Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Kai... Don't go!!


__ADS_3

Beberapa hari terakhir ini, Kai selalu mengecek apa yang kubutuhkan, mulai dari makanan sampai pakaian, dia memastikan aku tercukupi dan tidak kekurangan apa pun. Suatu hari, dia mengantarku untuk bekerja paruh waktu.


"Mau aku antar ke rumah Robbie atau ke kantornya?" tanya Kai, sambil membantuku memasang seat belt.


"Tolong antar ke rumahnya saja, nanti akan berangkat bersamanya." jawabku.


Kai menaikkan alisnya sedikit, "Akhir-akhir ini kamu banyak menghabiskan waktu dengannya." sahut Kai.


Aku mengangguk, "Apakah kamu tau Kai, dia orang yang menyenangkan, hanya saja dia selalu tampak kesepian, padahal jadwal dia dalam sehari padat sekali." sahutku sambil mengunyah kentang goreng yang di buatkan V untukku.


"Apa pada akhirnya kamu memberikan dia simpatimu?" tanya Kai lagi, sambil sesekali memandangku.


Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, aku menjadi seorang teman yang baik untuknya. Dan lagi aku masih harus berpura-pura menjadi kekasihnya di kantor. Itu melelahkan sebenarnya." aku menjawabnya.


"Baiklah, dan bagaimana hubunganmu dengan Voltaire?" tanya Kai lagi. Kali ini pertanyaannya lebih kepada menginterogasi. Ada nada tegas dalam suaranya.


"Hubungan kami baik-baik saja." jawabku, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" aku balik bertanya kepadanya.


"Tidak apa-apa. Apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" tanya Kai lagi, "Aku hanya bertanya, tidak ada maksud apa-apa loh, Dream." sahut Kai sambil nyengir.


"Banyak-banyaklah tersenyum Kai, kamu manis kalau tersenyum dan aku suka itu." sahutku. "Walaupun pekerjaanmu banyak, paling tidak tersenyumlah kepadaku 3 kali dalam sehari." sahutku menambahkan.


"Akan aku ingat itu, Dream. Dan jawabanmu tentang Voltaire, aku masih menunggunya." sahut Kai. Dia sudah memarkirkan mobil V dengan rapih di depan rumah Robbie.


"V berkata kita sudah menjadi sepasang kekasih. Dan aku rasa kekasih atau bukan, tidak ada yang berubah dari kami." aku menjawabnya, "Maksudku, tidak ada sesuatu yang khusus dengan naiknya statusku ini, memang sih V sempat membahas pernikahan beberapa kali, tapi aku tidak mau." sahutku.


Kai mengangguk, "Kalau memang kamu belum siap, itu tidak akan menjadi masalah. Ah, pulang nanti akan aku jemput, ada yang ingin kubicarakan denganmu." sahut Kai lagi. Kemudian, Kai membukakan pintu untukku, dan mengecup keningku setelah aku berpamitan dengannya.


...----------------...


"Luna, bacakan jadwalku hari ini!" perintah Robbie. Aku mengambil tabletnya dan mengklik tombol things to do hari ini.


"Kamu selalu lupa passwordku apa, Rob!" sahutku kesal.


Robbie tersenyum, "Luna, tolong bacakan jadwalku hari ini." ucapnya lagi, mengulang pertanyaan yang sama yang ia berikan kepadaku sebelumnya.


Aku membacakan jadwalnya, " jam 10 rapat dengan PT. XYZ, jam 12 meeting dan makan siang bersama dirut PT. JKL, jam 13.... kenapa meeting semua? Aku ingin di rumah hari ini." sahutku, "Aku akan bermain dengan Jean dan Jeannette." aku menambahkan.

__ADS_1


"Hei, kenapa tiba-tiba?" tanyanya.


"Aku bekerja disini sebagai baby sitter anakmu, bukan asistenmu. Dan aku lelah dengan semua jadwalmu, jadwalku pun menumpuk jadinya." sahutku memprotes banyaknya tugasku dan jadwal Robbie yang padat.


"Kalau aku di rumah, ketika Jean Jeannette istirahat tidur, aku bisa mengerjakan tugasku." sahutku lagi.


"Hari ini saja, ikutlah denganku." sahut Robbie mencoba melakukan penawaran denganku.


Aku menggeleng, bersikeras untuk tidak ikut dengannya hari ini, "Sore ini aku berjanji dengan Kai. Aku tidak bisa pulang malam." sahutku lagi.


"Kai? Penjagamu itu?" tanya Robbie.


Aku mengangguk. Robbie memandangku heran, "Berapa banyak pacarmu?" tanya Robbie.


"Pacar? Kekasih maksudmu?" tanyaku. Robbie mengangguk, "Aku tidak punya kekasih." sahutku santai. Robbie memandangku, ada tatapan tidak percaya di matanya, "Tapi mereka menciummu!" sahutnya panik. Seakan dia ayahku yang mendapati aku-putrinya, sedang berciuman panas dengan seorang laki-laki di keramaian.


"Lalu? Kamu dan aku juga seperti itu. Hanya bedanya, kamu tidak membuatku berdebar, dan mereka bisa." sahutku lagi, "Aku hanya menganggap Kai temanku, sempat pernah ada rasa cinta sebentar tapi rasa itu di larang oleh papa. Dan untuk V, aku pernah menikah dengannya setelah itu aku melakukan pembatalan pernikahan, ramai sekali waktu itu." sahutku, dan hal itu membuatku terkenang dengan V, dan membuatku tersenyum sendiri.


