
5 hari berlalu semenjak kami berada di tahun waktu 3264 ini. Aku dan V masih seperti biada, namun ada rasa enggan untuk berbicara dengannya. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Kai, dan membiarka V bersama Bry, aku tidak mau membayangkan apa yang mereka lakukan. Luka di hatiku sepertinya cukup dalam. Sebenarnya bukan permasalahan V menganggap aku anak kecilnya, tapi lebih kepada dia mempermainkan hatiku. Hubungan kami saat ulang tahunnya, memang tidak sampai berhubungan s*x, tapi aku menganggapnya itu kenangan yang sangat berharga untuk itu, tapi V malah menganggapnya sepela karena melakukan itu dengan seorang anak kecil. Beda umur kami juga cuma lima tahun.
"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Kai. Aku mengangguk, "Sudah" jawabku.
"Apa kamu akan beritahu ini kepada V?" tanya Kai lagi.
"Iya, aku akan mengajaknya" jawabku.
"Dan apa alasanmu?" tanya Kai kembali.
"Biarlah aku yang mengurusnya Kai, aku hany meminta dukungan darimu atas keputusanku ini, aku pun ragu." sahutku. Kai memandangku, "Kalo ragu, jangan diteruska , dan jangan pernah mengambil keputusan saat kamu sedang emosi, Dream!" sahut Kai.
"Aku sudah memikirkannya baik-baik Kai" sahutku. Kai memandangku, "Waktu tidak akan bisa diulang Dream, dan tidak bisa dikembalikan jika sudah terjadi, apa kamu sudah memikirkan itu?" tanyanya lagi. Aku mengangguk lagi.
Kalau memang itu yang terbaik, selalu aku yang menunggunya, V tidak pernah menungguku atau memperjuangkanku, selalu aku.
......................
"Kamu yakin Dream?! Kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan??!!" tanya V saat aku mengatakan bahwa aku akan melakukan pembatalan pernikahan.
"Aku yakin V, aku sudah memikirkan hal ini selama seminggu, dan ini keputusan terakhirku." jawabku.
"Apa yang membuatmu memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita?" tanya V lagi.
"Kita tidak pernah benar-benar menikah kan, V? Dan kita tidak pernah berjanji, dan saat pembacaan sumpah pernikahan, kamu menyilangkan dua jarimu, begitu juga dengan aku, apa itu bisa disebut pernikahan?" aku bertanya lagi kepada V. Dia tertunduk lesu, ingin sekali aku memeluknya dan menangis bersamanya.
__ADS_1
"Dream, kenapa? Kamu bilang kamu mencintaiku, aku yang membuatmu berdebar-debar, kenapa sekarang kamu mau mengakhiri segalanya?" tanya V lagi.
"Hanya aku V, hanya aku yang berdebar-debar, hanya aku yang menyukaimu, hanya aku yang menunggumu, aku berjuang sendiri V, dan kamu menganggapku tidak ada dan hanya seorang anak kecil " sahutku.
"Aku juga berdebar-debar, memang tidak dari awal, tapi aku juga merasakan itu, dan aku tidak serius saat aku menganggapmu sebagai anak kecil, itu hanya untuk membuat Bry tenang " jawabnya. Jawaban itu sudah cukup meyakinkanku.
"Lihat kan, Bry lagi, selalu Bry yang kamu prioritaskan. Menurutmu, aku apa? Teman? Istri? Atau seseorang yang dengan seenaknya bisa kamu permainkan kapan pun kamu butuh hiburan?!" tanyaku. Jelas aku terbawa emosi, dia bilang dia berdebar-debar karenaku, dan merasakan hal yang sama denganku, tapi dia masih memprioritaskan Bry, mungkin dia berpikir hatiku seperti robot, anti gores dan anti luka.
"Sumpah, Dream, ngga gitu!" jawab V.
"Terus apa? Aku cinta kamu V, tapi aku bukan barang yang bisa kamu pilih, hiduplah bersama dia, silahkan kembali ke tahun waktumu, dan lupakan aku" sahutku.
"Dream...kumohon Dream" sahutnya, dan dia memelukku, dia mendekapku. "Jangan lakukan ini kepadaku, aku tidak bisa meninggalkan Bry" sahutnya lagi. Aku melepaskan pelukannya, "Jadi? Apa maumu? Tolong bantu aku untuk memperjelas situasi kita V " sahutku
"Aku rasa aku mencintaimu Dream" sahut V, hatiku seperti terangkat tinggi oleh angin sejuk yang tiba-tiba berhembus menyejukkan, "tapi aku juga masih memikirkan Bry, hubunganku dengan Bry, sudah berjalan cukup lama" kata V menambahkan. Dan seketika hatiku terjatuh karena angin tiba-tiba berhembus sangat kencang.
...----------------...
Aku mencari Kai, dan ketika aku menemukannya, aku segera menariknya dan mengajaknya keluar.
