Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
55 part 1


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak atau pun memgcopy karya ini!!!...


...Happy reading🍃....


...Typo bertebaran.....


Denara sudah keluar dari rumah sakit 1 minggu lalu, Denara kembali ke kostan Inem. Sebenarnya, Ares menyuruhnya kembali kerumahnya. Tapi hal itu di tolak dengan tegas oleh Denara.


Meskipun di sana tidak hanya Ares yang tinggal melainkan Pak Tejo dan Istrinya terkadang juga, anak Pak Tejo juga datang untuk bantu-bantu.


Denara merasa tidak enak saja, karena mereka sangat tidak baik tinggal bersama. Terlebuh lagi status mereka yang pacaran bukan lagi pekerjan dan bos, seperti dulu.


''Aku bakalan ke sini tiap hari.'' Ucap Ares saat menurunkan beberapa tas berisi pakaian milik Denara.


''Gak usah aneh-aneh deh..'' Balas Denara.


Denara merasa, jika Ares sudah sangat mirip dengam orang tuanya. Terlebih lagi Ibunya.


''Aku berasa punya Ibu di sini...'' Celetuk Denara.


''Siapa??'' Tanya Ares.


''Yah kamulah, masa aku.'' Sambung Denara.


''Lah kan kamu emang Ibu...'' Ujar Ares.


''Ibunya anak-anak kita, maksudku..'' Lanjut Ares sambil tersenyum pada Denara.


Memdengar itu, tentu saja dirinya malu. Meskipun kata-kata itu sering dirinya dengar dari sinetron serta film-film yang dirinya tonton.


Tapi, entah kenapa saat Ares mengatakannya. Denara merasa berbeda dan tentu saja senang.


''Udah deh, gak usah ngombal. Basi tahu gak..''


''Basi-basi, tapi senyum juga..'' Cibir Ares.


......................


Jesi tidak menyangka, jika akhirnya akan seperti ini. Awalnya, Jesi tidak ingin melakukan hal itu. Tapi, melihat Ares yang cuek dan srlalu saja mengingat Denara membuatnya kesal bukan main.


Emtah kenapa, Jesi selalu merasa kalah jika bersanding dengan Denara yang hanya pembantu rumah tangga saja.


Penculikan itu, sebenarnya tidak ingin dirinya lakukan. Tapi mengingat betapa kesal serta bencinya. Jika Ares bersama dengan Denara. Membuat rasa cemburu itu muncul dan mebuat Jesi melakukan hal itu.


......................

__ADS_1


''Ra, gimana hubungan kamu sama Ares??'' Tanya Inem kepo.


Ares sudah pulang setelah mengantarnya dari rumah sakit ke tempat kostsan Inem.


''Yah gitu deh..''


''Ihhh cerita sih Ra, orang kepo juga..''


''Gak usah kepo, gak baik dosa..'' Celetuk Denara, yang saat ini sedang menyimpan baju-baju di lemari Inem.


''Dasar pelit..''


......................


Ares tampak senang sekali, semua masalah serta bebam yang beberapa bulan belakangan ini di rasakan oleh dirinya mulai menghilang.


Di mulai masalah hubungannya dengan Denara yang putus, perjodohannya dengan Jesi dan masalah lainnya yang kini perlahan-lahan mulai bisa di atasinya.


Bahkan saat ini, Mamanya serta Papanya sudah bisa menerima apa yang di pilih oleh Ares.


Ares, tahu. Jika sang Maha Kuasa tidak akan memberikan ujian padanya lebih dari batas kemampuannya.


Bahkan hubungannya dengan Denara semakin baik setiap harinya. Ares tentu saja senang. Seridaknya, saat ini. Orang tuanya tidak lagi melarangnya untuk dekat dengan Denara seperti dulu.


''Pak, saya merasa senang saat melihat suasana hati Pak Ares yang sedang senang.''


Meskipun begitu, Ares tetap saja mengantar Denara. Ares bahkan baru saja tiba di kantor. Perjalanannya dari kota kecil ke kantornya, membutuhkan waktu satu jam lebih.


