
...Dilarang plagiat, menjiplak atau pun memgcopy karya ini!!!...
...Happy reading🍃....
...Typo bertebaran.....
beberapa bulan kemudian.....
''SAYANG DASI AKU DI MANA...'' Teriak Ares dari dalam kamar.
''Di gantungan, di belakang pintu...'' Sahut Denara dari arah ruang tamu.
Ares tampak tergesa-gesa keluar dari kamar sambil menenteng tas serta dasi yang masih ada di gengamannya.
''Sayang pasangin...''
Sementara Denara yang tadinya anteng menonton dan memakan keripik meras tergangu akan hal itu.
''Mas kamu mah, aku lagi seru-seru nonton Mail juga...''
Jika kalian merasa Denara sudah kurang ajar pada Ares, maka kalian salah. Saat ini, Denara tengah mengandung buah hati mereka. Usai kandungan Denara saat ini sudah masuk sembilan bulan.
Hal itu, tentu membuat Ares was-was serta berhati-hati. Semenjak mengandung, sifat Denara tampak berubah dan sangat berbeda.
Dari Denara yang biasanya mandiri, kini mulai berubah manja bahkan mudah sekali menanggis.
''Sayang pasangin....'' Balas Ares dengan manja.
''Udah mau jadi Papa juga, masih aja manja.'' Cibir Denara.
''Biarin, sama istri sendiri juga.''
Ares lalu menundukkan tubuhnya agar Denara dapat memasangkannya, Denara tampak berisi dan bertambah cantik. Ares tidak menyangka, jika mereka akan menjadi orang tua dalam waktu dekat.
''Selesai...'' Ujar Denara riang.
''Kamu gak apa-apa di tinggal sama aku kerja, aku bisa cuti aja sayang..'' Ucap Ares.
''No... Aku maunya kamu kerja, lagi pula aku di sini bareng sama Istrinya Pak Tejo gak sendirian Mas..''
''Tapi sayang, aku khawatir... Gimana kalo hari ini kamu lahiran...'' Cemas Ares.
''Ihhhh... Lahirannyakan beberapa hari lagi kata Dokter..'' Jawab Denara.
''Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung telpon ya sayang..'' Mencium Denara.
Ares lalu mengusap pelan perut Denara yang tampak besar karena mengandung. Dengan sayang Ares mengusap dan memberikan kecupan pelan.
''Papa berangkat dulu, kamu jaga Mama yah...''
......................
Ares tampak.tidak tenang dan gelisah, saat mulai meeting hingga meetingnya selesai.
''Pak Ares... Apakah anda baik-baik saja??'' Tanya Deni.
''Saya hanya khawatir pada Istri saya.'' Balas Ares tidak tenang.
......................
Denara berjalan pelan, ke arah dapur. Tapi baru beberapa langkah, entah kenapa tiba-tiba saja perutnya terasa mulas dan sakit.
''Aduhh... Shhh.. Sa-sakit....''
''BIBI..... BIBI....'' Teriak Denara sambil menahan ringgis karena sakit.
__ADS_1
'' Ya Allah Non.....'' Segera menghampiri Denara yang tampak kesakitan.
''Telpon... Mas Ares.....''
Dengan tergopoh-gopoh, Bibi menelpon dan memanggil Suaminya untuk membantu membawa Debara ke rumah sakit
......................
''Halo Bibi... Ada apa??''
''APA LAHIRAN....'' Ares bergegas keluar dari ruangannya dengan berlari.
Beberapa karyawan menatap Ares heran, karena aksi yang Ares lakukan saat ini.
''DENI... SIAPKAN MOBIL KERUMAH SAKIT....'' Teriak Ares pada Deni yang baru saja keluar dari ruang fotocopy.
''Iya Pak...'' Tampak tergesa-gesa mengikuti Ares yang berlarian.
......................
Seluruh keluarga tampak cemas menunggu di luar ruangan Denara.
''Ma Ares mana... Udah tahu mau lahiran masih aja kerja.'' Kesal Resa.
''Bentar lagi sampe, nah itu dia orangnya.''
Ares tepat waktu sampai di rumah sakit dengn Deni yang mengiring di belakangnya.
''Mah... Denara mana??'' Ares tampak capek serta ngos-ngosan.
''Didalam cepat sana masuk...''
......................
''Sakit Dok.... Sakit...''
''Sayang....'' Ares baru saja masuk ruangan.
''Mas kamu gak tahu apa, aku mau lahiran malah sibuk kerja.'' Omel Denara.
