Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Kai's Day


__ADS_3

"Kai Johnson, apakah kamu bersedia menerima Brissia Bryanna, sebagai istrimu dalam keadaan sehat sakit, susah senang, dan akan selalu bersedia mendampinginya sampai waktu memisahkan?"


Kai yang memakai tuksedo hitam, dengan dasi panjang tergantung, dan kemeja berwarna putih, tampak tampan saat ini, "Ya saya bersedia." sahut Kai dengan tegas.


"Brissia Bryanna, apakah kamu bersedia menerima Kai Johnson, sebagai suamimu dalam keadaan sehat sakit, susah senang, dan akan selalu bersedia mendampinginya sampai waktu memisahkan?"


Bry memakai gaun putih selutut, dengan tutupan kepala menutupi wajahnya, dan sebuket bunga kecil berada di tangannya, "Ya, saya bersedia." jawabnya.


"Dan, pada akhirnya, apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia." sahut sang pendeta mengakhiri acara pernikahan Kai.


Robot-robot kecil melayang-layang dan memenuhi meja tempat para tamu undangan untuk membantu para tamu. Pil-pil makanan, di sediakan dalam bentuk mini, dengan berbagai macam rasa, bahkan Kai menyiapkan menu makanan padat juga.


Bry dan Kai menghampiriku, "Selamat yah untuk kalian berdua. Aku turut bahagia Kai." sahutku.


V berjakan mendekati kami dan merangkul pundakku, "Apa kamu ingat pertama kali kita bertemu, Kai? Kamu bahkan meminta nasihatku, bagaimana membuat seorang wanita yang kamu sukai, menyukaimu juga, dan lihatlah sekarang, kamu menikah lebih dulu, luar biasa Kai." seru V, dan beralih kepada Bry untuk memeluknya, "Bahagia selalu untukmu, Bry." sahutnya.


Aku tersenyum melihat mereka, apakah kalau aku menikah nanti, V akan mengatakan kalimat seperti itu? aku bertanya dalam hati.


Tak lama, aku melihat kedua orangtuaku bersama ibu Kai, aku menghampiri mereka, dan memberi selamat kepada ibu Kai, "Selamat ya ibu Kai, aku turut berbahagia. Percayalah bu, Bry wanita yang pandai dan baik. Kai akan aman bersamanya." sahutku menggoda ibu Kai.


"Dan pastinya, panggilanmu kepadanya sudah berubah, jangan panggil nona lagi, ya bu." seru V yang tiba-tiba datang dan bergabung bersama kami.


Kai, satu-satunya orang yang menikah tanpa kalkulator cinta. Aku tidak tau kapan mereka mulai berkencan atau bersama. Yang saat ini aku tau, aku melihat mereka terlihat bahagia sekali.


"Kamu menginginkannya, Dream?" tanya mama.


Aku mendongak menatap mama, "Aku mau, tapi aku akan menunggu hingga orang yang tepat datang kepadaku." sahutku.


Kemudian mama merendahkan suaranya, "Pria di sampingmu, mama rasa dia orang yang tepat untukmu, Dream. Dia sudah membuktikannya, dan aku bisa melihat betapa besar cintanya kepadamu." sahut mama.


Aku menengok, memandang V yang ada di sampingku, kemudian mama berbisik lagi, "Jangan membuat dia menunggu lebih lama." sahut mama, "dan tidak perlu mencari yang terlalu jauh, kalau yang dekat sudah ada dan selalu bisa diandalkan." tambah mama lagi sambil tersenyum.


"Mama rasa V sangat menyayangimu, Dream. Dia tidak berada disini untuk menemanimu, mama tau kalian pernah gagal, dan itu membuatmu takut untuk memulainya lagi dengannya, tapi V disini sekaligus untuk meyakinkan kamu, bahwa kalian bisa memulainya kembali." ucap mama lagi, "Dan lagi, kami sudah mengenalnya dengan baik, Dream. Pikirkanlah..." sahut mama menambahkan.


