
"V..."
*Hiks....
Hiks*...
"V, kamu dimana sih?" aku berjalan merambat-rambati dinding rumahku untuk mencari V sambil berusaha sekuat mungkin supaya airmataku tidak jatuh. Biasanya aku mencari Kai, tapi akhir-akhir ini Kai super sibuk.
Aku memasuki ruangan kerja V, dan aku melihat dia sedang duduk menatap layar macboxnya, dan memegang sebuah remote pengendali. Ah, dia sedang memakai robot pengganti dirinya.
"V... kamu sedang apa?" aku bertanya kepadanya.
V hanya menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Tak lama, dia melepaskan remote pengendalinya, dan meregangkan tubuhnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kamu sedang apa dengan surrogatemu?" aku balik bertanya kepadanya.
"Oh, Kai memintaku untuk memasak karena ada pertemuan dengan mentri penataan ruang, mau melobi untuk menggolkan program kerjamu, Dream." jawabnya, "Ada apa mencariku?" tanya V lagi.
"Kenapa tidak memasak langsung?" aku bertanya kepadanya. Karena V adalah orang yang perfeksionis, dia tidak akan membiarkan orang asing memasuki dapurnya.
"Ah, anu, aku...aku sedang malas saja. Sesekali malas sepertimu enak juga..hahaha." sahutnya bercanda.
"Sejak kapan aku malas? Sembarangan!" tukasku.
"Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku. Ada apa mencariku?" tanya V penasaran.
Aku menarik nafas, "Bolehkan aku meminjam bahumu, V?" aku bertanya kepadanya.
V menarikku seketika ke arah bahunya, "Lepaskan apa yang ingin kamu lepaskan, Dream. Aku ada disini untukmu." sahutnya tulus dan lembut, dan itu membuat keran airmataku berputar dan mengeluarkan rembesan airmata. Aku mengalungkan kedua tanganku ke lehernya, dan menangis sejadi-jadinya di bahu V.
V tidak berkata satu patah kata pun, ia hanya mendengarkan tangisanku tanpa bicara, cuma sesekali menghela nafas atau membelai rambutku.
"Sudah bisa berbicara kah kamu, Dream?" tanya V lembut. Aku yang masih terisak-isak, menggelengkan kepalaku. Sudah tidak ada airmata lagi yang mengalir, dan tinggal menyisakan rasa sakit yang luar biasa.
Setelah nafasku kembali normal, aku baru melepaskan pelukanku, "Te...terima kasih yah V u...untuk ba...bahunya." sahutku, masih menata nafasku.
"Maukah kamu katakan kepadaku apa yang terjadi denganmu?" tanya V.
Aku punya firasat bahwa V sudah mengetahui apa yang terjadi denganku, dan ini ada hubungannya dengan Robbie.
"Janji tidak akan mentertawakanku atau mengejekku?" pintaku supaya V mau berjanji, karena ini disebabkan oleh kebodohanku yang nekat melamar Robbie.
__ADS_1
V menganggukan kepalanya, dan mengangkat tangannya membentuk dua jari, "Aku janji...tapi kalau itu lucu, boleh dong aku tertawa?" katanya tersenyum menggodaku.
"Kalau lucu, tidak mungkin kan aku menangis!" tukasku kesal.
"Ah iya, benar juga. Baiklah aku berjanji, sekarang katakan padaku apa yang terjadi?" tanya V, kali ini wajahnya serius, dan matanya menatapku tajam.
"Kamu ingat saat aku bilang aku akan melamar Robbie? Itu kulakukan, V. Kemarin tepatnya." aku memulai ceritaku, dan aku mengeluarkan cincin berbatu rubby merah untuk aku perlihatkan kepada V.
V mengambil cincin itu, dan melihatnya. Aku tidak bisa menebak tatapan matanya saat melihat cincin itu, wajahnya tampak tegang, "Ini cincin yang akan kamu berikan?" V bertanya. Matanya masih terpaku pada cincin itu.
