Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
43 part 2


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...


...Happy Reading🍃....


Ares benar-benar pusing dengan keadaan yang sangat rumit. Pembicaraan antara ke dua orang tuanya kemarin benar-benar membuat Denara membentang jarak yang luas dengan dirinya.


Flashback on.


''Zion, kamu ikut Nenek sebentar yah. Kakek mau ngobrol sama Om Ares bersama Kak Denara.'' Mendekati cucunya yang masih menggengam tangan Denara.


''Tapi Nenek, kenapa Zion tidak boleh ikut mendengarkan.'' Bertanya pada Bu Eni.


''Ini urusan orang dewasa, Zion tidak boleh ikut.'' Dengan pelan ucapnya.


Zion sedikit tidak rela melepaskan tangan Denara, bahkan dirinya mencengah Denara yang terlihat melepaskan genggamannya.


''Zion ikutlah bersama Nenek.'' Ujar Denara dengan tersenyum.


Zion menurut dan ikut bersama Bu Eni. Di ruang tamu hanya ada Ares, Denara dan Papanya Ares, Arlon.


Ares duduk di samping Denara sedangkan Arlin ada di depan mereka. Arlon hanya menatap datar, tangan Ares yang menggengam tangan Denara dengan erat.


''Kamu pasti tahu Papakan Ares,'' dengan suara yang terdengar jelas.


''Tahu Pa.'' Jawab Ares setenang mungkin, walau pun sebenarnya dia sedikit gelisah.


''Lalu, apa yang sekarang kamu lakukan sebenarnya?? Berpacaran dengan pembantumu sendiri. Apakah kamu membuat lelucon untuk Papa.''


Denara yang mendengarkan itu, hanya bisa diam dan menunduk. Rasa sakit di hatinya kini bertambah, kenapa Denara harus menyukai Ares yang kastanya berbeda. Hal terlintas di benakknya.


''Kamu mengincar harta anakku??'' Pertanyaan itu di tunjukkan pada Denara.


''Pah, Denara tidak seperti itu.'' Balas Ares yang terlihat memerah.


''Papa bertanya padanya Ares, bukan padamu.'' Menunjukk ke arah Denara.


''T-tidak Tuan, saya tidak ada niat seperti itu.'' Jawab Denara sambil menahan tanggis.


''Hal itu sering saya dengar dari beberapa wanita yang mendekati Ares dan hal itu membuat saya muak.''


Sungguh Denara sudah tidak bisa lagi menahan tanggisnya saat ini, matanya mulai meneteskan air mata.


Ares yang melihat itu tidak bisa tinggal diam lagi.


''Cukup Pa, jangan berkata seperti itu. Denara benar-benar berbeda dati yang lain.'' Jelas Ares membela Denara.


''Kamu bahkan berani melawan Papa Ares. Sungguh Papa tidak menyangka.'' Ujar Arlon.

__ADS_1


''Begini saja, Papa akan membuat pilihan padamu Ares.''


Arlon melirik sekilas ke arah Denara yang menanggis dalam diam, lalu melihat ke arah Ares yang terlihat marah padanya.


''Kamu memilih dia atau memilih orang tuamu. Jika kamu memilih orang tuamu, tinggalkan dia dan jika kamu memilih dia. Papa dan Mama tidak akan memaafkanmu.''


Flashback off.


......................


Denara berjalan dengan lesu ke arah gerobak sayur Mang Eko. Hal itu ternyata di sadari oleh teman-temannya yang lain.


''Ra, kamu baik-baik aja??'' Ijah menepuk pundak Denara.


''Kamu kenapa Ra??'' Tanya Minah.


''Ada masalah...'' Sambung Neni.


''Begitulah, aku rasanya pengen lari aja.'' Ungkap Denara sedih.


Minah lalu menarik Denara ke arah kursi kayu yang ada di sana dan menyuruh Denara untuk duduk.


''Cerita Ra..'' Seolah-olah tahu bahwa saat ini Denara sedang tidak baik-baik saja.


Bahu Denara sedikit bergetar dan terlihat matanya yang berkaca-kaca.


Neni dan Ijah lalu menghampiri mereka dan saat mereka mendekat, mereka malah kaget melihat Denara yang menanggis.


''Loh Minah, kenapa Denara jadi nanggis gini sih.'' Menyalahkan Minah.


