Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Starting to Forget You


__ADS_3

Robbie POV


Biasanya bayangan Luna Dream selalu menghiasi pagiku, apalagi baru minggu lalu, kami baru berlibur bersama. Tapi mengapa sekarang pudar bayangannya? Aku mengacak-acak rambutku, tidak nyaman sekali.


Bahkan bayangan Jean dan Jeannette pun mulai menghilang dari ingatanku, apakah aku sakit?


"Dave, antar saya ke rumah sakit sekarang!" sahutku kepada Dave, supir pribadiku.


Tak berapa lama, Dave sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah kami, dan bersiap membuka pintu untukku.


Sesampainya di rumah sakit, aku mengecek segalanya, darah, hati, paru, ginjal, jantung, dan bahkan kepalaku. Apakah aku amnesia? Atau apakah aku demensia? Atau bahkan aku Alzheimer? Semoga tidak.


"Hasilnya keluar kira-kira sekitar 2 sampai 4 jam yah pak, nanti kami akan panggil nama bapak. Terimakasih." sahut perawat. Aku mengangguk, dan menunggu hasil dari pemeriksaanku.


Setelah 3 jam yang membosankan, akhirnya mereka memanggilku,


"Tuan Robbie Stans." panggil perawat itu.


Aku bergegas menuju ke dalam sebuah ruangan rapi, serba putih, dan berbicara dengan dokter yang sudah menungguku.


"Bagaimana dokter?" tanyaku.


"Silahkan duduk Tuan Robbie. Dari hasil pemeriksaan semua masih dalam kondisi normal, dan bapak sangat sehat saat itu." sahut si dokter menerangkan.


"Tapi akhir-akhir ini saya suka melupakan seseorang yang penting dalam hidup saya. Wajahnya jadi berbayang dan tidak jelas." sahutku bertanya kepada si dokter itu.


"Tapi semua dalam kondisi normal. Atau begini saja, tunggu sampai 7 hari ke depan, jika pak Robbie masih sulit mengingat kita akan melakukan beberapa test untuk mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi dengan pak Robbie ini." sahut si dokter.


Aku mengangguk, "Baik kalau begitu, dokter. Terimakasih, saya permisi." sahutku berpamitan.


Aku tidak mau kehilangan ingatanku tentang Luna Dream, melupakan bayangannya pun aku tidak rela. Ayolah, berpikirlah. Aku harus bertemu dengannya. Tapi aku tidak tau bagaimana bertemu dengannya.


Minggu ini adalah minggu kunjungan mereka, aku akan menanyakannya.


"Nancy, pernahkah kamu bertanya dimana rumah Luna?" tanyaku kepada asisten rumah tanggaku.


Dia menggeleng, "Tidak pernah pak Robbie, dulu pernah pak Robbie ke rumahnya, tapi kayaknya sekarang dia sudah pindah." sahut Nancy.


"Aku? Aku pernah kesana?" tanyaku, bagaimana bisa aku melupakan hal itu.


"Dave...siapkan mobil!" sahutku.


"Dave, kamu tau dimana rumah Luna?" tanyaku kepadanya.


"Loh, bapak sendiri yang suka menjemput dan mengantarnya. Saya tidak pernah ikut pak." jawab Dave.

__ADS_1


"Jadi, kamu tidak tau?" tanyaku lagi memastikan. Dave menggeleng. Sepertinya memang benar ada yang salah dengan ingatanku.


"Tapi ada kamera depan pak, bisa saya bantu cek." sahut Dave, dan mengambil kamera kecil dari balik spion tengah, "sebentar yah pak." katanya.


Selang 45 menit, Dave datang lagi, "Saya bisa antar bapak kesana, pak." sahut Dave.


Aku mengikutinya, dan dia membukakan pintu untukku. Dave yang menyetir mobil, karena dia yang tau alamatnya. Dan jaraknya tidak begitu jauh dengan rumahku.


Sesampainya kami disana, rumah itu tampak tidak berpenghuni. Aku mengetuk-ngetuk pintunya, namun tidak ada jawaban. Aku menemukan bel rumah di samping pagar depan, dan aku menekan bel itu, berharap ada yang membuka pintu rumah itu, namun tetap tidak ada jawaban.


Lama aku menunggunya, seorang wanita yang tinggal di sebelah rumah itu, mendatangiku, "Maaf pak, yang punya rumah sudah pindah berbulan-bulan lalu." sahutnya.


Aku mengerutkan keningku, "Sejak kapan?"


"Mmmm, sudah hampir setahun pak. Waktu itu yang tinggal disini, namanya agak aneh-aneh sih. Terus kayak pendatang, jadi bukan asli orang sini." kata wanita itu menjelaskan.


"Apa mereka bernama Kai, Voltaire, dan Dream?" tanyaku terus mengorek info darinya.


