
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun memgcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃....
Ares menundukkan kepalanya saat ini, Ares benar-benar tidak menyangka dengan kunjungan dadakkan yang sedang terjadi saat ini.
''Kamu udah lupa sama Mama Ares??'' Menatap sang anak yang tengah menundukkan kepalanya.
''Apa sesibuk itu kerjaan kamu, hingga tidak pernah lagi berkunjung ke rumah!!'' Nada tegas terdengar jelas dari ucapan Mamanya.
''Enggak Mah, Ares gak maksud gitu.'' Masih menundukkan kepalanya.
''Lalu??''
''Kebetulan saja Ares memang sibuk akhir-akhir ini.''
''Kamu memang selalu punya alasan untuk menjawab Mama.''
Ares mengacak rambutnya dengan pelan, setelah mendengar ucapan Mamanya.
''Kamu masih bersama Clarissa??'' Tanya Mamanya.
Ares langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Mamanya yang duduk di depan Ares saat ini.
''Sudah tidak lagi, aku sudah lupa dengan dia.'' Ucap Ares malas saat mendengar nama Clarissa di sebut.
''Dulu aja di bela-belain di depan Mama, sekarang malah acuh.'' Cibir Mamanya, sedangkan Ares hanya tersenyum kaku.
''Oh iya, Mama denger dari Kakak kamu. Kalo Zion tinggal di rumah kamu??''
'Apa yang sebenarnya Kak Resa katakan pada Mama.' Batin Ares resah.
''I-iya M-mah...'' Ucap Ares gugup.
''Kenapa gugup?? Kamu rahasiain sesuatu dari Mama??''
''Enggak ada kok Mah.''
''Ares jujur saja sekarang, sebelum Mama tanya pada Kakakmu. Tentang apa yang terjadi!!!''
......................
Zion membantu Denara menata makanan di atas meja, sebenarnya Denara sudah melarang Zion untuk tidak membantunya. Tapi Zion menolak hal itu.
''Kamu seharusnya duduk saja di sini.'' Menunjuk kursi makan yang ada di sampingnya.
''Kak Dena, aku tidak keberatan sama sekali hanya karena meletakan piring di atas meja makan.'' Jelasnya.
''Kamu ini memang pandai menjawab,'' mencubit pipi Zion pelan.
''Aku memang pandai, Kak Dena tidak perlu memujiku.'' Ucapnya senang.
Denara malah tertawa mendengarnya, Zion ini benar-benar persis seperti Ares tapi versi kecilnya.
''Kenapa Kakak tertawa, apakah aku lucu??''
Denara menggeleng.
''Tidak, Kakak merasa jika kamu dan Ommu benar-benar mirip.''
''Kakak bercanda??''
__ADS_1
''Tidak,'' Denara menatap Zion.
''Aku ini jauh lebih tampan dan lebih keren dari pada Om. Mana mungkin kita mirip." Zion seolah-olah tidak terima di katakan mirip dengan Ares.
''Hahaha.... Kamu menggemaskan sekali.'' Respon Denara dengan tertawa.
......................
''Kamu bilang, jika kamu sudah mempunyai pacar??'' Menatap Ares yang terlihat gugup.
''Iya Mah, Ares sudah punya.'' Jawab Ares.
''Siapa?? Apakah dia orang yang sama seperti Clarissa atau lebih parah dari itu.'' Ucapan Mamanya.
''Dia tidak sama dengan Clarissa, dia sangat berbeda.'' Menjelaskan pada sang Mama.
''Sungguh?? Siapa Dia??'' Sambil terus memperhatikan wajah Ares.
''Dia adalah.....''
......................
Tok...
Tok...
Cklek...
''Kak Dena bisa bantu aku.'' menghampiri Denara yang sedang beristrihat di kamarnya.
Denara melihat ke arah Zion yang sedang membawa kertas karton dan juga spidol warna yang ada di tangannya.
''Kamu ada tugas sekolah.'' Seolah-olah mengerti dengan tatapan Zion.
''Baiklah, kita kerjakan di ruang tamu saja.''
Mereka berjalan ke ruang tamu, sebelum itu. Denara mengunci kamarnya terlebih dulu.
Zion mulai mengikuti langkah Denara yang berjalan terlebih dulu darinya. Zion lalu meletakan barang-barang yang dirinya bawa di atas meja.
''Apakah kamu memerlukan gunting.'' Bertanya pada Zion.
