
Setelah Kai menjelaskan segalanya kepada Bry, dia seakan murka dan tidak bisa menerimanya. Aku pun juga tidak, tapi bagaimana lagi. Malam itu, aku kembali bersama V, sedangkan Kai bersama Bry di rumah singgah.
"V, aku sedang mengatur jadwal untuk bertemu papa." sahutku. V yang sedang asik bermain dengan Lyn, menatapku.
"Apa lagi yang mau kamu bicarakan?" V bertanya kepadaku.
"Soal pembatalan pernikahan kita" jawabku. V membelakkan matanya, "Apa?! Kamu serius Dream?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" tanyanya lagi.
"Aku masih kecil untuk kamu itu yang pertama, yang kedua, kamu sudah mempunyai Bry. Dia masa depan kamu, bukan aku" jawabku menjelaskan.
"Bukan begitu Dream, maksudku, kenapa mendadak?" tanyanya lagi. Ada apa di balik perubahan pertanyaannya itu?
"Semua sudah aku rencanakan V" sahutku. V terdiam, matanya menatapku, aku mengalihkan tatapannya.
"Apa kamu mendengar percakapanku dengan Bry malam itu?" tanya V lagi, kali ini wajahnya dipenuhi penyesalan.
"Semua orang juga pasti mendengarnya, V, kamu berbicara begitu keras, begitu juga dengan Bry" jawabku, menunduk, aku takut kalau aku menangis tiba-tiba.
__ADS_1
"Kamu boleh marah sama aku Dream, tapi jangan pembatalan pernikahan" katanya lagi. Aku menatapnya, "Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku hanya menyelamatkanmu saat kita menikah, dan aku terlalu jauh terbawa perasaan. Harusnya aku professional dan tidak boleh berdebar-debar, karena aku hanya seorang anak kecil kan, jadi kamu bisa mempermainkan aku kapan pun kamu mau." jawabku. V menghela nafas panjang, "Aku senang bertemu denganmu dan mengenalmu Dream, tapi aku tidak tau, bagaimana perasaanku kepadamu saat ini" katanya, "Maafkan aku kalau aku selalu menganggapmu anak kecil, itu untuk menjauhkanku dari perasaan suka yang mungkin, nantinya akan ada di hatiku. " jawabnya. Aku terluka mendengar jawabannya, entah kenapa itu sakit sekali. "Bagaimana nanti kalau aku merindukanmu Dream? Apa aku masih bisa kesini?" tanyanya.
"Kenapa harus merindukanmu di saat kamu sudah ada Bry di sampingmu?" tanyaku.
"Dengar Dream, hubunganku dengan Bry tidak sedalam itu, ya aku akui pernah ada bayangan dia di masa depanku, tapi aku juga tidak tahu, bayangan itu menghilang Dream" jawabnya. Entah aku harus senang atau sedih mendengar jawabannya. Hatiku sakit? Sudah jelas, tapi melihat kenyataan bahwa V juga terombang-ambing oleh perasaanya sendiri, aku tidak tau harus bagaimana menanggapinya.
"Paling tidak tanyakan pendapatku juga" sahut V. Aku hanya terdiam, "Aku akan memikirkan ini lagi, tapi apa kamu tidak keberatan kalau kamu tinggal disini atau aku disana, dan tentu masa depanmu akan berubah." sahutku.
"Itulah yang aku pikirkan" katanya lagi, "Ini bukan sesuatu yang bisa dipikirkan 1 atau 2 hari Dream" sahutnya lagi. Apa V jadi menyukaiku? Atau dia menyukai masa depan? Maksudku, tempat ini, bukan aku, tentu saja? Ada banyak kemungkinannya. Aku beranjak menuju tempat tidurku, kita lihat saja besok pagi, bagaimana kondisi hatiku.
...----------------...
Pagi harinya aku mencari Kai. Saat aku membuka pintu ruanganku, Bry sudah di depan pintu, dan langsung masuk begitu saja menemui V.
"Selamat pagi ibu, Kai ada dimana?" tanyaku. Ibu Kai tersenyum, "Selamat pagi nona, Kai ada di ruangan kerja, saya antar?" tanyanya lagi. Aku menggeleng, "Tidak perlu bu, oh iya aku minta tolong saja untuk menyiapkan makanan, kami akan sarapan di bawah." kataku. Ibu Kai mengangguk lagi, "Tidak ada yang sarapan di kamar?" tanyanya. Aku menggelang, "Tidak ada ibu, kami semua akan ke bawah. Terimakasih" sahutku, dan bergegas menuju ruangan kerja Kai, dan benar saja, dia ada disitu entah apa yang dia kerjakan, dia selalu sibuk.
"Kai" tanyaku. Kai memutar kursinya, "Hai Dream, masuklah" katanya. Aku masuk ke dalam ruangan kerja Kai.
"Dream, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanyanya. Aku mengangkat bahuku, "Entahlah Kai, dan biarkan aku disini sebentar sebelum sarapan" jawabku. Kai memegang kedua tanganku, "Hei, apa yang sebenarnya terjadi Dream?" tanyanya, wajahnya tampak khawatir.
