
"Hooaaahhmmmm" seberkas cahaya matahari masuk ke dalam kamarku, dan kulihat Nancy sedang membuka gorden jendela kamarku.
"Selamat pagi Luna." sahutnya. Aku bangun setengah duduk, dan menyandarkan lenganku pada kasur.
"Selamat pagi Nancy, kita masih di kapal?" tanyaku, dan kali ini aku duduk sepenuhnya.
Nancy mengangguk, "masih, bapak nunggu di atas. Mau bicara katanya." sahutnya lagi.
"Jean dan Jeannette sudah bangun?" tanyaku kepada Nancy lagi.
"Sudah, lagi berenang sama pak Robbie di atas juga. Bangun yuk, mataharinya lagi bagus." ajak Nancy. Aku mengangguk, memakai jaketku dan mengikuti Nancy ke atas.
"Lunaaaa....ayo berenang bersama kami!" teriak Jeannette begitu melihat kepalaku muncul. Aku melambaikan tangan, dan mendekatinya.
"Hai Lun," sapa Robbie pagi itu. Aku terkejut melihatnya,karena Robbie hanya memakai celana renang tanpa atasan, dan memperlihatkan otot-otot kekar di lengan dan di dadanya, ya iyalah di kolam renang, batinku.
"Pa...pagi. Dan kemana bajumu?" aku bertanya, dan duduk di sebelahnya.
"Basah." sahutnya santai. Aku tertawa, karena aku tau siapa yang membuat pakaiannya basah.
"Luna kemarilah..!!!" sahut Jean. Aku menggelengkan kepalaku.
"Luna...ayo, temani kami!" sahut Jeannette.
Aku tersenyum, "Ah aku ingin main air tapi aku tidak membawa baju ganti." sahutku. Aku menatap air kolam yang jernih, yang terus memanggil-manggilku, ah aku mau... aku mau.
Tiba -tiba, Robbie menggendongku, "Rob, turunkan aku, turunkan aku!!" dan byuuuurrr...!! Dia menjatuhkanku ke kolam renang. Jean dan Jeannette bersorak gembira. Tak lama, Robbie ikut melompat juga ke dalamnya dan menyirami aku dengan air kolam.
Jean dan Jeannette tertawa melihat kami, wajah mereka di penuhi kebahagiaan, dan itu membuatku tertawa dan menikmati momen bersama dengan mereka. Dan ketika aku menolehkan pandanganku, mataku tertuju kepada Robbie yang sedari tadi menatapku, dia mendekatiku, dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku mendorongnya untuk menjauh.
"Hai, Jean, Jeannette, ayo bermain tangkap bola air!" sahutku, dan menjauh darinya.
......................
Kami menepi ketika hari sudah mulai sore, dan aku lupa untuk menghubungi V.
"Aku antar yah sampai rumahmu. Anak-anak sudah bersama Dave dan Nancy." sahut Robbie. Aku mengangguk pasrah, karena aku tidak tau jalan pulang. Sedih sekali.
Sepanjang jalan kami hanya terdiam, dan mendengarkan alunan lagu dari bluetooth Robbie.
"Aku sudah pulang, maaf lupa mengabarimu, tapi tidak perlu khawatir Robbie mengantarku sampai rumah." aku menulis pesan untuk V, dan tak lama balasan dari V datang.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu di rumah." balasnya singkat. Apakah dia marah? Kenapa singkat sekali? Biasanya dia akan berbicara panjang lebar.
"Luna, maafkan aku. Entah kenapa aku tadi benar-benar tidak bisa menahan diriku sendiri." sahut Robbie tiba-tiba.
"Lain kali, tambahkanlah usahamu untuk menahan dirimu sendiri." sahutku, "aku tertarik padamu, jujur saja. Tapi aku tidak mau mencintai dua orang sekaligus, aku pernah merasakannya." jawabku lagi.
Robbie tersenyum, "Tidak masalah kalau kamu jadi mencintaiku, aku akan sangat bahagia jika hal itu menjadi kenyataan." sahutnya.
Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak mau. Kamu belum mengenal siapa aku dan darimana asalku, kamu baru melihat luarnya saja." jawabku, "terimalah segala keburukanku, bukan karena aku cantik dan keren." sahutku lagi.
"Baik aku akan berusaha mengenalmu lebih jauh. Aku akan mencari tau tentangmu." kata Robbie.
"Aku akan memberikan apresiasi kalau kamu bisa menemukannya." sahutku lagi.
Robbie tertawa, "Hahahaha, sudah kubilang, semakin kamu membuatku merasa penasaran itu akan menjadi tantangan untukku. Aku akan melakukan itu." katanya lagi.
"Kamu gila!" sahutku, dan tersenyum kecil. Aku akui, Robbie cukup keren dengan menganggap ucapanku sebagai sebuah tantangan.
......................
"Apa saja yang kamu lakukan dengannya?" tanya V ketika aku sudah sampai rumah, dan bersiap masuk ke kamarku.
"Tidak ada. Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang nanny disana. Menemani Jean dan Jeannette bermain, membacakan dongeng untuk mereka, bernyanyi, mengawasi mereka, hal-hal seperti itu saja." jawabku, V mengikutiku masuk ke kamar.
Aku menatapnya, memegang kedua pipinya, dan tersenyum, "Apakah kamu percaya kepadaku, V?" aku bertanya kepadanya.
Dia mengangguk, "Hanya saja, Robbie berkata dia menyukaimu." sahutnya. Dan memang sinar matanya memancarkan sedikit rasa takut, dan raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Percayalah, saat ini aku mencintai kamu, bukan Robbie. Tapi, jika kamu terus begini, aku bisa saja berpaling." jawabku.
