
...Dilarang Plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃....
Resa memutuskan untuk menolong Ares, menolak perjodohan ini. Sebenarnya Resa belum sepenuhnya mengenal Denara. Tapi Resa sangat yakin, jika Denara adalqh orang baik.
Resa bukan asal saja, menilai Denara. Zion adalah orang yang cukup pemilih dan cukup tahu dengan orang yang mempunyai maksud tidak baik.
Dan sejauh ini, Zion sangat dekat dan menyanyangi Denara seperti keluarga. Hal itu sudah bisa Resa nilai, jika Denara adalah orang yang cukup pantas bersama Ares.
''Kenapa Mama panggil Resa??''
Saat ini Resa berada di kediaman orang tuanya, Mamanya memintanya untuk datang dan membicarakan suatu hal padanya.
''Mama mau minta bantuan kamu, soal perjodohan Ares...''
'Kenapa semua orang meminta bantuanku??' Batin Resa.
''Kamu tahukan, bagaimana Ares menolak keras hal ini. Dan Mama juga tahu, jika Ares cukup menurut padamu. Jadi Mama meminta bantuanmu untuk membujuk Ares agar setuju dengan perjodohan antara Jesi dan juga dirinya.'' Memegang tanga Resa sambil menatapnya.
''Ma.. Resa sepertinya tidak bisa membantu Mama.''
''Kenapa?? Apa kamu setuju juga dengan Ares yang menolak hal ini.''
Resa tahu ini salah, tapi dia tidak bisa melihat Adiknya yang nantinya tudak bahagia dengan hal ini. Jika dia membantu orang tuanya.
''Maaf Ma..'' Ucap Resa.
''Kenapa kamu tidak mau membantu Mama Resa, apa kamu mau Ares bersama pambantu itu yang jelas-jelas tidak baik untuk Ares.''
Resa tahu, kenapa Mamanya melakukan hal ini. Terlebih lagi kejadian Clarissa yang cukup membuatnya protektif terhadap Ares. Resa bahkan masih mengingat jelas, Gosip-gosip serta hal-hal yang tidak mengenakan terkait hubungan adiknya bersama Clarissa.
Dan parahnya lagi, Clarissa yang hanya memanfaatkan Ares karena kekayaan serta ketenaran yang di miliki oleh Ares.
Awalnya Resa juga menilai Denara seperti itu, tapi setelah mendengar semua cerita tentang Denara dari Zion. Penilaian Resa seolah-olah berubah dan mulai mencoba menerima hubungan Ares dan Denara.
Bahkan dia juga ikut membantu Ares, untuk menolak perjodohan yang akan di lakukan orang tuannya.
''Ma, Denara tidak seperti apa yang Mama pikirkan. Percayalah sama Resa.''
Bu Eni yang mendengar itu tentu saja kaget, dirinya tidak menyangka jika Resa akan mendukung Ares mengenai hubungannya dengan pembantu itu.
''Resa, kamu nenar-benar membuat Mama terkejut. Bagaimana bisa, pembantu itu meracuni pikiran anak-anakku.''
''Mah, bukan seperti itu. Denara gak sama sekali mempengaruhi Resa.''
''Jika kalian bersikeras, Mama tidak punya pilihan lain. Selain memgambil tindakan tegas.''
Mamanya tampak berjalan ke kamar untuk mengambil tas dan berteriak memanggil penjaga yang biaaanya ikut bersama Mamanya.
Penjaga yang sengaja di sewa oleh Papanya demi keamanan keluarga mereka. Bukan hanya Mamanya saja, Resa dan Ares juga memilikinya meski pun mereka sudah dewasa.
Resa mengikuti langkah Mamanya yang keluar dari rumah. Zia kebetulan bersama pemgasuhnya saat ini. Jadi Resa bisa mengejar Mamanya yang hendak menaikki mobil.
__ADS_1
''Mama mau kemana??'' Memukul-mukul kaca mobil yang sudah tertutup.
Tapi Mamanya seakan-akan tidak menghiraukan Resa yang sejak tadi memanggilnya.
''Jalankan mobilnya Pak,'' perintah Mamanya yang berada dalam mobil.
Resa yang melihat itu tentu saja panik, dia merasakan hal yang tidak enak akan segera terjadi.
......................
Ares merasa tidak enak sejak tadi, hingga Resa menelponnya dan mengatakan jika Mamanya pergi. Tapi yang Ares takutkan adalah, jika Mamanya itu akan pergi ke rumahnya dan menemui Denara.
''Deni urus meeting nanti, saya harus pulang sekarang.'' Ares yang bersiap mengambil kunci mobilnya.
Deni yang mendengarkan itu, hanya mengangguk patuh.
......................
Zion baru saja akan bermain sepeda hari ini. Ini merupakan sepeda yang di belikan oleh Ares karena Ziom berhasil membuat Denara dan dirinya berbaikan.
Sepeda yang di pakai oleh Zion, tentu saja bukan sepada yang murah harganya. Terlebih lagi, Zion yang sangat menyukai barang-barang mahal.
Dan hal itu juga, sudah di ketahui oleh Ares dan keluarganya yang lain. Jadi tidak heran bagi mereka, jika melihat Zion dengan barang-barang mahal serta bermerek yang selalu di gunakannya.
