
Besok paginya, rumahku sudah di penuhi bunga di setiap sudutnya. Mobil lalu-lalang, dan keluar masuk membawa buket bunga atau pun panci-panci besar berisi makanan. Pemain musik melakukan gladi resik di halaman rumah. Aku berpikir, ada apa sampe rumahku ramai sekali. Ibu Kai melintas dengan terburu-buru, "Ibu, dimana Kai?" tanyaku kepadanya, Ibu Kai memberhentikan jalannya dan tersenyum, "Kai sedang membantu ayah Nona" jawabnya. Membantu? pikirku, "Membantu apa bu? Apa kita akan mengadakan suatu perayaan?" tanyaku. Ibu Kai menatapku, "Ini kan hari pernikahan nona dengan pasangan nona" jawabnya.
Aku menepuk keningku, kenapa aku bisa lupa? Aku pikir kemarin hanya mimpi, dan ternyata papa benar-benar mewujudkan perkataanku. Aku bergegas mencari V, kemana sih V ini? tanyaku dalam hati. Aku menghubungi Kai, cincin penghubungku mulai berfungsi kembali, dan mengeluarkan virtual Kai, "Dream...kamu belum siap? Persiapan disini sudah hampir selesai, cepatlah datang. V sudah disini" sahutnya. Aku terkejut, "V? Sudah disana? Apa dia benar-benar akan menikah denganku?" tanyaku kepada Kai, yang benar saja, aaarrgghh, ini semua karena ucapanku. Benar kata nenek moyang jaman dulu, ucapan adalah doa. Kai mengangguk dan mengakhiri panggilanku. Segerombolan pelayan wanita mendatangiku, dan menggandeng lenganku, "Nona, ayo bersiap-siap." sahutnya. Aku pasrah, aku mengikuti mereka. Dan benar saja, sehelai gaun pengantin putih panjang sudah tergantung disana, aku duduk dan pelayan-pelayan itu mulai mendandaniku. Setelah mereka selesai denganku,mama masuk ke dalam kamarku, "Dream, kamu cantik sekali" kata mama, dan memelukku, "Anak mama sudah dewasa, ngga boleh cengeng lagi" katanya lagi. Aku mengangguk, aku terlalu bingung, aku memikirkan apa yang harus aku lakukan. Mama kemudian berjalan bersamaku ke Eden Park, tempat papa dan V menungguku.
...----------------...
"Dreamy Eve, apakah kamu menerima Voltaire Brian, menjadi suamimu, dalam kondisi susah senang, sehat sakit, dan selalu menemaninya hingga waktu memisahkan kalian?"
Aku sudah di depan altar, dan Pastor sudah mengucapkan sumpah pernikahan, aku harus jawab apa? Sudahlah, aku pasrah.. "Ya, saya, Dreamy Eve menerima Voltaire Brian menjadi suami saya dalam kondisi susah senang, sehat sakit, dan akan selalu menemaninya sampai waktu memisahkan kami" jawabku mengulangi sumpah sang Pastor. Kemudian Pastor menghadap V, "Voltaire Brian, apakah kamu menerima Dreamy Eve menjadi istrimu, dalam kondisi susah senang, sehat sakit dan selalu menemaninya sampai waktu memisahkan kalian?" tanya Pastor kembali kepada V. V mengambil nafas dan menghembuskannya, dia tampak tampan memakai tuksedo hitam, wajahnya dipenuhi dengan kegugupan, andai ini pernikahan sungguhan, mungkin aku akan berbahagia. "Ya, saya, Voltaire Brian menerima Dreamy Eve menjadi istri saya dalam kondisi susah senang, sehat sakit dan akan selalu menemaninya sampai waktu memisahkan kami " jawabnya, setelah itu dia menatapku, deeggg, jantungku kembali berdegup kencang, dan aku berusaha menatapnya. "Dengan ini saya menyatakan Dreamy Eve dan Voltaire Brian menjadi suami istri" sahut Pastor.
V membuka veil yang menutupi wajahku, dan menciumku, dia tidak menciumku, "Hei, Dream, aku ingat kita pernah begini" sahutnya menggodaku. Aku kembali merasakan panas di wajahku, "Diamlah!!" sahutku.
__ADS_1
Riuh rendah suara sorakan orang tuaku dan keluargaku memenuhi aula Eden Park. Papa mendatangiku, dan berjabat tangan dengan V dan memintanya duduk di sebelahnya.
