
Deni yang melihat Ares sudah mulai memdekat ke arah kerumunan yang terjadi di sana membuatnya pusing. Apalagi saat Ares bilang ini bukanlah masalah yang besar, apa Ares tak melihat. Jika tawuran itu sudah mulai menggila.
Deni mulai mendekati Ares, sampai mereka berdua berdiri berdampingan.
Dari dekat Deni melihat, anak - anak itu sudah terluka parah. Wajah yang mulai membiru, darah yang menghiasi wajah mereka. Tapi dari mereka tak ada yang berhenti, malah mereka semangat melakukan pukulan demi pukulan untuk menjatuhkan satu sama lain.
Tapi tanpa sengaja matanya menanggkap sesuatu yang menarik. Di tengah perkelahiaan yang tengah terjadi, terdapat satu gadis yang sedang memukul seorang pemuda. Gadis iti cukup kuat memukulnya bahkan pemuda itu sudah tak sadarkan diri.
'' Pak..Sebaiknya kita segera lapor polisi saja. '' Ucap Deni.
'' Tidak...''Jawab Ares.
Ares maju beberapa langkah ke depan, lalu mulai berteriak.
'' BERHENTIIIII....'' Sembari memfoto mereka semua menggunakan ponsel miliknya.
Ckrek...
Ckrekkk...
Beberapa kali Ares menggambil foto mereka.
Teriakkan Ares ternyata berhasil menghentikan pertarungan segit itu. Beberapa orang mulai memperhatikan Ares.
'' Woy...Siapa yang manggil Om - Om ke sini '' Teriak salah satu anak itu.
................
Tania masih asik memukul lawannya sampai tak berdaya tak perduli apa yang sedang terjadi, dalam pikirannya Tania harus berhasil memenangkan taruhan itu.
'' Tan...Tania...Woy...Berhenti...'' Tegur Budi.
Tapi Tania masih tak menghiraukan.
'' Ck..Budi..Budi, kalo kamu panggil gitu, gak bakalan di jawab sama Tania. '' Ujar Gandi.
'' Terus gimana, gak liat apa tuh bocah udah pingsan, masih aja di pukulin, '' Menatap lawan Tania.
'' Eh...Maimunah...Woy...Maimunah, pulang woyyy..'' Panggil Gandi.
Sontak Tania menoleh, menatap Gandi dengan biasa.
'' Kenapa? Udah selesai? '' Tanya Tania.
'' Buset...Eh Maimunah, tuh lihat di depan. Ada Om - om gila yang nyamperin kita lagi tawuran. '' Tunjuk Gandi.
Tania mulai melihat kearah mana Gandi menunjuk, seketika matanya membelalak senang. Seperti mendapat durian runtuh.
'' Oppa... '' Meninggalkan lawannya lalu berjalan menghampiri Ares.
.................
Ares menatap lekat anak yang memanggilnya Om - om tadi.
'' Dengarkan saya, jika kalian masih tidak pergi juga dari sini. Jangan salahkan saya, jika besok polisi datang ke rumah kalian satu persatu. '' Ancam Ares.
'' Memangnya Om siapa ? '' Sahut mereka.
'' Ares Ananta, '' Ucapanya sembari tersenyum.
Segerombolan anak sekolahan itu mulai berlari terkocar - kacir, siapa yang tak mengetahui Ares Ananta yang sudah melalang buana di kota maupun negri ini.
__ADS_1
'' Lihatkan Deni, sudah saya bilang kita tak perlu memanggil polisis. '' Ucap Ares sombong.
Deni hanya menatap Ares dengan tatapan tak percaya, tapi sepertinya ada tiga siswa yang masih saja berdiam diri di sana.
'' Ekhmm..Sepertinya ada tiga orang yang tak takut mendengar nama anda Pak. '' Mendengar itu, Ares langsung menatap tiga orang yang di maksud Deni.
'' Hai Oppa, kita ketemu lagi. '' Sapa Tania santai.
Deni,Gandi, dan Budi hanya melonggo saja, mendengar kata yang di ucapkan Tania.
'' Oppa ??? '' Ucap mereka serempak.
'' Kakak adik memang suka sekali membuat onar dan masalah, '' Jawab Ares santai.