Aku mengangguk, "Iya. Aku membelinya bersama Bry beberapa waktu yang lalu. Robbie menyukai warna merah, sehingga aku memilih cincin ini. Aku dan Bry berpikir ini tidak akan mencolok untuk dipakai seorang pria." sahutku.
"Apa jawaban Robbie? Dia menolaknya?" tanya V lagi, kali ini dia menatapku dan memandang wajahku. Aku menggeleng.
" Lalu, kenapa kamu menangis kalau ini berita bahagia?" tanya V heran.
"Dia tidak menolaknya, tapi juga tidak menerimanya." jawabku, suaraku mulai bergetar, dan airmataku kembali jatuh ke pelukanku.
"Dia memintaku untuk menunggunya sampai waktu yang dia sendiri tidak tau kapan. Maksudku, tidak masalah jika dia menolaknya, aku akan cukup berbesar hati, tapi kalau seperti ini, entah kenapa rasanya sakit sekali. Lebih baik dia menolakku kan?" jawabku, dan menangis lagi.
V kembali memelukku, "Apa yang dia katakan? Lebih baik kamu ceritakan semuanya, tidak apa sambil menangis, setelah itu kamu akan lega, dan kamu akan tau keputusan terbaik untuk kalian apa." timpal V.
Aku setuju dengan pemikiran V, dan aku kembali bercerita kepadanya, "Robbie berkata dia tidak mau lamaran secara tidak langsung dan mendadak. Dia ingin melamarku secara langsung, tapi dia berkata, dia tidak tau kapan dan memintaku untuk tidak menunggunya atau mengharapkannya dalam waktu dekat. " jawabku sambil menangis, "maksudku katakanlah dengan jelas keinginan dia seperti apa. Dan jangan menggantungku seperti ini, aku berani melakukan itu karena sebentar lagi acara pelantikanku, dan aku mau dia mendampingiku tanpa harus menetap disini." sahutku, dan kembali menangis.
Puas menangis, aku melepaskan pelukanku, "Terimakasih V, dan benar katamu, aku akan lega setelah mengeluarkan semuanya." sahutku tersenyum.
V memandangku, ikut tersenyum, "Ah bajuku kuyup deh." katanya, "Kamu harus selalu ingat satu hal, Dream. Dua bahuku selalu akan menjadi milikmu." sahutnya. Aku tak bisa tidak untuk memeluknya. Aku berterimakasih padanya karena telah hadir di hidupku dan selalu ada untukku.
...----------------...
V menemaniku menghabiskan sisa hari itu. Kami bermain dengan surrogate kami, kami balapan mobil terbang, tentu saja kami menerbangkannya di wilayah teritorial kami, sehingga tidak menganggu. Ketika hari menjelang petang, V bertanya kepadaku, "Apa hari ini kamu bertemu dengan Robbie?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Tadi pagi sebelum mencarimu, aku menunggunya di ujung lorong seperti biasa, tapi dia tidak muncul. Padahal aku berharap dia datang dan menemuiku." aku menjawab V.
V mengangguk-angguk, "Jujurlah kepadaku, apa kamu masih mencintainya, maksudku setelah dia menggantungmu seperti ini?" tanya V lagi.
"Entahlah, aku tidak tau. Tapi aku masih berharap padanya V. Ah, sudahlah, airmataku cepat sekali turun kalau membahas Robbie!" tukasku.
Kami berjalan, dan bertemu dengan Kai dan Bry. Mereka terkejut melihat mataku yang bengkak dan sembab.
"Ada apa dengan matamu, Dream?" tanya Kai.
"Dream, apakah ini tentang kemarin?" tanya Bry, aku mengangguk lemah, dan tanpa perlu kuceritakan kembali, Bry memelukku, "Lupakan pria bodoh itu, Dream." katanya.
__ADS_1
Aku sempat melihat V menyebut nama Robbie tanpa bersuara dan hanya melalui gerakan mulut saja, saat Kai bertanya ada apa denganku.
