
"Aku tidak bisa menunggu terus seperti ini, Dream! Kita harus melakukan sesuatu!" sahut Kai.
"Ya, apa?!" tanyaku kesal.
Semenjak kami hanya terkurung di rumah, emosi kami sangat labil, seakan-akan menunggu di keluarkan. Seperti gelas yang berisi air penuh, yang jika tersenggol sedikit, isinya akan meluap, seperti itulah kira-kira kondisi kami sekarang.
"Aku rasa anakku sudah lahir, bahkan aku tidak tau jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan." tukas Kai putus asa. Kepalanya tertunduk, dengan satu tangan menutupi kedua matanya.
"Perempuan." jawabku singkat.
Kai mengangkat kepalanya, dan menatapku, "Bry memberitahumu atau kamu hanya sekedar menebaknya?" tanya Kai.
"Bry memberitahuku bahwa anak kalian perempuan." jawabku.
"Aaarrgghhh!! Gara-gara kamu juga sih yang merencanakan liburan ini! Kamu tau kondisi Bry yang sebentar lagi melahirkan, kenapa malah mengajak kami berlibur??!! Kalau mau berlibur, seharusnya antara kamu dan V saja, tidak perlu mengajak kami!!" omel Kai.
Perkataannya itu membuatku tersinggung dan sakit hati, "Apa maksudmu Kai??!! Kenapa kamu sekarang menyalahkanku??!! Aku hanya menawarkan, toh kalian bisa menolaknya!!" sahutku tak mau kalah dengannya.
"Aku bisa menolak, tapi Bry tidak mungkin menolakmu!! Karena ide bodohmu itu, kita jadi terpisah-pisah seperti ini!!" katanya lagi.
Aku semakin marah mendengarnya, "Ide bodoh?? Kamu sebut ideku itu ide bodoh??!! Ide bodoh ini juga hasil rancangan istrimu! Dan ada ide Bry di dalam ide bodohku!!" tukasku marah.
Kai kini berdiri, emosinya mulai tidak terkendali, "Siapa yang pertama kali mengusulkan liburan berempat? Kamu kan??!! Kamu kejam, Dream!! Kamu tidak punya perasaan! Harusnya kamu punya sedikit hati untuk memikirkan kondisi Bry! Bukan memikirkan dirimu sendiri!!"
"Stop Kai!! Apa maksudmu aku kejam??!" tanyaku menelan kembali amarah Kai.
"Lihat saja hukuman-hukuman mengerikan dan tidak masuk akal yang kamu berikan kepada orang-orang itu! Hanya orang yang tidak punya hati yang melakukan itu!!" katanya.
Kali ini Kai tidak dapat kuampuni, "APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN JIKA IBUMU DITEMBAK MATI DI DEPANMU???!!! Dan sekarang, kamu membahas soal kebijakanku??!! Kamu bawa kembali semua yang tidak kamu sukai dariku kesini??!!" aku bertanya marah kepadanya.
"Andai kamu tidak merencanakan liburan ini, kita semua akan tetap berada disana, tanpa terpisah seperti ini, aku bisa berada di sisi Bry saat dia melahirkan anak kami, aku bisa menyambutnya, aku bisa menggendongnya, aku bisa....itu yang aku nanti-nantikan, Dream. Apa kamu tau itu??!" katanya, suaranya tercekat.
Aku memandangnya, kemudian perlahan aku mendekatinya dan memeluknya, "Maafkan aku Kai...maafkan aku." sahutku. Kai tidak berbicara, dia memelukku dan terdiam.
Kini aku tau, terkadang manusia menantikan waktu hanya untuk menunggu momen yang sangat berharga, yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan sampai mereka mati.
Aku bahkan paham bagaimana perasaan Josh saat kembali ke tahun waktunya, dan menemukan bahwa istrinya telah tiada. Menyesal. Penyesalan yang sangat dalam sehingga menimbulkan rasa sakit yang tidak dapat di sembuhkan, kecuali oleh waktu itu sendiri.
"Ayo, kita cari Josh." sahutku.
Kai yang sedari tadi terdiam di pelukanku, kini mengeluarkan suaranya, "Untuk apa?" katanya.
__ADS_1
Aku mengeluarkan kalung jam pasirku, dan melepasnya, memberikannya kepada Kai, "Kita akan bertanya tentang ini." sahutku.
"Ka...kamu dari kemarin memakainya??!!" tanya Kai terkejut.
Aku mengangguk, "Iya, kata Josh ini pemberian papaku, jadi aku memakainya." jawabku.
"Bagaimana kalau ternyata kalung itu memberikan sebuah efek ke lorong waktu?" tanya Kai.
Aku menggelengkan kepalaku, "Saat kita berangkat, kita baik-baik saja." jawabku, berusaha menyanggah ucapan Kai.
"Kita belum tau bagaimana resiko pemakaian kalung ini, kan?" tanya Kai lagi.
Aku mengangguk, "Memang belum, tapi kalau kita tidak memutarnya, waktu akan tetap berjalan seperti biasa kan?" jawabku, setengah ragu.
"Apa kamu ingat dimana Josh tinggal?" tanya Kai.
