini. Tapi itu mustahil, karena Denara tadi pagi. Benar-benar pamit padanya.
''Ra, angkat telponnya dong. Kamu kemana sih???''
Sudah lebih dari 20 kali, Inem mencoba menghubungi ponsel Denara. Tapi hasilnya srlalu nihil, Denara sama sekali tidak mengangkatnya.
''Ra, kamu baik-baik ajakan..'' Gumannya takut.
......................
Ares sudah selesai membereskan berkas-beekas yang akan dirinya bawa pulang, untuk di kerjakan di rumah.
Tringg....
Tringgg.....
Tringgg....
Ponselnya terus berdering, pertanda ada pesan yang masuk.
Ares lalu mengambil dan membukanya.
''Nomor tidak di kenal.'' Melihat layar ponselnya.
''Foto??''
Saat melihat itu, Ares seketika terbelalak. Di dalam foto itu, terdapat Denara yang diikat di kursi dan bukan itu saja. Denara sedang pingsan bahkan mulutnya juga di tutup dengan lakban.
Ares langsung saja menelpon nomor tersebut.
''Jangan pernah menyentuhnya sedikit pun, jika kau menyentuhnya sedikit saja. Aku pastikan kau akan mati di tanganku.''
''Aku bukan tipe orang yang menurut, terlebih lagi dia sangat cantik.''
''Brengsek..... Ku peringatkan padamu. jangan macam-macam.''
''Datanglah dan selamatkan dia, jika kau berhasil kami tidak akan menyentuhnya. Tapi jika kau gagal, maka dia milik kami.''
...Bersambung.......
__ADS_1