
"Apa kamu benar-benar mau kembali, V?" tanyaku kepada V malam itu, "Kalau kamu kembali kesana, dan tidak kembali kesini lagi, apakah artinya kita berpisah?" tanyaku lagi, mengungkapkan kegundahan hatiku. Jujur saja, aku ngga mau berpisah dengannya. Apa ini yang dinamakan Cinta? Apa aku akan merasakan sakit cinta? Aku tidak mau cinta!
"Ya harus kan. Aku tidak bisa disini terus, ini bukan rumahku, dan ini bukan duniaku juga" jawabnya, menatapku, "Ayolah Dream, aku ingin tau, apa rencanamu?" tanyanya kepadaku.
"Aku ingin mengantarmu ke jamanmu, tapi bukan untuk kembali" jawabku, lebih tepatnya, aku ingin memilikimu V. "Loh, terus? Untuk apa kita kesana kalau aku tidak kembali?" tanyanya
"Ya, hanya berkunjung, kalau kamu mau disana selama satu dua bulan aku akan minta papa untuk mengawasi kita selama waktu itu" jawabku, aku masih bersikeras menahan V disini. V menggeleng-geleng, "Aku pikir kamu pintar, Dream, ternyata kamu sangat bodoh" dia tertawa, dan dia memintaku duduk disampingnya, "Kemarilah" katanya, aku mendekat dan duduk di samping V.
"Dengar Dream, aku bukan manusia di jaman ini, aku akan dianggap mati di jamanku, dan aku akan mengubah masa depanku kalau aku tetap disini" jelasnya. Aku yakin, dia banyak belajar dari Kai.
"Kenapa kamu tidak mau merubah masa depanmu?" tanyaku. Aku merasakan jantungku berdenyut dan seperti ada jarum kecil yang menusuknya di dalam sana. Entah kenapa, aku takut mendengar jawabannya.
"Karena tidak ada kamu di masa depanku, Dream" jawabnya. Jarum kecil di jantungku berubah menjadi jarum besar dan mereka bertambah banyak, dan kemudian menyerang jantungku.
"Kenapa V?" aku masih memberanikan diri bertanya kepada V lagi. Walau jarum di jantungku semakin banyak dan semakin dalam menusuk jantungku, dan sakit sekali.
"Aku sudah mempunyai pasangan Dream di jamanku, walaupun aku tidak tahu pasti, apakah kami masih berhubungan atau tidak. Tapi hatiku sudah terpatri untuknya" jawabnya.
__ADS_1
"Aku rasa aku juga begitu terhadapmu V, hatiku sudah terpatri untuk kamu" sahutku, "Aku tidak tahu artinya itu, tapi seperti ada makhluk buas yang ingin keluar dari tubuhku dan mereka ingin membawamu" jelasku. Dan itu benar. Makhluk buas ini sekarang meraung-raung dan memintaku untuk menahan V supaya tidak pergi. Airmataku mulai menetes, "Aku tidak tau apa itu cinta V, tapi aku rasa, aku cinta kamu" isakku, "Tapi berdasarkan apa yang aku pelajari, cinta itu menyakitkan, sehingga cinta pada saat ini dimusnahkan, dan aku takut. Aku takut ketularan penyakit cinta ini" tangisku lagi. Ketika aku memberanikan diriku untuk menatapnya, V tersenyum, dan tertawa, "Hahahaha...makanya untuk menikah harus mengukur kecocokan? Hahahaha" tanyanya lagi. Aku sedikit lega karena V tertawa, aku berpikir dia akan marah atau membentakku.
"Anak kecil seperti kamu bisa merasakan cinta?" tanyanya lagi. Aku kesal kalau dia menganggapku sebagai anak kecil, aku berlutut di atas tempat tidurku, tepat di sampingnya, "Lihat, aku bukan anak kecil, V!" sahutku, dan aku menciumnya, seperti dia menciumku saat itu. Aku menciumnya dengan lembut, dan dalam. Setelah itu, aku melepasnya, "Dengar," kataku, meraih tangannya dan meletakkannya di dadaku, "Mereka melompat-lompat V" sahutku, "Aku berdebar-debar karena kamu, dan setiap kali kita berciuman, itu ada rasanya. Terkadang manis dan terkadang menyakitkan" sahutku lagi.
"Begitu? Karena aku sering menggodamu, kamu jadi berdebar-debar, dan menyimpulkan kamu mencintaiku?" tanya V tersenyum manis.
Mungkin tidak hanya ciumannya, tapi senyumannya, tatapan matanya bahkan bentakkannya membuat jantungku berdebar. Apa benar cinta itu seperti itu? Mengerikan sekali.
Aku mengangguk, menjawab pertanyaan V, tapi memang itu yang kurasakan... mungkin. "Tinggallah disini lebih lama lagi V, sampai aku bisa memutuskan perasaan apa yang aku rasakan sekarang." sahutku.
"Maaf, tapi aku tidak bisa Dream. Aku harus kembali. Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada pap" katanya. Ketakutanku dengan cepat menjalariku, "Ngga perlu, kita pergi aja" sahutku cepat-cepat.