"Tuh kan!" sahut V kesal.
"Kalau kamu percaya kepadaku, kamu tidak akan bertanya seperti ini, V. Dengar, walaupun kamu menyatakan cinta beribu-ribu kali kepadaku, itu tidak akan pernah cukup. Percayalah V." sahutku, berusaha meyakinkannya untuk tidak bersikap berlebihan kepadaku atau Robbie.
"Aku hanya takut, Dream. Aku pernah sekali kehilanganmu, dan aku tidak mau itu terjadi lagi." sahutnya.
"Kai memintaku untuk mencari pasangan yang terbaik. Dengan harapan bisa menggantikan posisi papa. Aku sudah menempatkanmu di posisi teratas, V. Dan jangan karena ketakutanmu, aku harus menurunkan posisimu ke bawah. Hanya percayalah kepadaku, V." sahutku. V memelukku, dan membenamkan dirinya ke dalam pelukanku, "Maafkan aku, Dream. Kamu tau, aku takut. Aku takut Robbie yang mengisi hatimu." sahutnya.
"Jangan konyol!" sahutku. Aku tidak tau bagaimana dengan hatiku, untuk saat ini dia belum masuk, tapi sepertinya dia akan mendobrak pertahananku. Aku tidak memperhitungkan dia, tapi kalau dia berhasil masuk, aku pasti akan memperhitungkan posisinya di hatiku.
Cinta tidak akan pernah cukup untuk meyakinkan hati seseorang, dibutuhkan perjuangan, pengorbanan, bahkan airmata untuk memiliki seseorang. Walaupun aku sudah melakukan itu, tetap saja tidak akan cukup.
__ADS_1
...----------------...
Hari ini aku libur bekerja, V mengajakku jalan-jalan.
"Horeee, akan kemana kita?" tanyaku kepadanya.
"Kemanapun kamu mau." jawabnya tersenyum. V menyiapkan bekal untuk di bawa, dan aku membantunya, tentu saja. Membantu memakannya sedikit-sedikit...hihihi.
"Bagaimana kalau kita pergi piknik. Di taman, naik sepeda, membaca buku, tiduran di bawah pohon, itu akan menyenangkan." jawabku.
"Oke." sahut V, "tapi sepertinya akan turun hujan. Kita akan membawa payung untuk berjaga-jaga." sahutnya. Aku mengambilkan payung dan memasukannya ke dalam mobil.
"Oke...ayo jalan!" sahutku, V tertawa melihat tingkah polahku. Sudah lama rasanya kami tidak berjalan-jalan. Seringnya V mengantarku kerja, V menjemputku, V mengantarku kuliah, V mengajakku berbelanja...jadi aku menikmati hari ini.
Sesampainya di taman, kami menggelar alas untuk kami duduk. V mulai membuka bekalnya, dan menyuapiku sesendok nasi kari. Selesai makan, kami menikmati siang hari dengan bermalas-malasan. Namun tiba-tiba, tetes demi tetes hujan jatuh menimpa kami. Kami segera merapikan peralatan dan barang bawaan kami.
"Kenapa sih hujan? Kenapa kamu harus turun?" aku bertanya kepada hujan. Kami sudah berada di dalam mobil, dan aku sedang menatap wipers yang bergerak kiri kanan, dan berusaha untuk menyapu hujan yang turun ke atasnya.
V tertawa mendengarnya, "Kamu basah kuyup, Dream. Pakai ini untuk mengeringkan rambutmu. Kamu akan terkena flu jika tetap dalam kondisi basah seperti ini." sahut V sambil mengeringkan rambutku.
Aku mengambil alas untuk kami duduk tadi yang di gunakan V untuk mengeringkan rambutku, "Kamu memakai ini?" sahutku tak percaya.
"Supaya kering kan, nanti kamu flu." jawabnya, dan merebutnya dariku. Tarikan tangan V begitu kuat sehingga aku terjatuh dan menimpanya.
V menatapku, jantungku mulai berdetak kencang, dan memainkan musiknya perlahan, deg...deg...deg...deg..
Aku memberanikan diri untuk menciumnya, dan V tau apa yang akan kulakukan. Dengan sigap, dia melahap bibirku. Kami saling berpaut satu sama lain. Aku menikmati setiap gerakannya, dan itu membuatku hanya memikirkannya. V menguasai otak dan hatiku saat ini. Tangan V tidak menjelajah seperti biasa, kami hanya berciuman, namun ciuman kami semakin dalam dan semakin panas seakan sudah mencapai puncaknya.
Entah sudah berapa lama aku berada di dalam ciumannya, dan tiba-tiba saja, ponselku berbunyi. Robbie is calling....
...----------------...
EPILOG
V POV
"Kenapa menurutnya cinta saja tidak cukup? Menurutku itu sudah lebih dari cukup." sahutku kepada diriku sendiri. Ah, andai Kai ada disini, aku bisa bertukar pikiran dengannya.
Apa yang harus kulakukan lagi selain mencintainya? Aku percaya kepadanya, hanya saja rasa takut itu manusiawi kan? Jujur saja, Robbie cukup mengintimidasiku. Dengan segalanya yang dia miliki, itu sudah lebih dari cukup.
Ayolah V! Berpikirlah! Bijaksanalah V! Kata-kata Kai yang selalu kuingat, apa aku belum bijaksana? Apa aku gegabah lagi kali ini? Baiklah, akan kujalani semampuku, dan aku berusaha untuk tidak takut lagi!
__ADS_1
...----------------...