
...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃...
Tania sejak tadi tidak berheti-henti menatap buku pelajarannya, hari minggu ini. Tania benar-benar sibuk, dengan tugasnya sudah menumpuk bahkan catatannya pun juga begitu.
''Kenapa makin banyak sih,'' kesalnya saat melihat ke tumpukkan buku yang ada di ranjang tidurnya.
Tangan Tania kini mulai menyusun berbagai buku yang sudah dirinya kerjakan sebagian, tinggal sebagian buku lagi yang menunggunya.
Tok...
Tok...
Cklek...
Tian masuk ke kamar Tania, dengan raut wajah yang terlihat bingung.
''Dek, kenapa bukunya pada bertebaran di mana-mana??'' Menujuk pada buku-buku yang ada di lantai, di kursi, di meja dan di ranjang tidur Tania.
''Lagi sibuk Bang, gak usah tanya-tanya.'' Balas Tania.
''Dek, Abang mau minta tolong.''
Tangan Tania yang tadi sibuk menyusun seketika berhenti, apakah saat ini Abangya sedang bercanda?? Apakah Abangnya lupa jika saat ini Tania benar-benar tidak bisa di ganggu.
''Bang, aku lagi nolak buat bantu-bantu Abang.'' Sahut Tania.
''Yah, Dek... Kok gitu sih??? Abang lagi darurat banget ini!!!'' Ucap Tian.
''Emang darurat apaan sih Bang??''
Tian lalu menutup pintu kamar Tania, dan berjalan mendekat ke arah Tania yang masih sibuk dengan buku-bukunya.
''Ini masalah Nara,'' Bisik Tian pelan.
''Emang kenapa Kak Denara??''
Tian mulai duduk di samping Tania dan mulai menceritakaan semuanya. Membuat Tania yang mendengarnya tidak berhenti tertawa.
''Bhaaahhahaha.... Abang di suruh sama Ibu, buat bawa Kak Denara ke rumah...'' Tania benar-benar tertawa lepas.
''Dek, jangan sampe kamu kualat yah... Gara-gara ketawaiin Abang.'' Omel Tian.
''Terus, Tania harus ngapain??'' Tanya Tania.
Tian mulai menjelaskan pada Tania, mengenai rencananya untuk mengajak Denara berkunjung ke rumahnya.
''Oke,'' jawab Tania.
......................
Denara sudah selesai menata makanan yang masih hangat di atas meja makan.
''Sekarang waktunya memanggil Zion dan Tuan.''
Denara berjalan ke arah kamar Zion terlebih dulu, setelah itu ke kamar Ares. Sampai di depan kamar Ares, Denara sedikit ragu untuk mengetuk pintu.
''Ketuk, enggak, ketuk, enggak, ketuk... Oke pelan-pelan saja Denara.'' Gumannya sambi memejamkan matanya.
Tangan Denara terangkat untuk mengetuk pintu, tapi ada yang aneh dengan pintu kamar Ares. Entah kenapa Denara merasa, jika pintu kamar memiliki hidung yang lebih mancung dari miliknya.
Merasa ada yang tidak beres, Denara mulai membuka secara perlahan matanya, saat matanya terbuka secara sempurna.
Denara dengan segera menjauhkan tangannya dari sana, saat tahu yang di ketuk olehnya adalah wajah Ares bukan pintu kamarnya. Pantas saja Denara merasa aneh.
''Apakah segitu kesalnya, hingga kau memukul wajahku seperti pintu??'' Ketus Ares.
''Maaf Tuan, saya gak sengaja. Saya bahkan gak tahu kalau sejak tadi pintunya sudah terbuka.'' Jawab Denara kaku.
''Sebenarnya apa yang kau pikirkan Denara,'' dengan pelan Ares melangkah maju.
''Sungguh Tuan, saya benar-benar tidak sengaja.'' Jawab Denara, yang mulai mundur.
''Apakah sejak tadi, kau memikirkan jawaban mengenai pernyataanku atau peenyataan Tian??''
'Kenapa Tuan membahasnya lagi!!!' Batin Denara menjerit kesal.
''Tidak,'' ucap Denara memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Langkah Ares semakin mendekat, membuat Denara dengan cepat melangkah mundur. Tapi karena hal itu pula, Denara hampir saja terjatuh ke lantai jika saja Ares tidak menarik tangannya dengan cepat.
''Kau ini ceroboh sekali, Denara.'' Memegang tangan Denara.
''Te-terima ka-kasih, Tu-Tuan.'' Ucap Denara gugup.
''Sama-sama,'' mengusap kepala Denara pelan lalu berjalan ke arah meja makan.
Deg...
Jantung Denara berdebar, saat tangan Ares mengusap kepalanya dengan lembut.
''Ada apa denganku sebenarnya??''
......................
Tania menaiki taksi menuju alamat yang di berikan oleh Tian padanya, sampai di tempat tujuan. Tania tidak henti-hentinya, menatap kagum ke arah rumah yang ada di depannya.
Tania berjalan memdekat ke arah gerbang yang kebetulan ada yang berjaga di dekat sana.
''Assalamualaikum Pak, apa bener ini tempat kerjanya Kak Denara???'' Tanya Tania sopan.
''Betul, Adek ini siapa yah???'' Tanya Pak Tejo.
''Saya Tania Pak, Adiknya temen Kak Denara.''
''Oh, memag ada tujuan apa, Adek datang ke sini??''
''Saya ada perlu penting Pak, sama Kak Denara. Bisa tolong panggilkan Pak.'' Ucapnya.
