
Pernikahanku dengan V semakin dekat, dan pekerjaanku semakin banyak. Di tambah lagi aku menghadapi krisis kecemburuan Bry terhadapku.
"Apa harus diundur, V?" tanyaku suatu hari.
"Kenapa?" V kembali bertanya kepadaku.
"Karena Bry sedang dalam kondisi seperti ini. Dan kamu tau, begitu aku menyerahkan gaun itu, dia menangis. Ah, aku putus asa." sahutku.
"Menangis terharu?" tanya V. Aku menggelengkan kepalaku.
Jadi, beberapa hari yang lalu, aku menyerahkan gaun bridesmaid kepada Bry, dan kalian tau, dia menangis.
"Kenapa kamu memberikannya sekarang, Dream? Di saat aku hamil, dan aku tidak pantas memakai gaun cantik ini." katanya terisak.
"Ke...kenapa? Kamu tetap terlihat cantik, Bry. Percayalah padaku." sahutku meyakinkannya.
Bry menatapku tajam, "Aku tau, kamu memintaku untuk segera mempunyai anak, supaya hanya kamu yang tampak cantik di pernikahanmu, kan? Apa maksudmu, Dream?!" ucap Bry gusar.
Aku memandangnya tak percaya, "Oh, ayolah, Bry. Kita sudah membicarakan tentang pernikahanku sejak lama." jawabku putus asa.
Kemudian, Bry melemparkan gaun bridesmaid itu ke lantai, "Tidak, aku tidak akan menjadi apa-apa, bahkan aku tidak akan datang!" katanya murka.
Aku tercengang memandangnya, "Bry...!!" panggilku.
"Bryanna...!!"
Tapi Bry tidak merespon dan terus berjalan.
Begitulah kisah tentang Bryanna, dan sekarang aku harus mencari orang yang mampu menggantikan Bry atau aku harus menunda pernikahanku.
V merangkulku, dan mengajakku berjalan, "Kamu tidak salah memilih waktu, hanya kurang pendekatan dengan Bryanna. Serahkan masalah ini kepada suaminya, aku yang akan bicara dengan Kai." ucap V.
Kami bergegas menemui Kai, dan begitu melihatnya, tampak sekali Kai juga sedang kewalahan.
"Apa yang harus kulakukan kepadanya...hiks...hiks..." katanya putus asa.
"Kemarin dia minta makan mochi cokelat bersamamu, dan hari ini dia tidak mau melihatku kalau aku masih bersama Dream. Bagaimana bisa begitu? Ini pekerjaanku, kan?" sambungnya lagi. Kemudian dia menghela nafas panjang.
V menepuk-nepuk pundaknya, "Begitulah wanita-wanita itu, Kai. Bersabarlah." ucap V menenangkan Kai.
"Aku tau sekarang, dia hanya memusuhiku dan Kai. Tapi tidak denganmu." tukasku.
"Hahahahaha... apa itu? Hanya karena dia menolak gaunmu?" goda V.
"Loh, gaun itu sudah kesepakatan bersama, dan sekarang dia menolaknya dan memenangkan hormon bodohnya itu." sahutku kesal.
Aku menggerutu dalam hati, bahwa ketika nanti aku memutuskan untuk mengandung, maka aku tidak akan merepotkan.
Dengan tekad seperti itu, aku bergegas menemui Bryanna dan mengajaknya berjalan-jalan.
"Bry, jalan yuk. Aku yang akan menyetir." sahutku manis, sangat manis.
Dia mengacuhkanku, dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Aku mendekatinya, "Aku tau kamu kesal padaku, tapi ini sudah kita bicarakan jauh hari sebelumnya, Bry." ucapku berusaha membujuknya, "kamu tetap cantik kok, mau kamu mengecil atau membesar. Semua wanita yang sedang mengandung akan selalu cantik." sahutku lagi.
