
Pagi harinya, telpon di ruangan kamarku berdering, kriiingg...kriing..kring..
"Halo" jawabku.
"Selamat pagi dengan ibu Dreamy Eve, satu mobil Hyundai Palisade sudah siap di depan lobi hotel, mau di pakai sekarang atau nanti,?" tanya si resepsionis.
"Bisakah disimpan dahulu, karena kami harus bersiap-siap dahulu?" tanyaku.
"Baik ibu, kami akan memanggil petugas parkir vallet, silahkan hubungi kami kembali 10 menit sebelum anda bersiap, terima kasih." sahutnya lagi.
"Oke, terima kasih mba" jawabku, dan menutup telponku. Aku segera bersiap dan membangunkan Kai, begitu aku ke kamarnya, ternyata Kai sudah siap dan sedang mencari-cari info tentang Rufus.
"Pagi Kai, lagi apa?" tanyaku. Kai yang sedang mengutak-ngatik laptopnya menoleh ke arahku, dan aku baru menyadarinya, Kai cukup manis memakai kacamata.
"Aku lagi mengumpulkan semua informasi yang berhubungan dengan Rufus, ini sudah hari kedua, paling tidak kita harus sudah mendapatkan sesuatu" jawabnya. Aku mendekatinya dan membaca semua hasil yang sudah dia temukan.
"Wow, banyak juga " sahutku.
"Aku sudah bilang, kan, carilah pasti kita bisa dapat info tentangnya, ah iya, dia menculik seorang wanita muda bernama Catherine, umurnya seumur denganmu, Dream, ini foto Catherine." sahut Kai dan memberikan foto seorang perempuan, berambut pirang, berwajah tirus, kepadaku.
"Apa motif Rufus? Hukum pidana berlapis aku rasa akan di kenakan kepadanya." sahutku
"Ya, dan sanksi juga karena melintasi waktu" tambah Kai, "Oh iya, kamu kesini mau mengajak aku sarapan yah?" tanya Kai, tiba-tiba nyengir.
"Tau aja..hehehe. Dan, unit sudah siap pak Kai, mereka menunggu kita" sahutku.
__ADS_1
Setelah Kai bersiap, kami segera ke bawah untuk sarapan dan mengambil mobil dinas kami. Tak lupa, Kai membuat laporan tentang penemuannya ke papaku. Papaku tampak puas dengan hasil kerja Kai.
"Kita berputar-putar atau menunggu disini saja?" tanyaku kepada Kai saat kami sudah berada di dalam mobil. Kami tidak memakai jas dan kacamata hitam lagi, melainkan hanya kaos sederhana dan celana panjang jins.
"Kita akan disini 10 menit, kemudian kita berputar dan di setiap titik pemberhentian, kita akan berhenti 10 menit untuk melihat situasi" jawab Kai. Aku mengangguk.
Setiap orang yang lewat kami amati, setiap warung kecil atau gang kecil, tidak lepas dari pengawasan kami.
"Aaahhh...sudah sejam kita berputar Kai, bisa tidak kalau kita bertanya kepada warga sekitar?" tanyaku, mulai putus asa.
"Kalau bisa bertanya kepada warga sekitar, sudah dari kemarin aku lakukan Dream, aku hanya tidak mau Rufus curiga kalau dia sedang diawasi." sahutnya.
"Baiklah, aku akan turun sebentar untuk meluruskan kakiku, tunggu aku disini" sahutku. Tanpa menunggu jawaban Kai aku segera turun dari mobil, dan melakukan peregangan sederhana. Aku berjalan-jalan sebentar ke depan, karena tidak jauh dari tempat kami memarkirkan mobil, aku berhenti di halte dekat sana, dan sambil mengingat wajah dan ciri fisik dari Rufus.
Tak lama, segerombolan orang turun dari bis, dan mereka mendesakku sampai belakang, dan aku melihat seseorang dengan ciri fisik mirip Rufus, berbadan besar, berjanggut pirang, selalu memakai topi lebar, dan tampak di sebelahnya, seorang wanita, mirip mempunyai ciri fisik seperti Catherine. Aku segera mengikutinya, dan mengambil jarak agak jauh dengannya. Pria itu berjalan terus tanpa curiga, aku mengirimkan gps kepada Kai, untuk mengikutiku sesegera mungkin, karena aku tidak mau kehilangan Rufus kali ini. Dia terus berjalan, tampak olehku, Rufus sedang menyapa seorang ibu penjaga warung, dan mereka tersenyum, cukup ramah untuk seorang dengan tittle buronan, pikirku.