"Temani aku berjalan, hanya berjalan, dan kumohon, jangan menanyakan tentang apa pun selama aku berjalan, dan satu lagi, jangan hentikan aku, aku hanya butuh kamu di sampingku, ya Kai!" sahutku. Kai mengangguk, "Tapi mau kemana?" tanya Kai, aku berhentik, memandangnya, "Ikuti saja dulu, temani aku kemana pun langkah kakiku membawaku berjalan, dan tolong, jangan bertanya dulu tentang apapun! Mengerti Kai?!" sahutku lagi. Kai agak tampak ketakutan, tapi dia mengikutiku berjalan. Kadang dia di sampingku, namun kadang dia di belakangku. Ini yang aku suka dari Kai. Ketika aku sudah meminta bantuannya, dia akan menuruti semua perintahku, biasanya Kai banyak tanya, tapi karena aku sudah memerintahnya, sekarang dia hanya diam, dan terus berjalan. Aku hanya berjalan tanpa tau tujuanku kemana, dan aku merasa, sudah banyak yang mengikutiku dari belakang, sementara Kai di sampingku.
"Kamu memanggil mereka semua Kai?" tanyaku, masih sambil berjalan.
"Tentu saja, kamu butuh pengawalan, kupikir kamu akan berjalan di sekitar rumah, ternyata kamu berjalan lebih jauh, kita butuh pengawalan, kalau ada sesuatu yang terjadi terhadapmu" jawab Kai. Aku memandangnya sebentar dan tetap berjalan. Aku berjalan sejauh yang hatiku menginginkanku berjalan.
__ADS_1
"Kamu mau berjalan sampe sejauh mana Dream? Dan sampai kapan?" tanya Kai, "Kamu sudah berjalan cukup jauh, ayo kita pulang" sahutnya.
"Sampai emosiku hilang, Kai" jawabku. Hatiku masih terasa sesak, nafasku juga sudah mulai tercekat, aku lelah, "Kai" sahutku, aku mendengar suaraku tidak sekuat biasanya, "Kai...kenapa cinta itu sakit sekali yah?" tanyaku, dan tiba-tiba seluruh pandanganku gelap.
Aku tersadar...apa aku pingsan tadi? tanyaku kepada diriku sendiri. Aku nelihat sekelilingku, ada Kai, ibu Kai, papaku, mamaku, dan yang tidak kusangka dan penyebab aku seperti ini, Voltaire Brian, dan juga Bryanna. Pelayan robot sibuk keluar masuk sambil menyemprotkan disinfektan dimana-mana.
"Dream, kamu sudah sadar?" tanya mama. Aku mengangguk lemah, "apa yang terjadi sih? Kai bilang kamu olahraga, dan tidak sadar, kalau kamu sudah berjalan cukup jauh." tanya mamaku. Aku memandang Kai, kenapa Kai tidak menceritakan yang sebenarnya. Papa menangis dan memelukku, "Dream, anak papa, kenapa kamu?" tanyanya lagi, sambil mengusap airmatanya, "Kamu sakit Dream?" tanya papaku lagi. Dan tanpa kusadari, aku mengangguk, papa kembali memelukku, dan aku seakan ingin mengatakan kepadanya, aku tidak baik-baik saja, dan papa mengusap punggungku sambil berbisik, "Kamu kuat Dream, kamu bisa hadapi semua yang menghalangimu" sahutnya. Aku memeluknya kembali. Kemudian, saat aku sudah tenang dan merasa lega, aku akan mengatakan yanh sesungguhnya, "Pa, ma, sebelumnya Dream mau minta maaf, Dream punya satu permintaan, dan kemungkinan ini akan mempengaruhi posisimu sebagai perdana mentri di pemilihn berikutnya" sahutku menjelaskan. Papa memandangku, " Tentang apa Dream?" tanyanya, aku mencari V, dan dia sedang menatapku. Tekadku sudah bulat.
"Aku ingin melakukan pembatalan pernikahan dengan V" sahutku dan semua terkejut mendengarnya.
**EPILOG
Kai POV**
" Katamu, kamu akan berjanji untuk memberitahuku kalau perasan kamu berubah V!" sahutku, menagih janjinya.
" Karena aku ragu Kai" jawabnya pendek. Aku tidak paham, kenapa ini menjadi berbelit-belit.
"Apa yang membuat kamu ragu?" tanyaku.
"Aku mencintai Dream, tapi itu belum pasti" jawabnya.
"Tapi kamu juga tidak mau berpisah dengannya?" tanyaku, dia mengangguk, "Egois kamu V!" jawabku. Dia mengangguk lagi, "Yang jelas, aku tidak tau kapan pastinya, tapi ada perubahan yang aku rasakan, setiap kali aku bersama Dream" jawabnya. Aku mengehela nafasku, "Dam Bryanna?" tanyaku.
"Sudah kukatakan aku juga belum tau" jawabnya, dan memang raut wajahnya menggambarkan kalau dia bingung dan sedih. Aku menepuk pundaknya, "Kalo kamu mencintai Dream, berjuanglah untuknya sampai kapan pun, tunjukkan padanya kamu tidak menyerah akan dia* sahutku, "Atau, jika kalian diijinkan untuk melakukan pembatalan pernikahan, dan kamu kembali ke tahun waktu, pada suatu hari, ketika kamu bertemu Dream, aku yang sudah akan menikahinya" bisikku kepadanya. Take it or leave it, mau tidak mau dia harus memilih, kan?
__ADS_1
...----------------...