Dia berbalik menatapku, akhirnya, sorakku dalam hati.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Kai. Tapi itu tidak bisa tidak kan, selain kalian dekat, kalian juga bekerja bersama. Aku sadar itu. Aku hanya takut Kai meninggalkanku." ucapnya terisak. Dia memalingkan wajahnya lagi untuk menyembunyikan jatuhnya tetes airmata.
Aku memeluknya, "Ternyata kamu berpikiran sempit sekali Bry. Kai tidak mungkin melakukan itu, dan aku juga tidak akan tega menyakitimu. Aku terlalu sayang padamu, dan keponakanku ini." ujarku kepada Bry sambil mengelus perutnya.
"Ta... tapi badanku bengkak, Dream. Aku akan tampak seperti badut jika memakai gaunmu." katanya, airmatanya kembali menetes.
"Tidak mungkin. Kamu akan selalu tampak cantik, kalau ada yang berkata kamu jelek atau seperti badut, aku yakin seratus persen dia punya masalah pada matanya!" tegasku berapi-api, demi mengembalikan kepercayaan dirinya.
Dengan segala cara dan bujuk rayu, akhirnya dia mau tersenyum, dan menggandeng tanganku untuk berjalan bersamaku.
Aku menatapnya lekat-lekat, entah sejak kapan, Bry menjadi bagian dari keluargaku yang sangat berarti bagiku. Dan aku menyayanginya, menganggapnya sebagai kakakku.
...----------------...
Hari pernikahanku semakin dekat, segala keriuhan dan masalah seakan datang bertumpuk-tumpuk.
"Maam Dreamy, maaf mengganggu, warga di bantaran melakukan unjuk rasa."
Yang pada saat itu jadwalku adalah mencoba gaun, akhirnya berubah menjadi mengurusi warga, dan mendengarkan keluh kesah mereka.
"Kai, ambil alih pekerjaan Dream. Dia tidak akan menyelesaikan ini karena pekerjaannya terus menuntutnya untuk datang." ujar V.
Dan memang benar, setelah kejadian itu, ada saja masalah yang datang, sejumlah unit robot di udara mengalami mal fungsi sehingga menembaki kendaraan warga yang melintas, belum lagi kunjungan kenegaraan mendadak, seperti pernikahan, pertunangan, minum teh bersama, sampai ada kerabat yang meninggal, dan aku tidak bisa menutup telingaku.
Sampai akhirnya V membuat jadwal sehari full padat, dan hari berikutnya kosong. Dan dia membagi jadwalku dengan Kai. V juga memaksaku untuk tidak mengundurkan jadwal pernikahan kami hanya karena pekerjaan.
"Luna...uhuk...uhuk... tolong aku.." sahut Jean lirih.
"Luna...apa kami akan mati?" tanya Jeanette.
"Aku disini sayang. Tentu tidak, kalian tidak akan mati." ucapku menjawab mereka.
Dokter dan robot perawat kecilnya datang, dan memeriksa mereka. Tak lama mereka sudah tertidur pulas.
"Hanya infeksi tenggorokan. Dalam 3 jam mereka sudah sehat kembali." kata dokter menerangkan. Aku menarik nafas lega, dan berterimakasih kepadanya.
Dan, benar saja setelah 3 jam, anak-anak itu aktif kembali. Kini jantungku yang tidak baik-baik saja. Berdegup terlalu kencang dan terlalu cepat.
Aku mencari V, "V, kamu sedang apa?" tanyaku.
V sedang menatap langit yang penuh dengan lampu-lampu dan mobil-mobil terbang.
"Kangen yah sama bintang?" tanyaku kepadanya.
V tersenyum dan menatapku, "Aku sudah punya bintang, untuk apa ingin bintang lagi." katanya dan mencolek ujung hidungku.
"Aku yah bintangnya?" tanyaku sambil nyengir.
V menggelengkan kepalanya, "Percaya diri sekali istriku ini." katanya.
