Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
One Last Cry


__ADS_3

Seketika aku lemas mendengar jawaban V, bahwa Bry itu adalah masa depannya. Pantas saja dia tidak ingin ada di masa depan bersamaku, karena dia sudah menentukan masa depannya sendiri. Aku jadi ingin kembali ke waktuku.


Aku menuju kamarku, V sudah asik dengan Bry, ngga mungkin dia akan ingat aku, bahkan mungkin, kalau aku tiba-tiba terbunuh disini karena ulah penyelundup waktu pun dia tidak akan tau. Bry sialan!! pikirku. Aku mengambil boneka bertanduk dari Kai, karena Rogie mati, dia kutinggalkan disana, seorang tukang reparasi sedang membetulkannya, "Siapa namamu boneka cantik?" tanyaku kepada boneka kecil itu, "Mmm, bagaimana dengan Lyn, cukup bagus bukan?" sahutku, puas dengan keputusanku sendiri.


"Hai Lyn, hubungkan aku dengan Kai" sahutku memulai perintah pertamaku untuk Lyn. Visual Kai mulai terbentuk, walau masih berbayang-bayang, dan suara Kai terputus-putus, "Bbppp, ke-npa Dim? Sssuush sssekli si....pipppp" suara pip panjang membuat visual Kai membeku. Ah, payah sekali! Untuk apa memberikanku ini, kalo aku tidak bisa menghubunginya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mengintip keluar, loh, dimana mereka? