
Ares pagi - pagi sekali sudah berangkat kerja dan juga tak lupa mengantar Zion pulang terlebih dahulu ke rumahnya.
Selama perjalan menuju rumah Zion, anak nakal itu selalu bercerita banyak hal. Apalagi tentang Denara, entah sihir apa yang di berikan oleh Denara. Hingga Zion yang pemilih ini sangat suka sekali padanya.
Bahkan saat sampai di rumah pun, Zion terus bercerita kejadian kemarin kepada orang tuanya, dengan antusias dan semangat yang menggebu - gebu.
.................
Tania, hari ini sedang berada di kantin sekolah. Suasana ramai sudah pasti akan di dapati. Jika kalian mengira Tania akan berkumpul bersama perempuan, maka kalian salah. Tania itu sedikit anti berteman dengan perempuan bukannya dirinya tak suka, hanya saja menghindari kejadian masa lalu terulang kembali. Itu saja yang di lakukan Tania saat ini.
'' Tan, tawuran sama anak sekolah sebelah jadikan ? '' Tanya pemuda bername tag Budi.
'' Ho'oh jadi dung, masak iya di tolak. Orang mereka yang ngundang. '' Jawabnya sambil memakan kacang kulit.
'' Gak di marahin Ibu kamu Tan? '' Ucap Gandi.
Mendengar kata Ibu, membuat Tania meringgis sembari memengang teliganya. Bahkan mendengarnya saja Tania sudah takut duluan.
Melihat tingkah Tania, sontak saja teman - temannya tertawa dengan keras. Apalagi Budi dan Gandi.
'' Bwahhhahahah.....Tania...Tania, mending pulang aja deh kagak usah ikut, '' Ejak Gandi.
'' Tahu loh....Haha..Apalagi kalau Abang kamu tahu. '' Budi memperagakan seperti orang yang di sembelih.
Tania itu kalau di rumah, 3 hal yang paling di takuti. Ibu, karena ibu paling waw kalau marah. Abang Tian, kalau marah kayak emak - emak rumpi. Dan ketiga Ayahnya, alasannya karena ayahnya tak pernah bisa marah padanya walaupun Tania nakal. Asal tak menyimpang saja sudah cukup baginya, walaupun begitu Ayah selalu punya cara memarahinya dengan halus. Bukankah marah itu tanda sayang, benarkan.
'' Kalo kalian gak bilang, Aku gak bakalan kali ketahuan. '' Sembari melempar kulit kacang pada teman - temannya.
Bagi Tania, tawuran adalah kebiasaan yang selalu membuat moodnya baik, entah kenapa setiap memukul orang. Tania merasa jika satu bebannya terlepas darinya, coba bayangkan berapa pukul yang Tania layangkan pada lawannya untuk memghapus segala masalahnya.
Tania, yang selalu di beri julukan si singa. Bukan tanpa sebab julukkan itu tersemat padanya. Dalam bertarung Tania biasanya membuat lawannya terluka paling ringan, adalah patah kaki atau patah tangan.
Membuat siapa saja berhadapan dengannya berpikur dua kali, tapi dalam tawuran sudah pasti tidak hanya tangan kosong saja, terkadang mereka membawa senjata - senjata tajam untuk menyerangnya. Tak jarang juga, Tania mendapatkan luka lebam di wajah, atau luka gores di pipi maupun di tangannya.
Terluka saat bertarung bagi Tania adalah hal biasa yang Tania dapat, oleh karena itulah ibunya serta abangnya selalu melarangnya. Apalagi Tania adalah perempuan.
...................
Sekumpulan anak sekolah membentuk dua kelompok yang berlawanan, satu yang di kanan dan satunya lagi berada di kiri. Seragam sekolah yang berbeda, di anatara keduannya terlihat mencolok.
'' Eh...Singa mending kamu pulang aja deh, cuci kaki, cuci muka, terus tidur. '' Ejek lawan pada Tania.
Membuat teman - teman lawan tentu saja tertawa, mendukung apa yang di ucapakan temannya.
'' Biasanya orang yang mulutnya besar seperti kamu, adalah orang yang tak ada isi sama sekali. '' Balas Tania santai.
Kalimat yang di ucapkan oleh Tania, ternyata langsung memancing emosi para lawan yang sudah mulai bersiap sejak tadi.