__ADS_1
Aku tertawa, "V, semoga kita bisa selalu menjadi pasangan sampai kita tua nanti yah. Kamu bisa menjadi temanku, pengganti ayahku, musuhku, ayah dari anak-anakku, kekasihku, suamiku, dan begitu juga sebaliknya." sahutku.
"Aku juga berharap seperti itu, Dream." jawab V merangkulku erat.
Malam ini, aku mempunyai banyak harapan tentang masa depanku. Aku juga berharap kebahagiaan akan hadir di depanku.
The Wedding
"Saya, Voltaire Brian bersumpah akan selalu menemani istri saya, Dreamy Eve, dalam susah senang, sehat sakit, dan akan selalu menemani kemana pun istri saya ingin pergi. Saya juga bersumpah untuk selalu belajar memahami jalan pikirannya walau pun akan ada rasa kesal nantinya, tapi saya akan tetap akan di sampingnya." ucap Voltaire lantang. Dan semua yang datang tertawa mendengarnya.
"Saya, Dreamy Eve bersumpah, akan selalu setia kepada suami saya, Voltaire Brian. Dan akan selalu menemani dan menerimanya dalam kondisi susah senang, sehat sakit, dan akan selalu mendampinginya di tahun waktu manapun." ucapku berjanji.
Bapa Romo mensahkan janji pernikahan kami, "Dengan ini kalian sah sebagai suami istri. Semoga apa yang sudah di persatukan Tuhan tidak dapat di ceraikan oleh manusia." ucapnya.
Kami berpesta setelah pengucapan janji pernikahan selesai.
"Dreamy, jangan kamu mainkan pernikahan kalian lagi yah. Dan jangan ada pembatalan pernikahan lagi." ucap mamaku.
Aku memeluknya, "Tidak akan, mah. Aku sudah dewasa, jadi aku tidak akan main-main lagi." sahutku.
Ayahku merangkul V, "Dewasalah kalian yah. Jangan terlalu banyak bermain. Apalagi kalian sudah mempunyai 2 orang anak. Harus jaga sikap, dan jaga semuanya. Dan aku titip anakku." kata papa. V mengangguk, dan berjanji untuk menjagaku.
Namun secepat kilat, papa mendapatkan serangan tembakan dari seseorang, dan tidak hanya satu. Bunyi suara senapan semakin menggaung..
*Dorrr....
Dooorrr*...
Semua orang berlarian. V menggandeng tanganku, kami mencari Jean dan Jeannete. Kai sedang menggandeng Bry, dan aku mendengarnya meminta aparat keamanan mengamankan tempat dan segera mengejar pelaku.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Halo pah. Ada perlu apa memanggilku?" tanyaku kepada Mark Fransiskus yang tak lain adalah ayah Dream.
"Ah, Voltaire. Duduklah nak." ucapnya ramah. Mata biru awan cemerlangnya menurun sempurna ke putrinya.
"Voltaire, kalian akan menikah besok, dan aku harap ini keputusan terakhir kalian. Aku berharap tidak ada pembatalan lagi. Tidak ada kabur-kaburan lagi. Aku sudah menua, dan aku tidak tau berapa lama lagi aku bisa menemani Dream." ujar Mark.
"Pa, jangan berbicara seperti itu. Dream akan sangat sedih mendengarnya." sahutku. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Ada apa gerangan dengannya?
"Hahahaha... dia sudah dewasa sekarang. Sudah banyak berubah, walaupun masih sering banyak menangis. Tapi sejak ada Jean dan Jeannete, aku perhatikan dia menjadi wanita yang kuat." kata Mark
"Maka dari itu, aku meminta sumpahmu, Voltaire. Bersumpahlah kepadaku, kamu akan menjaga anakku, apapun yang terjadi. Aku titipkan putriku kepadamu." sambungnya lagi.
Aku mengangguk...
"Aku butuh sumpahmu, anak muda." pinta Mark.
"Baik, aku berjanji akan menjaga Dream." sahutku.
__ADS_1
Mark memelukku, dan mengucapkan terimakasih kepadaku.
...----------------...