
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun memgcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃....
Denara sedang sibuk membersihkan rak buku yang ada di samping meja televisi. Setiap kali Denara membersihkan rak buku, Denara selalu memerlukan kursi kecil untuk membantunya menjangkau tempat-tempat yang tinggi.
Walau pun kesulitan, Denara tetap menjalankan tugas bersih-bersihnya dengan sangat baik. Kemoceng yang ada di tangan kanan dan lap pembersih yang ada di tangannya sangat membantunya dalam membersihkan rak buku.
Denara mulai membersikan dari atas rak buku, lalu ke bagian rak buku lainnya. Selain itu, Denara juga memakai masker saat membersihkannya agar terhindar dari debu. yang bertebaran di sana.
......................
Ares bangun dari tidurnya dan segera menenggok ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, Ares mulai bangkit dari ranjang tidurnya menunju kamar mandi untuk bersih-bersih dan bersiap untuk ke kantor.
Karena kemarin Ares mengambil cuti satu hari, maka bisa di pastikan kerjaannya akan menumpuk hari ini. Walau pun begitu, Ares tidak keberatan sama sekali terlebh lagi alasan dirinya cuti kemarin karena menghabiskan waktu bersama Denara.
Usai bersih-bersih dan bersiap, Ares lalu mengambil jam tangan serta dasi dan tidak lupa tas kerjanya.
Ares mulai melangkah keluar dari kamarnya menuju meja makan. Tapi Ares menghentikan langkahnya sejenak, saat melihat Denara yang berdiri di depan rak buku. Ares bisa melihat wajah Denara yang serius saat membersihkan rak buku itu.
Ares memutuskan menghampiri Denara dengan langkah pelan, sebelum itu Ares menaruh tas kerjanya di sofa. Lalu mulai berjalan ke arah Denara.
Dengan pelan Ares melangkah, berharap Denara sama sekali tidak mendengar langkah kakinya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Dan beberapa langkah berikutnya, hingga Ares sampai berdiri persis di belakang Denara. Ares sedikit tersenyum dengan apa yang dirinya lakukan kali ini.
Perlahan-lahan Ares menganggkat ke dua tangannya untuk memeluk Denara dari belakang. Saat tangan Ares sudah melingkar sempurna di tubuh Denara.
''Aaaaaaaa....'' Teriak Denara kaget saat melihat sepasang tangan melingkar di perutnya.
Karena kaget, Denara tidak bisa berdiri dengan benar di atas kursi yang menjadi pijakkannya. Melihat Denara yang tidak seimbang di atas kursi, Ares mulai mengangkat tubuh Denara yang akan jatuh dan memindahkannya hingga Denara bisa berdiri di lantai dengan benar.
''Kamu bikin aku kaget tahu gak, ini juga, pake peluk-peluk segala.'' Melihat tanga Ares yang masih memelukknya dari belakang.
''Maaf yah bikin kamu kaget, masa peluk pacar sendiri gak boleh.'' Bukannya melepas, Ares malah semakin erat memeluk Denara.
''Mas, lepas gak!!'' Teriak Denara yang mulai risih.
''Kamu giliran marah panggilnya Mas, giliran aku suruh gak mau.'' Seolah-olah tidak perduli dengan teriakkan Denara padanya.
''Kamu nyebelin.'' Sambil memukul tangan Ares yang melinggkar di perutnya.
''Biarin, yang penting aku sayang kamu.'' Jawab Ares.
Ares masih memeluk Denara sampai suara Zion mulai menganggu kesenangan Ares yang sedang memeluk Denara.
''Om jangan peluk-peluk Kak Dena, nanti Kak Denannya remuk.'' Berjalan mendekat ke arah Ares dan Denara.
''Kamu pikir Om ini raksasa.'' Sewot Ares atas ucapan Zion.
''Om masih gak mau lepasin pelukkannya??'' Ujar Zion yang sudah berdiri di hadapan Ares dan Denara.
__ADS_1
Ares mengangguk sedangkan Denara sudah sejak tadi berontak dari pelukkan Ares. tapi tidak kunjung di lepaskan Ares.
Zion melihat jika Denara mulai tidak nyaman dengan tindakan Ares yang terkadang seperti anak kecil menurut Zion.
