
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!!!....
...Happy Reading🍃...
Tian mulai berjalan masuk ke dalam rumahnya, saat masuk ke dalam rumah, suasana rumahnya tampak sepi. Tian lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa ruang tamunya.
Baru saja Tian akan memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar, tiba-tiba saja suara Tania yang berteriak dengan kencang terdengar olehnya dan hal itu tentu saja membuat Tian membuka matanya.
''BANG ITU MUKA KENAPA??'' Teriak Tania heboh saat menatap wajah Tian yang penuh lebam.
''Abang habis tawuran yah??'' Cerocos Tania tanpa henti seperti petasan banting.
Tian yang sejak tadi diam dab tidak menanggapi sama sekali ocehan Tania, kini mulai mengambil tindakan untuk membuat Tania berhenti untuk berbicara.
Hap..
''Diem Dek, Abang mau tidur.'' Menutup mulut Tania menggunakan tangannya.
......................
Ares sejak tadi hanya berdiam diri di dalam kamarnya sambil duduk di atas ranjang tidur miliknya, pikiran Ares melayang pada kejadian di mana Denara dan Tian berbicang-bicang tadi, dan hal itu sungguh mengusik pikirannya saat ini.
Flashback on.
Ares mengintip dari balik jendela rumahnya, untuk melihat Denara serta Tian yang sedang berbicara di teras rumahnya. Di sana Ares melihat serta mendengar dengan jelas percakapan di antara ke duanya, yang terdengar serius.
''Apakah kamu sedang berpacaran dengan Ares??'' Ujar Tian dengan menatap ke arah Denara.
Ares yang mendengar itu dari balik jendela tentu saja kaget dengan apa yang di katakan oleh Tian, tapi bukan Ares saja yang kaget mendengarnya. Denara juga terlihat kaget dengan apa yang di ucapkan Tian padanya.
''Apakah karena hal itu juga, kamu tidak memberikanku jawaban.'' Sambung Tian.
''Tian, aku dan Tuan tidak punya hubungan apa-apa. Dan soal pernyataanmu padaku waktu itu, aku sepertinya belum bisa menjawabnya sekarang.''
''Aku masih bingung dan juga kaget dengan pernyataanmu waktu itu. Jujur aku masih memikirkan soal itu, terlebih lagi saat ini.... Tuan juga mengungkapkan perasaannya padaku.''
Tian yang mendengar itu tentu saja kesal, tapi raut wajahnya tidak terlalu di tunjukkan pada Denara.
''Lalu, apa jawabanmu padanya???''
''Aku juga belum menemukan jawabannya, sama seperti mu. Aku mengatakan padanya, jika aku belum bisa memberikan jawaban.'' Ucap Denara dengan menunduk.
''Huh.... Sepertinya menunggu adalah ungkapan uang tepat untukku saat ini.'' Jelas Tian, lalu tangannya terangkat untuk mengusap rambut Denara dengan pelan.
Denara yang merasakan usapan itu hanya bisa diam, tanpa menatap Tian.
''Pikirkanlah dengan baik jawabannya Denara dan aku berharap, jika jawabanmu nantinya adalah jawaban yang terbaik dan tepat untukku.'' Dengan senyuman manis yang terukir di wajah Tian.
''Aku pulang dulu,'' Tian bangkit dari kursi dan berjalan pergi.
Flashback off.
Ares benar-benar kepikiran soal itu, apalagi jika dari sikap saja, Ares sangat berbanding terbalik dengan Tian. Sikap Tian yang ramah serta lembut pasti menjadi nilai tambah di mata Denara.
__ADS_1
Terlebih lagi, jika Ares mengingat-ingat perlakuannya terhadap Denara yang lebih sering marah-marah dan juga bersikap dingin padanya pasti hal itu juga akan menjadikan pertimbangan yang jelas bagi Denara dalam menentukkan jawabannya.
Ares benar-benar penasaran dengan jawaban Denara yang nantinya akan di berikan pada Tian mau pun dirinya.
''Kuharap dia tidak memilih orang itu,'' guman Ares pelan.
......................
Denara benar-benar bingung dengan perasaannya, apalagi dalam menentukan jawaban untuk Ares mau pun Tian.
