
Aku memulai negosiasi di kota sekitaran bentaran, mereka meminta kompensasi cukup tinggi, dan saat ini, aku sedang mendiskusikan hal itu kepada papa.
"Ketika kamu terjun ke dunia politik, kamu tidak bisa mendengarkan permintaan mereka semua, Dream." sahut papa.
"Kamu bukan Tuhan yang bisa mengabulkan semua. Pakai logikamu, mereka meminta terlalu tinggi, non sense kubilang." sambung papa lagi.
"Lalu? Apa yang harus kulakukan?" aku bertanya.
"Lempar lagi ke forum, mau di benahi dengan kebijakan kompensasi dari kalian, atau tetap begitu saja." jawab papa.
"Kalau mereka menawar?" tanyaku.
"Kamu harus cerdik dan sedikit licik dalam berpolitik, kalau kamu selalu menuruti mereka, kamu akan mati perlahan-lahan. Kuatkan hatimu, Dream!" seru papa.
"Selama kamu bisa bekerja dengan jujur, kamu akan aman. Tapi tetap ingat harus cerdik dan licik." sahut papa lagi menambahkan.
Aku mencerna omongan papa, apa aku bisa menjadi seperti itu? Sekarang, aku malah takut.
Setelah dari papa, aku menemui Kai dan V. Aku meminta pertolongan mereka, namun yang mereka bahas dari kemarin adalah,
"Dream, tolong kamu saja yang membuat janji pernikahan baru, dia tampak tidak sanggup." ujar Kai.
Aku memandang V, "Dari kemarin kamu belum berhasil membuatnya?" tanyaku tidak percaya.
"Aku ingin membuat sesuatu yang berbeda, Dream." jawab V putus asa.
"Biarkan nanti aku yang membuatnya." sahutku, "aku perlu rapat dengan kalian berdua saat ini."
Aku membicarakan masalah kompensasi dengan Kai dan V. Jujur saja, untuk masalah seperti ini, Kai bisa menanggapi dengan serius, berbeda dengan V yang masih bisa bergurau. Itulah kelemahan V yang kadang membuatku kesal.
"Ikuti papamu dan kata hatimu, Dream. Tapi memang kompensasi mereka besar sekali." sahut Kai.
"Aku akan kesana nanti. Sekalian melihat ke seluruh kota itu." ucapku.
"Aku akan ikut denganmu." jawab Kai menawarkan diri.
"KAI!!!" seru Bry yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Dia berlari dan memeluk Kai dengan erat. Kai berdiri, membalas pelukannya.
"Ada apa Bry?" tanya Kai.
"Aku...akhirnya aku hamil, Kai!" sahutnya, airmata menetes di pipinya. Kai mencium istrinya itu.
"Lihat, Dream. Aku akan menjadi ayah. Akhirnya pemain bertahanku sukses menjebolkan bola ke gawang...Luar biasa!!" sahutnya, dipeluknya Bry dan diajaknya berputar.
Aku memeluk Bry, "Selamat yah Bry, akhirnya." sahutku.
V berdiri, menjabat tangan Kai, "Lolos dari suntikan clonning. Hebat, kawan." sahut V.
Kai dan Bry wajahnya nampak berseri-seri. Penantian berbulan-bulan dan karena tantanganku juga akhirnya mereka bisa segera mempunyai seorang anak....keponakanku.
...----------------...
Kai tetap menemaniku bertemu dengan walikota kota bentangan itu, untuk membantuku bernegosiasi.
__ADS_1
"Take it or leave it!" sahutku kepada mereka.
Pak Walikota berbisik-bisik kepada warganya, "Baiklah, kami terima tawaranmu. Saya tidak sanggup juga menghadapi keluhan warga." jawabnya.
"Oke, deal. Tim saya akan melanjutkan perbincangan menyenangkan ini, dan karena saya masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus saya lakukan, maka saya undur diri dahulu. Terimakasih." ucapku berpamitan.
"Wow, hebat sekali pembawaanmu sekarang, Dream." puji Kai.
"Tentu saja...!" sahutku sombong.
Aku dan Kai kembali ke tempat kami, dan Bry sudah menunggu di halaman dengan wajah kesal. Apa gerangan yang terjadi? Apa V mengisenginya?
"Ada apa Bry?" aku bertanya kepadanya dengan ramah, tapi Bry memalingkan wajahnya dariku, dan menatapku dengan sangat kesal.
"Bry, hei, apa yang terjadi padamu?" tanya Kai.
"Kamu pergi kemana dengannya?!" tanya Bry. Kai dan aku saling berpandangan, ada apa ini, aku bergegas mencari V, untuk bertanya ada apa dengan Bry, dan meninggalkan Kai bersamanya.
Aku menemukan V sedang bermain bersama Jean dan Jeannette, aku mengetuk pintu ruangan mereka, dan bertanya, "Kenapa kalian tidak sekolah?"
"Kami sudah selesai dengan mr. Geoff." jawab Jean.
Jeannette memandangku, "V mengajak kami bermain, tidak ada salahnya jika kami bermain dengannya? Apa kamu akan marah?" tanya Jeannette.
