
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!...
...Happy reading🍃....
Ares baru saja pulang, setelah berbincang-bincang sebentar dengan Tian. Terlepas mereka dulu adalah saingan tapi Ares akui jika berbicara dengan Tian sedikit membuatnya membaik. Jika di bandingkan dirinya berbicara dengan Deni yang selalu membuatnya kesal.
Flashback on.
Ares berdiri di depan pintu Club malam, Setelah Denara pergi. Ini adalah hal peerama yang di lakukan oleh Ares.
Menghilangkan stress dengan pergi ke club malam. Tapi meskipun begitu, Ares sama sekali tidak bisa melangkahkan kakinya untuk masuk ke sana.
Alasannya karena Denara, nasehat yang Denara berikan padanya dulu ternyata berhasil membuatnya tidak bisa melangkah masuk.
Padahal saat ini Ares benar-benar berdiri di depan pintu, tapi dirinya sama sekali tidak bisa masuk ke sana.
Brukhh...
''Kau mau mabuk lagi??'' Pertanyaan itu terlontar dari mulut Tian.
Harusnya Ares sudah menduga jika dirinya akan bertemu dengan Tian di tempat ini. Mungkin karena terlalu memikirkan Denara, Ares jadi melupakan Tian yang bekerja di sini.
''Menyingkir kau menganggu jalan.'' Menyuruh Ares menjauh dari sana.
Mendengar itu, Ares memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam club di ikuti opeh Tian yang ada di belakangnya.
Ares cukup kesulitan melewati segerombolan manusia yang saat ini sedang berjoget-joget di lantai dansa.
Ares memutuskan untuk duduk di depan meja bartender tempat Tian biasanya membuatkan minum untuk para tamu.
''Aku tidak akan memberimu minum, jika nantinya akan menyusahkanku.'' Ujar Tian.
Ares yang mendengar itu hanya acuh saja, baginya Tian hanyalah orang yang tidak patut untuk dirinya dengarkan.
''Aku ingin pesan.'' Ucap Ares pada teman Tian yang sedang meracik minuman.
''Jangan berikan padanya, dia akan menyusahkanmu!!'' Cegah Tian.
Ares lalu menatap marah pada Tian yang sejak tadi menganggunya. Apakah Tian sudah lupa?? Jika dirinya saat ini adalah pelanggan di sini.
''Aku inj pelanggan, kenapa kau marah-marah.'' Kesal Ares.
Tian lalu menarik Ares keluar dari club dan mengajak berbicara di parkiran.
Ares tentu saja menolak, karena tujuannya ke sini adalah. Untuk menghilang Denara dalam pikirannya dengan cara minum.
''Denara bilang padaku, jika kau datang ke sini. Jangan pernah berikan kau minuman.''
Ares benar-benar tidak menyangka, jika Denara akan melakukam hal ini. Meskipun Denara tidak bisa mencegahnya, ternyata bayang-bayang Denara masih melekat di orang sekitarnya.
Kenap kamu melakukan ini, Ares masih sulit melupakannya tapi Denara seolah-olah enggan untuk pergi dari pikiran dan hatinya. Pikir Ares.
__ADS_1
''Aku sungguh muak dengan semua ini!!!''
''Kau ini terlalu lemah jadi lelaki,'' ejek Tian.
''Diam. kau sudah seperti perempuan.''
''Dia benar-benar pergi ternyata...''
''Apa maksudmu??'' Menatap Tian.
''Sebelum kau datang, Denara terlebih dulu menemuiku.''
Ares diam mendengarkan Tian bercerita.
''Kau tahu, cukup sulit bagi ku berhadapan dengan Denara. Terlebih lagi, dia adalah orang yang aku sukai. Jujur saja, aku masih menyukainya. Tapi aku cukup tahu, tidak mungkin aku merebutnya darimu terlebih lagi kalian sudah bersama.'' Tian mengambil nafas panjang, sebelum melanjutkan pembicaraan.
''Pertama kalinya, aku bertemu. Cangung pasti ada. Terlebih lagi dia yang menemuiku terlebih dulu.''
''Aku sempat diam beberapa saat, ketika dia datang. Tapi setelah aku mencoba menyesuaikan diri. Dia mengajakku berbicara.''
''Intinya pembicaraan aku dan Denara, adalah kau.''
''Saat itu, aku melihat dengan jelas. Raut wajah sedih yang coba di tutupi.''
''Aku cukup sedih melihatnya, dirinya menceritakan jika orang tuamu cukup menentang hubungan kalian.''
