
Happy Reading❤
Ares sangat marah saat ini, melihat apa yang terjadi di depan matanya saat ini. Denara dengan lancangnya masuk kedalam kamar miliknya, bukankah Ares s7dah melarang jika Denara tidak boleh memasukki kamarnya.
Dengan langkah cepat Ares masuk ke dalam kamarnya dan mulai menarik tangan Denara dengan kuat.
''T-Tuan...Sa-sakit...Sa-saya bi-bisa jelaskan,'' mencoba memohon pada Ares.
Ares seolah-olah tak peduli dengan apa yang di ucapkan Denara. Bagi Ares orang yang bersalah memang harus di hukum.
''Saya tak butuh omong kosong yang kau ucapkan.'' Menarik tangan Debara kuat.
Setelah sampai di depan kamar, dengan kasar Ares melepaskan tangannya hingga membuat Denara terjatuh ke lantai. Wajah Denara yang sudah berlinang air mata tak juga membuat Ares luluh.
''Hiks...Hiks...T-tuan, sa-saya...Ti-tidak bohong..Hiks..'' Ucap Denara mencoba menjelaskan dengan sesegukkan karena menanggis.
''Saya...Hiks...Hiks...Ta-tadi melihat Nona Jesi yang mencoba membuka kamar Tuan, hiks....Hiks...Lalu saya men-mendekatinya....Nona Jesi bilang, jika hiks...Hiks....Dia di suruh oleh Tuan untuk mengambil map hiks....Hikss...It-----
''Cukup, jangan pernah libatkan orang lain dalam masalahmu. Kau yang ada di dalam kamar!!! Hanya kau Denara!!!!'' Dengan mata tajam serta jari telunjuk yang menunjuk ke arah wajah Denara.
''Hiks....Hiks...Saya tidak bersalah.....Hu...Hu...Hiks...Sungguh..." Air mata Denara tak berhenti mengalir membasahi pipinya.
Hingga langkah kaki seseorang mulai melangkah mendekat, kearah mereka. Orang itu membawa panci yang berisi pasta yang dan tak lupa clemek yang dirinya kenakan.
''Loh Ares, Denara kenapa??'' Dengan raut wajah shock.
''Hiks...No-nona, to-tolong, hiks...Hiks...Jelaskan pada Tuan bahwa...Hiks...Huhu....Nona yang menyuruh saya te-tap di-diam....Hiks...Hiks...'' Meminta kepada Jesi agar kesalah pahaman yang terjadi bisa di luruskan.
''Denara, aku harus menjelaskan apa??? Sejak tadi aku bahkan berada di dapur. Sedang memasak pasta,'' Jelas Jesi dengan raut wajah tak tahu.
Deg...
Kenapa Jesi berbohong???
Padahal dia yang menyuruhnya tetap berada di dalam kamar Ares, sembari memegang map itu.
Kenapa Jesi melakukan ini padanya....
''TIDAK....HIKSS...NONA BERBOHONG TUAN, NONA JESI...HIKS...BOHONG....'' Teriak Denara pada Jesi.
Sedangkan Ares seolah-olah tuli dengan apa yang di ucapkan Denara. Baginya, apa yang Denara ucapkan semuanya adalah kebohongan supaya tak di salahkan olehnya. Jelas-jelas Denara yang hanya ada disana bukan bersama Jesi.
''DIAMM.... KU BILANG DIAM KAU.... JANGAN MELIBATKAN JESI DIA BAHKAN SEDANG MEMASAK.... SEDANGKAN KAU, DENGAN LANCANGNYA MENCURI DI RUMAHKU...DASAR TAK TAHU DIRI. APAKAH SEMISKIN ITU KELUARGAMU SAMPAI-SAMPAI MELAKUKAN HAL KEJI SEPERTI INI......'' Bentak Ares marah pada Denara.
Denara dan Jesi yang mendengarnya tentu saja terkejut, Ares benar-benar sudah di kuasai oleh amarah yang tak terbendung lagi.
Sakit...
Sakit yang Denara rasakan, apakah Denara serendah itu. Hingga Ares menuduhnya mencuri demi keluarganya. Biarpun Denara miskin. Patang baginya untuk memberikan uang tidak halal untuk keluarganya apalagi hasil mencuri.
__ADS_1
''Tuan... Saya memang miskin, tapi saya tak hiks... Hiks... Pernah sekalipun mencuri.'' Jawab Denara menahan tangis. Denara tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh. Ucapnya dalam hati.
''Hah!!! Kau pikir aku akan percaya, jelas-jelas aku melihat sendiri jika kau yang mencuri sertifikat rumahku.'' Desis Ares tajam.
''T-tidak Tuan, apa yang Tuan lihat tak seperti apa yang terjadi sebenarnya...'' Dengan suara bergetar.
''Oh, jadi maksudmu jika ini semua ulah Jesi begitu??'' Sinis Ares.
''B-benar Tuan,'' ucap Denara dengan sercecah harapan berharap Ares percaya.
''Kau pikir aku, dengan bodohnya akan percaya?? Dasar pembantu tak tahu di untung. Sekarang kau ku pecat...'' Perintah Ares dengan nada tegas yang tak bisa di bantah.