"Aaaahhhh....akhirnya... jalanan aspalku, asap polusiku, bau sampahku, dan rumahku" sahut V. Hari ini kami sudah melintasi waktu, dan kembali ke jaman tahun V tinggal. Papa dan mama mengantarku sampai ke perbatasan lorong waktu, derai airmata menyertai kepergianku tadi. V berlari berputar-putar, dengan kedua tangannya di rentangkan seperti sayap. Begitu membuka kunci rumahnya, dia menciumi segalanya yang di temuinys. Pagar rumah, dinding, kursi di depan halaman rumahnya, sofa, dapur, meja kecil tempat biasa kami makan, semuanya lah. Kai tersenyum melihatnya.
V mempersilahkan kami masuk ke dalam.
"Dream maaf, aku tidak bisa menemanimu disini, karena papamu memintaku untuk membantunya, aku hanya akan mengantarmu sampai sini." kata Kai, ketika kami sudah duduk di ruang tamu V.
__ADS_1
"Bagaimana kalo aku mau pulang?" tanyaku. Kai memberikanku, sebuah boneka kecil berwarna pink dengan dua tanduk di kepalanya sebagai sensor dan penangkap sinyal. " Pintu waktu akan dibiarkan terbuka, sampai kamu benar-benar kembali. Polisi waktu akan memperketat penjagaan mereka di pintu dan di ujung lorong. Gunakanlah ini, untuk menghubungiku, selama pintu waktu tidak tertutup, alat ini akan selalu berfungsi walaupun di jaman ini sinyal yang tertangkap hanya sampai lavel 4 dan 5G" sahutnya. Aku mengangguk, Kai kemudian berbicara dan berpamitan kepada V, "Aku titipkan Dream kepadamu V, tolong jaga dia" katanya. Setelah itu dengan di kawal oleh polisi waktu, Kai memasuki lorong itu dan kemudian menghilang.
...----------------...
Aku menikmati hari-hariku bersama V, dia sudah kembali bekerja sebagai kepala chef, sedangkan aku sekarang berada di meja kasir. Ini lebih menyenangkan, dan aku suka melihat mata uang di jaman ini, daripada aku membawa makanan di dalam piring, atau minuman di dalam gelas, aku bisa lebih santai menjadi seorang kasir. Pulang dari bekerja, biasanya kami akan mengobrol di sebuah cafe atau hanya berjalan-jalan di taman. Aku bahagia sekali, tapi dimanapun kami berada, asalkan bersama V aku selalu bahagia.
Seperti hari ini, setelah berjalan di taman, V membelikanku permen kapas atau gulali besar berbentuk kelinci. Rasanya manis sekali, dan sayang sekali, si kelinci gulali ini cepat sekali menciut. Sesampainya di rumah, ada seorang wanita cantik yang menunggu kami.
"V siapa itu?" tanyaku. V tidak menjawab, kami semakin mendekatinya, dan ketika sudah semakin dekat, V berlari dan memeluk wanita itu. Aku melihat dari dekat, dan itu adalah wanita yang ada di foto. Aku memandangnya, dan makhluk buas di dalam tubuhku, seperti meremas jantungku, dan tiba-tiba aku kehilangan udara, dan nafasku sesak. Aku berdeham, dan V melepaskan pelukan wanita itu, "Oh Bry, kenalkan ini Dream, dia kenalanku dari jauh" sahut V, senyum bahagia menghias wajahnya, senyum yang belum pernah di perlihatkan kepadaku. Wanita yang bernama Bry itu mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku, "Hai, Dream, aku Bry" katanya dengan senyum yang tidak kalah manisnya dari V. "Hai, aku Dream" sahutku, mengusahakan sudut bibirku untuk membuat senyuman. V meminta kami masuk ke dalam, aku mengikuti V, "V, siapa Bry itu?" tanyaku. Tanpa mempedulikan hatiku, V membalikan badannya dan tersenyum, "Dia kekasihku, Dream, dia masa depanku" jawabnya dengan senyum merekah.
EPILOG
Kai POV
"Apa yang akan kamu lakukan kalau Dream menyatakan cinta padamu, V?" tanyaku pada V suatu hari.
"Entahlah, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, aku bisa menggodanya kapan saja aku mau" sahutnya. Voltaire ini!! Aku tidak paham, dia memang pria kurang ajar atau memang dia baik.
__ADS_1
"Tapi, ngga ada kakak yang menciumi adiknya sampai merah-merah seperti yang kamu lakukan terhadap Dream" sahutku marah. Dia merangkulku, "Tenang saja, aku tidak akan mencintainya, kamu tau itu kan?" katanya santai, "Aku berbuat seperti itu, karena Dream yang memulainya, bagaimanapun juga aku seorang laki-laki" sahutnya.
"Apa kamu berani berjanji untuk tidak mencintainya?" tantangku kepadanya. Dia menoleh dan menatapku, "Aku berjanji, janji antara laki-laki, dan tidak bisa diingkari" sahut V lagi.