Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Jean and Jeannette


__ADS_3

"Hallo, Jean..."


"Hallo, Jeannette..." sahutku kepada mereka, di hari kunjunganku.


Setelah mengalami penolakan oleh tiga orang temanku yang membuat hatiku cukup terluka, aku tetap memutuskan untuk mengadopsi anak-anak itu dulu baru aku akan memikirkan pernikahan.


Dan hari ini, aku tetap melakukan kunjungan rutin ke calon anak-anakku.


"Halo Luna. Kita mau kemana?" tanya mereka.


"Aku akan membawa kalian ke rumahku, cukup jauh tapi disana luar biasa hebat. Aku yakin kalian akan menikmatinya." ucapku.


Jean dan Jeannette bersorak kegirangan, "Apa papa Robbie akan ikut bersama kita?" tanya Jean.


"Hmmm...apa kalian mau mengajaknya?" aku bertanya kepada mereka.


"Kamu saja yang mengajaknya." seru Jeannette.


"Apa kalian nyaman bersamanya?" aku bertanya lagi.


Mereka saling berpandangan, dan menatap, kemudian berkata, "Kemarin papa pulang bersama tante. Dan aku mendengar papa memukul tante, karena suaranya kencang sekali, Dan tante itu berteriak kesakitan." sahut mereka, "Aku jadi takut kepada papa." ucap Jean.


Aku terkejut mendengarnya, "Dimana Nancy?" tanyaku kepada mereka. Dan mereka berteriak memanggil Nancy.


"Nancy, bukankah kamar mereka kedap suara?" seruku kepada Nancy. Nancy mengangguk.


"Tapi kenapa mereka bisa mendengar Robbie bercinta dengan seorang wanita kemarin." sahutku berbisik.


" Anak-anak lagi main kemarin di ruang tengah, Ruang tengah itu kan dekat dengan ruang kerja pak Robbie dan ruangan pak Robbie terbuka sedikit.," jawabnya.


"Astaga, harusnya Robbie tidak seceroboh itu. Dimana dia sekarang?" aku bertanya kepada Nancy.


"Ada di ruang kerjanya." sahut Nancy.


Aku segera mengunjungi Robbie di ruang kerjanya, aku mengetuk pintunya. Namun tidak ada jawaban. Aku mengetuknya sekali lagi, dan tetap tidak ada jawaban. Aku memberanikan diri membuka pintu ruangannya.


"Robbie...." panggilku.


Dan, "ROBBIE!!" tukasku, dan kemudian menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Robbie terbangun, tidak ada sehelai benang sedikit pun di tubuhnya, dia kemudian duduk dan menatapku, "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengunci pintunya dari dalam, bukannya keluar?" tanya Robbie tersenyum, kemudian dia ******* bibir wanita di sebelahnya untuk membangunkannya, "bangunlah, kita kedatangan tamu cantik." sahut Robbie berbisik di telinga wanita itu.


Aku meratapi kebodohanku, kenapa aku malah masuk ke dalam dan mengunci pintunya, dan sekarang aku harus menyaksikan pasangan bodoh ini saling memagut, dan menyentuh di depanku.


Aku berdeham..


"Ehem..." aku berdeham cukup keras, sehingga mereka akhirnya melepaskan ciuman basah mereka.


"Sayang, kita lanjutkan nanti lagi, aku terpaksa harus pergi, kan?" tanya si wanita itu dengan suara manja, dia bergegas berdiri.


Robbie menariknya, dan wanita itu jatuh ke pangkuannya, kemudian mereka saling memagut lagi seperti sepasang gurita yang saling menempel satu sama lain.


Aku memalingkan wajahku, karena tidak mungkin aku keluar sedangkan mereka sedang berada di tengah ruangan seperti ini kan?


Kamu bodoh, Dream.... bodoh!! aku mengutuk diriku sendiri.


Aku masih menatap pintu saat mereka berpakaian, wanita itu keluar. Dia menatapku dengan kesal, aku membalas tatapannya juga. Kemudian aku menutup pintu ruangan Robbie.


"Oke, kita harus bicara..." sahutku.

__ADS_1


Aku berbalik, dan menutupi wajahku dengan telapak tanganku tertangkup di wajah.


"Berpakaianlah, Rob." seruku memohon.


Robbie berjalan ke arahku, hanya dengan memakai celana boxernya, kemudian dia berdiri di belakangku, dan memeluk pinggangku, dia menyenderkan kepalanya di bahuku.


"Bisa lepaskan ini?!" sahutku, berusaha memberontak dalam pelukannya.


"Ayolah, Luna, aku yakin kita pernah seperti ini sebelumnya." sahutnya.


Aku menginjak keras kakinya, dan menyikut perutnya, "Kita pernah seperti ini, tapi saat aku terbutakan oleh cinta, dan sekarang aku sudah lebih pandai, Rob." sahutku, dan berhasil terlepas dari pelukannya.


"Aku mau bicara, lain kali jika kamu masih sanggup menahan hawa nafsumu, tolong pastikan pintu tertutup rapat dan terkunci. Supaya suara lolongan dan suara bergesekan antara kamu dan wanitamu, tidak terdengar oleh anak-anakmu, paham?" ucapku, "dan satu lagi, aku akan mengajak anak-anakmu menginap di rumahku. Aku akan memulangkan mereka hari minggu pagi, dan aku berharap, kamu tidak berpenampilan seperti ini atau kami tidak akan menemukanmu bercinta di atas piano atau di sofa atau dimana pun itu. Ingat, minggu pagi!" sahutku menegaskan.


Robbie terkikik mendengar ucapanku, "Apakah kita pernah seperti itu? Kenapa aku bisa tidak mengingat moment itu." sahut Robbie tersenyum menyayangkan.


