Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
45 part 2


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...


...Happy Reading🍃....


Tingkah Ares yang selalu melamun saat di meja makan, ternyata hal itu di sadari oleh Denara dan Zion.


''Mas, kamu sejak kemarin suka melamun. Apa ada masalah yang serius??''


Ares tentu saja tidak mungkin mengatakan apa yang dirinya lamukan pada Denara, terlebih lagi hal itu akan menyakiti Denara.


''Tidak, hanya masalah kerjaan saja.'' Balas Ares, lalu melanjutkan makannya.


Denara hanya mengangguk. Mungkin pekerjaan Ares cukup banyak, hingga membuatnya pusing. Pikir Denara.


......................


Jesi memutuskan untuk berkunjung ke rumah Ares, tapi bukan untuk menemui Ares. Tapi untuk bertemu dengan Denara.


Dan Jesi sengaja berkunjung saat Ares tidak ada di rumahnya. Jesi sempat di larang oleh Pak Tejo untuk masuk, tapi Jesi mengancam Pak Tejo dengan menelpon Ibunya Ares dan karena hal itu pula lah Pak Tejo membiarkan Jesi masuk.


Ting nung...


Ting nung...


Suara bel yang berisik, berhasil membuat Denara meninggalkan pekerjaannya dan berjalan ke arah pintu rumah.


''Hai Denara..'' Menyapa Denara dengan senyum bahagia.


''Ada apa Mbak datang ke sini??'' Tanya Denara, yang masih belum mengizinkan Jesi untuk masuk.


''Denara, hanya karena kamu pacaran sama Ares. Bukan berarti derajat kamu naik jadi Nyonya.''


''Lagi pula, yang akan janji Nyonya di sini bukan kamu..... Tapi aku.'' Menunjuk dirinya sendiri.


''Apa maksud Mbak bilang begitu??''


Jesi bersedekap dada dan menatap tajam ke arah Denara.


''Kamu sungguh ingin tahu?? Apa maksud pembicaraanku.''


Jesi lalu mendorong sedikit tubuh Denara agar menyingkir dari pintu dan dirinya bisa masuk ke dalam rumah.


Jesi berjalan ke arah sofa dan duduk dengan santai, lalu menoleh ke arah Denara.


''Kamu tahukan, kemarin Ares pergi ke rumah orang tuanya.''


Denara tahu jika Ares pergi kemarin, tapi Ares tidak bilang padanya jika Ares akan pergi ke rumah orang tuanya.


''Wah... Ares tidak memberitahumu ternyata.'' Sambil menepuk tangannya.


''Apakah kamu ini sungguh pacarnya?? Bahkan hal ini saja, Ares tidal memberitahumu. Bukankah itu menyedihkan??'' Ejek Jesi.


''Kemarin acaranya sangat ramai dan megah, banyak yang datang ke sana. Termasuk orang tuaku.''


''Mereka membicarakan banyak hal, termasuk....'' Menggantungkan ucapannya.


Lalu tersenyum menyerigai ke arah Denara.


''Perjodohan antara aku dan Ares.'' Lanjut Jesi.


Deg...


'Apa maksud Jesi sebenarnya, apakah benar yang dia bicarakan ini.' Batin Denara.


Jesi sangat menyukai ekpresi wajah yang Denara tunjukkan padanya, raut wajah takut, gelisah serta sedih.


'Aku tidak menyangka, akan semenyenangkan ini.' Batinya senang.

__ADS_1


''Apa Mbak ingin memprovokasi diriku dengan hal ini.'' Balas Denara yang sejak tadi hanya mendengarkan perkataan Jesi.


Jesi berdiri lalu mendekat ke arah Denara, dengan langkah dan wajah yang angkuh. Jesi menatap Denara dengan sedih.


''Aku tidak akan menyebar kebohongan mengenai perjodohanku dengan Ares. Karena itu faktanya, jika kamu tidak percaya. Tanya saja pada Pacarmu sendiri.''


Lalu melangkah pergi, meninggalkan Denara yang masih berdiri di sana.


......................


Denara masih memikirkan perkataan Jesi, mengenai perjodohan antara Jesi dan Ares. Rasanya sakit sekali, saat mendengarkan hal itu.


''Kenapa dia tidak memberitahuku. Apakah aku memang pantas di permainkan.'' Mata Denara nampak berkaca-kaca saat mengatakannnya.


Di luar, Ares baru saja sampai. Setelah memarkirkan mobil, Ares berjalan ke arah rumah dan membuka pintunya.


Ares langsung berjalan ke dapur, untuk menemui Denara. Tapi, sayangnya Denara tidak ada. Ares lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar Denara yang tertutup.