"Jangan cengeng Dream, kita kan fantastic four. Kalau hanya karena masalah cinta, tidak akan sanggup untuk membuat kita terpuruk, kita mampu untuk bangkit lagi! Kamu saat ini boleh jatuh, Dream, tapi segeralah bangkit, dan jalan lagi, kali ini aku yakin, kamu akan lebih berhati-hati agar tidak jatuh di lubang yang sama. Menangislah kalau itu yang kamu butuhkan saat ini, kami ada di sampingmu selalu, Dream." sahut Kai, dan dia memelukku juga.
"Te...terima...ka...kasih yah ka...kalian..semua. Aku terharu. Aku janji akan segera bangun Kai." sahutku. Aku bersyukur mempunyai teman yang baik yang selalu ada untuk mendukungku.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
*Bugghhh!!
Bugghh*!!
Aku melayangkan tinjuku tepat ke wajah laki-laki brengsek ini.
"Kenapa kamu tidak tegas, Rob?!" sahutku dan mencengkram bajunya.
"V, bro...tenang. Kamu datang dan menghajarku! Apa masalahmu?!" tanya Robbie masih dengan wajah bodohnya.
"Masalah Dream adalah masalahku juga, Rob! Kamu membuatnya menangis!" sahutku.
"Menangis? Karena acara lamaran itu?" tanya Robbie, kemudian dia menghela nafas dan memegang pipinya sambil menahan sakit, "Dengar V, aku tidak menolaknya, aku hanya meminta dia untuk tidak memikirkan lamaran dulu. Karena aku belum siap dan belum bisa." jawabnya.
"Apa yang kamu belum bisa, Rob?! Kemana janji dan komitmenmu?!" aku bertanya lagi dengan kesal. Emosiku membuncah tak bisa kutahan.
"Dengar, V... Dengar..aku mencintainya, sangat. Tapi sekarang bukan saat yang tepat, aku perlu memikirkan semuanya, V!" tukasnya.
"Apa yang kamu pikirkan lagi. Dalam hitungan bulan, dia sudah akan dilantik! Dia membutuhkanmu berdiri di sampingnya bahkan dia tidak memintamu untuk tinggal! Kenapa tidak kamu sudahi saja hubungan kalian?! Daripada menggantungnya seperti ini??!!" ujarku masih emosi.
"Kamu yang memintaku untuk menjauhinya, dan kulakukan itu. Saat ini aku tidak mau dia berharap terlalu banyak padaku, dan andaikan aku setuju untuk menetap disana, biarkan aku bersenang-senang menghabiskan waktuku disini." sahutnya santai.
Bugghhh!!!
Kembali aku layangkan tinjuku ke wajahnya, "Brengsek!! Putuskan saja dia! Akhiri hubungan kalian sesegera mungkin! Kalau kamu tanya, apa hubungannya denganku, dengan lantang aku akan jawab AKU MENCINTAINYA!! Aku selalu mencintainya!!" sahutku putus asa.
"AKU JUGA V, AKU MENCINTAINYA!! Hanya aku tidak tau harus apa! Aku kehilangan arah dan tujuan hidupku. Aku tidak mau meninggalkan semua yang ada disini, aku juga tidak bisa hidup tanpa Luna!" sahutnya dengan nada yang sama denganku.
"Dream!! Panggil namanya Rob!! Berikan keputusanmu secepatnya kepadanya, jangan menggantungnya!! Kumohon padamu, Rob, berikan dia kejelasan. Dia akan menunggu jika kamu memintanya untuk menunggumu. Dia akan terus berharap jika kamu memintanya untuk selalu berharap padamu, dan dia akan pergi jika kamu memintanya untuk melepaskanmu, Dream semudah itu, Rob!" sahutku. Dan kemudian aku terduduk lemas, tidak ada satu kata lagi yang sanggup kuucapkan untuknya.
...----------------...
__ADS_1