
Tak terasa sudah 3 hari Ares dirawat dirumah sakit, dan hari ini dirinya sudah diizinkan untuk pulang kerumah, segala barang-barang miliknya, sudah disiapkan oleh Denara.
'' Kamu sudah membereskan semuakan Denara '' sambil mengancingkan jas miliknya
'' Sudah Tuan, Udah diberesin semua tinggal dimasukkin dibagasi aja '' jelas Denara dengan tangan menenteng tas yang berisi pakaian Ares
'' Sini Neng, tasnya biar Bapak aja yang bawa '' sambil menyambut tas dari tangan Denara
Setelah dirasa cukup, mereka mulai berjalan keluar menuju mobil yang sudah terparkir didepan rumah sakit.
Ares sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, perasaan,fisiknya semuanya perlahan-lahan mulai pulih. Berita Ares dan Clarissa bahkan sudah mulai reda tak seheboh sebelumnya.
'' Nara '' panggil Tian menghampiri mereka
'' Loh, Tian kenapa ada disini ? '' tanya Denara
'' kebetulan aja lewat '' jawab Tian
' Kebetulan gimananya coba, ini mah namanya sengaja ' batin Ares jengkel
'' Oh gitu '' jawab Denara
'' Kamu mau kemana? '' tanya Tian melihat Denara yang memasukkan tas milik Ares
Melihat Denara akan menjawab, dengan cepat Ares mendahuluinya.
'' Ngapain kamu nanya-nanya, tukang survei kamu '' ketus Ares tak suka
Tian merasa jika Ares ini, benar-benar tak suka padanya. Dari awal melihat bertemu Ares seperti mengibarkan bendera perang padanya.
'' Saya kan nanyanya sama Nara, bukan sama anda '' balas Tian sewot
'' Saya gak izinkan Denara bicara sama kamu '' sinis Ares menatap tajam Tian
'' Emangnya anda siapa, sampai-sampai melarang Nara segala '' ujar Tian tak suka
'' Saya majikannya, karena itu saya melarangnya bicara pada orang asing seperti kau '' tekan Ares
'' Saya ini temannya, bukan orang asing '' balas Tian
'' SAYA TIDAK PERDULI '' tegas Ares, mendorong tubuh Tian hingga menjauh dari Denara
'' masuk Denara '' perintah Ares
'' Tapi Tuan, inikan belum selesai '' ucapnya
'' MASUK SEKARANG '' ujar Ares dengan sedikit bentakkan
Denara dengan patuh menuruti perintah Ares, Tian yang melihat kejadian itu tentu saja kesal, dirinya tak terima.
'' EH...APA-APAAN KAU INI '' teriak Tian pada Ares yang sudah berada dalam mobil
__ADS_1
Ares sama sekali tak menanggapi, dirinya hanya menatap ponsel dengan cuek, sedangkan Denara hanya menghela nafas, dirinya kasihan terhadap Tian, kenapa pula Ares marah-marah.
'' Kenapa kamu melamun, kasihan sama dia ? '' tanya Ares
' Kok tahu, jangan-jangan turunan dukun nih ' batin Denara
'' Iya Tuan, sedikit '' cicit Denara pelan
Supir serta Pak Tejo sudah masuk kedalam mobil, bersiap pergi dan meninggalkan Tian yang masih berteriak disana.
.............
Rasanya sudah lama sekali Ares sudah tak kembali kerumah, saat pertama kali masuk dirinya berdiri sebentar didepan pintu.
Denara sudah sejak tadi memperhatikan Ares yang masih diam saja didepan pintu, padahal pintu sudah terbuka. Tapi Ares masih saja belum masuk kedalam.
'' Tuan, ngapain berdiri disini ? '' heran Denara
Posisi Denara saat ini persis berada disamping Ares, dengan menatap Ares bingung.
'' Saya hanya mau melihat-lihat saja '' jawab Ares
Denara hanya menganggukkan kepala, lalu masuk sambil menenteng tas dan menaruhnya dimeja ruang tamu.
' Tumben ' batin Ares
Kenapa Denara pendiam sekali hari ini, tak seperti biasanya. Yang selalu cerewet saat berbicara dengannya.
