Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
44 part 1


__ADS_3

...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun memgcopy karya ini!!!!...


...Happy Reading🍃....


Denara sibuk memilih beberapa deterjen, sabun serta hal lainnya di supermarket. Keranjang Denara sudah nampak penuh dengan barang-barang.


Hingga Denara memutuskan untuk ke kasir dan membayar semuanya, tapi langkah Denara terhenti saat seseorang dari arah belakang memanggilnya.


Denara tentu saja menenggok ke belakang, untuk melihat siapa yang memanggil dirinya.


''Denara....'' Orang itu berjalan dengan angkuhnya ke arah Denara.


''Pembantu kampungan.'' Saat sudah berdiri di depan Denara.


Denara tentu saja kaget melihat kehadiran orang ini, sudah lama semenjak kejadian itu. Denara tidak pernah melihatnya lagi.


''Terkejut?? Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi.'' Melihat tampilan Denara sambil tersenyum sinis.


''Kamu sepertinya sudah di terima lagi kerja di rumah Ares, dasar tidak tahu malu.''


Denara memegang dengan erat keranjang yang ada di tangannya saat ini. Denara hanya diam tanpa membalas perkataannya.


''Aku masih sangat membencimu, bahkan setelah kejadiam itu rasa benciku semakin menumpuk.''


Orang itu mulai mendekatkan sedikit wajahnya ke arah Denara, lalu berbisik pelan.


''Gimana rasanya, gak di sukai sama orang tua Ares. Apakah rasanya menyenangkan??'' Ucapnya dengan senang.


Denara yang mendengar itu tentu saja kaget, dia tidak menyangka jika orang itu mengetahui masalah ini. Tubuh Denara sedikit diam terpaku saat kata itu terucap.


Reaksi yang di tunjukkan oleh Denara, tentu saja membuatnya senang bukan main.


''Yah Denara, aku mengetahui semuanya. Termasuk hubunganmu dan Ares.'' Senyum manis terhias di wajah cantiknya.


......................


Zion memperhatikan Denara yang sedang memotong sayuran, tapi anehnya Denara terlihat tidak fokus atau lebih tepatnya melamun.


Saat Denara akan memotong, Zion dengan sigap menahan pisau Denara yang hampir saja menggores jarinya.


''Kak Dena kenapa sih, apa Kak Dena tidak menyadari jika itu berbahaya. Jika saja aku tidak menahannya, mungkin Kak Dena akan terluka.'' Omel Zion yang terlihat marah.


Denara baru menyadari hal itu sekarang, Zion menarik Denara menjauh dan membereskan sayuran-sayuran yang ada di sana dan mulai memasukkannya ke dalam kulkas.


''Kenapa kamu menaruhnya di sana??'' Ketika melihat itu.


''Aku tidak ingin Kak Dena memasak hari ini.'' Setelah selesai menaruhnya.


''Tapi kenapa??''


Zion menghampiri Denara dan menarik kursi makan yang ada di sampingnya.


''Jika aku membiarkan Kak Dena memasak lagi, mungkin saja hal yang seperti tadi akan terjadi kembali.''

__ADS_1


Denara terdiam mendengar hal itu.


''Aku akan memesan makanan online saja, kita bisa memakan itu untuk hari ini.'' Menatap ponsel pintar miliknya.


''Kak Dena,'' panggil Zion.


Denara menoleh ke samping, di mana Zion duduk.


''Ada apa??''


''Kakak tahu, akhir-akhir ini Om Ares terlihat sedih.''


Perkataan itu terasa sangat sakit bagi Denara yang mendengarnya.


''Om Ares selalu sedih, saat menatap ke arah kamar Kak Dena. Aku sangat tidak menyukai hal itu.'' Sambung Zion.


Denara diam dan hanya mendengarkan saja, apa yang di ceritakan oleh Zion mengenai Ares belakangan ini.


''Apakah kalian akan seperti ini terus??''


......................


Denara berada di kamarnya setelah selesai menemani Zion makan. Pertanyaan Zion terus menganggu pikirannya.


Denara melirik ponselnya yang ada di atas ranjang tidurnya. Tangannya mulai mengapai dan mulai mengaktifkan ponselnya yang sudah beberapa hari ini di matikan.


Denara membuka kontak ponselnya dan menelpon salah sahabat dekatnya.


''Apakah aku salah menjauhinya??''


''Dia...''


