
...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy reading🍃...
...Typo bertebaran....
Hal yang tidak pernah terbayang bagi Denara, di mana orang tua Ares datang untuk membesuknya dan meminta maaf.
''Beneran Ra?? Kamu pasti bohong...''
Sudah berulang kali Denara menjelaskan pada Inem, tapi masih saja sahabatnya ini seakan-akan tidak percaya.
''Inem, sahabatku yang cantiknya kalo di lihat dari sedotan. Percaya Deh, aku itu jujur banget cerita sama kamu. Masa kamu gak percaya sih...'' Ujar Denara.
''Ya gimana mau percaya Ra, kamu kan tahu sendiri. Gimana oranv tuanya Ares kalo sama kamu. Aku masih ingat banget yah gimana ekspresi kamu waktu datang ke kostsanku.'' Ujar Inem.
''Yah mau gimana lagi coba, orang aku sama sekali gak ada tempat tujuan selain kamu. Lqgi pula kita inikan udah kayak saudara.'' Jelasnya.
''Giliran gini aja baru bilang saudara,'' sedangkan Denara hanya cenggegesan mendengarnya.
''Inem mah gitu....''
''Tapi, jujur saja aku takut..''
''Kenapa??''
''Aku cukup takut, jika apa yang terjadi saat ini adalah harapan semu yang selalu aku impikan. Kamu tahukan, bagaimana perjuanganku bersamanya saat ingin mendapatkan tmrestu orang tuanya.'' Papar Denara.
''Huh... Kenapa hal ini menjadi rumit sekali...'' Ujar Inem.
Benar. Denara sudah pusing dengan kasus Jesi, kondisinya yang belum fit serta hal-hal yang terjadi secara tiba-tiba di hidupnya saat ini.
''Sudahlah Nara, jangan terlalu di pikirkan. Lagi pula, saat ini kamu harusnya lebih fokud untuk sembuh dulu baru mem8kirkan hal lain...''
......................
Ares memasuki kawasan perumahan orang tuanya, menggunakan mobil biru miliknya. Penjaga yang berjaga segera membuka gerbang untuk mempersilahkan Ares masuk ke dalam.
Selesai memarkirkan mobilnya, Ares beranjak dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
''Loh, Den Ares??'' Ucap pembantu yang membukakan pintu.
''Mama ada??'' Tanya Ares.
''Nyonya ada Den Ares, baru saja pulang dari supermarket.'' kata pembantu Ares.
Ares melangkah masuk ke dalam menemui orang tuanya.
''Mama...'' Panggil Ares, saat melihat Mamanya di dapur.
''Ares?? Ada apa??''
''Mama kemarin benar ke rumah sakit??'' Tanya Ares.
__ADS_1
''Iya, kenapa??''
''Mama beneran minta maaf sama Denara??'' Tanya Ares dengan raut wajah tidak percaya.
''Iya, kenapa kamu gak suka??'' Jawab Mamanya sewot.
''Bukan gitu mah, Areskan cuman nanya aja..''
Ares hanya tidak percaya saja, jika Mamanya benar-benar melakukan itu. Ares sqngat tahu, bagaimana sifat Mamanya jika tidak menyukai seseorang, maka hal itu akan berlaku terus menerus.
Entah apa saja yang di ceritakan Kakaknya, hingga membuat Mama serta Papanya seperti itu.
''Kamu cuman tanya itu saja Ares??'' Tanyanya pada sang anak.
Ares mengangguk pelan.
''Ya ampun Ares, kamu jauh-jauh ke sini cuman tanya itu aja??'' Ulang Bu Eni, seakan-akan tidak percaya.
''Yah gitu deh... Area cuman mau mastiin aja...'' Ucapnya.
''Kamu ini kayak abg labil aja, sudah sana.......''
Ares berjalan ke depan, tapi kemudian berbalik lagi.
''Mama....'' Panggil Ares.
''Kenapa??''
''Mama udah nerima Denara??'' Tanya Ares.
......................
Untungnya di rumah sakut ini, terdapat taman kecil dan lumayan ramai di kunjungi oleh pasien serta beberapa perawat dan dokter.
Syukurnya kondisi Drnara sudah mulai perlahan-lahan pulih, Meskipun dirinya masih memakai infus di tangannya.
Sambil mendorong pelan pegangan infus, Denara mulai berjalan pelan ke arah taman rumah sakit.