V duduk di sampingku, dan ikut mengobrol bersama kedua orangtuaku, aku memandangnya, dan berpikir, ada benarnya juga ucapan mama. Kenapa aku harus menunggu yang ada di seberang waktu sana kalau dia yang aku cari selama ini, tepat berada di sampingku.


V yang merasakan tatapanku, menengok ke arahku, dan menaikkan satu alisnya dengan tatapan kenapa kamu menatapku? nya. Aku tersenyum sambil mengangkat bahuku.


"Mau jalan berdua dan menghindari ini?" tanya V.


Aku mengangguk, "Boleh, tapi tidak perlu terlalu jauh, karena nanti Kai dan Bry mencari kita, tugas kita belum selesai, kan?" sahutku kepada V.


Aku berjalan bersama V menghindari kerumunan. Saat ini kami sedang berada di Eden Park, karena Bry menyukai pemandangan di atas langit sini, begitu alasannya kenapa dia memilih Eden Park.

__ADS_1


"V, terimakasih yah." ucapku


"Terimakasih untuk apa?" tanya V


"Segalanya." jawabku lagi.


"Ah,kamu seperti akan pergi jauh, Dream." sahut V.


Aku tertawa, "Memangnya kalau berterima kasih harus pergi jauh?"


"Aku senang berada disini, aku menikmatinya. Aku senang bertemu denganmu, dengan Kai, aku senang melihat perubahan pada pribadi Bryanna, dan aku bersyukur saat itu kamu dan Kai terlempar ke tahun waktuku, dan hidupku tidak pernah membosankan sejak saat itu." ujar V.


"Aku juga senang bertemu denganmu, V. Dulu, kamu bilang namamu sulit untuk diucapkan, tapi aku bisa mengucapkannya dengan mudah." sahutku, mengingat masa dimana kami pertama kali bertemu.


"Ah, tidak juga. Kalau kita sedang ehem-ehem, kamu sangat sangat sulit mengucapkan namaku, Vo..Vo.. Voltaire..hahaha." sahutnya sambil menirukan suaraku sewaktu aku melakukan itu dengannya.


Aku tersipu, "Jangan seperti itu karena aku tidak seperti itu!" ucapku malu.


V masih tertawa, "Wajah merahmu mengatakan kamu seperti itu." sahutnya, kemudian dia berdeham, "Ehem, bagaimana kondisi hatimu, Dream?" tanya V tiba-tiba menjadi serius.


"Hatiku baik-baik saja." jawabku, kemudian aku mengambil tangan V dan meletakkannya di dadaku, "Lihatkan, dia diam saja, tapi tenang saja dia belum mati." jawabku lagi.


"Ma...mana ada hati mati! Kalau begitu, pegang hatiku juga." sahut V, dan memindahkan tanganku ke dadanya. Dia menatapku lembut dan dalam.


Detak jantung V sangat cepat, dan aku bisa merasakan debaran jantungnya yang kencang saat aku menyentuhnya, "Apa kamu sakit jantung?" aku bertanya, dan pura-pura tidak mengetahui apa maksudnya.


"Anak bodoh! Mana mungkin aku yang super sehat ini sakit jantung, kan?! Sudahlah, lupakan." sahutnya, dan membalikkan badannya.


Aku tertawa, dan memeluknya dari belakang, aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, "Biarkan aku seperti ini dulu sebentar, V." ucapku.


V mengemgenggam tanganku, "Ja...jangan terlalu lama, Dream...na...nanti aku jadi semakin menyukaimu." sahut V. Aku bisa merasakan kali ini detak jantung V lebih cepat dari yang sebelumnya.


Kemudian, dia membalikkan badannya, mengambil tanganku, dan menatapku, "Masih adakah ruang di hatimu untuk aku menetap disana, Dream?" tanya V.


**Deg...


Deg...


Deg**...


Jantungku mulai berpacu, "Saat ini sudah penuh, V." sahutku.


V masih menatapku, "Ada siapa disana?" tanya V, suaranya agak ketus sekarang.