Zion mengayuh sepeda baru miliknya, untuk berjalan-jalan di jalan komplek perumahan Ares. Jalan cukup sepi, hingga Zion sedikut leluasa untuk bermain-main.
Zion cukup menyukai bersepeda, terlebih lagi jalan yang sepi dari kendaraan bermotor dan mobil.
Saat di belokkan, Zion sedikit menggerem sepadanya untuk berhenti paksa. Bukan tanpa alasan Zion melakukan hal itu.
''Nenek, kenapa ada di sini.'' Memperhatikan mobil itu berbelok.
Zion yang merasa akan terjadi sesuatu, memutuskan untuk putar arah. Zion melakukan itu, karena ingin mengambil jalan pintas dan bisa sampai terlebih dulu dari pada Neneknya.
Cukup cepat Zion menggayuh sepada miliknya, bahkan keringat sudah membasahi baju kaos miliknya.
Zion melihat ke arah dalam rumah Ares dan untungnya Zion lebih dulu sampai di sana. Dengan tergesa-gesa, Zion memarkirkan asal sepedanya dan berlari masuk ke dalam rumah.
......................
Bu Eni turun dari mobil miliknya, pintu rumah Ares perlahan terbuka karena Zion yang membukakannya.
Zion menatap ke arah Neneknya dengan senyum dan tentu saja hal itu di balas juga dengan senyuman.
''Kamu sudah makan, cucu Nenek??'' Mengelus kepala Zion.
Zion memgangguk.
''Nenek ke sini ingin ajak Zion pergi??''
Bu Eni menggeleng dan mengandeng tangan Zion agar masuk ke dalam rumah.
''Nenek hanya ingin bertemu dengan seseorang.''
__ADS_1
Zion tahu siapa yang di maksud oleh Neneknya.
''Kak Dena maksud Nenek??''
''Anak pintar, bisa panggilkan. Nenek ingin bicara.''
Zion sungguh bingung, jika Zion menuruti Neneknya. Ziom yakin jika Neneknya akan melakukan sesuatu pada Kak Dena. Tapi jika dia tidak patuh, maka Zion akan berdosa. Karena tidak patuh akan perintah orang yang lebih tua darinya.
''Baiklah, Zion akan panggilkan.''
Dengan berat hati, Zion memutuskan untuk memanggil Denara yang sedang beristirahat di kamarnya.
Beberapa kali Zion mengetuk, hingg pintu kamar Denara terbuka.
''Kakak Dena, Nenek ingin bicara.''
''Nenek??''
Zion mengangguk pelan.
''Ada di sini???'' Zion mengangguk lagi.
Denara cukup takut bertemu dengan Bu Eni, terlebih lagi hubungan mereka tidak baik. Setelah Denara berpacaran dengan Ares, lebih tepatnya.
Denara menutup pintu kamarnya dan berjalan ke ruang tamu dengan Zion yang berjalan di sampingnya.
Bu Eni yang melihat Denara datang ke arahnya, lantas saja Bu Eni berdiri sambil bersedakap dada dan menatap Denara dengan remeh.
''Saya tidak tahu bagaimana cara kamu memghasut Ares, Resa bahkan Zion sekali pun agar percaya dengan kebohonganmu.'' Kata-kata pedas itu keluar begitu saja dari Bu Eni.
''Saya tidak pernah menghasut mereka Nyonya.'' Jawab Denara.
''Jangan berlagak tidak tahu kamu, saya paham betul orang-orang seperti kamu. Terlebih lagi kami cukup kaya untuk kalian kuras hartanya.''
Kenapa orang selalu memandang rendah dirinya, hanya karena perbedaan kasta. Jika Denara bisa memilih, dirinya juga tidak ingin hidup seperti ini.
''Kenapa Nyonya begitu tega mengatakan hal itu.'' Dengan mata yang berlinang air mata.
''Saya bukan Ares yang akan luluh dengan air mata buaya yang kamu tunjukkan saat ini.''
Sungguh Denara tidak bohong, perkataan Bu Eni cukup menyanyat hatinya. Bahkan dirinya sampai menanggis.
''Saya tidak mau ada drama lagi, sudah cukup bagi saya Clarissa saja dan saya tidak ingin kejadian yang sama terulang yang akan di sebabkan oleh orang seperti kamu.''
Zion melihat itu tentu saja sedih bahkan saat ini tangan Zion sedang menggengam tangan Denara, untuk menguatkan Denara.
''Saya kan mengambil keputusan yang sangat tegas, terlebih lagi perjodohan Ares dan Jesi sudah saya tentukan tanggal pertunanggannya. Jadi saya tidak mau, karena hubunganmu dengan Ares saat ini merusak semua yang sudah saya rencanakan.''
Denara menanggis dalam diam, dia sungguh merasa tidak bisa melawan atau pun membela diri ketika berhadapan dengan Mamanya Ares saat ini.
''Saya memecat kamu untuk bekerja di rumah Ares dan saya minta, kamu keluar dari rumah ini sekarang juga.''
...Bersambung......
__ADS_1
......................