''Bentar, saya telpon dulu.''
Setelah menunggu lima menit, Pak Tejo akhirnya membuka pintu gerbang dan memperbolehkan Tania untuk masuk ke dalam.
......................
'Game over,' suara yang berasal dari ponsel Zion.
''Kenapa kalah lagi sih, padahal sebentar lagi naik level.'' Kesal Zion.
Ting nung....
Ting nung...
Ting nung...
Cklekk...
''Aaaaaaaa.....'' Teriak Zion serta Tania secara serempak.
''Ngapai bocil ada di sini???'' Tanya Tania ketus.
''Harusnya aku yang nanya, ngapain Kakak datang ke rumah Omku.'' Balas Zion dengan ketus.
'Jadi saingan Bang Tian, adalah Oppa-Oppa waktu itu??' Batin Tania.
''Mau ketemu sama Kak Denaralah,'' jawab Tania.
''Kak Dena gak ada,'' menghadang pintu agar Tania tidak bisa masuk.
''Eh bocil, ngapain sih pake handang-handang segala.'' Omel Tania.
''Suka-suka aku dong, inikan rumahnya Omku.'' Balasnya sombong.
''Bodoh amat, minggir.'' Menarik tangan Zion agar menjauh dari pintu.
''Enggak mau...'' Kata Zion.
''Minggir Bocil, jangan di depan pintu.....'' Sahut Tania.
''Enggak akan, pokoknya Kakak gak boleh masuk..''
''Minggir, bocil!!''
......................
Denara sudah selesai menata piring bersih di rak piring, tapi saat akan ke kamarnya, Denara mendengar suara ribut yang cukup menggangu.
''Kenapa ada suara ribut-ribut yah,'' Denara demgan segera menghampiri sumber suara.
__ADS_1
Sampai di sumber suara, Denara benar-benar merasa kaget dengan apa yang di lihat olehnya saat ini.
''Eh, ini pada kenapa sih.'' Memcoba memisahkan Tania dan juga Zion.
''Kak Dena...''
''Kak Denara...''
''Iya, kalian kenapa pada ribut begini sih??'' Tanya Denara sambil menatap Zion serta Tania secara bergantian.
''Ini gara-gara dia,'' ucap mereka saling menunjuk satu sama lain.
''Bukan Kak Dena, ini salah Kakak ini.''
''Bohong Kak, ini salah si bocil.''
Dan perdebatan antara Zion dan Tania kembali terjadi lagi, mereka saling menunjuk satu sama lain dan mengatakan jika mereka tidak bersalah.
Bahkan Tania dan Zion saling menatap tajam ke arah satu sama lain, membuat Denara yang melihatnya hanya bisa memijat dahinya pelan.
'Baru saja berhenti, sudah lanjut lagi...' Batin Denara.
......................
Ares yang sejak tadi terganggu dengan suara ribut yang berasal dari luar, membuat Ares memutuskan untuk mengeceknya sebentar.
Dari kejauhan, Ares melihat ada Denara, Zion dan ada satu gadis perempuan yang juga ada di sana. Entah apa yang mereka debatkan hingga membuat suara ribut yang sangat menganggu.
Ares melangkah cepat untuk melihat dengan lebih jelas lagi.
......................
''Kalian berhenti!!!!'' Lerai Denara pada Zion serta Tania.
Tapi ucapan Denara sama srkali tidak di gubris oleh mereka, malah mereka tambah semakin memjadi-jadi dalam perdebatan ini.
''Apakah membuat keributan adalah hobi kalian??''
Denara seketika menoleh ke arah Ares yang berdiri di belakangnnya dengan tatapan yang tajam, tapi tatapan itu bukan mengarah padanya, melainkan pada Tania dan juga Zion yang sedang berdebat.
''Tuan,'' ucap Denara.
Sementara Zion dan Tania hanya diam, mereka secara langsung terdiam saat mendengar suara Ares yang terdengar kesal.
''Ada apa kau datang ke rumahku??'' Pertanyaan yang di tujukan Ares pada Tania.
''Aku hanya ingin membicarakan sesuatu pada Kak Denara saja.'' Jawabnya.
''Baiklah bicara saja,'' balas Ares.
''Kak Denara, aku datang ke sini mau menyampaikan sesuatu yang penting padamu.'' Menatap ke arah Denara.
''Mengenai apa??'' Tanya Denara.
Zion dan Ares hanya memperhatikan saja, dan memdengarkan percakapan yang terjadi antara Denara dan Tania.
''Ibuku.'' Ujar Tania.
''Ada apa dengan Ibumu, Tania??''
''Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Ibu mendengar obrolanku bersama Kak Tian mengenai Kak Denara. Setelah hal itu, esoknya, Ibu meminta sesuatu pada Kak Tian.''
''Apa yang di minta oleh Ibumu??''
''Ibu bilang pada Kak Tian, un-untuk....'' Ucap Tania menggantung.
''Untuk apa Tania, katakan dengan jelas...'' Balas Denara yang penasaran.
''Ibu mau bertemu dan mengajak Kak Denara untuk datang ke rumah hari ini.'' Lanjut Tania.
Perkataan Tania membuat Ares, Denara serta Zion kaget tentu saja.
''APAAAA!!!!'' Ucap mereka dengan kompak.
...Bersambung.......
......................
Jangan lupa untuk like, vote, komen, favorit dan rate 5 cerita ini.
__ADS_1
Terima kasih bagi yang sudah mendukung😊.
Sayonara🍃.