Tania hanya tertawa sumbang, entah masalah apa yang terjadi antara Tian dan Ares sampai - sampai Ares sangat tidak suka padanya.
'' Kau terlalu serius Oppa, entah apa masalahmu dengan Bang Tian. Ayo pergi, '' Ajaknya pada teman - temannya.
'' Kau mengenalnya ? '' Tanya Budi menatap Tania yang perlahan menjauh.
'' Entahlah, '' Ucapnya
Gandi sudah mulai berjalan mengikuti Tania, dan di susul Budi di belakangnnya meninggalkan Ares dan Deni di sana.
................
Denara saat ini berada di gudang rumah milik Ares. Gudang rumah Ares sudah seperti sarang hantu, begitu banyak sarang laba - laba, debu serta kecoa dan juga tikus bersarang di sana.
Denara hanya berharap tak bertemu dengan kecoa dan tikus, jika Denara sampai bertemu sudah di pastikan Denara akan lari secepat kilat.
'' Uhukk..Uhuk...Debu ini seperti sudah ada sejak zaman purba saja, saking banyaknya debu yang berada di sini. '' Denara sudah memakai masker serta kaca mata anti debu. tapi masih saja bau apek terasa di gudang ini.
Gudang ini cukup luas, dan yang pasti membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkannya.
Denara mulai melihat lemari yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya.
Dengan perlahan Denara membuka lemari, debu-debu mulai berterbangan.
'' Uhukk...Uhukk.. ''
Di dalam lemari itu terdapat buku-buku serta kardus-kardus yang di susun rapih. Tangan Denara mulai mengambil salah satu kardus yang berisi buku.
'' Loh..Ini album foto. '' Ucap Denara.
.............
Ares sudah sampai di rumah, untung saja Ares tepat waktu sampai saat berjumpa dengan klien tadi. Melihat rumah yang tampak sepi, membuat Ares melangkahkan kakinya ke arah dapur.
' Pintu terbuka. ' Batin Ares.
Lalu mulai melangkahkan kakinya menuju keluar, hingga matanya melihat jika pintu gudang terbuka lebar.
'' Siapa yang berada di gudang. '' Mengerutkan dahinya.
Mulai berjalan menuju gudang yang terbuka lebar. di dalam gudang Ares melihat seseorang di sana, yang berada di balik lemari. Ares tak bisa melihatnya dengan jelas. Lalu mulai melangkah maju kedepan.
Cit...
Cit...
Cit...
__ADS_1
Suara tikus membuat seseorang di balik lemari kaget dan berteriak kencang.
'' AAAAAAA.....TIKUSSSSS....''
Bugh...
Album foto yang berada di genggamannya terjatuh begitu saja, Lalu seseorang di balik lemari mulai berlari, kearah Ares dengan cepat.
Ternyata seseorang itu adalah Denara, dengan sigap Denara melompat ke arah Ares yang berdiri persis di depannya. Lalu kaki Denara melingkar sempurna di pinggang Ares dan tangannya memeluk leher Ares dengan erat.
Kejadian tiba - tiba itu tentu saja membuat Ares terdiam dan kaget. Refleks saja Ares membalas pelukkan Denara, agar Denara tak terjatuh ke lantai yang kotor dan penuh dengan debu.
Cit...
Cit...
Cit...
Suara tikus yang mulai terdengar dengan jelas di telinga Ares, tapi Ares tetap diam tak bergerak sedikit pun di tempat itu. Ares masih bingung dan mencoba mencerna dengan baik, apa yang terjadi sebenarnya di sini.
'' Takut....Takut...'' Gumam Denara dengan suara bergetar takut, sembari memejamkan matanya.
Mendengar suara Denara yang ke takutan membuat Ares tersadar, apa yang sedang terjadi. Dengan perlahan - lahan Ares mulai melangkahkan kakinya keluar gudang dengan Denara yang berada di gendongannya seperti koala, Ares merasakan tubuh Denara yang bergetar karena ke takutan.
Pintu gudang perlahan mulai Ares tutup, bahkan kunci gudang masih tergantung sempurna di sana. Tangan Ares dengan singap mengunci pintu gudang.
Cklek...
'' Hei.....Kita sudah keluar dari gudang, jangan takut lagi. '' Ungkap Ares dengan pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
__ADS_1