Ares tertegun, mungkin Denara sengaja menceritakan hal ini pada Tian. Karena Denara tidak akan mungkin menceritakan bebannya pada Ares, terlebih lagi menyangkut orang tuanya.
Ares sangat sakit mendengarnya, begitu tega bagi Ares. Saat orang tuanya merendahkan Denara dan menyuruhnya untuk menjauh dari Ares sejauh-jauhnya. Bahkan satu fakta baru terungkap.
Sungguh Ares sangat menyesal tidak bisa membantu Denara, andai saja saat itu dirinya berada di samping Denara. Mungkin hal ini bisa mereka lewati bersama.
Meskipun Denara pergi, Denara bahkan masih memikirkannya. Tian, Pak Tejo dan Istrinya juga Zion. Mereka menyampaikan semuanya mengrnainDebara yang meminta pada mereka untuk menjaganya.
Ares benar-benar malu, tidak bisa menolong Denara sedikit saja dari orang tuanya.
''Percayalah, jika dia memang untukmu. Dia pasti kembali.'' Ucap Tian menepuk pundak Ares.
Dan semenjak hari itu, bisa di katakan mereka mulai menjadi teman.
Flashback off.
......................
''Aku sudah menemukannya.'' Ucap orang dari sebrang telpon.
Orang itu mulai berjalan menatap ke arah foto yang ada di gengamannya. Foto seorang wanita memakai pakaian seragam kafe.
''Bagus, awasi terus dan selalu beri aku info tentangnya.'' balas orang itu.
''Baik Bos,'' setelah itu, telpon di matikan.
__ADS_1
Orang itu menatap ke arah foto yang baru saja di kirimkan oleh suruhannya. Hasilnya cukup memuaskan meskipun dirinya harus mengeluarkan banyak uang untuk memantau eanita yang berada fi foto itu.
''Aku sudah menemukanmu, Denara..'' Ucapnya tersenyum dengan sinis.
Orang itu mulai menaruh foto-foto itu di dalam laci miliknya, dan keluar dari ruangan itu.
......................
Denara pulang larut malam, lelah dan letih sudah mulai di rasakannya. Denara mengayuh sepedanya dengan cepat berharap sampai di kostan Inem.
Tapi beberapa hari ini, Denara merasa jika ada yang aneh. Terutama semenjak kejadian orang itu bertanya mengenai namanya.
Setelah itu, Denara benar-benar merasa waspada. Karena dirinya merasa, saat ini sedang di awasi oleh seseorang.
Untungnya saat ini, dirinya telah sampai di jalan kostan Inem. Karena kafenya memang cukup dekat dari kostan Inem dan kerena itulah Denara mau bekerja di sana.
Meskipun harus pulang malam, karena di sana terdapat pembagian shif untuk setiap karyawan kafe. Pagi dan malam. Jika Denara masuk malam, maka teman-teman yang lain akan masuk pagi dan begitu juga sebaliknya.
''Denara, untung saja kamu pulang. Aku baru saja memasak makan malam.'' Ujar Inem.
Denara masih diam di tempat itu sambil menatap jendela yang tertutup gorden. Denara sedikit membuka gorden untuk menatap ke arah luar.
''Denara..'' Tepuk Inem.
''Aaaaaaaa.... Inem kaget tahu...''
''Kamu ngapain sih, ngintip-ngintip??''
''Ssttt... Aku lagi memantau sesorang..''
''Siapa??''
''Aku juga gak tahu, tapi belakangan ini. Aku benar-benar merasakan, jika saat ini aku sedang di awasi.''
''Su-sungguh??'' Ucap Inem takut.
''Iya, tahu aku belum tahu siapa?? Dan bagaimana dia memantauku.''
'''Semoga saja, itu tidak benar. Jika benar, ini benar-benar gawat Denara.''
Benar apa yang di katakan Inem, jika saat ini dirinya benar-benar dalam bahaya. Tapi kenapa?? Apa yang sebenarnya terjadi, hingga orang itu memantaunya.
...Bersambung...
......................
Maaf jika typo bertebaran.
Sebelumnya, Author ingin minta maaf. Karena mungkin Author upnya akan terhambat atau tidak tentu.
Karena kesibukan dunia nyata yang benar-benar tidak bisa di tinggalkan. Author harap kalian cukup memaklumi😊. Tapi Author tetep bakalan usahain up, tapi Author gak bisa janji kalau upnya tiap hari, karna kemungkinan Author gak mungkin up untuk tiap hari.
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungannya🐣
Sayonara👋🏻👋🏻