Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
30 part 2


__ADS_3

...Dilarang memplagiat, mengcopy, atau pun menjiplak karya ini!!!...


...Terimah kasih bagi yang sudah membaca cerita ini:)....


...Happy Reading❤....


Tania berjalan mengendap-ngendap ke arah Tian yang sedang bermain ponsel di sofa sembari berbaring.


"Wihh, Abang lagi liatin siapa itu." Celetuk Tania, saat melihat ponsel Tian.


Tian langsung menutup ponsel yang ada di tangannya dan menatap ke arah Tania dengan kesal. Tania yang di tatap hanya duduk santai di samping Tian.


"Ngapain kamu di sini, bukannya sekolah." Ujar Tian ketus.


"Jangan suka aneh-aneh Bang, ini hari minggu." Ucap Tania.


"Siapa Bang??" Sambungnya.


Tian tak menanggapinya sama sekali, mengenai pertanyaan yang di ucapakan oleh adikknya


"Ayolah Bang, siapa dia??" Desak Tania tak menyerah.


"Bukan siapa-siapa."


"Bohong.." Ujarnya tak percaya dengan yang di ucapkan Tian.


"Enggak."


"Katanya kalau suka bohong, hidunganya bakalan mancung ke dalam Bang."


"Ck... Ke depan Dek." Ucap Tian membenarkan perkataan Tania.


"Dih, suka-suka Tania dong Bang." Balasnya.


"Serah..." Tian mulai bangkit dari duduknya. Tapi tidak jadi, karena Tania menarik tangan Tian agar duduok kembali.


"Kasih tahu Tania dulu Bang, baru pergi." Sambil menahan tangan Tian.


"Itu temen doang Dek, lepas tangan Abang."


"Bohong terus, jujur aja kali Bang."


"Temen Dek, temen." Jawab Tian.


"Masa, coba Tania liat, kali aja kenal." Mencoba menarik ponsel Tian yang berada di sakunya.


"Enggak." Menahan tangan Tania.


"Kasihin gak," Masih berusaha menarik ponsel Tian.


"Enggak boleh." Ujar Tian menggeleng.


"Huaaaaaa.... Ibu Bang Ti...Emmmmm...." Tian langsung menutup mulut adiknya menggunakan tangannya.


"Nakal banget sih Dek.." Kesal Tian, lalu memberikan ponselnya pada Tania.


"Makanya Bang, dari tadi kasih aja ponselnya." Ucap Tania senang.


"Kata sandinya??" Tanya Tania.


Tian lalu memgambil ponsel dan membuka kuncinya, setelah itu Tian menyerahkan ponselnya pada Tania kembali.


Tania menatap foto itu dengan teliti, mungkin saja dia kenal dengan orang yang ada di foto ini. Hingga dia ingat sesuatu.


"Ini Kakak yang waktu itu ketemu di supermarketkan." Tanyanya sedikit ragu.


"Hmm.." Jawab Tian.


"Temen apa gebetan." Tanya Tania sembari menaikan ke dua alisnya.


"Temen." Jawab Tian sembari memalingkan wajah.


"Gebetan pastikan, ngaku aja Bang. Gak usah ngeles kayak bajaj." Cerocos Tania.


"Hmm.."


"Berasa lagi ngomong sama Nisa."


"Iya Tania cerewet." Sembari menarik pelan rambut Tania.


"Sakit Bang, gak usah tarik-tarik rambut deh." Omelnya pada Tian.

__ADS_1


Tian lalu mengusap rambut Tania dengan pelan, walaupun Tania terkadang menyebalkan dan sering membuatnya kesal. Tian tetap menyayanginya.


"Abang beneran suka sama Kakak ini." Sambil menunjuk foto Denara.


Tian hanya menganggukkan kepala, tanpa bersuara.


"Mau Tania Bantu." Tawarnya pada Tian, membuat Tian yang mwndwngarnya menghentikan usapan tangannya di kepala Tania.


"Emang Bisa??" Balas Tian.


"Ya bisa dong." Sambil menatap Tian dengan tersenyum.


......................


Zion masih tak percaya dengan apa yang di bilang Ares dan Denara, jika kejadian kemarin hanyalah bisikan saja.


Lagian juga, untuk apa Omnya itu melakukan bisik-bisik pada Kak Dena. Bukankah mereka sudah dewasa, hal seperti itukan hanya di lakukan untuk anak-anak. Pikir Zion.


''Zion kenapa melamun,'' Ucap Denara menghampiri Zion yang tengah duduk di sofa.


''Kak Dena beneran, kalo yang kemarin itu cuma bisik-bisik aja.'' Tanyanya pad Denara.


''Tentu, untuk apa Kak Dena bohong.'' Jawab Denara.


''Baiklah jika Kak Dena bilang begitu, Zion percaya.'' Ujarnya, lalu kembali fokus menonton tv.


Denara lalu bangkit dari duduknya dan kembali lagi ke dapur. Untuk menyiapkan makanan yang tadi Denara masak ke atas meja makan.


