
...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃...
Denara benar-benar tidak bisa tidur malam ini, jam bahkan sudah menunjukkan jam 12 malam. Matanya serasa enggan saja untuk tidur, beberapa kali Denara merubah posisi tidurnya berharap bisa tidur dengan cepat.
''Kenapa mereka bisa menyukaiku??'' Pertanyaan yang timbul di benaknya.
Denara lalu duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang. Denara benar-benar tidak menyangka, jika Ares dan Tian akan mengatakan hal seperti itu padanya.
Tian yang tadi sore mengatakan perasaannya pada Denara, dan malamnya Areslah yang menyatakan perasaannya pada Denara. Denara bahkan masih bingung dengan Tian dan sekarang Ares menambahkan beban pikirannya, membuat Denara benar-benar tidak bisa tidur.
Dua orang yang selalu berada di ruang lingkupnya, kini sedang menyatakan perasaan yang meraka rasakan padanya. Sungguh Denara tidak menyangka, jika dirinya akan mendapatkan hal seperti ini hari ini. Secara bersamaan pula, pikiranya bingung.
Denara bangkit dari ranjang tidurnya dan beranjak ke dapur untuk membuat susu. Semua lampu memang di matikan saat malam, jadi jangan heran, jika melihat suasana gelap di rumah ini.
......................
Ares sudah sejak tadi mencoba untuk tidur tapi selalu saja tidak bisa. Berulang kali, Ares mencoba tapi matanya selalu saja menolak untuk tidur. Pikirannya melayang saat Ares memgatakan perasaannya pada Denara.
Setelah mengatakan hal itu, Denara sama sekali tidak menjawab. Denara malah pergi meninggalkanya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Sungguh, Ares benar-benar kesal memikirkan hal itu. Kenapa Denara tidak menjawabnya dan malah pergi begitu saja. Ares penasaraan dengan jawaban Denara mengenai Tian dan begitu juga Ares.
Jam sudah bergerak ke angka satu, tapi Ares belum juga tidur. Padahal besok Ares akan bekerja dan menemui klien yang ingin membicarakan kasus dengannya.
......................
Pagi kini mulai menyapa, Ares masih terlelap dalam tidurnya di balik selimut tebal miliknya.
''Om..... Om..... Bangunnn...'' Teriak Zion dari luar kamar Ares.
Tok....
Tok...
''OM..... BANGUNNNNN......'' Teriak Zion lebih kencang dari yang tadi.
Ares yang berada di dalam kamar, langsung bangun dengan seketika. Teriakan Zion yang membahana berhasil membuat Ares bangun dari tidurnya.
Perlahan Ares bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
......................
Ares keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi dan parfum mahal yang melekat di pakaiannya. Ares berjalan demgan santai ke meja makan.
__ADS_1
Sarapan serta makanan ringan tertata rapih di atas meja, Ares mulai menarik kursi makan dan mulai menyantap makanan dengan diam.
Cukup cepat Ares memakan makanannya, karena jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7. Selesai sarapan, Ares mulai bangkit dari kursi dan memgambil tas kerja yang ada di sampingnya.
''Zion, Kak Dena ada di mana??'' Ya, saat ini Ares sama sekali tidak melihat Denara. Padahal Ares ingat betul jika Denara semalam begadang sepertinya, tapi masih bisa menyiapkan sarapan sebanyak ini.
Ares saja tadi hampir bangun ke siangan jika saja Zion tidak memanggilnya untuk segera bangun.
''Aku juga tidak melihatnya,'' balas Zion yang sudah siap berangkat
''Oh begitu, baiklah kita berangkat saja.'' Ujar Ares.
......................
Denara benar-benar tidak bisa tidur hingga pagi, membuatnya benar-benar seperti zombie. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat dengan jelas bahkan wajahnya pucat saat ini.
''Ra, kamu abis ngapain kayak zombie gitu.'' Ujar Neni.
''Tahu nih Ra, serem banget lihat muka kamu sekarang.'' Tambah Minah.
''Aku begini karena mereka berdua,'' Keluh Denara.
''Mereka???'' Ijah menenggok ke arah Denara.
''Siapa??'' Sambung Neni.
''Lalu apa yang mereka lakukan??'' Tanya Minah.
