
...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!!...
...Happy Reading🍃....
Suasana manis terlihat jelas pagi ini, lebih tepatnya di meja makan. Zion yang sejak tadi memandangnya sungguh jengah melihatnya.
''Om kan udah gede, kenapa harus di suapin sama Kak Dena.'' Ujarnya tidak suka.
Benar apa yang di katakan oleh Zion, saat ini Ares sedang di suapi oleh Denara. Ini bukan karena Denara mau secara sukarela menyuapi Ares. Ini adalah paksaan yang di lakukan oleh Ares.
Awal ini bermula, ketika Ares membantu Denara memasak di dapur. Tapi membantu yang di maksud, bukan membantu yang sebenarnya. Tetapi Ares membantu membuat kacau dapur.
Saat akan merebus air, Ares tanpa sengaja memegang pegangan panci yang panas dan itu membuat Ares beralasan, jika tangannya tidak bisa di gunakan dan mengusulkan Denara untuk membantunya makan. Dengan cara menyuapinya.
Hal itu tentu saja di tolak, tapi Ares membuat seribu alasana untuk Denara agar mau membantunya. Dan alhasil itulah yang terjadi sekarang.
Zion tahu benar tentang Ares yang ingin berdekatan dengan Denara, Zion lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Ares dan Denara.
Melihat Denara yang ingin kembali menyuapi Ares, Zion lalu merebut sendok yang ada di tangan Denara.
''Kenapa Zion??'' Tanya Denara.
''Biar Zion saja, Kak Dena pasti laparkan.''
Denara yang tahu maksud Zion mengambil sendoknya. Lalu mulai melanjutkan makanannya yang tertunda.
''Zion, kamu mengganggu saja.'' Mengambil sendok yang berada di tangan Zion.
''Om saja yang manja.'' Ledeknya pada Ares.
Sedangkan Denara yang melihat hanya tersenyum kecil, setidaknya Ares sudah tidak sedih lagi. Pikir Denara.
......................
''Tante Eni ada??'' Tanya Wanita itu sambil menenteng tas mahal di tangan kanannya.
''Ada Non, silahkan masuk.'' Mempersilahkan wanita itu masuk.
Wanita itu masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Rasanya sudah lama sekali baginya tidak datang ke rumah ini.
''Jesi, kamu datang...'' Sambut Bu Eni dengan senang.
''Iya Tante, Jesi bawa oleh-oleh buat Tante.'' Menyerahkan kotak cantik yang berisi tas mahal.
''Gak usah repot-repot, gimana kabar Mama sama Papa kamu.'' Menerima hadiah yang Jesi berikan.
''Mama sama Papa baik-baik aja,'' jawab Jesi.
''Seharusnya Ares itu pacarannya sama kamu aja.'' Celetuk Bu Eni.
''Emangnya kenapa Tante??'' Tanya Jesi, seolah-olah tidak tahu. Padahal dirinya susah mengetahui soal ini dari Papanya yang di beritahu oleh Om Arlon.
''Ares berpacaran dengan pembantu di rumahnya.'' Jelasnya dengan kesal.
''Loh kok bisa Tante??''
__ADS_1
''Tante juga gak tahu kenapa bisa terjadi. Tapi Tante sama Om udah bilang sama Ares dan juga pembantu itu, untuk segera putus.''
''Yah, padahal Jesi suka loh Tante sama Ares,'' dengan raut wajah sedih.
''Wah, Tante juga mikir gitu Jesi. Mending Ares sama kamu dari pada sama pembantu itu. Tante juga heran sama Ares, kenapa pilihannya selalu salah dan tidak ada yang benar.'' Mengingat kejadian Ares yang berpacaran dengan Clarissa dan sekarang Denara.
Mendengar ungkapan Tante Eni yang sangat tidak menyukai Denara, tentu saja hal itu membuat Jesi senang bukan main.
'Sudah kubilang Denara, jika kamu tidak akan pernah menang melawan aku.' Batin Jesi.
......................
Deni akhirnya bisa bernafas lega, setelah memdengar peekataan Ares yang menyatakan hari ini mereka tidak perlu lembur.
Jujur saja, beberapa hari yang lalu. Ares selalu marah-marah dan selalu menyuruh mereka lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum mereka selesaikan.
