
...Dilarang menjiplak, plagiat atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Typo bertebaran, harap maklum😅....
...Happy Reading🍃...
Ares benar-benar merasa, jika beberapa hari terakhir ini Denara terlihat sekali menghindarinya. Bahkan saat sarapan, makan siang, dan makan malam pun, Denara selalu bersembunyi darinya.
Apakah Perasaannya membuat Denara merasa terbebani, atau jangan-jangan Denara sudah memilih Tian secara diam-diam. Karena itulah Denara selalu menghindarinya untuk menjaga perasaan Tian agar tidak terluka karena dekat dengannya begitu???
Ares memgacak rambutnya dengan kesal, ketika memikirkan hal itu.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus meminta kejelasan tentang masalah ini!!!"
Ares membuka pintunya dengan kasar dan berjalan ke arah kamar Denara yang tertutup. Ares mulai mengetuk pintu kamar Denara dengan cukup kuat.
Tapi Denara masih belum juga membuka pintu, Ares benar-benar geram dengan sikap Denara terkesan seperti pencuri yang bersembunyi dari kejaran Polisi. Padahalkan seharusnya Areslah yang malu karena menyatakan perasaannya pada Denara, bukanya Denara yang malah bersembunyi seperti ini.
Tok...
Tok...
Tok...
"Denara buka pintunya, kita harus bicara!!!" Ujar Ares, sambil mengetuk pintunya.
Beberapa kali pun Ares bersuara dan berteriak. Pintu sama sekali tidak di buka, bahkan di sahut pun tidak oleh Denara.
......................
''Om, ngapain sih pagi-pagi teriak mulu.'' Zion datang menghampiri Ares setelah mendengar teriakkam serta omelan Ares.
''Gak usah tanya-tanya, main sana.'' Balas Ares.
Zion menatap malas ke arah Ares yang masih berdiri di depan kamar Denara, bukan hanya berdiri saja. Omnya ini bahkan mengulangi lagi kegiatan yang sebelumnya di lakukan oleh Omnya.
Zion yang tadinya semangat ingin menonton kartun, seketika tidak mood, melihat tingkah Ares yang membuatnya sakit kepala.
''Mau berapa kali pun Om ketuk pintu itu, Kak Dena gak bakalan keluar sama sekali.''
''Kenapa???''
''Orang Kak Denanya gak ada di kamar, Barusan aja tadi pergi beli sayur sama lauk pauk.''
Jadi tingkah Ares seperti tarzan tadi adalah hal yang sia-sia, orang yang dicarinya saat ini sedang tidak ada di rumah. Kenapa Zion tidak memberitahunya saja sejak tadi.
''Bukannya Zion gak mau kasih tahu Om, Cuman Omnya aja yang keasikkan teriak-teriak sambil ketuk-ketuk pintu kamar Kak Dena.'' Seakan-akan mengerti dengan tatapan mata yang Ares layangkan padanya.
''Tapi, Zion sedikit penasaran sama Om dan Kak Dena.'' Sambung Zion.
__ADS_1
''Apa??'' Jawab Ares, yang mulai berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air minum.
''Kenapa Kak Dena terlihat anti sekali sama Om belakangan ini, apakah terjadi sesuatu??''
''Perasaan kamu saja,'' balas Ares singkat.
''Om, Zion nanyanya beneran yah, kalau Om gak mau kasih tahu Zion. Zion bakalan biarin Om Tian main ke sini, terus Kak Dena sama Om Tian dekat deh'' Ucap Zion santai.
''EHHH ENAK AJA...'' Teriak Ares spontan.
''Makanya kasih tahu Zion,'' Rayunya pada Ares.
''Bocah nakal ini benar-benar,'' geram Ares pada Zion.
''Kasih tahu Om, kita ini sama-sama lelaki.'' Ujar Zion seperti orang dewasa.
''Lelaki apanya kamu, orang kecil kayak gini.'' Cibir Ares.
''Om jangan mengalihkan pembicaraan, Zion nanyanya serius ini!!'' Tuntutnya pada Ares.
''Om mengatakan perasaan suka padanya,'' Ucap Ares tanpa melihat Zion.
''Sungguh?? Jadi Om sama Kak Dena adalah pasangan begitu.'' Dengan semangat serta senyum manis di wajah Zion.
''Kenapa malah kamu yang jadi senyum-senyum begini,'' Heran Ares.