Deg...
''Hiks..... Hiks.... Tuann.... Sa-saya mohon..... Ja-jangan pecat saya..... Hiks... Hiks... '' Tangis yang Denara pecah, bahkan Denara sudah bersujud di depan kaki Ares.
''Saya mohon... Tuan, jangan pecat... Hiks... Hiks... Tuan boleh hukum saya... Ta-tapi..... Jangan pecat saya...'' Menatap Ares dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Ares yang melihat itu. hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah samping. Pikiran Ares sangat kacau saat ini. Di satu sisi hatinya tak percaya apa yang di lihat. Di sisi lainnya berkata apa uang dirinya lihat benar adanya.
''Jangan sentuh saya, cepat angkat kaki di rumah saya. Saya tak mau memeperkerjakan maling di rumah saya.''
Mendengar itu Denara hanya bisa pasrah dengan apa yang di ucapkan Ares saat ini. Sekeras apapin dirinya mencoba menjelaskan kepada Ares. Ares tetap saja tak percaya padanya.
Sementara Jesi yang melihat itu tentu saja bersorak senang. Jesi tak menyangka jika rencananya akan berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan olehnya.
Denara dengan kasar menghapus airmata yang terus jatuh ke pipinya. Perlahan-lahan mulai berdiri. Menatap Ares sebentar.
''Terima kasih saya ucapkan. Karena Tuan sudah berbaik hati menampung orang tak tahu diri seperti saya di rumah ini. Maaf jika perbuatan dan ucapan saya menyakiti hati Tuan.... Saya pamit...''
Denara mulai melangkah ke arah dapur menuju kamarnya, yang kebetulan letaknya ada di belakang.
Ares dan Jesi hanya menatap punggung Denara yang masih bergetar menahan tangis.
Denara mulai mempercepat langkah kakinya berharap cepat sampai di kamar.
'Kamu Kuat Denara.'
'Bertahanlah.'
'Jangan tunjukkan, bahwa kamu lemah di depan mereka.'
'Kuat Denara, kamu bisa.'
Setidaknya suara tangisnya tak terdengar, walaupun bahunya masih bergetar.
....................
Denara menatap kamar miliknya dengan sedu, tak terasa hampir satu tahun dirinya bekerja di sini. Kenang-kenangan yang tersimpan rapih di memori, perlahan mulai menyeruak ke permukaan.
__ADS_1
Dengan tangis, Denara mulai menyusun pakaiannya yang ada di lemari ke tas baju miliknya.
''Hiks..... Hiks.... Hu....Hu....'' Suara tangis tak terbendung lagi.
Bahkan saat ini Denara merasakan sesak. Denara merasa, jika udara disini mulai menghilang membuatnya sulit bernafas rasa nyaman tinggal di sini mulai berubah menjadi tercekik.
Denara harus cepat-cepat pergi dari sini, pikiran, hati serta jiwanya sudah tak kuat lagu berada di sini.
Dengan asal Denara memasukkan baju miliknya, berharap cepat selesai.
Dengan kasar Denara menarik resleting tas miliknya. Dan berjalan melangkah keluar kamar.
Di ruang tamu, hanya ada Jesi saja di sana. Sedangkan Ares, sepertinya berada di kamar, karena pintu kamar nampak tertutup saat tadi terbuka.
Dengan langkah cepat Jesi menghampiri Denara. Bahkan Denara bisa melihat jelas raut wajah senang yang terlukis di mata Jesi.
''Ini, Gaji kamu bulan ini. Kata Ares dia gak mau liat muka kamu. Jadi, dia suruh aku deh..'' Kata Jesi seolah-olah yang terjadi saat ini adalah hal yang tak penting.
''Saya tidak butuh...'' Ucap Denara datar. Menolak amplop itu.
Jesi yang mendengar itu hanya tersenyum mengejek.
'' Ayolah, orang miskin kayak kamu gak usah belagu..'' Jesi menarik tangan Denara dengan Kasar lalu menaruh amplop yang berisi uang itu di tangan Denara.
Perlahan Wajah Jesi mulai mendekat kearah telinga Denara sembari berbisik pelan.
''Selamat tinggal, pembantu udik.'' Bisik Jesi dengan nada senang.
Sedangkan Denara yang mendengar hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah. Lalu berucap.
''Anda tak akan pernah mendapatkan hati Tuan. Jika, tingkah anda seperti ular.'' Ucap Denara. Lalu mulai berjalan sambil menabrak bahu Jesi.
Mendengar itu Jesi hanya tersenyum sinis, menatap punggung Denara yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya.
''Lihat saja nanti.'' Balas Jesi.
...~ Bersambung.~...
Hola pembaca👋🏻.
Gimana part ini, ada yang kesal, marah sama Ares😅 dan juga Jesi.
Jangan lupa beri dukungan berupa like, rate 5, vote, favorite ❤.
Atau mau Dao up cepet, kalau mau. Jangan lupa beri dukungannya, biar Dao semangat😁 buat up sama nulisnya☻.
IG : dindao.18
Makasih telah membaca🤗.
__ADS_1