''Mereka memgatakan perasaannya kemarin padaku. Mereka bilang jika mereka menyukaiku,'' Ucap Denara sambil menunduk.
''APAAAA!!!!'' Kaget mereka.
Denara hanya mengangguk pelan, tanpa melihat ke arah mereka.
''Sungguh, perbuatan baik apa yang kamu lakukan di masa lalu hingga di sukai oleh dua orang sekaligus.'' Kata Neni dengan tidak percaya.
''Apakah mereka berdua tampan, kaya, tinggi, atau biasa-biasa saja.'' Kepo Ijah.
''Apakah salah satu dari mereka adalah orang yang selalu kamu tanyakan pada kami???'' Tanya Minah.
Denara menjadi pusing sendiri mendengar pertanyaan yang bermacam-macam dari teman-temannya saat ini. Sungguh saat ini Denara benar-benar perlu untuk tidur.
Denara bahkan dengan sengaja pergi pagi-pagi sekali dari rumah, supaya tidak bertemu Ares dulu. Denara benar-benar bingung bagaimana harus bersikap jika bertemu nanti.
''Nanti saja bertanya, saat ini aku sangat perlu untuk tidur.'' Berjalam dengan lesu ke arah rumah Ares.
__ADS_1
......................
Tian sengaja mematikan ponselnya sejak kemarin, Tian benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana. Bukan tanpa alasan Tian mematikan ponselnya, entah kenapa setiap kali melihat ke arah ponselnya. Tian selalu saja teringat akan Denara serta perkataannya kemarin sore dan itu membuat Tian menjadi tidak konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu.
''Huh!! Ini benar-benar membuatku tidak nyaman.'' Guman Tian, yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tengah rumahnya.
''Bang, kamu ngapain dari tadi ngelamun aja.'' Tegur Ibunya yang membawa camilan berisi pisang goreng yang masih hangat.
''Abang, gak apa-apa kok Bu.'' Jawab Tian.
''Yakin gak apa-apa, semalam Ibu denger loh pembicaraan kamu sama Tania.''
Tian sudah tidak bisa lagi untuk membantah atau pun mengelak, jika Ibunya mendengar percakapannya kemarin malam bersama Tania.
''Siapa orangnya Bang???'' Ibunya mulai duduk di samping Tian.
''Temen Tian Bu,'' Pasrah Tian.
''Tumben kamu mau temenan sama perempuan, pasti spesial banget yah orangnya.'' Ibunya terlihat sekali penasaran dengan Denara.
Benar apa yang di katakan Ibunya, Tian memang tidak mau berteman dengan perempuan seperti dirinya dan Denara. Baginya berteman dengan perempuan itu adalah hal yang merepotkan.
Tapi entah kenapa bersama Denara, Tian merasa nyaman hingga membuatnya mulai timbullah perasaan suka dalam hatinya.
''Iya Bu, dia orang yang cukup berbeda dan bisa membuat Tian tersenyum setiap kali menginggatnya.''
Ibunya hanya tersenyum mendengar ucapannya, membuat Tian malu sendiri menceritakan hal ini pada Ibunya.
''Wah, Ibu jadi penasaran. Seperti apa orangnya, hingga kamu tersenyum-senyum seperti ini.'' Balas Ibunya.
''Apakah Ibu bisa bertemu dengannya.'' Tanyanya.
Membuat Tian mengerutkan dahinya, menatap ke arah Ibunya.
''Maksud Ibu bertemu dengannya??''
''Ibu mau kamu ajak dia main ke rumah kita. Biar Ibu bisa kenal lebih dekat sama dia.'' Lanjut Ibunya.
Membuat Tian membelalakkan matanya, bagaimana bisa Ibunya bilang ingin bertemu dengab Denara. Setelah Tian mengatakan perasaan suka itu pada Denara, bahkan sejak kemarin Tian sama sekali tidak berkomunikasi dengan Denara. Lalu bagaimana bisa Tian mengajak Denara kemari saat situasinya sedang tidak tepat seperti ini, pikir Tian.
...Bersambung........
......................
Hola pembaca👋🏻
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, vote, favorit, komen dan rate 5. Biar Author tambah semangat buat nulis dan cepet buat upnya🍃.
Sayonara....