__ADS_1
"Boleh aku memelukmu Kai?" tanyaku. Kai mengangguk dan memelukku. Lega rasanya bertemu Kai. Aku tidak bisa seperti ini di depan orang tuaku, mereka selalu dikelilingi pers beserta drone-drone yang siap merekam satu kesalahan kecil sekalipun, bahkan kalau kamu buang angin disana, usahakan untuk tidak bersuara dan tidak berbau, begitulah kira-kira, dan aku, putrinya, akan segera mengacaukan pandangan orang-orang terhadap orang tuaku. Anak berdosa! sahutku dalam hati. Selesai aku melepaskan segalanya, Kai memandangku, "Semua baik-baik saja kah Dream?" tanyanya, dan mengusap airmataku. Aku menggeleng.
"Bryanna kah?" tanyanya lagi. Aku menggeleng lagi, "Hatiku ngga bisa di tebak Kai, dan jantungku serasa ada yang menusuk dan menekannya, aku rasa aku akan mati, Kai" jawabku, dan menangis lagi, "Aku masih seperti anak kecil, yang sering menangis dan merajuk" isakku. Kai menggeleng, "Kata siapa? Kamu cukup dewasa saat menghadapi pertanyaan Bry, justru dia yang seperti anak kecil" jawab Kai. Aku menangis lagi, bagaimanapun sulit sekali menahan tangis di depan Kai, "Terus aku harus gimana dong Kai?" tanyaku lagi. Kai menghela nafas, "Ikuti saja kata hatimu, Dream, apa yang kamu mau. Aku rasa tidak akan begitu berpengaruh terhadap posisi ayahmu, posisinya cukup kuat" kata Kai menjelaskan. Aku mengangguk, "Aku perlu berpikir lagi Kai, aku rasa V sedang bimbang" sahutku, "Dan bagaimana dengan Bry?" tanyaku kemudian.
"Bry? Wowh, dia wanita yang luar biasa, rasa ingin tahunya besar sekali, dia bertanya ini dan itu. Andaikan dia tinggal disini seminggu, aku rasa orang tidak akan tau kalau dia dari masa lalu, kemampuan adaptasinya sangat cepat" kata Kai, ada kekaguman di suaranya, "Apa maksudmu V bimbang?" tanya Kai.
"Kupikir V mulai menyukaiku, tapi itu baru dugaan, tapi aku juga belum berani untuk berharap setinggi itu" sahutku terbata-bata.
"Dia akan memberitahuku kalau dia mengalami perubahan, aku harap dia tidak ingkar janji" jawab Kai. Aku mengernyitkan dahiku, "Janji apa?" tanyaku. Namun Kai tidak menjawabnya. Tidak lama terdengar bunyi lonceng berdenting, " Ah, sarapan sudah siap, ayo kita ke bawah" sahut Kai, aku mengangguk dan berjalan di samping Kai. Biasanya kami selalu mengkonsumsi pil untuk makan, dengan durasi sehari 2-3 pil, sama seperti makan biasa di masa lalu. Tapi, semenjak aku mengenal V dan aku ke tahun waktunya, pil sudah tidak lagi mampu membuatku kenyang, bahkan aku rasa ada perubahan pada bentuk tubuhku, mengerikan makanan di masa lalu itu, bisa membuat perubahan besar pada bentuk tubuh, pikirku.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
Saat ini di depanku, seorang wanita yang penuh dengan tanya, sedang berdiri di hadapanku, berjalan mondar mandir sambil sesekali berdecak kagum.
"Bisa kah aku melihat masa depanku?" tanyanya antusias. Aku menghela nafas, "Tidak bisa, ini bukan tentang ramalan, tapi ketika kamu masuk ke dalam tahun waktu yang berbeda, kamu akan mengubah sejarah ataupun mengubah masa depan" jawabku. Dia mengangguk-angguk, "Jadi, seperti Dream dan V, mereka menikah di tahun waktu ini, apa masa depan V berubah?" tanyanya lagi. Gantian, sekarang aku yang mengangguk, "Tentu saja" jawabku, "Kalau V tidak menikah dengan Dream di tahun waktu ini, mungkin di tahun sekarang V sudah menjadi orang tua atau bahkan sudah tidak ada, tapi karena V menikah dengan Dream, dia mengubah masa depannya, dia akan hidup di tahun waktu ini untuk tahun waktu yang akan datang, namun V di tahun waktu yang kalian tinggali tidak akan terdeteksi, dan tidak pernah ada V di tahun waktumu" jawabku lagi. Kembali dia berdecak kagum mendengar jawabanku, "Apa yang terjadi kalo aku dan V menikah di tahun waktu ini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Itu hal yang tidak mungkin, nama kalian tidak terdeteksi di tahun waktu sekarang" jawabku. Dia mengangguk lagi, "Bagaimana kalau aku menikah denganmu?" tanyanya. Aku tersedak, dan sedikit terbatuk-batuk, "apa masa depanku akan berubah?" tanyanya lagi. Aku mengangguk, "Tentu saja" jawabku.
Setelah mendengar jawabanku, dia tersenyum, dan seperti berpikir. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya, tapi aku melihat perubahan pada wajahnya, mengerikan!