Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
23 part 1


__ADS_3

Tian saat ini berencana akan liburan ke kampung halaman sang Ibu, sudah satu minggu lebih Ibu, Ayah serta Tania berada di kampung.


Sekarang sudah waktunya bagi Tian untuk menyusul ke sana. Sebenarnya Tian tak bisa libur untuk satu minggu ini. Tapi sang Ibu memarahinya. Jika dirinya tak muncul juga di sana, maka namanya akan di coret dari kartu keluarga.


Bosnya sebetulnya sudah pernah menawarinya mengambil cuti, tapi memang Tiannya saja yang belum berniat untuk melalukan liburan. Tapi desakkan dari Ibunya membuat Tian tak bisa menolak.


Tian menaiki motor miliknya, dengan kecepatan sedang. Sembari menikmati hembusan angin yrng bertiup kencang. Tian cukup lama berada di jalan, sampai dirinya memutuskan istirahat di tempat pemberhentian seluruh bus yang akan pergi ke kampung.


Tian mulai turun dari motor miliknya, menuju salah satu warung makan. Berniat untuk makan sebentar untuk mengisi tenanga.


Sampai dirinya melihat seseorang yang cukup dirinya kenal. Membuat Tian, memutuskan memanggilnya.


''Nara, kau ada di sini??'' Langakah Tian, mulai mendekat.


''Tian....''


Tian mulai duduk tepat di samping Denara saat ini.


''Kau sedang apa di sini??'' Tanya Tian, sembari memesan makanannya.


Denara sempat menunduk sebentar, sebelum menjawab pertayaan Tian.


''Aku hanya ingin pulang ke kampung.'' Jawab Denara sembari mengaduk teh miliknya.


Mendengar kata kampung membuat Tian langsung menoleh kembali kearah Denara.


''Benarkah?? Wah kebetulan sekali, aku juga berencana akan ke kampung.'' Ucap Tian semangat.


Membuat Denara tersenyum geli melihatnya, Denara merasa jika Tian ini mirip seperti anak kecil.


''Kau tersenyum, aku senang melihatnya.'' Jawab Tian menatap lekat Denara.


Membuat Denara langsung merubah ekspresi mukanya, seperti biasa.


''Jangan bersedih seperti tadi, aku tak suka melihatnya.'' Ujar Tian dengan terang-terangan,bmembuat Denara tertegun mendengarnya.


......................


Ares merasa, jika susana rumahnya terasa aneh. Suasana ini terasa asing baginya. Sepi dan sunyi, entah kenapa hatinya merasa jika ada yang hilang di sana. Tapi Ares tak tahu itu apa.


Ares memasuki rumah dengan langkah lesu, tak terasa langkah kakinya bahkan mulai melangkah melewati ruang tamu, kamar, ruang makan, hingga kakinya berhenti di ruang dapur.


Sepintas bayangan seorang wanita muncul di kepalanya. Wanita yang selalu memasak di dapurnya saat pagi, wanita yang selalu membuatnya marah-marah. Dan wanita yang selalu membuatnya terasa berdebar tanpa dirinya sadari.


'Denara.' Batin Ares.


Ares mulai melanjutkan langkah kakinya, hingga dirinya saat ini persis berdiri di depan kamar milik Denara.


Pintu kamar sudah tak terkunci lagi, membuat Ares mudah untuk membuka pintunya. Ares mulai melangkah masuk kedalam kamar. Di sana, lebih tepatnya di dinding kamar.


Terdapat poster-poster Aktor yang selalu di sukai oleh wanita itu, bahkan saat dirinya bilang jika Ares yang paling tampan. Maka wanita itu akan cepat menjawab perkataannya, jika dirinya hanya diakui oleh lokal saja sedangan Aktor itu, sudah di akui di internasional.


Tanpa sadar membuat Ares tersenyum mengingatnya, sampai bayangan wanita itu menanggis muncul. Membuat senyum Ares menghilang seketika, rasa bersalah kini mulai menyeruak di hatinya.


Ares bahkan mengepalkan tangannya, saat mengingat kata-kata kasar yang dirinya ucapkan pada Denara. Tuduhan tanpa bukti yang di lakukam olehnya, membuat Ares merasakan sakit mengingat wajah Denara yang berderai air mata.


'Bodoh, kau Ares.' Batinnya.