''Apa yang harus aku lakukan,'' berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.
''Kenapa juga mereka harus menyatakan perasaannya secara bersamaan.''
''Sungguh, ini benar-benar membuatku bimbang dalam menentukan jawaban yang tepat.'' Ucap Denara.
Denara mengambil ponsel yang ada di sakunya, lalu menghubungi seseorang.
''Halo....''
''Ada apa??''
''Aku bingung dalam menentukan jawaban,'' jelas Denara.
''Kamu sedang ujian??'' Jawab orang itu dengan nada bercanda.
''Aku sedang serius saat ini,'' balas Denara ketus.
''Baiklah-baiklah aku akan serius, ceritakan lah dengan jelas biar aku mengerti dengan situasimu saat ini.''
......................
''Ku harap pilihan Kak Denara nantinya adalah dirimu kak,'' jawab Tania setelah mendengarkan cerita Tian.
''Aku berharap juga begitu Dek dan semoga saja ucapanmu tadi terkabul.'' Balas Tian.
''Aku akan berdoa untukmu Kak,'' ucap Tania memberikan semangat pada Tian.
''Terima kasih Tania, kau memang Adik terbaik yang Abang miliki.'' Mengacak rambut Tania dengan pelan.
''Ihh... Abang, rambut Tania kan jadi kayak singa.'' Gerutunya.
Sedangkan Tian hanya tersenyum saja mendengar nada protes Tania padanya.
......................
''Om masih kepikiran yah??'' Tanya Zion yang saat ini berdiri di depan pintu kamar Ares yang sudah terbuka.
''Begitulah, apakah sudah waktunya makan???''
''Iya, Kak Dena sudah menyiapkan semua.'' Angguk Zion.
''Baiklah,'' Ares bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamar, di ikuti oleh Zion yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
......................
Denara menyajikan semua makanannya dengan rapih di atas meja makan.
''Aku tidak sabar memakannya.'' Ucap Zion yang sedang menarik kursi makan.
Setelah mereka duduk. Mereka kini mulai memakan-makanan dengan diam serta menikmati apa yang sudah di masak oleh Denara untuk mereka.
''Tunggu, makanlah di sini saja.'' Ujar Ares saat melihat Denara yang berjalan ke arah dapur.
''Iya Kak Dena, makan di sini saja.'' Menepuk kursi di sampingnya.
''Apakah tidak apa-apa??'' Ucap Denara.
''Duduklah Denara.'' Perintah Ares.
Denara berjalan ke arah Zion dan menarik kursi yang berada persis di samping Zion, lalu mulai mengambil makanan dan mulai memakannya.
......................
Setelah selesai makan dan mencuci piring serta beres-beres, Denara memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamarnya sambil bermain ponsel.
''Apakah aku harus melakukan apa yang di katakan oleh Inem??'' Saat mengingat perkataan Inem di telpon tadi.
Denara menarik nafas dengan pelan, lalu menatap kembali ke arah ponselnya. Perlahan-lahan, jarinya mulai bergerak lincah di atas layar ponsel miliknya.
Setelah mengetik. Denara lalu mengirimkannya ke satu nomor yang berada di kontaknya.
''Semoga apa yang kulakukan ini benar.'' Ucapnya setelah meletakkan ponselnya di atas meja yang berada di samping ranjang tudurnya.
......................
Drtt....
Drtt...
Drrttt...
Ponsel itu bergetar saat menerima pesan. Melihat ponselnya bergetar, pemilik ponsel lalu meninggalkan sejenak pekerjaannya dan mengambil ponsel yang berada di atas meja.
Notifikasi pesan dari pengirim terlihat dengan jelas dari layar depan ponselnya. Dengan segera dia membuka kunci ponselnya untuk melihat apa isi pesan yang tertera di sana.
Klik...
'Bisa bertemu besok??'
Isi pesan yang tertera di layar ponselnya.
^^^Bisa.^^^
'Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Kita akan bertemu besok jam 07 pagi.'
^^^'Oke.'^^^
__ADS_1
Setelah itu, dia mulai menaruh ponselnya kembali di atas meja dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
...Bersambung.........