''Cerita dengan jelas supaya aku bisa mengerti..''


Denara mulai menceritakan semua masalah hubungannya dengan Ares serta menceritakan secara rinci permasalahan yang terjadi dan keadaannya saat ini.


Saat menceritakan itu, Denara tidak bisa menahan tanggisnya. Matanya bahkan mulai sebab kembali setelah tadi menanggis dan sekarang menanggis kembali.


''Denara, aku tidak bisa sepenuhnya membenarkan tindakkanmu.''


''Kamu harusnya melihat ke sisi Ares, mungkin bagimu, hanya kamu yang merasakan sakit serta sedih.''


''Tapi kamu lupa, jika di dalam hubungan ini. Bukan kamu saja yang berperan, tapi Ares juga ikut andil dalam hubungan ini.''


''Ares juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan Denara. Bukankah Ares bilang padamu, jika dia ingin berjuang bersamamu??''


''Ya...'' Jawab Denara serak, karena menanggis.


''Tapi bagaimana bisa berjuang bersama, jika kamu saja mundur di langkah awal dan membiarkan Ares berjuang sendirian.''


''Bahkan kamu membuat beban lain padanya, dengan menjauh dan menjaga jarak dari Ares.''


Benar apa yang di katakan oleh Inem, harusnya dirinya tidak melakukan hal ini. Harusnya dia juga tidak perlu menjauhi Ares dan membuat hubungan mereka berjarak.

__ADS_1


Harusnya, Denara juga memikirkan Ares yang ikut merasakan sakit serta sedih sepertinya.


''Denara saling menguatkan dan mencari jalan keluar bersama adalah hal yang bagus untuk hubunganmu saat ini. Menjauh bukanlah solusi yang baik, menjauh malah akan membuat kamu dan Ares saling menyakiti tanpa kalian sadari.''


''Benar, apa yang kamu katakan Nem. Terima kasih karena telah mendengarkanku bercerita.''


......................


Area pulang larut malam seperti hari-harinya belakangan ini, rumahnya tampak gelap dan tidak ada penerangan apapun.


''Kenapa gelap seperti ini.'' Mengambil ponselnya dan mulai menyalakan senternya.


Ares melangkahkan kakinya, menuju saklar lampu yang ada di sana. Dengan hati-hati Ares berjalan, karena kondisi gelap.


Tak...


Rumah yang tadinya gelap, perlahan-lahan mulai terang kembali. Saat Ares berbalik, di sana ada Denara dan Zion yang berada di sampinganya.


Denara membawa kue yang bertuliskan kata maaf di atasnya dan tidak lupa dengan lilin-lilin biru yang meghiasinya.


Ares dengan langkah lebar menghampiri Denara dan memeluknya dengan erat, sungguh Ares merasakam rindu yang amat sangat terhadap Denara.


Walau mereka tinggal satu rumah, tapi Ares merasa sangat jauh dengan Denara. Pelukkan ini, bahkan tidak bisa menggambarkan dengan jelas betapa rindunya Ares akan Denara.


''Aku merindukanmu, sungguh sayang.'' Ares meluk erat tubuh Denara.


Denara cukup kesulitan dengan pelukkan Ares. karena saat ini dirinya sedang memengang kue.


''Maaf, telah menjauhi Mas.'' Ucap Denara yang terlihat meneteskan air matanya.


''Om bentar deh peluknya, kuenya mau jatoh..'' Suara Zion berhasil membuat mereka sedikit berjarak.


Ares mengambil alih kue yang berada di tangan Denara dan menyerahkannya pada Zion.


''Pegang sebentar.''


Zion cemberut.


Ares kembali memeluk Denara dan pelukkan itu di balas oleh Denara.


''Kamu jangan gitu lagi, aku gak suka.'' Ungkap Ares.


''Iya, gak gitu lagi.'' Balas Denara.


''Janji...'' Kata Ares yang masih memeluk Denara erat.


''Janji...''


Zion yang melihat itu tentu saja senang, setidaknya orang yang dirinya sayanggi bisa kembali bersama. Walau dirinya mulai tampak kesal dengan keadaan ini.


''Om... Gantian dong, Zion juga mau peluk Kak Dena..'' Rengeknya pada Ares, tapi Ares bukannya menurut. Malah acuh dan terkesan cuek dengan perkataan Zion.


''OM ARESSSS......'' Teriak Zion saat Ares menghiraukan permintaannya.

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2