" Iya pak, kalau ngga salah. Waktu itu pindah karena yang wanita sakit parah." sahutnya lagi.


Aku terperanjat, "Oh, yah? Sakit apa?" tanyaku makin penasaran.


"Yang saya dengar sih, dia ngga cocok disini, jadi harus kembali ke tempat asalnya." jawabnya.


Aku menganggukkan kepalaku, "Baiklah. Terimakasih yah informasinya." sahutku.


Aku meminta Dave untuk kembali, dan sesampainya aku di rumah, Luna Dream sudah datang, dan sudah siap untuk kembali lagi.


"Jean dan Jeannette sudah di dalam. Aku pergi dulu, besok aku akan menjemput mereka." katanya.


Aku bergegas menahannya, "Ada yang ingin kubicarakan denganmu." sahutku, memegang tangannya.


Dia menatapku, matanya yang berwarna biru langit memandangku. Biru langit, bahkan bukan biru muda atau biru tua, benar-benar biru langit yang cerah. Dan aku selalu terpukau dengan matanya.


Aku menggandengnya ke ruanganku, "Duduklah dulu, Luna." sahutku.


"Ada apa? Apa kamu sakit?" tanya dia.


"Bukan aku yang sakit. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal. Pertama, siapa kamu?" tanyaku.


Dia tersenyum dan tertawa, "Astaga...hahahaha... Rob, aku rasa kamu butuh istirahat." sahutnya, dan beranjak dari kursinya untuk mengambil tanganku, namun, aku tidak kalah cepat darinya.


Aku menarik tangannya lebih dulu, dan dia terjatuh di pangkuanku, aku mendudukannya di atas meja, Dia begitu mungil dengan rambut blonde panjangnya yang terurai.


"Katakan kepadaku, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu perlahan menghilang dari ingatanku?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku Dream." jawabnya singkat.


"Bukan itu, Luna." sahutku putus asa, "maksudku aku tidak pernah melupakan seseorang kecuali aku sangat membencinya. Tapi aku tidak membencimu, dan kamu perlahan memudar dari ingatanku." sahutku lagi.


Dia tersenyum, senyumnya cantik sekali, itu yang membuatku heran, kenapa ingatan tentangnya bisa memudar dan perlahan menghilang?


"Aku Dream. Aku tidak berasal dari mana-mana, Rob. Aku tidak tau kenapa aku memudar. Aku masih disini." sahutnya.


"Dimana rumahmu?" tanyaku lagi.


"Rumahku jauh, sangat jauh. Aku tidak bisa memberitahukanmu." jawabnya.


"Kenapa?" sahutku.


Luna mencondongkan tubuhnya ke arahku, dan berbisik, "Ra...ha...si...a." bisiknya.


Aku menarik tangannya, dan semakin kudekatkan wajahnya ke arahku, bibir kami bertemu, aku tidak membuang kesempatan ini, aku menciumnya. Dia melepaskan ciumanku, dan pergi meninggalkanku dengan membanting pintu ruanganku.


...----------------...


**EPILOG


Dream POV**


"Robbie bilang ingatannya tentangku memudar." sahutku kepada Kai.


"Tentu saja. Sebentar lagi akan benar-benar menghilang. Dia akan melupakanmu, dan anak-anaknya sepenuhnya." jawab Kai santai.


"Kenapa?" tanyaku lagi.


"Kamu merubah masa depan dan masa lalunya, kan?" jawab Kai lagi.


"Dengar Dream, itu hukum alam. Ketika kamu datang ke masa lalu, dan melakukan sesuatu disana, otomatis kamu merubah sesuatu juga untuk masa depan. Ini seperti kamu menanam sebuah kotak waktu berisi kenangan atau rencana hidupmu." jawab Kai lagi menjelaskan.


Entah kenapa, aku tidak mau Robbie melupakanku, atau apakah karena aku pernah menjalani hubungan yang cukup dalam dengannya? Atau aku hanya kasihan dengannya?


"Bisakah aku membawanya ke masa depan?" tanyaku. Kai yang sedang membuat laporan, tidak sengaja melakukan kesalahan fatal.


"Aku tidak pernah paham dengan jalan pikiranmu, Dream. Termasuk untuk yang satu ini. Apa yang akan kamu lakukan dengannya?" tanya Kai.


"Mungkin dia bisa menjadi seperti Bry atau V, kita tidak tau." jawabku.


"Dengar, Dream. Alasanmu tidak jadi menikah dengannya karena dia tidak mau meninggalkan apa yang sudah dia capai kan? Sudahlah Dream. Kamu sudah membawa anak-anaknya. Ayolah!" sahut Kai, "dan lagi kamu akan menikah. Pikirkan itu Dream." katanya lagi menambahkan.


Apa yang harus kulakukan sekarang??

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2