Wajah Robbie sangat terkejut, "Kamu? Pernah menikah dengan V? Voltaire itu? Yang serumah denganmu? Luna, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan cintamu, rumit sekali." sahut Robbie sambil berdecak-decak.


"Ya seperti itulah, author menginginkannya. Aku sih tidak mau, tapi dia bersikeras menjadikan kisah cintaku rumit, dan sekarang dia bingung, mau mengakhiri kisah cintaku dengan siapa. Author yang aneh." sahutku sedikit kesal.


"Aku tidak mau ikut, tugasku banyak sekali. Tolonglah Rob, tolong aku kali ini saja." pintaku memohon kepadanya. Tapi Robbie tidak mempedulikanku, dan tiba-tiba saja dia menggendongku, "Ah, turunkan aku, Rob!! Kamu gila!!" sahutku dan memukul-mukul punggungnya. Dia menurunkanku di atas kursi mobilnya, dan meminta Dave untuk berjalan dengan sedikit menggunakan kecepatan tinggi.


...----------------...


Malam itu, Robbie mengantarku kembali, dan rasanya lelah sekali. Aku tertidur selama perjalanan, dan entah bagaimana, ketika aku bangun, Kai sudah di sampingku, aku sudah berada di mobil V.


"Loh, kenapa kamu?" tanyaku kepada Kai. Nyawaku belum terkumpul 100% jadi aku pikir, aku salah lihat, "Seharian ini aku memikirkanmu, Kai....hehehe... maafkan aku Rob, aku menganggapmu Kai. Maaf." seruku dan menundukan kepalaku.


" Hoi, Dream, ini aku!" sahut Kai. Aku tersentak kaget, dan membetulkan posisi dudukku, "Apa itu benar kamu, Kai?" tanyaku sekali lagi.


Kai mengangguk, "Iya, tapi sepertinya kamu lelah sekali. Apa bisa kamu mendengarkanku?" tanya Kai.


Aku mengangguk, "Tentu saja bisa." sahutku dan menahan kantukku.


Kai mencari cafe kopi, sehingga kami bisa duduk dengan nyaman.

__ADS_1


"Dream, lusa aku harus kembali." katanya memulai pembicaraannya, "papamu membutuhkanku. Papamu sudah mengundurkan diri dari jabatannya, dan saat ini posisi perdana mentri belum ada yang mengisi, maka dari itu, papamu memintaku untuk mengisi kekosongan itu sementara sampai kamu dianggap sudah siap, dan menikah, maka suamimulah yang akan menggantikanku." sahut Kai.


Aku berusaha mencerna semua perkataan Kai.


"Kenapa tidak kamu saja yang selamanya mengisi posisi tersebut? Aku tidak mau." sahutku. Tapi aku kepikiran dengan papaku.


"Kamu mempunyai kewajiban untuk mengisi kekosongan itu, Dream." sahut Kai dengan sabar, "menikahlah dan gantikan posisi papamu." sahutnya lagi.


"Bisa kan aku tidak menikah? Maksudku, aku cukup kompeten menjadi pemimpin perempuan pertama disana." sahutku lagi.


Kai tertawa kecil, "peraturan adalah peraturan, Dream. Dan itu harus di taati." sahut Kai.


"Apa aku tidak perlu ikut, Kai?" aku bertanya lagi kepada Kai.


Kai menggeleng, "Tumbuh dewasalah disini, Dream. Setelah itu, ketika kamu sudah siap, silahkan kembali." jawab Kai.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


Aku menunggu Dream kembali, tadi asisten rumah tangga Robbie memberitahukanku bahwa mereka akan segera kembali. Dan benar saja, tak lama mobil Robbie datang. Kemudian dia membuka kaca jendelanya, "Kai, tolong buka pintu mobilmu, Luna tertidur, sepertinya dia lelah sekali." sahut Robbie, dan dia memperlihatkan Dream yang tertidur dan bersandar pada lengan berototnya. Aku merasakan sedikit debaran yang menusuk di dadaku.


Aku menuruti permintaanya untuk membuka pintu mobilku, dan tanpa membangunkan Dream sedikit pun, dan tanpa keraguan apapun, Robbie menggendong Dream, dan membaringkannya di kursi penumpang sebelah supir dengan merendahkan posisi kursi mobil. Setelah itu, Robbie berjalan kembali ke mobilnya, dan saat melewatiku, dia memukul kecil pundakku, "Maaf aku terlalu malam mengembalikannya." sahutnya kepadaku.


Aku bisa mengerti sekarang, mengapa Voltaire terancam dengan keberadaan dan kedekatan antara Robbie dan Dream.


"Hei Rob." sahutku memanggilnya. Robbie menoleh dan mendekatiku lagi, "bisakah kamu membantuku untuk menjaga Luna selama dia bekerja denganmu?" aku bertanya kepadanya.


Robbie menegakkan badannya dan membusungkan dadanya, "Aku selalu menjaganya, sobat, kamu tau?" jawab Robbie. Dan yah, aku bisa melihat itu.


"Kamu menyukainya?" tanyaku lagi.


Robbie tersenyum kepadaku, "Sedikit." jawabnya sambil lalu.


Aku menganggukkan kepalaku, posisi Voltaire benar-benar terancam saat ini. Dan aku tidak tau siapa yang akan menjadi pilihan Dream, hanya saja dia harus memilih sesegera mungkin.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2