
Happy Reading❤.
Terlihat seorang laki-laki, duduk di sofa dengan wajah yang tegang dan kaku. Bahkan senyum grogi pun terlihat di wajahnya.
“Hai, Denara. Apa kabar?” Ucap Ares kaku.
“Se-Sebenarnya....”
“Om, ini bukan sedang ulangan yah. Harap wajahnya di kondisikan.” Celetuk seseorang dari balik kamera.
“Ekhm... Bisa di potong gak, videonya.” Ucap Ares.
“Om, ini lagi di rekam yah, aku capek nih megang kamera mulu.” Protesnya, bahkan kameranya saat ini sedang terlihat bergerak. Bisa di lihat dari video yang tak fokus.
“Oke-oke, kita mulai.”
“Denara, saya sebenarnya sedikit canggung berbicara di depan kamera seperti ini.” Ucapan Ares yang mulai serius, bahkan terlihat jelas sekarang.
“Untuk ucapan saya waktu itu terhadap kamu, saya meminta maaf. Maafkan saya, yang tak mendengarkan kamu soal masalah itu, maafkan saya juga, karena tak percaya kepada kamu. Maaf, saya tahu mungkin berat bagi kamu menerima maaf saya, terlebih lagi ucapan saya yang menyakiti hati kamu. Maaf saya ucapkan apalagi saat saya memecat kamu dengan cara yang buruk. Saya Ares Ananta meminta maaf yang sebesarnya kepada kamu. Denara.” Dengan senyum menatap kamera.
“Saya juga mau memperkerjakan kamu lagi di rumah saya, ternyata tak ada kamu rumah saya membuat suasana sepi juga. Tolong kembali ke sini Denara.” Kata Ares dengan canggung.
“Sudahkan Om, Sekarang giliran Zion juga.”
Terlihat jelas, jika kamera sekarang sudah beralih ke tangan Ares, wajah Zion kini terpampang jelas di kamera.
“Udah ganteng kan Om?” Tanya Zion
Membuat Ares yang mendengarkannya dari balik kamera langsung bersuara.
“Zion cepat, Om sudah terlambat kerja.” Suara Ares yang terdengar.
“Santai Om, Halo Kak Dena. Jangan ke kampung lama-lama yah,, cepat balik kesini. Zion kangen soalnya. Dadah Kak Dena.... Zion tunggu.” Ucap Zion dengan tersenyum manis, sembari melambaikan tangan ke depan kamera.
TUP.
Video berakhir, membuat Denara yang melihatnya tersenyum sendiri. Membuat Nero yang duduk di depan Denara, menatapnya aneh.
“Kak, jangan suka senyum sendiri nanti ke sambet.” Ujar Nero.
Membuat Denara yang mendengar, langsung melotot melihat Nero.
“Sembarangan aja kalau ngomong.”
“Lah abisnya, liat-liat ponsel terus senyum-senyum gitu.” Balas Nero.
“Dih.... Siapa juga yang senyum, orang lagi diem-diem aja juga. Mendingan kamu ambil minum buat Kakak, di kulkas sana.” Suruh Denara.
__ADS_1
“Ah... Kakak mah, sukanya nyuruh-nyuruh terus. Orang lagi nonton juga.” Protes Nero.
“Oh, gak mau di suruh sama Kakak, oke. Kakak gak bakalan kasih kamu uang buat beli es krim lagi. Awad yah kalau minta punya Kakak.” Ancamnya.
“Ih... Kakak mah sukanya gitu, iya-iya di ambilin. Awas yah kalau gak di beliin.” Mulai bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur dengan wajah yang cemberut.
......................
Ares kembali membuka ponsel miliknya, entah sudah berapa kali Ares membuka ponselnya hari ini. Bahkan saat akan tidur pun Ares masih sempat memainkan ponsel hanya sekedar mengecek.
“Tunggu, jika centang berwarna biru. Berarti sudah di baca, tapi kenapa tak ada balasan sama sekali. Padahal aku sudah mengirim pesan sampai 50 kali.” Menatap ponselnya kesal.
Jari-jemari Ares, mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Dan mengirimkan lagi pada orang itu, berharap pesannya akan segera di balas.
1 menit.
5 menit.
20 menit.
1 jam kemudian.