Ares menutup mulut Zion menggunakan tangannya, hal itu membuat Zion tidak bisa bicara dengan benar.
''Bocah nakal, kenapa pagi ini kamu cerewet sekali.''
Zion yang di perlakukan oleh Ares seperti itu, tentu saja kesal. Dengan segera Zion mencoba melepaskan tangan Ares dari mulutnya, tapi tidak bisa.
''Jika kamu tidak cerewet lagi, Om akan lepaskan.''
Ziom mengangguk, berharap Ares segeea melepaskannya.
''Baiklah,'' tangan Ares sudah terlepas, bersamaan Dengan Denara yang pulang dari membeli sayur dan lauk pauk.
Denara benar-benar lupa, jika hari ini Ares tidak bekerja. Pantas saja sejak tadi Denara tidak mendengar suara mobil, piki Denara.
''Saya rasa, kau sudah tidak bisa menghindar lagi dari saya Denara,'' papar Ares.
Benar apa yang Ares katakan, sudah beberapa hari ini Denara terlihat dengan sangat jelas, jika Denara sedang memghindar dari Ares sejak hari itu.
Denara sudah benar-benar tidak bisa menghindari lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dengan pasrah Denara mengikuti langkah kaki Ares, yang melangkah ke sofa ruang tamu.
''Duduk,'' perintah Ares.
Dengan masih memegang kantung belanjaan di tangannya, Denara perlahan mulai duduk di sofa. Ares dan Denara duduk dangan posis bersebrangan. Dengan posis seperti ini, Denara benar-benar merasa canggung akan keadaan ini.
__ADS_1
''Apakah lantai rumah ini, lebih bagus dari wajah saya???'' Perkataan Ares membuat Denara tidak lagi menunduk.
''T-tidak Tuan,'' dengan pelan.
''Kau pasti tahukan, kenapa saya menyuruh kau ke sini.''
Denara mengangguk.
''Jadi Denara, apa jawabanmu mengenai hal yang saya katakan kemarin dan temasuk juga jawaban kau mengenai perasaanya.''
Denara merasa sangqt terjebak dengan keadaan ini, apakah Ares tidak bisa memberikannya waktu yang lebih banyak lagi?? Saat sekarang saja, Denara masih belum menemukan jawabannya.
''Mengenai itu, saya....'' Ucap Denara menfgantung.
''Belum bisa menjawabnya,'' Sambung Denara.
''Kenapa??? Apakah kau sudah berpacaran dengannya, hingga tidak bisa menjawab pernyataan saya begitu!!'' ucap Ares kesal.
Denara yang tadinya bingung, kini ikut-ikutan kesal seperti Ares. Bukannya Ares yang tadinya ingin mendengarkan jawabannya, tapi kenapa daat mendengarkan jawabannya. Ares nampak kesal.
''Loh, kenapa malah Tuan yang jadi kesal. Saya bahkan belum menyampaikan jawaban saya pada Tian, tapi kenapa Tuan malah bisa berpikir seperti itu.'' Sewot Denara.
Apakah tadi Ares tidak salah dengar, jika Denara baru saja bilang, kalau Denara juga belum menyampaikan jawabannya mengenai pernyataan Tian.
''Jadi, kamu belum juga menyampaikan jawabanmu pada Tian??'' Tanya Ares.
''Belum,'' balas Denara.
Perlahan-lahan senyum tipis Ares mulai muncul di wajahnya. Membuat Denara bingung, kenapa bisa Ares berubah secepat ini, pikur Denara.
''Baguslah kalau begitu, saya mau ke kamar dulu.'' Bangkit Ares dan berjalam ke arah kamar.
Denara benar-benar di buat bingung dengan tingkah Ares yang suka berubah-ubah, kadang marah, kadang cuek, dan juga terkadang baik.
......................
Ares hanya tersenyum-senyum saja, saat mendengar perkataan Denara tadi. Sungguh Ares sama sekali tidak mengerti, kenapa dia bisa bertingkah seperti ini.
''Setidaknya aku bisa tenang sesaat, saat tahu kalau Tian juga belum mendapatkan jawaban dari Denara.'' Ujar Ares tersenyum sambil berdiri dengan bersandar di pintu kamarnya.
Bersambung...
......................
Hola pembaca👋🏻.
Jangan lupa dukunganya seperti, like, vote, komen, favorit, rate 5. Biar Author semangat buat nulis dan cepet upnya.
Sayonara👋🏻.
__ADS_1