Ares mengetuk kamar Denara secara pelang serta memanggil namanya.


Tok...


Tok...


Tok...


''Denara...''


Tok...


Tok...


''Denara...''


Tidak ada sahutan, Ares lalu mencoba membuka pintu. Dan ternyata pintu kamar Denara tidak terkunci.


......................


Denara mendengar suara pintu yang terbuka, dengan segera Denara mengatur posisi tidur dan mulai memejamkan matanya.


Denara bisa mendengar suara Ares yang memanggilnya tadi. Bahkan mendengar langkah kaki Ares yang berjalan masuk ke kamarnya.


Tapi itu hanya sebentar, setelah itu Ares keluar dari kamarnya. Seteteh mendengar suara pintu di tutup. Denara baru membuka matanya dan menatap ke arah pintu.


'Haruskah aku bertanya, mengenai masalah ini.' Batin Denara


......................


''Kak Dena, mana Om??'' Tanya Zion, lalu menyerahkan piring berisi buah pada Ares.


''Sedang tidur.'' Balas Ares dan mengambil piring yang ada di tangan Zion.


''Tumben, oh iya... Om tadi Zion mendengar suara seseorang.'' Katanya Zion.


''Siapa??'' Menatap Zion.


''Aku tidak mendengar dengan jelas, tapi aku yakin jika ada yang datang saat itu.''


Ares lalu berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah luar. Ares berjalan ke arah pos satpam, untuk menemui Pak Tejo dan bertanya padanya.


Pak Tejo yang melihat Ares berjalan mendekat, langsung saja berdiri dan menghampiri Ares.


''Ada apa Pak Ares??''


''Saya ingin bertanya sesuatu pada Pak Tejo.'' Tanya Ares.


''Tanya apa Pak Ares??''

__ADS_1


''Hari ini, apakah ada tamu yang datang kemari??''


Pak Tejo tampak kaget dan mulai menotmalkan ekspresinya.


''Iya Pak, ada...''


''Siapa??''


''Dia Mbak-Mbak yang waktu itu Pak Ares. Yang orangnya Pak Ares larang masuk.'' Beritahu Pak Tejo.


'Ada dua orang yang aku larang masuk ke rumahku.


Clarissa dan.... Jesi.' Batin Ares.


''Apakah orang itu Jesi??'' Karena sangat tidak mungkin, jika Clarissa yang datang.


''Benar Pak Ares.''


''Bukankah saya melarang, lalu kenapa Pak Tejo mengizinkan!!'' Ares terlihat marah.


''Maaf, Pak Ares. Kemarin, Mbak Jesi menelpon Ibunya Pak Ares. Dan menyuruh saya mengizinkan Mbak Jesi masuk.'' Terlihat takut.


......................


Denara kembali mendengar ketukan pintu kamarnya dan memutuskan untuk bangun dan membukannya.


Di sana, Ares berdiri dengan suara yang terenggah-enggah karena berlari. Ares lalu menarik Denara dan mendudukan Denara di kursi makan.


''Apakah Jesi datang kemari tadi?? Apa yang dia katakan.''


Denara melihat sejenak ke arah Ares, lalu membuang muka.


Ares tahu, ada yang aneh dengan Denara. Bahkan Zion saja menyadarinya.


''Ara, kenapa kamu membuang muka. Aku bertanya padamu.'' Ucapnya lembut.


''Harusnya kamu sudah tahu, kenapa bertanya padaku.'' Jawab Denara.


''Mana mungkin aku tahu, jika kamu tidak memberirahuku.'' Balas Ares.


''Kamu benar-benar ingin aku yang mengatakannya.'' Tersirat nada kecewa dari apa yang di katakan Denara.


''Ara... ''


''Baiklah, walau pun aku akan terluka saat mengucapkannya.''


Denara menoleh ke arah Ares dengan mata yang berkaca-kaca. Hal itu tentu saja membuat Ares terkejut.


''Tapi sebelum aku memberitahumu. Aku ingin bertanya sesuatu...''


''Apa Ara??''


''Kemarin, saat kamu bilang jika akan pergi. Apakah hari itu, kamu pergi ke rumah orang tua mu??''


Ares akhirnya paham, arah pembicaraan Denara.


''Apakah Jesi memberitahumu soal itu.''


''Ya... Dia memberitahuku, jika kalian akan di jodohkan.'' Sambung Denara yang mulai meneteskan air mata.


Ares lalu menarik Denara ke pelukkannya dan membiarkannya menanggis.


'Kamu akan tanggung akibatnya Jesi, karena membuat wanitaku menanggis.' Batin Ares marah.


...Bersambung......


......................

__ADS_1


__ADS_2