Zion mengangguk, Denara langsung menuju ke arah laci yang berada di meja televisi. Setelah mendapatkan gunting, Denara lalu meletakannya dan ikut duduk di samping Zion.
''Apa tugasnya??''
''Guru menyuruhku menulis rumus-rumus ini di kertas karton. Tapi aku sedikit kesulitan dalam menuliskannya.'' Terangnya pada Denara.
''Begitu rupanya, Kakak akan membantumu dengan menuliskan rumusnya menggunakan pensil, nanti setelah selesai Kakak menulis. Kamu bisa meneranginya menggunakan spidol warna.''
''Baiklah,'' jawab Zion.
Denara mulai mengambil pensil serta pengaris yang kebetulan berada di tas Zion, telah di ambil oleh Zion tadi.
Perlahan-lahan Denara menggoreskan pensil di atas kertas karton berwarna biru. Walau pun kesulitan membuat garis karena ukuran karton yang terlalu besar, tapi Denara bisa melakukannya dengan sangat rapi.
Bahkan Zion yang melihatnya kagum akan hal itu, setelah makan selesai tadi. Zion langsung menuju kamarnya untuk mengerjakan tugas, tapi dirinya cukup kesuliatan dalam menuliskannya di kertas karton besar itu.
Jujur saja, kertas karton yang saat ini di tulis oleh Denara adalah kertas karton yang ke lima dirinya gunakan untuk membuat tugas ini.
''Kak Denara menulisnya dengan sangat rapi, aku bahkan harus menggunkan 4 kertas karton untuk menulisnya dan itu pun salah semua.'' Cerintanya pada Denara.
__ADS_1
Denara berhenti menulis, lalu menoleh ka arah Zion yang sedang menatapnya.
''Sungguh, kenapa bisa sebanyak itu??''
''Saat menulis di kertas karton yang pertama, aku salah mengarisnya. Di kertas ke dua, aku salah menulis rumusnya. lalu di kertas ke tiga, aku terlalu menekan saat menulis dan hal itu membuat tulisku menjadi jelek. Dan kemudian di kertas terakhir, aku malah mencoret dan hal itu membuatku memutuskan untuk meminta bantuan pada Kak Dena.'' Jelas Zion panjang lebar.
''Kenapa tidak menghapusnya saja, Kan kertasnya bisa di gunakan kembali..''
''Aku tidak menyukainya, dari pada aku susah payah menghapusnya bukankah lebih baik aku mengantinya saja dengan yang baru. Lagi pula aku membeli satu lusin karton untuk kugunakan, jadi Kak Dena tidak perlu cemas.'' Jawab Zion dengan santai.
'Sungguh, sultan memang berbeda.' Batin Denara.
......................
Ares duduk di belakang bersama dengan Mamanya, sedangkan Deni duduk di kursi pengemudi sebagai supirnya.
''Kamu memang selalu membuat Mama terkejut Ares,'' Setelah mendengar cerita yang Ares katakan padanya.
''Sudah berapa lama??''
''5 bulan lebih satu minggu.'' Paparnya.
''Selama itu, dan kamu baru memberitahu Mama sekarang!!'' Seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
''Aku terlalu sibuk bekerja da--''
''Berpacaran maksudmu?? Mama benar-benar tidak menyangka.'' Dengan raut wajah kesal.
''Deni, percepat mobilnya.'' Perintah Mamanya.
''Baik, Bu...''
......................
''Akhirnya selesai juga,'' melihat ke arah karton yang sudah di tulis bahkan sudah di pasang plastik di depannya.
''Terima kasih Kak Dena, karena sudah membantuku.''
Denara mengangguk.
''Sama-sama,'' sambil membereskan peralatan-peralatan yang mereka gunakan.
Ting nung...
Ting nung...
Ting nung...
''Sepertinya ada tamu, Kakak akan ke pintu depan sebentar.'' Berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Cklek...
Saat pintu di buka, Denara cukup terkejut ketika melihat tamu yang datang.
''Lama tidak bertemu, Denara.'' Sapa Mamanya Ares yang menatapnya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
''Iya Nyonya..'' Jawab Denara sambil menunduk.
Denara sedikit menyingkir dari pintu untuk mempersilahkan Mamanya Ares untuk masuk ke dalam.
''Saya ingin bicara denganmu, sebentar... Bisa.''
__ADS_1
''Tentu Nyonya.'' Jawab Denara sopan dengan masih menundukkan kepalanya.
...Bersambung.......