Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
30 part 1


__ADS_3

...Dilarang memplagiat, mengcopy, atau pun menjiplak karya ini!!!...


...Terimah kasih bagi yang sudah membaca cerita ini:)....


...Happy Reading❤....


Zion mendapatkan kabar, dari Ares yang tak lain dan tak bukan adalah Om yang sendiri. Ares bilang, jika Denara sudah bekerja lagi di rumah Omnya itu. Hal itu tentu saja membuat Zion senang.


''Mami, Zion boleh menginap di rumah Om Ares??'' Duduk di samping Ibunya yang sedang menimang adik perempuannya.


Ibunya hanya tersenyum, mendengar perkataannya. Ares sempat protes padanya, memgenai Zion. Dia bilang, jika Zion di larang menginap ke rumahnya lagi. Alasan yang di berikan oleh Ares padanya, membuatnya tertawa.


''Kak, Zion jangan lagi di titipkan di rumahku.'' Jelas Ares menatap ke arah Kakaknya.


''Kenapa???'' Tanyanya.


''Aku sudah tak kuat mengurusnya, apalagi meladeni tingkahnya yang selalu berbelanja makanan yang harganya selalu membuat dompetku menjerit.'' Paparnya, membuat Kakaknya yang mendengarnya tertawa.


......................


Zion menatap ponselnya, dengan wajah cemberut. Ibunya bilang, jika dia ingin menginap di rumah Ares. Dirinya harus menelpon Omnya itu terlebih dulu, untuk meminta izin.


Tapi semenjak tadi, nomor Ares sama sekali tidak aktif. Padahal tangannya sudah pegal memegangi ponsel, yang sejak tadi berada di tangannya.


'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.'


Suara yang membuat Zion kesal mendengarnya, karena sejak tadi yang menjawab telponnya yang tak lain dan tak bukan adalah operator.


Zion melempar ponselnya ke sembarang arah, dan pergi keluar kamarnya. Zion paham sekali, kenapa Omnya tak menjawab telpon. Dan kemungkinannya ada dua, sibuk kerja dan sengaja tak mau mengangkat telpon darinya.


......................


Ares sedang ada rapat saat ini, dan ponsel memang sengaja dia matikan. Karena di dalam ruang rapat, semua ponsel harus memang di matikan. Agar tak mengganggu, jalannya rapat.


Rapat, biasanya akan selesai 30 atau sampai satu jam paling lama.


''Baiklah, rapat selesai.'' Ucap Ares, sembari mengulung kemeja putihnya.


Semua orang, mulai beranjak pergi dari ruangan itu. Ares dan Deni, masih sibuk dengan laptop mereka masing-masing.


''Deni,'' panggil Ares.


''Iya, Pak Ares.'' Jawabnya.


''Ponsel yang tadi ku berikan padamu,'' pinta Ares.


Deni lalu mengambil ponsel, yang dirinya taruh di dalam ransel. Dan menyerahkan pada Ares.


''Ini Pak...'' Jawab Deni.


Ares segera menghidupkan ponselnya, dan terlihat banyak notifikasi ponselnya yang berbunyi beruntun membuat Ares sedikit terganggu. Lalu dia melihat, satu nama yang paling banyak menghubunginya.


'Panggilan tak terjawab.'


'Bocah nakal (50)'

__ADS_1


Klik..


Ares menelpon balik nomor itu, hingga panggilannya tersambung. Tak butuh waktu lama bagi sang penerima telpon, menganggkat telponnya.


''Halo...''


''Om, jemput aku sekarang, Mami menyuruhku untuk menginap di rumah Om.'' Cerocos Zion dari telpon.


Membuat Ares yang mendengarnya, sama sekali tak percaya dengan apa yang di ucapkan bocah nakal ini. Jika benar Kakaknya, yang meminta. Pasti dia akan langsung menelponnya tanpa prantara seperti ini.


''Kamu mencoba menipuku, bocah nakal.'' Jawab Ares.


''Huh!!! Om pasti sudah tahu, jadi untuk apa bertanya lagi padaku.'' Ujarnya dengan kesal.


''Memangnya kenapa kamu ingin menginap di rumahku, bukankah rumahmu juga besar.'' Ucap Ares, pura-pura tak tahu maksud dan tujuan Zion.


''Yang pastinya, bukan untuk menemui Om.''


''Lalu, kamu ingin menemui siapa???''


''Apa Om sedang berpura-pura bodoh saat ini??''


''Ck.... Ponakan nakal, aku tak akan menjemputmu.''


''Huaaaaaa..... Mami, Om nakal......'' Jerit Zion.


Membuat Ares langsung menjauhkan ponselnya, saat mendengar jeritan yang tepat di telingganya. Bahkan Denu yang berada di samping juga mendengarnya dengan sangat jelas.


