
...Di larang memplagit, menjiplak atau pun mengcopy karya ini!!!!!...
...Happy Reading....
Tania menarik botol mineral yang berada di tangan Gandi, yang baru saja di buka olehnya. Gandi menoleh ke arah Budi yang saat ini berdiri persis di belakang Tania.
Budi yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Budi kemudian ikut duduk di samping kiri Tania, sementara Gandi duduk di sebelah kanan Tania.
Tania mulai meneguk habis air mineral itu dengan cara yang terburu-buru, membuat Gandi heran tentu saja.
''Habis lari Tan???'' Tanya Gandi pada Tania.
''Enggak,'' jawab Tania dengan nada kesal.
Budi lalu memyenggol pundak Gandi dari arah belakang. Membuat Gandi harus mundur sedikit dan menoleh ke arah Budi.
'Tania dalam mode singa, jangan ganggu.' Ucap Budi tanpa suara sambil menyilangkan tangannya.
'Kenapa,' balas Gandi.
Tapi tindakan yang di lakukan oleh Budi dan Gandi, tentu saja tak luput dari pandangan Tania, saat dirinya menoleh ke belakang.
''Kalian berdua benar-benar menjengkelkan!!!'' Ujar Tania, sambil berdiri serta menghentakkan kakinya.
Tangan Tania kemudian mengambil tasnya yang ada di meja, lalu pergi begitu saja.
......................
Tania mulai berjalan ke arah halte bis yang ada di dekat sana. Pikirannya tiba-tiba teringat akan kejadain yang baru saja terjadi padanya.
Flashback on.
'Kau pasti Tante itukan??'' Tanya anak kecil yang memakai seragam SD.
''Heh bocah, sembarangan kalo ngomong yah... Sejak kapan aku nikah sama Om kamu hah!!!'' Marah Tania.
''Siapa bilang kamu Tante aku, jangan mimpi.'' Balasnya sombong.
Tania mulai mengulung lengan bajunya seragam yang di kenakannya, membuat Budi yang melihat itu langsung panik.
''Eh-eh Tan, mau ngapain sih!!!'' Ujar Budi.
''Mau kasih pelajaran sama bocah inilah,'' sahut Tania.
''Ya Allah Tan, dia masih anak kecil. Udahlah.'' Jawab Budi, mencoba menenangkan Tania yang sedang emosi.
''Aku gak mau buang-buang waktu lagi, Tan-- ekhm, Kakak maksudnya.'' Ralat Zion.
''Tolong hapus foto yang Kakak posting kemarin di akun Kakak.'' Lanjut Zion.
''Enggak, enak aja.... Emangnya kamu siapa hah??'' Sewot Tania.
''Aku Zion lah, pake tanya segala.'' Balas Zion.
Membuat Budi yang melihat hanya menepuk jidat, melihat pertengkaran antara Tania dan Zion.
''Bener-bener yah ini bocah....'' Tania mulai maju, sambil mengangkat tangannya berniat menjewer Zion.
Budi yang melihat itu dengan cepat menahan Tania agar tak mendekat ke arah Zion.
''Ck, apaaan sih Budi.... Lepas gak!!!'' Kata Tania dengan mata yang melotot.
''Udah Tan, kita pergi aja...... Masa iya, mau beratem sama bocah.'' Jelas Budi.
''Bodoh amat Budi, aku gak perduli!!!'' Ucap Tania sambil berontak.
__ADS_1
''Heh bocah!!!! Pergi sono....'' Suruh Budi pada Zion.
Bukannya menuruti perkataan Budi, Zion malah menjawab perkataan Budi.
''Gak usah ikut campur deh, ini urusan aku sama Kakak ini.''
''Hahah... Haha... Haha... '' Tawa Budi yang di paksakan setelah mendengar ucapan Zion.
'Bocah edan.' Batin Budi.
''Tuhkan apa aku bilang, Bocah ini emang ngeselin Budi.'' Ucap Tania.
Budi sudah melepas Tania, dan tak menahannya lagi seperti Tadi.
''Selesaikan saja Tan, nyesel aku ngomong.''
''Emamgnya ada masalah apa??'' Tanya Tania anggkuh.
''Jelas dong ada, Kakak seenaknya foto Kak Dena sama laki-laki jelek itu!!!'' Jawab Zion, menatap ke arah Tania yang lebih tinggi darinya.
''Laki-laki jelek yang kau maksud itu Abangku yah!!!'' Balas Tania Geram.
''Pantes aja, sama-sama jelek.''
''Bocah gila ini!!!! AKU TAK AKAN PERNAH MENGHAPUSNYA!!'' Ucap Tania dengan berapi-api.
Lalu menarik tangan Budi untuk pergi dari sana.
Flashback off.
......................