Ares mulai keluar dari kamar milik Denara, langkah kakinya mulai berjalan cepat ke arah kamar miliknya. Saat masuk kedalam kamar, Ares dengan cepat mencari sesuatu di tumpukkan berkas kerja miliknya.


Hingga tangannya dengan sigap mengambil map yang bertuliskan data pekerja rumah.

__ADS_1


Mata Ares meneliti dengan seksama setiap kertas yang terdapat di situ. sampai matanya menatap bebinar satu kertas bertuliskan nama Denara Emilia.


......................


''Mau pergi bersama??'' Tawar Tian, yang sudah menaiki motor miliknya.


Denara sebenarnya ingin menolak, tapi jika dirinya menolak, maka Denara harus berjalan sekitar 20 menit untuk sampai di pengkolan ojek dan itu akan memakan waktu cukup lama terlebih lagi hari sudah mulai sore.


''Baiklah kalau begitu. Tapi, apa tak merepotkan Tian??'' ucapnya tak enak.


''Nara, dengar yah. Aku juga akan pergi ke kampung sama sepertimu, jadi itu tak merepotkan sama sekali. Kita satu arah Nara.'' Jelas Tian gemas.


''Sungguh tak apa,'' tanya Denara lagi.


''Iya Nara, kau ini cerewet sekali.'' Mencubit pipi Denara gemas.


''Ihh.... Tian, nanti pipiku bisa melebar.'' Mencoba melapas cubitan pipi yang di lakukan Tian.


''Tidak akan, sebelum Nara bilang iya untuk ikut bersamaku naik motor.'' Tolak Tian.


Membuat Denara malu tentu saja, bukan tanpa alasan. Sadari tadi orang-orang di sekitar sudah memperhatikan tingkah mereka. Dari pada mereka berpikir hal-hal yang tidak-tidak, dengan cepat Denara mengangguk.


''Iya, aku akan ikut.'' Jawab Denara.


Membuat Tian dengan segera melepas tangan miliknya dari pipi Denara, yang terlihat sedikit memerah.


''Bagus kalau begitu.'' Sembari mengusap lembut pipi Denara yang memerah.


Deg...


Tanpa sadar wajah Tian berubah sedikit gugup, apalagi jaraknya dengan Denara cukup dekat. Membuat Denara yang melihatnya sedikit heran.


''Tian, kau tak apa?? Wajahmu memerah.''


''Aku tak apa, cepat naik.'' Jawab Tian yang memakai helm.


Membuat Denara mematapnya aneh.


'Ada apa dengan Tian?' Batin Denara heran.


......................


Ares sejak tadi sibuk mondar-mandir sembari memegang ponsel miliknya, dengan wajah gusar Ares mulai mencoba menekan sesuatu di ponselnya tapi selalu urung di lakukannya.


''Telpon, tidak, telpon, tidak, telpon, tidak, telpon....''


Ucapan yang Ares ulang sejak tadi tanpa henti. Hingga suara bel berbunyi membuat Area yang saat ini sedang bimbang terlihat kesal.


Dengan segera Ares beranjak dari ruang tamu menuju pintu.


Cklekk....


Terdapat seorang anak kecil laki-laki, memakai baju kemeja serta celana pendek dan tak lupa dengan tas bergambar wajah mail yang dirinya kenakan.


''Om, kenapa lama buka pintunya...'' Omelnya.


Membuat Ares menatap datar anak itu.


''Apa yang kau lakukan di sini, Zion???''


''Aku ke sini tentu saja ingin menginap, dan bermain bersama Kak Dena. Tapi tumben Om yang membuka pintu, kemana Kak Dena??'' Tanya pada Ares.

__ADS_1


Mendengar perkataan Zion, membuat Ares memijat dahinya pelan.


''Dia sudah tak bekerja di sini lagi Zion.'' Jawab Ares pelan.


Zion yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu, menatap Ares dengan raut wajah kaget.


''APAAAAAAA!!!!!!'' Teriak Zion.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ares Ananta



Denara Emilia



Tian Aljaya



Jesi Arabela



...~Bersambung.~...


Hola pembacašŸ˜„.

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya dengan cara, like, rate 5, vote, favoritnya jugaā¤. Karena hal itu bisa buat Dao semangat up dan nulisnya🐣.


Terimah kasih telah singgah, jangan lupa dukungannya yahšŸ¤—.


__ADS_2