Bisa kalian bayangkan, bagaimana Ares mengusahakan untuk datang setiap hari ke sana. Dan hal itu, tentu saja dilarang Denara.


"Ini karena beberapa alasan." Ujar Ares.


Deni tahu maksud Bosnya, setidaknya jika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus Deni benar-benar senang.


Alasan paling utama, Ares akan jarang marah dan memberinya tugas. Jika hal itu terjadi sebaliknya, maka kalian bisa menebak bagaimana hal yang akan terjadi.


.........


Tian sudah mendengar kabar Denara yang sudah pulang ke kostsan Inem. Tapi, Tian tidak datang untuk ikut mengantar pulang.


Bahkan hal itu di sampaikan langsung oleh Ares padanya. Tian memiliki alasan tersendiri, kenapa dirinya menolak datang ke sana.


Bukan karena dirinya tidak suka, hanya saja Tian tidak ingin perasaannya kembali lagi hadir. Setidaknya untuk saat ini, dirinya sudah bisa mengontrol dan tidak menyukai Denara secara berlebihan seperti dulu.


"Kakak beneran gak ikut antar Kak Denara??"

__ADS_1


Tania memberikan beberapa pakaian Tian yang sudah terlipat dan tersusun rapih di tangannya.


"Iya Dek, kamu udah nanya belasan kali tentang hal itu." Jawab Tian.


"Kali aja Bang, kalo misalnya Abang datang ke sana. Siapa tahu, Kak Denara berubah pikiran dan mulai suka sama Abang dari pada Oppa itu." Yang di maksud Oppa oleh Tania adalah Ares.


"Jangan kebanyakan nonton Dek, gak baik efek sampingnya kayak begini." Cibir Tian.


Bukan apa-apa, Tania adalah penggemar berat. Hal-hal yang berbau korea, mulai dari baju, pernak-pernik dan hal-hal lainnya termasuk drama serta flimnya.


Meskipun Tania suka bersikap bar-bar dan sangat tomboy tapi siapa yang menduga, jika adiknya akan menyukai hal-hal yang justru berbading terbalik dengan gayanya.


''Tapi, saat ini... Apakah Abang masih suka sama Kak Denara??''


''Tania bukanya benci pada Kak Denara yang sudah menolak Abang. Hanya saja, Tania tidak ingin Bang terlibat lagi dengan masalah persaan antara Kak Denara dan Oppa.''


Tian tahu betapa khawatirnya Tania padanya, bahkan salah satu penyemangat Tian untuk bisa melupakan Denara adalah Tania.


Dialah yang paling besar membantunya, dalam hal melupakan Denara.


''Abang masih suka apa enggak??''


Tian lalu tersenyum sambil menatap adiknya yang tampak cemas padanya.


''Kamu bener-bener gak cocok bertingkah seperti itu...''


''Abang.... Jangan buat Tania kesel yah, jawab aja..'' Protes Tania, karena tidak mendapatkan jawaban yang di inginkan olehnya.


''Udah Dek gak usah kepo, keluar sana... Abang mau tidur.'' Mendorong bahu Tania secara perlahan.


''Ihhh, Abang... Jawab dulu, Taniakan penasaran.''


Tapi Tian tidak menjawab, Tian malah berusaha mendorong Tania dengan sedikit cepat agar adiknya yang cerewet ini tidak lagi bertanya hal-hal yang tidak-tidak.


''Jangan kepo sama urusan orang dewasa...''


Blumm...


Pintu kamar Tian tertutup usai Tania keluar dari kamar Tian.


''Bang... Tania belum selesai juga... Udah di tutup aja.'' Gerutu Tania yang masih berdiri di depan pintu


kamar Tian.


Jika sudah seperti ini, Tania sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain pergi dari sana. Sementara Tian sudah tidur terlelap di kamar tanpa menghiraukan adiknya.

__ADS_1


...Bersambung. ..........


......................


__ADS_2