Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
34 part 2


__ADS_3

...Dilarang memplagiat, menjiplak, atau pun memgcopy karya ini!!!!....


...Happy Reading🍃...


Ares benar-benar malu saat mengingat kejadian yang baru saja terjadi tadi.


Flashback on.


Ares yang melihat pintu terbuka secara tiba-tiba membuat Ares yang sedang berdiri sambil bersandar di pintu langsung terjatuh tanpa sempat menarik diri.


Posisi duduk di lantai dengan raut wajah kaget terlihat jelas dari wajah Ares.


"Tuan, anda baik-baik saja." Tanya Denara sambil menahan tawa.


Sedangkan Zion sudah sejak tadi tertawa tebahak-bahak, membuat Ares langsung menatap tajam ke arah Zion. Dan bangkit dari jatuhnya dan berjalan dengan cepat ke arah kamarnya, tanpa menjawab pertanyaan Denara.


Flashback off.


......................


Tian sejak tadi hanya melamun saja, padahal pengunjung sedang ramai saat ini. Bahkan Tian sudah beberapa kali di tegur oleh teman kerjanya karena tidak fokus dalam meracik minuman.


''Tian, sungguh kau baik-baik saja.'' Tanya teman kerjanya.


''Sepertinya aku sudah mengacaukan semuanya hari ini.'' Guman Tian.


''Apa yang kau kacaukan?? Hingga membuatmu seperti ini.''


''Entahlah, aku akan izin pulang saja.'' Jawab Tian.


''Oke, aku yang akan bilang pada Bos nanti. Istirahatlah mungkin kau sedang lelah saat ini.'' Menepuk pundak Tian pelan.


......................


''Haha.... Haha... Pasti Om Ares tadi menguping kita.'' Ujar Zion dengan tertawa.


''Mana mungkin seperti itu,'' balas Denara tersenyum saat mengingat Ares yang terjatuh tadi.


''Kak Dena saja yang tahu tingkah Om Ares,'' lanjut Zion.


''Memangnya kamu tahu, seperti apa tingkah Tuan??''


Dengan semangat Zion mengangguk.


''Pasti kalian sangat dekat.''


''Apakah Kak Dena sedang bercanda, mana mungkin aku dekat dengan Om galak seperti itu.'' Kesal Zion saat mengingat Ares yang selalu marah padanya.


Denara mengerti maksud Zion, walaupun mereka terlihat tidak akur dan malah sering bertengkar. Tapi mereka saling menyanyanggi satu sama lain.


......................

__ADS_1


Tian saat ini benar-benar gelisah setelah mengatakan hal itu pada Denara, pasti akan sangat canggung jika mereka bertemu nanti. Tian hanya refleks saja saat mengatakan hal itu.


''Bang, kenapa sih murung gitu??'' Ujar Tania yang sudah duduk di samping Tian.


''Ada masalah,'' sambung Tania.


''Kamu harusnya tidur, bukannya ikut begadang sama Abang kayak gini.'' Ucap Tian.


''Ya elah Bang, cerita dong sama Tania. Kali aja Tania bisa bantu.''


Tian menundukkan sejenak kepalanya, lalu berucap. ''Abang habis menyatakan rasa suka pada Nara.'' Dengan suara yang pelan.


''Bang ngomong apa kumur-kumur sih. Tania gak bisa dengar tahu.'' Omel Tania, karena tidak bisa mendengar perkataan Tian dengan jelas.


Tian lalu mengangkat kepalanya dan memegang wajah Tania dengan ke dua tangannya.


''Abang habis menyatakan suka pada Nara, puas.'' Ulang Tian dengan jelas tidak seperti pertama kali Tian ucapkan.


''Appa..'' Ucap Tania tidak jelas, karena Tian menekan ke dua pipinya hingga Tania sulit bicara.


''Iya Dek...'' Melepaskan tangannya, sambil mengangguk.


''Wagelah sih,'' Ucap Tania tidak percaya.


......................


Zion tertidur di ranjang Denara, membuat Denara harus memindahkan Zion ke kamarnya. Denara tidak ingin kena omelan oleh Ares karena keponakannya tidur di ranjangnya.


Perlahan-lahan Denara mengangkat tubuh Zion dan mengendongnya. Cukup sulit bagi Denara, terlebih lagi tubuh Ziom yang berat untuk tubuh mungilnya.


''Aduh, kenapa membuka pintu ini sangat sulit.'' Keluh Denara.


''Harusnya kau memberitahuku jika Zion tertidur di kamarmu.'' Suara Ares yang terdengar dari arah belakang.