Sebentar lagi jam 12.00 siang, waktunya untuk makan siang. Jadi Denara harus segera menghidangkan makanannya dan memanggil Ares serta Zion untuk makan.


......................


Tania sedang memberikan bedak pada wajah Tian, beberapa kali Tian protes pada Tania untuk menghentikannya. Tapi Tania tak menggubris omongan Tania sama sekali.


''Bentar lagi selesai Bang, jangan banyak gerak.'' Omelnya pada Tian.


''Hemm..''


''Nah sudah, sekarang Abang tiduran aja di sini.'' Menarik selimut untuk menutupi tubuh Tian hingga leher.


''Terus kamu mau ngapain??'' Tanya Tian, melihat Tania yamg sibuk dengan ponselnya.


''Abang cukup tiduran aja, biar Tania yang urus sisanya.'' Menyakinkan Tian.


......................


Tring....


Tring...


Tring...


Ponsel yang ada di atas meja terus berbunyi tanpa henti. Membuat Zion yang kebetulan duduk di samping meja sembari bermain ponsel tergangu dengan hal itu.


''KAK DENA, ADA YANG TELPON...'' Teriak Zion.


Membuat Denara yang sedang mrncuci piring, langsung berhenti dan mulai mendekat ke arah Zion.


Zion menyodorkan ponsel pada Denara, dan langsung di sambut. Denara menatap layar ponsel, yang menunjukkan nomor yang sedang memanggil tanpa nama.


''Halo, siapa???''


''Halo Kakak cantik, ini adiknya Bang Tian.'' Jawab orang itu.


''Ohh, Tania.... Ada apa??''


''Ini Kak, sebenarnya Tania gak enak ngomong gini sama Kak Denara. Tapi Tania mau minta tolong.'' Ucapnya ragu.


''Mau minta tolong apa???''


''Bang Tian lagi sakit Kak, tapi Tania gak tahu harus ngapain. Ibu sama Ayah lagi gak ada di rumah, Tania bingung harus ngapain.''


''Oh gitu, yaudah nanti Kakak ke sana aja. Kamu bisa kirim alamat rumah kamu.''


''Makasih ya Kak, nanti Tania kirim.''


''Oke.''


Tut..


......................

__ADS_1


Tania menatap tersenyum ke arah ponselnya, membuat Tian curiga.


''Dek, ngapai kamu senyum-senyum gak jelas gitu.'' Ucap Tian yang berdiri di depan pintu.


''Loh.... Abang ngapain berdiri di situ, tadikan Tania suruh tiduran aja.'' Mendekati Tian.


''Kamu abis telponan sama siapa Dek..'' Kata Tian.


''Sama Kak Denara,'' Jawabnya tersenyum.


......................


''Mau kemana??'' Tanya Ares menatap Denara yang hendak pergi.


''Kebetulan Tuan di sini, saya mau izin keluar boleh.'' Mulai mendekat ke arah Ares yang sedang duduk di samping Zion.


''Keluar kemana??''


''Ke rumah temen.''


''Temen??'' Ulang Ares.


Denara mengangguk, dia sengaja tak bilang jika akan pergi ke rumah Tian. Jika Ares tahu maka sudah di pastikan Denara tak akan di izinkan pergi.


''Temen yang mana??''


''Inem, temen saya yang kebetulan di kota.'' Jelasnya.


''Baiklah, saya izinkan. Tapi jangan sampai pulang malam.''


''Makasih Tuan, saya permisi. Assalamualaikum.''


''Wa'alaikumsalam.'' Jawab Ares dan Zion kompak.


......................


Denara menaiki ojek online menuju rumah Tian, jarak yang di tempuh oleh Denara cukup jauh. Jadi membutuhkan beberapa menit untuk sampai ke sini.


''Ini Pak uangnya.'' Menyerahkan uangnya.


''Makasih Mbak, jangan lupa kasih bintang 5.'' Ucap Bapak itu.


''Oke, Pak.'' Balas Denara.


......................


Tok....


Tok...


''Assalamualaikum...''


Tok...


Tok..


Tangan Denara terus mengetuk pintu, hingga pintu rumah itu terbuka.


''Wa'alaikumsalam, masuk Kak.'' Ucap Tania.


''Maaf yah, Kakak cuman bawa ini doang.'' Menunjuk kantung yang berisi buah-buahan.


''Gak apa-apa kok Kak, maaf yah Tania ngerepotin Kakak.'' Ucap Tania tak enak.


''Enggak kok, kebetulan kerjaan Kakak udah beres semua.'' Balas Denara ramah.


'Pantes suka, orangnya baik.' Batin Tania.


''Ayo Kak, kita liat bang Tian.'' Menarik tangan Denara mengikutinya, menuju kamar Tian.


Bersambung....


......................


Tania mulai aktif yah😅, hola pembaca🐣.


Jangan lupa buat Vote, like, favorit dan rate 5nya yah, dukungan kalian akan sangat membantu untuk Dao semangat nulis dan gaspol buat up☻.


IG : dindao.18


Jangan lupa mampir ke sini juga👇

__ADS_1



Sayonara👋🏻.


__ADS_2