"Halo, maaf pak, apa bapak kenal dengan Bryanna? Dia temanku, kami sudah lama tidak berhubungan dan aku berniat untuk ke rumahnya, namun sepertinya aku kesasar, aku lupa jalanan menuju rumahnya" sahutku. Rufus kemudian mendekatiku, dan dia meminta Catherine untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Halo, dimana alamat rumah temanmu?" dia bertanya dengan cukup sopan.
" Seingatku jalan Nuri no. 19 pak" jawabku. Aku bersyukur dalam hatiku karena aku selalu memperhatikan nama jalan saat aku di tahun waktu ini.
"Hmmm...saya juga warga baru disini, baru setahun saya pindah kesini. Disini jalan Cendrawasih, sebelah sana tadi jalan Merpati, mungkin kamu harus jalan ke belakang sana" jawabnya sambil menunjuk tangannya ke arah yang dia maksud.
"Oh begitu, karena ini sudah terlalu sore, boleh saya memakai rumah bapak sebagai patokan, saya akan kembali lagi besok" sahutku. Rufus mengangguk sopan dan aku berpamitan, "Terimakasih kalau begitu, dengan bapak siapa?" tanyaku.
__ADS_1
"Rufus" jawabnya.
Binggo!!! Aku mendapatkannya. Aku segera keluar gang kecil tersebut, dan menemukan mobil Kai sudah terparkir rapi disana.
"APA YANG KAMU LAKUKAN, BODOH??!!!" bentaknya saat aku masuk ke dalam mobil. Aku menutup telingaku, "Kai, aku mendapatkannya, dia Rufus Kai, aku menemukan Rufus" sahutku kegirangan, "dia bukan orang jahat Kai, dia menyapa ibu warung dan dia membantuku menemukan alamat. Kalau dia jahat, dia tidak mungkin melakukan itu, bukan?" sahutku.
"Hei, Dream bodoh. Pernah dengar kata Psikopat kan, dia dikenal karena keramahannya, tapi dia bisa melenyapkan puluhan orang tanpa membuat kecurigaan, dan itu yang Rufus lakukan, dan yang kedua, dia bukan baik, melainkan sedang mengamatimu untuk jadi target selanjutnya. Berhentilah menilai baik seseorang, Dream." sahut Kai.
"Perasaanku berkata Rufus itu orang baik. Air wajahnya tidak seperti penjahat atau buronan, kata itu terlalu kejam" balasku, tidak mau kalah.
"Aku sudah merekam semua yang kamu kirimkan kepadaku, besok kita lakukan lagi, dan kumohon, berhati-hatilah, dan selalu waspada" sahut Kai. Aku mengangguk.
Besoknya aku kembali bersiap-siap, dan kali ini aku mengaktifkan gps yang ada di cincinku, dan mengaktifkan sistem kamera juga. Aku dan Kai berjanji akan bertemu di halte bus tempat kemarin aku menemukan Rufus. Aku memakai pakaian yang tidak mencolok sama sekali, sama seperti kemarin, kaos dan celana panjang. Dan kali ini aku memakai tas kecil dari papa, andai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku sudah siap dan bisa melindungi diriku sendiri.
Sesampainya di halte bus, aku mengirimkan gps lokasiku kepada Kai. Dan aku menunggu Kai disana. Tidak lama kemudian, aku melihat Rufus mendekatiku, dia melambaikan tangannya, dan tersenyum ramah, aku menyapanya, "Halo pak Rufus" dan dia membalas sapaanku, namun tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap....
...----------------...
EPILOG
Kai POV
"Hari ini aku akan bertemu dengan Dream di halte tempat dia bertemu dengan Rufus kemarin" sahutku kepada pak Mark.
"Perasaanku sedang tidak nyaman hari ini Kai, tolong jaga putriku, kali ini aku memintamu tidak sebagai atasanmu, tapi sebagai ayah dari putri tunggalku" jawab pak Mark. Aku mengangguk mengerti, "Baik pak, akan kukerahkan segala yang aku bisa untuk melindunginya" jawabku.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, sinyal GPS Dream mulai aktif, dan dia sudah mengirimkan lokasinya kepadaku. Aku seger bergegas menyusulnya, dan entah kenapa perasaanku juga sama tidak nyamannya dengan pak Mark dalam pengintaian hari ini. Semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, bertahanlah disana, aku akan menyusulmu, tunggu aku Dream!