Aku memilih untuk tidak menjawabnya, dan keluar dari ruangan kerjanya, untuk membantu Nancy menyiapkan Jean dan Jeannette.


...----------------...


*Syuuuuttt....


Syuuuutt...


Syuuutt...


Aw...


Ouch...


Oops*...


Suara pendaratan kami sedikit bervariasi saat ini. Kami sudah berada di tahun waktuku, dan untuk pertama kalinya Jean dan Jeannette melintasi waktu, dengan mulus, tanpa muntah.


"Luna...apakah ini pesawat berbentuk mobil?" tanya Jean ceria.


"Ini asyik sekali, dimana kita? Aku bisa melihat pesawat Jean!! Dan mobil ini benar-benar terbang. Oh, lihat apa itu?" tanya Jeannette.


Kepala mereka berbelok kanan dan kiri tanpa henti, mereka mengoceh tentang ini dan itu, dan takjub dengan segala hal yang dilihatnya.


"Okei, kita sudah sampai!! Let's go, kita turun!" sahutku membantu mereka untuk turun.


Aku menggandeng mereka untuk masuk ke dalam rumahku, menyapa para unit robot, dan aku langsung memgubah settingan pada robot-robot itu untuk mengenali Jean dan Jeannette.


"Luna, apakah ini rumahmu?" tanya Jean.


Aku mengangguk, "Apakah kamu menyukainya?" tanyaku.


Mereka mengangguk, "Aku suka sekali disini." sahut mereka.


Aku membawa mereka ke ruangan V, dan mengenalkan mereka kepadanya.


"Hai, V. Aku berhasil membawa mereka.." sahutku tersenyum.


"Kamu gila!!" sahut V dalam gerakan bibir, tanpa bersuara.


"Jean, Jeannette, kenalkan ini Voltaire. Panggil saja dengan V." sahutku tersenyum.


V tersenyum, "Hai." sapanya singkat kepada mereka.

__ADS_1


Jean dan Jeannette menyapa V, "Bermainlah bersama V." sahutku.


V memandangku tak percaya, dia menarik lenganku, "apa yang harus kulakukan dengan mereka?" tanya V putus asa.


"Dengar, V. Anggap saja ini latihan, bagaimana jika kita punya anak nanti." jawabku tersenyum lebar.


Dia menatapku tajam, "Kamu benar-benar akan menikah denganku?" tanya V serius.


Aku mengecup bibirnya, "Sudah jelas jawabanku sekarang?" aku bertanya kepadanya, tersipu.


"Aku akan menemani mereka bermain, asal kamu mau bermain juga denganku." sahutnya menggodaku, kemudian mencium bibirku.


"V...V...ayo!!" terdengar teriakan Jean dan Jeannette dari jauh. Mereka sudah bermain dengan robot pelayanku.


"Temani mereka." sahutku.


"Aku datang, tunggu aku!!" seru V, kemudian berlari menyusul mereka.


Aku tersenyum memandangnya. Aku mencari Kai dan Bry, dan memintanya kesini setelah mereka selesai dengan pekerjaan mereka.


"Kamu benar-benar gila, Dream.!" sahut Kai.


"Aku hanya minta bantuanmu untuk mengurus dokumen mereka disini, untuk segala urusan di tahun waktu mereka, aku yang akan mengurusnya, Kai. Kumohon, bantu aku..." sahutku memohon.


"Kalau kamu ingin memiliki anak, buatlah sendiri, nona. Jangan kau ambil anak orang lain. Menikahlah dan buatlah anakmu sendiri." seru Kai.


"Apakah kamu dan Bry sudah membuatnya? Kenapa belum ada apapun di perut Bry." ucapku, dan itu membuat wajah Kai dan Bry semerah kepiting rebus.


"Kami sedang mencari tepung terbaik untuk anak kami nanti. Harap bersabar." jawab Bry.


Aku tertawa tergelak..."Tepung apa yang kalian cari?" aku bertanya sambil menggoda mereka.


"Sudahlah...sudahlah. Siapkan data mereka, aku akan mengurusnya." sahut Kai.


"Yeeiiyy, terimakasih Kai!!" seruku.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Kenapa kamu harus menarikku sih, V?" tanya Kai saat kami melintasi waktu.


Aku ingin bertemu dengan Robbie, dan memastikan apakah dia yakin anak-anaknya mau di adopsi oleh Dream.


"Apa kamu takut terhadapnya, V?" tanya Kai lagi.


"Aku tidak takut, tapi apa gunanya punya bestie kalau tidak dipakai kan?" aku nyengir menjawabnya.


Kai memberikan tatapan sinisnya kepadaku, "Aku sedang membuat pembuktian kepada Dream, kalau aku dan Bry sedang membuat seorang anak! Dan kamu, menganggu kami!" seru Kai kesal.


"Aku punya pesan untuk kalian, buatlah di pagi hari. Itu luar biasa, Kai." sahutku, memberikan saran.


"Dan kamu, pernah mencobanya dengan Dream atau dengan Bry? Ah, kenapa author itu harus memberikanku wanita peralihan kamu sih?! Aku protes, wahai author!!" seru Kai, sepertinya dia dendam sekali dengan penulis cerita ini.


Sesampainya di depan rumah Robbie, "Hai, Rob." kami menyapanya.


Robbie tersenyum dengan ramah, "Halo, ada perlu apa bertemu denganku?" tanyanya, "dan sebelumnya, kalian siapa? Tau darimana alamat rumahku?"

__ADS_1


Aku dan Kai saling berpandangan, dan hanya satu kalimat yang terlintas di otak kami, "Dream, kamu benar-benar mengerikan!!"


...----------------...


__ADS_2