Dan hal itu tentu saja membuat karyawan pusing dengan hal itu, terlebih lagi berkas-berkas yang mereka kerjakan cukup banyak.
Tapi hari ini, entah bagaimana Ares tampak senang sekaligus riang. Bahkan saat karyawannya tidak sengaja membuat masalah. Ares dengan entengnya jika itu bukanlah masalah yang besar.
''Pak, sepertinya hari ini anda sangat senang??'' Tanya Deni.
''Apakah sangat terlihat jelas,'' sahut Ares dengan senyum.
Deni mengganguk.
''Ya, hari ini aku merasa jika semangatku kembali lagi.'' Paparnya.
''Memangnya kemarin sempat menghilang??'' Tanya Deni dengan polosnya.
''Pak, anda baik-baik saja??''
''Ekhmm... Saya baik-baik saja. Kamu boleh keluar.'' Menyuruh Deni pergi.
......................
Denara sudah kembali ceria dan tidak sependiam kemarin hal itu tentu saja membuat Zion senang.
''Kenapa kamu terus menatap Kakak??''
Zion tersenyum, lalu mendekati Denara dan memeluknya dengan tiba-tiba.
''Aku merindukan Kak Dena yang seperti ini.'' Ucapnya sambil memeluk Denara dengan sayang.
''Memangnya kemarin Kak Dena kenapa??'' Sebanarnya Denara paham maksud Zion, tapi dirinya hanya ingin mengetahui pendapat Zion saja.
''Kemarin-kemarin, Kak Denara terlihat pendiam dan sedikit menjauh dari Zion dan juga Om Ares. Hal itu membuatku sedih.'' Jelasnya.
Denara lalu melepaskan pelukkan Zion dan mengacak rambut Zion dengan sayang sambil berkata.
''Maaf yah, karena sudah membuatmu sedih.''
......................
Drtt...
__ADS_1
Drtt...
''Assalamualaikum, ada apa Mah??''
''Ares, Mama minta besok kamu datang ke rumah.''
''Ada apa memangnya??'' Tanya Ares yang sedang mengetik di laptop miliknya.
''Memangnya Mama perlu alasan untuk meminta anak Mama datang ke rumah.'' Mulai mengomel.
''Baiklah, Ares akan datang.'' Jawab Ares.
''Oh iya, jangan lupa pakai baju yang rapi.'' Ingatnya pada Ares.
''Iya Mah.''
''Assalamualaikum,'' ucap Mamanya.
''Wa'alaikumsalam.'' Balas Ares.
Tutt...
......................
Ares baru saja pulang dari kantornya. Ares berjalan pelan ke arah sofa ruang tamu, berniat untuk duduk sejenak. Tapi hal itu urung dirinya lakukan. Saat matanya melihat ke arah Denara yang tertidur di sana, sambil memegang kemoceng di tangannya.
Ares meletakan tas kerjanya di atas meja, dan berjalan ke arah Denara yang sedang tidur. Setelah berada di depan Denara, Ares duduk di lantai sambil menatap ke arah Denara yang tertidur di atas sofa.
Perlahan Ares mulai menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Denara.
'Cantik.' Batin Ares.
Ares lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana miliknya dan mulai mengarahkan ponselnya ke arah wajah Denara yang tertidur lelap.
Ckrek....
Ckrek...
Beberapa kali Ares mengambil gambar Denara yang sedang tertidur, tapi Ares melakukan satu kesalahan yang tidak di sadari olehnya.
Saat mengambil gambar tadi, flash ponsel miliknya ternyata menyala dan hal itu membuat Denara mulai membuka matanya.
Tapi Ares tidak menyadari jika Denara mulai bangun dari tidurnya, Ares masih sibuk menatap ke arah ponselnya yang terdapat gambar Denara yang sedang tertidur.
'Apa aku mimpi??' Batinnya bertanya.
Tapi saat menyesuaikan pandangannya, Denara benar-benar tidak bermimpi.
''Kamu mengambil foto saat aku tidur??''
Mendengar itu Ares kaget, bahkan dirinya sampai menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya karena mendengar suara Denara.
'Aku ketahuan.' Batin Ares.
...Bersambung........
__ADS_1