__ADS_1
'' Serang......'' Ucap sang ketua.
Pertanda yang di berikan, membuat mereka semua mulai maju. Menghajar siapa saja yang menggahalanggi mereka untuk menang.
Bughh...
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Dua kelompok itu terlihat saling memukul, pertarungan yang segit antara mereka takbisa di hindari. Tania adalah orang yang paling mencolok, karena hanya Tania satu - satunya perempuan yang ada di sana.
'' Hajar...Woy....Kalo perlu cokel tuh giginya. '' Ucap Gandi semangat menghajar salah satu lawan.
'' Kuy....Siapa paling banyak bikin giginya rontok, bakalan di traktir di kantin selama sebulan,'' Balas Budi menyemangati teman - temannya.
Tentu saja di sambut Tania semangat '' Deal,'' Dengan senyum manisnya.
.................
Saat ini mobil yang Ares kendarai bersama Deni, sedang terjebak macet di jalan. Padahal hari ini Ares sedang buru - buru untuk bertemu dengan klien yang ingin meminta bantuaanya sebagai Pengacara yang akan di sewanya.
'' Pak.....Sepertinya tak memungkinkan untuk kita tetap melewati jalan ini. '' Jelas Deni pada Ares yang sedang menyetir.
'' Ck....Cari jalan lain, agar saya bisa sampai di sana tepat waktu, '' Ujar Ares sembari melirik jam tangannya.
Lalu mobil perlahan - lahan mulai keluar dari jalur, cukup sulit Deni melakukannnya. Teriakkan serta umpatan yang di layangkan oleh pengendara laim tentu saja di dapati mereka.
Usaha Deni yang gigih membuat mobil Ares berhasil keluar, melewati lorong - lorong jalan kecil. Mobil mahal itu melalui jalan - jalan pintas yang memang sangat jarang di lewati oleh pengendara lain, bisa di bilang ini adalah jalan tikus. Deni yakin jalan ini, pasti di gunakan oleh anak - anak nakal untuk membolos, apalagi nongkrong.
'' Tunggu...Sepertinya di depan jalan sedang ada tawuran Pak.. '' Ungkap Deni, mobilnya pun terpaksa berhenti.
Ares bahkan mendengarnya juga, teriakkan serta suara pukulan yang terdengar dengan jelas. Menggambarkan betapa segitnya pertempuran.
'' Sebenarnya apa yang di pikirkan anak - anak zaman sekarang, bukannya belajar malah tawuran di sini, '' Rasa kesal Ares sudah memuncak.
Perlahan Ares mulai keluar dari mobil yang Ares tumpangi. Bukan itu saja Ares juga sudah melepas jas yang di kenakannya, lengan baju sudah tergulung dan mulai berjalan mendekati kerumunan tawuran itu.
Melihat itu tentu saja Deni ikut turun, menyusul Ares yang mulai berjalan ke sana. Dalam pikirannya, kenapa juga Ares turun dan mendekati tawuran yang sedang berlangsung. Inikan sangat berbahaya.
Deni mulai mengeluarkan ponselnya, berniat menelpon polisi.
Ares tiba - tiba berhenti berjalan, lalu mulai membalik badannya menoleh ke arah Deni yang sibuk dengan ponselnya.
'' Deni.... '' Panggil Ares.
__ADS_1
''' Iya Pak.. '' Dengan Ponsel yang tertempel di telinganya.
'' Kamu mau menelpon polisi? '' Tanya Ares.
'' Iya Pak ....'' Jawab Deni dengan anggukkan.
''' Tidak usah... '' Ucap Ares.
Membuat Deni heran, bukankah akan lebih aman jika polisi yang memubarkannya. Kenapa pula Ares melarangnya. Apa Ares ingin bertarung juga ? Pikir Deni.
'' Kenap Pak, Tidak boleh menelpon polisi, bukankah lebih aman jika kita meminta bantuan polisi... '' Terang Deni yang sudah mematikan ponselnya.
'' Kita berdua bisa menanggani ini tanpa perlu bantuan polisi, ini masalah kecil tak perlu di permasalahkan. '' Jawab Ares santai,Ares bahkan mulai berjalan kembali mendekat ke sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.