'' Denara '' panggil Ares
'' Iya Tuan, ada apa ? '' tanya Denara
'' Kamu sakit ? '' tanya Ares
'' Tidak '' sambil mengeleng
'' Aneh, kenapa kamu hari ini pendiam sekali '' ujar Ares perlahan mulai mendekati Denara
'' Gak apa-apa kok, saya mau lebih sabar aja '' jawab Denara seadaya
'' Sabar ? '' ulang Ares tak mengerti
'' Iya, ngadepi Tuan aja saya sabar, apalagi ngadepin Doi '' ucapnya
'' Cih..Memang kamu punya pacar ?'' tanya Ares tak yakin
'' Punya dong, emang Tuan.....JOMBLO'' tekan Denara saat mengucapkan kata jomblo
'' Alah paling juga kamu bohong'' Ares tak percaya
'' kalo saya kasih tahu Tuan, nanti minder lagi '' tolak Denara
__ADS_1
'' Siapa memangnya dia '' Remeh Ares
'' Babang Lee Min Ho dong '' ucap Denara sok
Mendengar hal itu membuat Ares mendorong Kepala Denara pelan.
'' Ngimpi kamu '' lalu pergi
...............
'' KENAPA JADI BEGINI SIHHH '' teriaknya kesal sembari melempar barang-barang yang ada di depannya
'' Sabar sayang, kenapa sih kamu jadi tambah emosiaan gini '' katanya santai
'' Sabar kamu bilang, gara-gara mulut kamu yang besar itu. Karir aku jadi hancur '' tunjukknya pada laki-laki itu
'' KAMU PIKIR CUMAN KAMU DOANG HAH! AKU JUGA SAMA...SAMA '' bentak laki-laki itu tak terima
'' Kamu berani bentak aku '' sudah mulai menanggis
'' Iya, kamu pikir aku bakalan diem aja. Diperlakukan semena-mena sama wanita seperti kamu '' balasnya tak perduli
'' Kenapa kamu yang jadinya marah! harusnya aku....Aku yang marah bukan kamu '' ucap wanita itu berlinang air mata
Dengan marah laki-laki itu mencengkram dagu wanita yang tengah menanggis dengan kencang.
'' Dengar baik-baik, bukan karena aku menerima semua perlakuanmu padaku. Aku akan diam saja, jadi jaga sikapmu wanita bodoh '' mendorong kasar lalu pergi meninggalkan wanita itu sendiri
'' Hikss...Hiksss...Kenapa jadi begini sih...Hikss...'' seraya memeluk lututnya meratapi semua yang terjadi.
...............
Ares mengistirahatkan badannya sejenak, sambil menatap langit-langit kamarnya. Semua yang terjadi didalam hidupnya saat ini cukup mengejutkan baginya, apalagi tentang Clarissa. Masih begitu membekas dihatinya, barang-barang serta kenang-kenangan mulai bermunculan dikepalanya.
Memang sulit ternyata, memulai hal yang baru. Awalnya dirinya begitu yakin bisa Move On dari Clarissa, tapi sepertinya bukan dalam waktu yang singkat.
Ares perlu banyak waktu untuk menghapus semua kenangan yang dimilikinya bersama Clarissa.
Ares bangun dari tidurnya, mulai mengambil album foto, baju, semua yang berhubungan dengan Clarissa. Ares singkirkan dan memasukkannya kedalam kardus.
Berat sekali rasanya, melihat satu persatu apa yang Clarissa berikan padanya, bersamaan dengan kenangan yang mulai terputar layaknya kompilasi cerita.
Ares harus kuat, cukup baginya untuk bersedih-sedih, sekarang saatnya memulai kenangan baru.
Untuk saat ini Ares memilih menutup hati untuk siapapun, karena baginya cinta hanya membuat seseorang lemah,terluka dan kecewa.
Jika Ares tahu bahwa mencintai seseorang itu menyakitkan, maka dirinya akan memilih untuk tak mencintai siapapum.
Bukankah Allah sudah menetapkan setiap umatnya akan berpasang-pasangan, maka Ares akan menunggu. Hingga sang pemilik hati sesungguhnya datang dan menyembuhkan luka hati yang terbuka dan hancur, untuk dibalut oleh penyembuh hati.
Dirinya saat ini akan fokus saja, pada pekerjaannya. Sudah cukup bagi Ares mengurusi hatinya, kini giliran pekerjaan yang terbengkalai oleh masalah ini yang harus dirinya selesaikan.
__ADS_1
Setelah usai mengumpulkannya Ares mulai menutup kardus mengunakkan lakban, agar tak berantakan.
' Selamat tinggal, bagi kamu yang pernah singah, Kenanganmu bersamaku akan menghilang dengan berjalannya waktu 'batin Ares berharap