__ADS_1


Aku melangkah satu langkah mendekatinya, "Ada aku disini, sebelah sini ada aku, sebalah sana ada aku, sebelah kiri dikit ada aku, kanan agak sanaan sedikit juga ada aku, dan di dalam sana, jauh disana, di titik yang terkecil, baru kulihat ada kamu disana." jawabku tersenyum dan menatap matanya.


V menarik nafas lega, "Tidak apa aku menjadi titik terkecil di hatimu, nanti akan aku buat, isi hatimu akan dipenuhi hanya olehku kembali, dan aku akan membuatmu hanya melihatku seorang." sahutnya bersemangat.


Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak, aku hanya akan memberika setengah hatiku untukmu, dan setengah lagi aku sisakan untukku., karena aku harus mencintai diriku lebih dari apa pun dan siapa pun." ujarku.


V tersenyum kembali, "Cintailah dirimu sendiri sebanyak yang kamu mau, Dream, setelah itu, cintailah aku." sahut V, dan mengecup keningku.


Tidak lama, Kai dan Bry menghampiri kami.


"Kalian tau, kami harus mingles sendiri tanpa ada pengiring??!! Teman macam apa kalian ini meninggalkan pengantin seorang diri?!" tukas Kai sedikit sewot.


"Ya, dan bersyukurlah aku karena aku tidak memilih gaun berekor, karena aku bisa tersandung gaunku sendiri." seru Bry.


"Lantas, bagaimana dengan kalian?! Pengantin macam apa yang melarikan diri dari para tamu dan meninggalkan singgasana kalian?!" tukasku tak mau kalah.


"Kami mencari kalian, ayo naik kembali dan berdirilah bersamaku" ajak Bry dan menggandeng tanganku.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Aku tidak pernah membayangkan kamu akan menikah, Kai. Dan pasanganmu adalah mantanku...hehehe." aku berseru kepada Kai, sambil membantunya bersiap-siap.


"Jangan menyebutnya mantan, itu terkesan seperti barang second, kamu paham itu?" jawab Kai, "sebut saja temanmu. Itu lebih manusiawi, V. Dan aku heran banyak sekali manusia di tahun waktumu menyebut sesamanya dengan sebutan mantan. Tidak ada yang namanya mantan di dunia ini." sahutnya lagi, "mereka yang pernah masuk ke dalam hidupmu, jangan disamakan dengan kosakata yang berarti 'bekas', kejam sekali." katanya lagi menambahkan.


"Baiklah maafkan aku." ucapku, "Tapi, Kai sejak kapan kamu berpacaran dengannya? Kenapa aku tidak pernah tau?" aku bertanya padanya karena hari ini seperti Kai memberi kami kejutan yang menyenangkan.


"Entahlah, kami tidak berpacaran. Author gila itu yang memasangkan kami secara tiba-tiba dan mengakhirinya dengan pernikahan, dia melebihi kalkulator cinta, V. Berhati-hatilah terhadap author gila itu, dia menyeramkan." jawab Kai.


Aku menyeringai menatap author yang saat ini sedang mengetik di tengah malam itu, "Benar, nasib cintaku juga ada di tangannya, mengerikan." sahutku bergidik ngeri.


"Bagaimana usahamu untuk mendekati Dream?" tanya Kai.


"Aku... apa tidak terlalu terburu-buru, Kai? Maksudku biarkan dia menikmati kesendiriannya dulu." jawabku.


Kai mengangguk, "Benar juga katamu, berjuanglah V! Aku akan menunggu pernikahanmu dengannya." sahut Kai lagi.


Aku tertawa, dan seketika Dream memasuki ruangan kami, dengan memakai gaun putih tube panjang, rambut hitam panjangnya dia biarkan tergerai, dengan mata biru cemerlangnya yang selalu berhasil memikatku, "Kai, sudah siapkah kalian, aku dan Bry sudah hampir siap. V bantulah kami sebentar." ucap Dream dengan senyuman manisnya.


"Kai aku rasa, aku akan mengungkapkannya lebih cepat, demi Tuhan, dia cantik sekali hari ini." sahutku, dan aku bergegas mengikutinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2