Kai mendatangiku, "Hai, Dream, kamu cantik hari ini" sahutnya. Aku membalasnya, tersenyum, "Thanks". Kai mengajakku untuk duduk bersamanya. "Paling tidak untuk saat ini V tidak akan dicari-cari oleh polisi waktu" sahutnya. Aku mengangguk, "Tapi, bagaimana caranya nanti kita kembalikan dia?" tanyaku. Kai mengangkat kedua bahunya, "Entahlah Dream, yang penting untuk saat ini V selamat dan aman, kita akan pikirkan langkah berikutnya setelah acara ini selesai" sahutnya, "So, apa yang akan kamu lakukan dengan V malam ini?" tanyanya. Aku merasakan wajahku memerah, aku teringat kejadian kemarin malam, ketika V mengangkatku, memegang sisi wajahku, dan menciumku dengan ciuman lembut dan dalam, dan matanya yang menatapku......aaahhh...aku menggeleng -gelengkan kepalaku. Ketukan sendok Kai di kepalaku menyadarkanku, "Woi, ngapain?" tanyanya, "mikir jorok yah? Muka kamu merah banget tuh" sahut Kai lagi.
"Ngga mungkinlah aku melakukan itu sama V, ada-ada aja kamu Kai!" sahutku. Entah kenapa, hatiku melonjak kegirangan saat aku membayangkan tentang V.
......................
Kai tersenyum, "Tenang, ibuku akan ikut bersamamu, aku akan tetap disini, ada yang harus aku kerjakan, tapi aku janji aku akan sering menjenguk kalian berdua" katanya. Aaahh...bagaimana ini? Kalo tiba-tiba V menyerangku tengah malam, lalu aku hamil, dan melahirkan, terus dia ditangkap polisi waktu? Aahh...masa depanku..tangisku dalam hati. Aku menuju kamarku sendiri yang sebentar lagi akan aku tinggalkan, aku membuka pintunya, dan betapa terkejutnya aku, V sedang berbaring dengan indahnya di atas tempat tidurku, dan topless. Aku perlahan menutup pintu, berjalan mendekatinya, dan tak kuasa, aku duduk di sebelahnya, dan memandanginya, memang V indah, sangat indah, sahutku dalam hati. Aku memandang wajahnya, tubuhnya yang dibiarkan terbuka, dan berusaha dengan sekuat tenaga, menahan tanganku untuk tidak menyentuhnya. Aku berharap saat ini waktu berhenti, dan membiarkanku memandang manusia indah ini lebih lama.
Setelah puas memandang V, aku bergegas ke kamar mandi, dan mengganti pakaianku, namun tiba-tiba, lengan kekar V melingkar di pinggangku, dia menyibakkan rambutku ke samping, dan mulai mengecupnya disana. Aku segera membalikkan badanku, dan sekarang, aku berhadapan dengannya. Dengan lengannya yang masih melingkar di pinggangku, membuat jarak antara kami semakin dekat, aku menatapnya, dan dia menatapku, tersenyum seksi...itulah yang kurasakan, senyumannya bukan nakal, tapi seksi. Senyumannya selalu berhasil membuat otakku penuh dengan dosa, bahkan aku membayangkan, aku akan masuk ke tempat pengadilan terakhir manusi, dan disana, aku akan disiksa karena terlalu banyak berpikir kotor... aaahh, ini karena makhluk di depanku, yang saat ini masih terus memandangku, "Hei, kita sudah menikah sekarang, malam ini mau main denganku" tanyanya, suaranya yang sensual benar-benar membuatku meleleh, too smooth to be true. Aku diserbu ribuan kepanikan, dan kembali kulayangkan tanganku ke wajahnya, plaak!!
__ADS_1
"Kamu selalu ngga sopan V!" sahutku marah. V tertawa, aku meninggalkannya di kamar mandi. Dan masuk ke dalam selimut!
EPILOG
V POV
"Kamu benar-benar akan memintaku menikah dengannya, Kai?!" tanyaku, separuhnya adalah pertanyaan putus asa. Kai mengangguk, "Harus V, mau bagaimana lagi? Ini demi keselamatanmu" sahut Kai menjelaskan. Kemudian Kai menatapku serius, "Hei, V, katakan dengan jujur. Apa kamu menyukai Dream?" tanyanya. Aku tertawa kecil, "Sudah kubilang bukan, aku sudah punya kekasih di jamanku, walaupun hubungan kami saat ini LDR, tapi aku menunggunya, selalu. Aku menganggap Dream seperti adikku sendiri, Kai, memang kadang aku menggodanya, tapi itu karena dia lucu" sahutku menjelaskan. Kai menghembuskan nafas lega.
"Aku percaya padamu V" sahutnya lagi.
"Kai, ketika hatiku mulai berubah terhadap Dream, kamu orang pertama yang akan kuberi tau, tapi hingga detik ini, hatiku masih ada di kekasihku" sahutku.
__ADS_1