''Iya, sayang maaf, Mas salah...''
Ares lalu mengengam tangan Denara, untuk memberikan kekuatan pada Istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hatinya.
''Ayo Mbak terus.....''
''Aghhhh Mas.... Kamu bener-bener....'' Mencengkram tangan Ares kuat.
''Iya sayang ini semua salah Mas...''
''Iya.... Emang, akukan hamil anak kamu....'' Balas Denara sewot.
Ares benar-benar serba salah dalam kondisi ini, di satu sisi dirinya khawatir di sisi lainnya Ares benar-benar bingung.
'''Terus Mbak...''
''AGHHHH.......'' Teriak Denara.
''Oek.... Oekk.....''
''Alhamdulillah...'' Syukur mereka.
......................
Denara sudah pindah ke ruangan lain, sementara sang anak, saat ini sedang di bersihkan dan di mandikan.
__ADS_1
Denara tampak lemas dan pucat, dan hal itu sempat membuat Ares panik, tapi setelah di berikan keterangan yang jelas oleh Dokter mengenai kondisi Denara.
Barulah Ares memahami hal itu dqn tampak rileks dari biasanya.
......................
Ruangan Denara tampak ramai, di datangi oleh orang-orang terdekat. Rasanya seperti Mimpi, baru saja bagi Ares menikah dan sekarang sudah ada anak saja dan dirinya yang sudah menyandang status sebagai orang tua sekarang.
''Anaknya mirip banget sama Denara..'' Komentar Resa.
''Alisnya aja yang mirip sama Ares.'' Sambung Papa Ares.
''Matanya juga mirip Om Ares...'' Timpal Zion.
''Siapa Res namanya....'' Tanya sang Kakak Ipar.
''Ardena Ananta..'' Ucap Ares.
Anaknya yang berjenis kelamin perempuan. Kini sudah berada di gendongannya. Ares tampak takut saat pertama kali bersentuhan dengan anaknya.
''Dek kamu nangis??'' Ucap Resa, saat melihat mata Ares yang tampak berkaca-kaca.
Ares tampak memalingkan wajahnya, dirinya benar-benar tidak menyangka jika saat ini dirinya sudah menyandang status sebagai Papa.
''Kamu sama banget kayak Papa kamu. Pas lahir Resa.'' Cerita Mamanya.
''Emang Iya Mah??'' Kepo Resa.
''Mah... Jangan suka umbar-umbar..'' Ujar Arlon tampak malu.
''Alah bilang aja malu Pah...''
Dan semua orang tertawa.
......................
''Mas, kamu ngapain liat Ardena sampe segitunya.'' Heran Denara yang baru saja selesai memberi Asi pada sang anak.
''Aku masih gak nyangka sayang..'' Ucap Ares.
''Makasih sayang, telah berjuang melahirkan serta menjaga Ardena hingga bertemu dengan aku dan keluarga.'' Ujar Ares bersyukur.
''Harusnya aku yang bersyukur Mas, karena kamu... Aku bisa menjadi Ibu sekarang.'' Balas Denara dengan senang.
Mungkin ini bukanlah akhir dari kisah mereka, tapi ini adalah lembaran baru untuk mereka. Lembaran baru serta tanggung jawab baru.
Ini adalah permulaan bagi mereka menuju masa depan secara bersama.
...Tamat....
Terima kasih, bagi kalian yang sudah mampir dan membaca cerita ini. Maaf bagi kalian yang kurang suka endingnya.
Tapi ini sudah sesuai sama apa yang Author pikirkan. Jujur aja, awalnya Author gak nyangka bakalan nulis sampai ratusan eps.
Dan terima kasih, bagi pembaca yang sudah mendukung cerita dengan suka rela. Karena, jujur aja. Dukungan kalian adalah semangat untuk Author nulis.
Maaf juga, kalau Author kadang gak tentu upnya, bukan karena gak mau up. Tapi karena kesibukan di dunia nyata yang terlalu menyita.
Maaf apa bila ada salah kata serta tulisan yang terkandung dari cerita ini.
Tapi Cinta Untuk Tuan ini. Gak bakalan ada season 2nya. Karena Author mau buat cerita yang lain😶. Jadi jangan lupa untuk dukungannya yah...
Maaf juga, buat author yang gak sempet balas komen kalian. Tapi sekali lagi Author terima kasih atas dukungan yang kalian berikan.
Terima kasih dan sampai jumpa di cerita Author yang lain...
__ADS_1