''Ngapain kamu foto-foto segala.'' Tanya Ares yang melihat Zion yang sedang memotret mereka menggunakan ponsel miliknya.
''Mau kirim ke Mami,'' jawab dengan santai.
Mendengar hal itu Ares langsung saja melepaskan pelukkannya dan mulai memberi jarak antara dirinya dan juga Denara.
''Bocah penggangu, awas saja kamu minta jajan sma Om.'' Ancam Ares.
''Kalau pun Om gak kasih aku uang, aku tinggal minta sama Mami dan Papi.'' Balas Zion sombong.
......................
Deni mengantarkan berkas-berkas yang akan di perlukan oleh Ares dalam persidangan nanti. Cukup banyak berkas-berkas yang berada di tangan Deni. Sampai Ares memijatkan sedikit dahinya melihat hal itu.
''Apakah sebanyak ini??''
Deni mengangguk.
''Kemarin saat Pak Ares tidak hadir di kantor, banyak sekali klien yang berdatangan ke kantor kita untuk meminta bantuan Pak Ares.'' Jelas Deni.
Melihat begitu banyaknya berkas yang harus Ares pelajari dan hal ini bisa di pastikan akan membuatnya lembur bekerja di kantor.
''Sepertinya kita akan lembur hari ini.'' Mulai membaca berkas-berkas yang di bawa oleh Deni satu persatu.
Deni pun ikut membantu Ares, dengan menyusun urutan berkas yang mana terlebih dulu harus Ares baca.
''Pak...''
''Sudah saatnya menjemput Zion,'' mengingatkan Ares.
Ares melirik jam tangan yang melikar di pergelangan tangan kanannya.
''Benar, kamu jemput sekarang saja Deni.'' Perintah Ares.
''Baik Pak..'' Berjalan keluar ruangan Ares.
......................
Drtt...
Drtt...
Drrt...
''Halo??''
''Kamu lagi ngapain??'' Tanya dari sebrang sana.
''Menonton, kenapa??''
''Aku kangen kamu.''
''Ketemu juga tiap hari, masa kangen.'' Balas Denara.
__ADS_1
Yang saat ini menelpon Denara adalah Ares. Ares memang selalu bertingkah seperti ini semenjak mereka berpacaran.
''Kamu udah makan??'' Tanya Denara.
''Udah dong, kamu udah makan??'' Tanya Ares.
''Udah, kamu pasti sibukkan.''
''Iya, padahal aku ingin cepat pulang ke rumah dan memelukmu.'' Ucapnya seperti anak kecil.
''Pikirannya pelukkan terus, kerja yang bener sana.''
''Oh udah berani yah sama aku sekarang,'' dengan nada yang sedikit marah.
''Mas, kamu marah.'' Ujar Denara yang menyadari nada bicara Ares.
''Kamu takut banget yah sayang, kalau aku marah??'' Goda Ares.
''Enggak tuh,'' elak Denara.
''Ara sayang, semangati Mas dong.'' Dengan nada yang merayu.
''Ih geli tahu,'' mendengar perkataan Ares yang menurut Denara mengelikan.
''Hmm..''
Denara tersenyum mendengarnya, lalu mulai berbicara.
''Mas sayang, semangat yah kerjanya.''
Tut...
Denara langsung mematikan sambungan telpon setelah mengatakan hal itu.
......................
Ares yang tadinya pusing karena banyaknya berkas yang menumpuk di mejanya, kini mulai tersenyum-senyum senang, setelah menelpon Denara.
Ares sungguh-sungguh senang mendengar apa yang di katakan oleh Denara padanya.
'Mas sayang, semangat yah kerjanya.'
Kata-kata itu terus tergiang di kepalanya, dan karena hal itu pulalah Ares tidak berhenti tersenyum.
''Ara kamu menggemaskan sekali.'' Ketika menginggat wajah Denara.
Tok...
Tok...
Tok...
''Masuk...'' Perintah Ares yang masih tersenyum.
Saat pintu terbuka dan orang itu mulai berjalan masuk. Ares yang melihat orang itu, langsung berdiri dan segera menghampirinya
''Sepertinya kamu sedang senang Ares.'' Ucap orang itu, saat melihat wajah Ares.
__ADS_1
...Bersambung.......