''Baiklah.... Hentikan jeritanmu itu,'' Ares lalu mematikan sambungan telpon dan melihat ke arah Deni.


''Baik Pak,'' Deni bangkit dan keluar dari ruangan itu.


......................


Suasana hening, terlihat jelas di dalam mobil milik Ares. Yang di kendarai oleh Deni. Zion sejak tadi duduk dengan tenang di belakang sambil memainkan ponselnya.


''Paman, apakah kau senang bekerja dengan Omku.'' Tanyanya pada Deni yang tengah menyetir.


Deni sebenarnya keberatan, dengan panggilan Zion padanya. Jika dia melakukan protes pada bocah nakal ini, maka bisa di pastikan perdebatan akan terjadi.


''Tentu, Pak Ares sangat baik.''


'Kadang-kadang.' Batin Deni.


''Sungguh, jika dia baik. Kenapa dia selalu kejam padaku.'' Jawab Zion.


Membuat Deni bingung untuk menjawabnya, jika dia menjawab bahwa Ares kejam. Maka dia tak akan menjamin jika bocah nakal ini akan mengadu.


Diam adalah satu-satu pilihan Deni, untuk menghindari kesalahan yang akan terjadi atas ucapannya.


......................


Ares sudah pulang terlebih dulu, mengunakkan taksi. Alasan dia tak ikut menjemput Zion, karena dia sedang tak ada niat untuk berdebat dengan Zion.


Denara menatap heran, ke arah Ares yang pulang menggunakan taksi. Setahunya tadi, Ares membawa mobil. Tapi kenapa, sekarang dia pulang dengan taksi.

__ADS_1


''Ngapain kamu liat-liat saya.'' Menatap Denara.


''Enggak Tuan, saya cuman heran aja.'' jawab Denara.


''Kenapa???''


''Bukannya Tuan tadi membawa mobil, lalu kenapa sekarang pulang menggunakan taksi.''


Ares lalu berjalan mendekat ke arah Denara, membuat Denara yang melihat langsung menyilangkan tangannya di depan dada.


Ares mendekatkan kepalanya, ke arah telinga Denara. Dan hal itu, membuat Denara langsung memejamkan matanya.


Ares hanya tersenyum tipis melihat ke lakukan Denara yang lucu. Entak sejak kapan, dia merasa jika Denara belakangan ini sangat manis dan lucu.


''Kepo....'' Bisik Ares pelan.


Mata Denara langsung terbuka, mendengar suara Ares yang berbisik. Terlebih lagi jaraknya dengan Ares sangat dekat. Membuat jantung Denara tanpa sadar berdetak kencang.


......................


Zion dan Ares, baru saja sampai di rumah Ares. Zion langsung keluar dari mobil berlari ke arah pintu. Sementara Deni, membawa barang-barang yang Zion bawa untuk di taruh di dalam.


Zion menarik gagang pintu rumah, yang kebetulan tak di kunci. Dan hal itu memudahkan Zion untuk masuk ke dalam.


Deni mengikuti langkah kaki Zio yang kecil, tapi tiba-tiba saja Zion menghentikan langkah kakinya. Hingga membuat Deni heran, lalu menatap ke arah padang Zion.


Dan saat Deni menatapnya, tas yang berada di peganggannya jatuh ke lantai. Membuat dua orang itu menatap ke arah mereka dengan raut wajah kaget.


......................


Suara benda terjatuh, membuat Ares menoleh begitu pun Denara. Raut wajah mereka juga sama persis, dengan apa yang di tunjukkan Deni dan Zion.


''Kenapa Om mencium Kak Dena...'' Perkataan itu, tiba-tiba terucap oleh Zion.


Membuat Ares dan Denara membelalakkan matanya, lalu mengelengkan kepala dengan kompak. Memberitahu jika, apa yang mereka lihat tak seperti apa yang di pikirkan.


''T-tidak, bukan seperti itu Zion.'' Ujar Denara, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


''Benar Zion, Om sama sekali tak mencium Kak Dena.'' Tambah Ares membantu Denara menjelaskan.


''Sungguh??'' Tanya Zion.


Sementara Deni, malah sibuk mengambil tas yang terjatuh di lantai tadi, karena kaget dengan apa yang dirinya lihat tadi.


'Harusnya anda mengunci pintunya, Pak Ares.' Batin Deni.


Bersambung....


......................


Eh Zion nonggol, ada yang mau bantu Ares dan Denara jelasin😅.


Jangan lupa buat Vote, like favorit dan rate 5. Berikan dukungannya yah. Biar Dao semangat buat nulis dan upnya☻.


Makasih buat pembaca, yang sudah baca cerita ini.

__ADS_1


Sayonara👋🏻.


__ADS_2