Ares menunggu, tapi masih tak ada balas. Jika pesannya kemarin di baca, maka kali ini pesannya hanya terkirim saja tanpa ada centang biru.
“Arggghhhh.... Kenapa dia tak membacanya...” Ucap Ares geram dan mulai bangkit dari tempat tidur menuju dapur, menunggu pesan yang tak kunjung di baca atau pun di balas. Membuat Ares lapar.
......................
TOK....
TOK.....
TOK...
Ketukkan keras dari pintu rumah, membuat Denara yang berada di kamar. Langsung bangkit menuju pintu depan.
“Sebentar..” Ucap Denara, membuka kunci pintu.
Cklek..
Terbukalah pintu, hingga terbuka seseorang laki-laki seumuran Ayahnya berdiri di depannya.
“Bapak siapa yah??” Tanya Denara tak tahu.
“Saya gak ada urusan sama kamu, mana orang tua kamu.” Ucap Bapak itu menyelonong masuk ke dalam rumah.
Mendengar suara yang ribut dari luar, membuat orang tua Denara yang tengah beristirahat di kamar terbangun dan keluar dari kamar.
__ADS_1
“Ada apa Denara.” Ucap Ayahnya.
“Oh, ternyata kamu belum juga menjual sawah warisan yang harusnya kita bagi.” Tegur Bapak itu pada Ayahnya.
“Kak... Bukankah warisan bapak sudah di bagi rata, bahkan Kakak sudah mendapatkan bagiannya.” Jelas Ayah.
“Alah.... Jangan kamu kira saya gak tahu Santoso. Kalau bapak mewariskan tanah yang cukup besar pada kamu diantara saudara kita.” Terangnya tak terima.
“Kak, aku bahkan tak tahu. Jika Bapak mewariskan tanah yang cukup besar padaku.” Ujar Ayahnya menatap Bapak itu, yang baru diketahui Denara sebagai Pamannya.
“Saya tak perlu alasan lagi dari kamu, pokoknya saya mau kamu jual tanah itu.” Ucap pamannya.
Membuat Denara yang sejak tadi mendengarnya geram, entah kenapa Pamannya ini seolah-olah memojokkan Ayahnya. Bukankan Ayahnya bilang, jika setiap saudara, sudah di bagi rata.
“Maaf Paman sebelumnya, saya benar-benar tak terima, dengan apa yang Paman lakukan terhadap Ayah saya.” Ucap Denara tegas.
Membuat Pamannya yang mendengar terpancing emosinya.
“Heh!!! Anak Kecil tahu apa kamu... Hah!!!” Ucap Pamannya menujuk wajah Denara.
Melihat perlakukan Kakaknya yang semena-mena terhadap anaknya, membuat Pak Santoso tenty saja tak terima.
“Saya diam dengan perlakuan Kakak yang semena-mena terhadap saya, tapi jika sudah menyangkut anak dan istri saya. Terus terang saya tak terima Kak. Saya minta dengan sangat kepada Kakak, untuk pergi dari rumah saya sekarang.” Menatap wajah Kakaknya dengan serius.
“Heh!! Jangan sombong kamu, saya akan pergi sekarang dari rumah kumuh kalian. Tapi ingat, saya akan kembali lagi untuk menagih hak saya. Paham kamu Santoso.”
Melangkah menjauh kearah pintu, bahkan pintu rumah itu sempat di banting dengan cukup keras oleh Pamannya. Sebelum beranjak pergi.
“Maafkan Ayah Denara.” Menatap wajah Denara yang kaget akan hal yang terjadi tadi.
“Ayah... Jangan bersedih, Denara yakin, pasti ada jalan keluarnya.” Menenangkan Ayahnya.
“Kak Nara masuk ke kamar aja yah. Ibu mau bicara sama ayah.” Ucap Ibunya sendu.
Sebaiknya besok saja, Denara menanyakan masalah ini pada orang tuanya. Denara mulai berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Ibu serta Ayahnya yang sedang mengobrol di sana.
‘semoga semua masalah cepat selesai.’ Batin Denara berharap.
...~Bersambung.~
...
Hola pembaca👋🏻.
Jangan lupa buat dukungannya berupa like, rate 5, favorit, vote, dan share karena dukungan kalian adalah semangat buat Dao nulis dan up.
Jangan lupa dukungannya yah...
__ADS_1
Sayonara👋🏻.