Aku menggeleng, tersenyum, "Bermainlah sendiri dulu, aku perlu berbicara dengan V." jawabku kepada mereka.
Ketika aku sudah berdua dengan V, aku bertanya kepadanya tentang perubahan sikap Bry, "Apa yang terjadi dengan Bryanna?" tanyaku.
"Astaga. Kai mentriku. Dan biasanya dia tidak pernah seperti ini!" sahutku gusar.
V menenangkanku, "Mengertilah, Dream. Dia sedang hamil, begitu kan wanita kalau sedang mengandung. Dia ingin perhatian dari suaminya lebih banyak." kata V bijak.
"Sejak kapan kamu dewasa?" sahutku menggodanya. Dia tertawa.
"Maksudku, apa separah itu?" tanyaku lagi.
"Kai dan Bry sama sepertiku, tidak menginginkan seorang bayi clonning. Jadi dia berusaha keras untuk mendapatkannya. Dia sudah cukup lelah, dan sekarang hormon mempermainkannya. Kamu nanti juga seperti itu, Dream. Bahkan mungkin lebih merepotkan." ucap V.
"Aku tidak akan merepotkan. Aku berani jamin itu." ujarku dengan keyakinan tinggi. Tidak akan ada hormon yang berani mempermainkanku. Lihat saja!
V memelukku, "Aku percaya itu. Kamu akan menjadi seorang ibu yang baik. Lihat saja sekarang, kamu bisaa membagi waktumu dengan baik." kata V.
Aku menciumnya, "Tunggulah, sampai kita mempunyai anak sungguhan." ucapku.
"Kita buat saja sekarang, bagaimana?" tanya V, mulai menciumiku. Aku membalas setiap ciumannya, "Oke." jawabku.
...----------------...
"Apa??!!!" tukas Kai, "Kenapa denganku memangnya, Bry?" tanyanya.
"Aku mau bersama V, bukan kamu. Pokoknya hari ini aku mau makan mochi coklat bersama V!" kata Bry.
Aku yang mendengar mereka berdebat pagi ini hanya menggelengkan kepala. Mungkin Kai belum tau apa itu serangan hormon, seperti yang dikatakan oleh V.
__ADS_1
"Hei, Kai. Kalau Bry pergi dengan V, kita akan ikut." ujarku.
Kai mengangguk, tapi kemudian dia menggelang, "Bagaimana dengan progress pekerjaan kita?" tanyanya.
Ah, benar juga, "Baiklah, kalau begitu. Kita selesaikan ini dengan cepat agar sore hari kita bisa selesai. Aku akan berbicara dengan V." usulku.
Kai setuju, "dan bahkan aku tidak tau apa itu mochi cokelat?!" ucap Kai pasrah.
V yang tiba-tiba datang menjawab ketidaktahuan kami, "Mochi itu suatu makanan manis tapi lengket. Isinya biasanya kacang merah yang di lembutkan tapi sekarang sudah bermacam-macam isinya." jawabnya.
Aku membayangkan si mochi itu namun otakku tidak sampai ke arah sana, "Aku tidak bisa membayangkannya." sahutku.
"Enaklah pokoknya." tegas V.
"Baik, aku akan ikut." ucapku penuh kepastian.
"Aku bisa membuatnya untukmu, Dream." kata V.
Bry yang sedari tadi terdiam, ikut bicara, "Aku mau makan mochi itu bersamamu, dan untuk dipahami, aku mau membelinya bukan kamu yang membuatnya. Ayo kita jalan!" kata Bry dan menarik tangan V.
"Tunggu!! Aku butuh V disini. Kita akan jalan sore nanti." ucapku.
"Aku tidak mau kita, aku hanya mau berdua dengan V." jawab Bry.
"Ba...baiklah. Sore nanti karena aku harus menemani Dream dan Kai untuk ke kota seberang." jawab V.
Bry menatap tajam ke arahku, dan aku merasakan kilatan pisau di tatapan matanya, seram sekali.
"Baiklah! Sore nanti!" kata Bry dan bergegas pergi.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Apa yang terjadi dengan Bryanna?" tanyaku kepada V, "biasanya dia tenang, lembut, tidak marah-marah seperti ini." sahutku lagi.
V menepuk pundakku, "Tenang kawan, dia hanya sedang mengandung." jawabnya santai.
"Apa separah itu? Apa aku akan menghadapinya seperti itu selama 9 bulan lebih?" tanyaku, mengerikan sekali, bukan?
Dan lebih mengerikan lagi, melihat Voltaire menganggukan kepalanya, "Kamu harus sabar, Kai. Hormonnya sedang tidak stabil, nanti akan ada masanya dia membencimu atau bahkan dia tidak mau melihatmu sama sekali." ucap V.
"Mengandung itu mengerikan ternyata." sahutku, "Aku tidak pernah membayangkan bahwa mengandung itu seperti ini."
V menepuk-nepuk pundakku lagi, seolah paham dengan apa yang kurasakan, padahal menikah sungguhan saja dia belum merasakannya.
"Baiklah, aku kan coba mengerti Bry dan lebih sabar menghadapinya. Doakan aku, supaya aku sanggup melalui ini semua." ucapku putus asa.
"Pasti!" jawab V.
...----------------...
__ADS_1