Denara merasa tidak enak semenjak kejadian kemarin itu, Ares terlihat sekali menghindarinya. Bahkan Ares sengaja bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor suapaya tak menemuinya.
''Ckkk... Kenapa jadi begini sih.'' Ucap Denara sambil mengacak rambutnya.
''Halo??'' Suara dari sebrang sana.
''Tian, apakah kamu sudah sehat??'' Tanya Denara.
''Tentu sudah sehat berkat bantuanmu kemarin,'' jawab Tian, mengenai kejadian suap-suapan itu.
''Be-benarkah??'' Tanya Denara Kaku.
''Ya benar, apakah kau sedang sibuk saat ini??''
''Ya, sangat sibuk... Ada apa??''
''Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan saja.''
''Tapi Tian, bukannya kamu baru saja sehat. Mending sebaiknya istirahat saja.'' Saran Denara.
''Baiklah kalo kamu bilang begitu, tapi Nara... Kenapa ponselmu tak aktif kemarin??''
Membuat Denara kembali mengingat perkataan Ares yang di katakan padanya kemarin, mengenai Tian. Apakah sebaiknya Denara bertanya saja?? Tapi jika di tanya secara langsung bukannya akan memalukan apa lagi di seorang wanita.
''Nara....''
''Nara...''
''Eh iya, ada apa Tian??''
''Kamu melamun??''
''Tidak, aku baru saja mengingat sesuatu.''
__ADS_1
''Apa??''
''Masalah pekerjaan saja,''
''Baiklah, nanti aku hubungi lagi. Dah Nara..''
''Dah, Tian...''
Tut....
''Apa yang sebenarnya kau lakukan Denara.'' Gumannya sambil memukul-mukul kasur tidurnya.
......................
Ares mulai menanda tanganni, berkas-berkas kerja yang sudah menumpuk. Tapi pikirannya tiba-tiba teringat akan kejadian waktu itu, saat dirinya memarahi Denara karena kesal dan juga cemburu.
Ares Akui jika dia saat ini menyukai Denara, entah sejak kapan itu terjadi. Tapi setiap melihat Denara yang berdekatan dengan Tian, rasa amarahnya tiba-tiba saja muncul begitu saja.
Walaupun Ares masih tidak percaya dengan perasaannya, jika dia saat ini menyukai Denara. Bukan tanpa alasan Ares menyimpulkan hal itu. Jika di lihat dari tanda-tanda yang di katakan oleh Deni serta Tian, bahkan google pun sudah berbicara dan mengatakan bahwa Ares sudah mulai menyukai Denara.
''Sebenarnya apa yang kau katakan kemarin Ares, bagaimana jika dia benar-benar menyukai Tian atau jangan-jangan mereka sudah berpacaran setelah mendengar ucapan ku kemarin.'' Ucap Ares.
''Anda menyukai seseorang Pak,'' Kaget Deni.
Membuat Ares tersadar jika saat ini, bukan hanya dirinya saja yang berada di ruangan itu. Tapi ada Deni dan juga Zion. Untung saja Zion tidur, jika tidak Ares akan malu kalau bocah itu tahu jika dirinya menyukai Denara.
''T-tidak saya hanya asal berbicara.'' Elak Ares.
Deni yang mendengar itu tentu saja tidak percaya, dia tahu benar dengan sifat Ares yang belakangan ini sedikit aneh. Dan hal itu ternyata benar seperti fugaanbnya jika Ares sedang menyukai seseorang.
''Bilang saja Pak, saya tahu kok orangnya.'' Pancing Deni.
''Sok tahu kamu,'' Sahut Ares ketus.
''Mau saya sebutin??'' Tanya Deni.
''Memangnya siapa??'' Tanya Ares Balik.
''Beneran yah Pak, saya sebutin.'' Ucap Denis serius.
''Sebut aja, orangnya...'' Tantang Ares pada Deni.
''Oke kalo Pak Ares izinkan, Namanya adalah....''
''D...''
''E...''
''N....''
''A...''
''R---''
''Stop, kalau kamu lanjutkan ejaanmu itu..... Gaji kamu akan saya potong dua kali lipat.'' Ucap Ares tajam.
Deni langsung menutup mulutnya serapat-rapatnya seperti lem, padahal Ares lah yang mengizinkannya untuo berbicara. Tapi saat akan menyebutkan namanya, tiba-tiba saja Ares bilang ingin memotong gajinya. Bahkan dua kali lipat dari biasanya.
''Potong gaji terosssss....'' Gerutu Deni pelan, sambil berjalan ke luar ruangan.
Bersambung...
......................
Hola Pembaca👋🏻.
__ADS_1
Jumpa lagi sama Dao_Sea, jangan lupa untuk like, vote, komen, favorit dan rate 5. Wokeh👍🏻👍🏻.
Sayonara👋🏻.