Denara lalu menoleh, melihat ke arah Ares.


''Tidak apa-apa Tuan, saya bisa.'' Jawabnya.


''Ck....'' Ares lalu mengambil alih tubuh Zion yang ada di gendonggan Denara.


''Kau bahkan kesulitan saat menggendong tubuh Zion, tapi masih bilang tidak apa-apa.''


Denara dengan segera membuka pintu kamar tamu, agar Ares bisa membawa Zion masuk ke dalam kamar.


Setelah meletakan Zion di atas ranjang tidur secara perlahan, barulah mereka keluar dari kamar Zion.


......................


Denara menatap canggung Ares yang menatapnya dengan mata yang tajam. Ares masih mempertanyakan wajahnya yang murung saat Denara pulang tadi.


''Saya hanya bertanya Denara, kenapa sulit sekali bagimu menjawabnya.''

__ADS_1


Denara masih bungkam, setelah Ares bertanya padanya secara terus-memerus.


Denara benar-benar tidak ingin membahas hal ini, tapi Ares memaksanya, bahkan Ares sampai mengancamnya. jika gajinya akan di turunkan bulan ini, yang di maksudkan dengan di turunkan oleh Ares adalah potonggan gaji.


Karena alasan itulah Denara dengan berat hati menceritakannya. Walau Denara juga bingung bagaimana menjelaskannya.


''Tian mengatakan, jika dia suka pada saya Tuan.''


Ares yang tadinya santai menatap Denara, kini mulai berubah ekspresi yang berbeda dari yang tadinya di tunjukkan Ares.


''Lalu, kau menjawabnya dengan kata ya. Saat mendengar hal itu??'' Ucap Ares dingin.


Denara sudah menduga, jika Ares akan seperti ini. Ares akan selalu berubah-ubah ekspresinya, jika menyangkut nama atau pun hal yang berhubungan dengan Tian.


''Sebenarnya, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya. Tapi kenapa Tuan sangat ingin mengetahui masalah saya dan Tian.'' Denara menatap Ares dengan penasaran.


Ares langsung menoleh ke arah samping dan tidak lagi menatap ke arah Denara. Denara yang melihat itu mulai bangkit dari kursi yang dudukkinya.


''Saya rasa, pembicaraan kita hanya sampai di sini saja Tuan. Saya akan pergi ke kamar untuk beristirahat, sebaiknya Tuan juga segera istirahat untuk bekerja besok.'' Saat Denara sudah berdiri.


Denara lalu berjalan ke arah kamar, meninggalkan Ares yang masih terduduk diam di sana.


''Memang benar apa yang kau katakan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.'' Ares mulai berbicara.


''Tapi ini ada hubungannya dengan saya.''


''Lebih tepatnya, perasaan saya Denara.'' Lanjut Ares, dengan mata yang menatap punggung Denara.


Denara berhenti berjalan, saat Denara mendengar ucapan yang baru saja Ares katakan. Denara lalu membalikkan tubuhnya menatap Ares yang saat ini duduk dan menatapnya dengan serius.


Ares mulai bangkit dari duduknya, dan mulai berjalan mendekat ke arah Denara yang masih melihatnya.


Denara hanya diam, ketika Ares kini berjalan mendekat ke arahnya. Sampai posisi Ares benar-benar ada di hadapannya.


''Apa maksud dari perkataan Tuan tadi???''


Ares kini mulai memegang bahu Denara, dengan ke dua tangannya. Tindakan Ares kali ini, membuat Denara benar-benar kaget.


Ares yang melihat itu hanya bersikap santai saja, seakan-akan tahu jika Denara akan berekspresi seperti ini.


''Apakah kau masih tidak mengerti juga, jika sikap saya padamu akhir-akhir ini sedikit berbeda. Dan apakah kau masih tidak paham juga, jika saat ini saya sedang cemburu dan marah karena Tian mengatakan perasaannya padamu.'' Ares menatap lekat mata Denara saat mengatakannya.


''Saya menyukaimu, Denara. Jadi tolong beritahu saya, apa jawaban yang kau berikan pada Tian saat dia mengatakan perasaannya padamu.'' Sambung Ares dengan masih memegang bahu Denara dan menatap wajahnya.


...Bersambung........


......................


Jangan lupa untuk berikan dukungannya pada Author, biar terus semangat nulis dan juga upnya.


Caranya gampang kok, vote, like, komen, favorit dan rate 5.

__ADS_1


Makasih bagi yang sudah mendukung cerita ini 🍀.


Sayonara👋🏻.


__ADS_2