''Eh Neni, ini bukan salah aku kali. Orang Denaranya yang tiba-tiba nanggis.'' Menjelaskan kejadian yang terjadi.


''Ra... Kamu kenapa sih sebenernya sampe nanggis gini, kamu cerita aja sama kita. Siapa tahu kuta bisa bantu.'' Ucap Ijah.


Denara mulai menatap ke arah teman-temannya yang tampak khawathir dengan keadaannya saat ini. Denara duduk dengan tegap dan menceritakan semua yang terjadi padanya belakangan ini.


''Wah bener-bener tuh orang kaya, memangnya apa salahnya dengan pekerjaan kita.'' Marah Neni mendengar cerita Denara.


''Terus hubungan kamu sama anaknya gimana??'' Ujar Ijah.


''Hikss.... Hikss... A-aku sedikit menjauh darinya...'' Dengan menanggis.


''Sebenarnya aku tidak ingin seperti ini, tapi setiap kali dekat dengannya. Entah kenapa aku selalu teringat akan perlakuan serta ucapan orang tuanya yang membuat hatiku sakit.'' Ujar Denara dengan lirih sambil menghapus air matanya.


''Aku pasti akan merasakan hal yang sama, jika berada di posisimu saat ini.'' Ucap Minah yang ikut merasakan kesedihan yang Denara alami.


......................

__ADS_1


Ares pulang malam hari ini, raut wajah Ares terlihat lesu dan sedih. Setiap kali pulang, Ares selalu teringat dengan Denara yang selalu menjauh darinya.


Ares menatap setiap ruangan yang tampak sepi, ini sudah terjadi semenjak hubungannya dengan Denara merenggang.


Ares mendoromg pintu kamarnya dengan pelan dan mulai bersiap bersih-bersih untuk segera tidur.


......................


Denara sebenarnya tahu Ares sudah pulang, hanya saja Denara tidak berani menghampiri Ares. Walaupun dirinya sangat ingin menemui Ares saat ini.


Gelas yang ada di tangan Denara tampak gemetar saat menatap dari kejauhan pintu kamar Ares yang baru saja tertutup.


'Maaf Mas...' Batin Denara.


......................


''Om dan Kak Dena baik-baik saja??'' Bertanya pada Ares yang sedang meminum kopi miliknya.


''Hm..''


''Om, Zion gak suka sama keadaan ini.'' Ujarnya yang merasakan dengan sangat jelas, bagaimana jauhnya jarak antara Ares dan Denara. Walaupun mereka satu rumah.


Suasana manis serta canda tawa, kini perlahan-lahan mulai menghilang. Jujur saja, Zion merasa rindu dengan tingkah Omnya yang selalu mengusik Kak Dena dan dirinyalah yang akan menggangu Ares jika hal itu terjadi.


''Om, Apakah Nenek dan Kakek benar-benar tidak menyukai Kak Dena. Tapi kenapa??'' Kata Zion sedih.


Ares mulai berdiri dan menghampiri Zion yang terlihat lesu saat memakan sarapannya. Setelah itu, Ares sedikit berjongkok di samping kursi dan menatap ke arah Zion.


''Zion bantu doa yah, supaya Kakek dan Nenek menerima Kak Dena.'' Mengusap rambut Zion dengan sayang.


Zion mengangguk pelan.


''Iya Om, Zion pasti doain Kak Dena dan Om supaya bisa seperti Mami dan Papi.'' Ucapnya polos.


Ares tersenyum mendengar hal itu, walau pun Zion sering membuatnya kesal sekaligus marah. Tapi Zion adalah orang yang cukup berhasil membuatnya tersenyum dalam situasi saat ini.


Bahkan Ares sudah lama tidak tersenyum seperti ini semenjak masalah hubungannya dan Denara tidak di sukai oleh orang tuanya.


Zion juga menyadari hal itu, Ares tampak sedih serta suka pulang malam hanya untuk menghindari Denara yang terlihat menjauh darinya.


Tangan kecil Zion mulai menangkup pipi Ares.


''Om, jangan sedih yah. Zion bakalan terus dukung Om sama Kak Dena.''


Ares tersenyum semakin lebar.


''Terima kasih yah, sudah menyemangati Om.'' Balas Ares.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2