''Loh, Denara?? Kamu udah mulai membaik.'' Ucap Dokter Geri.
Dokter Geri, adalah Dokter pengganti dari Dokter Rina yang merupakan dokter Denara. Dokter Geri adalah Dokter magang yang baru saja Kkn di rumah sakit itu dan kebetulan pembimbingnya dalah Dokter Rina.
''Iya Dok, saya bosan...'' Ucap Denara.
''Panggil Nama saja, saya masih belum mendapatkan gelar itu..'' Balas Geri.
''Tidak apa-apa, kan sebentar lagi jadi Dokter..'' Ujar Denara.
''Mau aku antar??'' Tawar Geri.
''GAK PERLU, BIAR SAYA SAJA YANG MENEMANI PACAR SAYA KE TAMAN...'' Teriakan itu berhasil membuat mereka kompak menenggok ke arah sana.
......................
__ADS_1
Selesai dari rumah orang tuanya, Ares memutuskan untuk menjenguk Denara di rumah sakit. Sebelum ke sana, Ares membeli beberapa roti dan buah-buahan untuk Denara.
Setelah itu, barulah Ares pergi ke rumah sakut untuk menjenguk.
Sampai di sana, Ares melihat Denara yang sedang berbincang-bincang dengan akrabnya bersama salah satu Dokter yang usianya tampak muda.
Dengan langkah lebar Ares berjalan, dari yang Ares dengar. Denara ingin ketaman tapi masalahnya adalah, Dokter itu malah ingin mengantar Denara.
''Apa-apaan ini??'' Batin Ares kesal.
''GAK PERLU, BIAR SAYA SAJA YANG MENEMANI PACAR SAYA KE TAMAN...'' Teriakan itu berhasil membuat mereka kompak menenggok ke arah sana.
Teriakan Ares berhasil membuat beberapa orang memperhatikannya, terutama para wanita yang menatap Ares dengan kagum.
Ares malah tidak peduli dengan hal itu, yang di pedulikannya saat ini hanyalah, Dokter itu harus menjauh dari Denara.
"Kamu kesini??" Denara menatap Ares bingung.
"Bener ini pacar kamu???" Tanya Geri.
Ares langsung memeluk Denara dari samping dam berusaha ridak menyenggol tangan Denara yang terpasang infus.
Denara tentu saja kaget serta risih, karena semua orang kini mulai memperhatikan mereka.
"Saya Ares Ananta, pacarnya Denara..." Ucap Ares sambil menatap Geri dengan sombong.
"Oh, saya Geri, Dokter magang yang kebetulan di tugaskan oleh Dokter Rina untuk memantau Denara."
Ares tampak kesal mendengar hal itu, melihat akan adanya perdebatan yang tidak terelakan. Denara memutuskam untuk bersuara.
"Mas, kayaknya kepalaku pusing. Kamu bisa anter akukan??"
Mendengar itu, Ares tampak sumringah mendengarnya. Dqn hal itu tampak terbalik dengan raut wajah Geri saat mendengar hal itu.
"Kamu gimana sih sayang, udah tahu sakit masih aja keluar..." Ares tampak khawatir.
"Sebaiknya kamu istirahat saja Denara..." Sambung Geri.
"Ehh... Ngapain Dokter ikut segala, saya bisa kok nganter pacar saya sendiri." Sewot Ares, saat melihat Geri yang tampak mengikutinya dari belakang.
"Mas!!!!" Ucap Denara yang tampak malu sekaligus kesal dengan Ares yang tampak cemburu.
"Apaan sih, orang aku bener kok.." Ucap Ares dengan lembut. Berbeda dengan Ares saat bicara dengan Geri yang tampak dingin dan terkesan bermusuhan.
"Gak apa-apa kok Denara....'' Ucap Geri yang tampak tidak suka dengan Ares.
Denara tampak tidak enak dengan hal itu, sementara Ares tampak senang memdengarnya.
''Bagus kalo sadar....'' Celutuk Ares.
Sedangkan Denara yang mendengar itu, spontan saja tangannya mencubit pinganggan Ares dengan pelan.
''Mas diem!!'' Peringat Denara.
__ADS_1
''Gak apa-apa, saya paham. Saya permisi dulu...'' Pamit Geri yang tersenyum pada Denara dan menampilkan wajah tidak suka pada Ares.
...Bersambung.......