Aku berusaha mencari alamat Josh di tas kecil milik V yang tidak sengaja terbawa olehku, termasuk ponselnya.
"Aku menemukannya, ayo kita bergegas." sahutku.
Kai mengangguk. Kami segera pergi ke rumah Josh untuk bertanya padanya tentang penggunaan jam pasir. Sesampainya disana, Josh langsung mengenali kami.
Aku dan Kai menceritakan bagaimana kami bisa terpisah-pisah seperti ini, dan tentang rencana kami untuk menggunakan jam pasir.
"Akhirnya, kalian berkeinginan memakainya juga. Resikonya besar. Kalian tidak boleh melakukan kesalahan yang sama disana, dan setelah kalian berhasil mendapatkan tujuan kalian, segera putar kembali jam pasir itu sebanyak 2 kali, hanya 2 kali, tidak boleh lebih." kata Josh menjelaskan.
Aku dan Kai menyimak dengan penuh perhatian, karena kami takut melakukan kesalahan jika ada ucapan Josh yang terlewat.
"Jadi, kami akan memulainya dengan memutarnya 3 kali, lalu kami tidak boleh melakukan kesalahan yang sama, dan yang terakhir adalah kami harus segera memutarnya sebanyak 2 kali, begitu kan?" tanyaku hati-hati.
"Bagaimana jika kami melakukan kesalahan?" tanya Kai.
"Kalian akan hidup di waktu yang sama dengan kalian di tahun waktu itu. Jadi kalian akan mempunyai dobelan. Memutar waktu tidak menghilangkan kalian, hanya merubah kesalahan yang pernah kalian buat di waktu sebelumnya." jawab Josh.
"Bagaimana andaikan kami melakukan kesalahan, dan harus hidup dengan dua kami di tahun yang sama? Apa tidak aneh?" tanyaku.
"Maka itu, kalian harus cepat perbaiki kesalahan kalian dan kembali kesini." jawab Josh.
Aku dan Kai mengangguk, "Baiklah. Andai kami tidak jadi memakai jam pasir ini, bagaimana kami bisa berkumpul kembali?" tanyaku.
"Kalian harus kembali ke tahun waktu kalian dahulu, kemudian lacak keberadaan V dan Bry dari sana." kata Josh.
__ADS_1
"Mereka tidak membawa konektor atau apapun yang menghubungkan ke tahun waktu kami, bagaimana bisa melacaknya?" tanya Kai.
"Setauku, jika kalian bepergian melintasi waktu, maka lorong waktu akan merekam jejak kalian. Sama seperti ponsel. Dari sana kalian bisa melihat ke tahun waktu mana mereka mendarat." jawab Josh, "Resikonya akan lebih ringan, hanya memang kalian harus bersabar." sahut Josh lagi menambahkan.
Aku berpandangan dengan Kai, kemudian berpamitan dan kembali ke rumah tinggal sementara kami.
"Bagaimana Kai?" tanyaku sesampainya kami di rumah.
"Ini tidak bisa terburu-buru, Dream. Kita harus memikirkan segala kemungkinan terburuk dan resiko yang akan terjadi." sahutnya.
"Menurutku...pakai saja jam pasir ini. Maksudku, kamu ingin bertemu dengan Bry karena kondisi Bry yang sebentar lagi akan melahirkan bahkan kemungkinan sudah melahirkan, kamu hanya perlu waktu itu kan?" tanyaku.
"Tapi kalau kita memutar waktu sekarang, dimana kita akan terlempar?" tanya Kai.
"Sebelum kita masuk ke dalam lorong waktu." jawabku.
"Berarti, kita bisa sementara tinggal di rumah yang sebelumnya kita tempati itu?" tanya Kai lagi.
Aku mengangguk, "Kemungkinan iya." aku kembali menjawab pertanyaan Kai.
"Biarkan aku memikirkan ini, Dream. Besok aku akan memberikan jawabannya kepadamu. Kamu juga, bantu aku untuk memikirkan ini." kata Kai.
...----------------...
**EPILOG
V and Bry POV**
"Bry, anakmu cantik sekali." sahutku, menggendong Amber kecil di tanganku, "Dia kecil sekali, Bry." kataku menambahkan.
Bry meneteskan airmatanya, "Kai, bahkan belum melihatnya, V." kata Bry.
"Jangan bersedih hati, Bry. Kamu sekarang sudah ada Amber. Fokus kepada Amber saja, biar aku yang memikirkan Kai. Aku juga tidak bisa berhenti memikirkan Dream." sahutku.
"Aku harus kuat demi Amber. Aku sangat paham itu. Dan sekarang, aku hanya bersamamu, aku mohon bantuanmu, V supaya aku bisa menjalani hari-hariku bersama Amber kami." kata Bry lagi.
Aku mengangguk, "Aku tidak seperti Kai, tapi aku akan siap membantumu mulai sekarang hingga kita berkumpul kembali dengan Kai dan Dream." sahutku.
Dalam hati aku selalu berharap, semoga besok keadaan sudah jauh lebih baik dari hari ini, dan kami bisa berkumpul kembali. Sampai saat itu tiba, aku akan menahan segala kerinduanku kepada Dream, dan memfokuskan diriku untuk Bry dan Amber.
...----------------...
__ADS_1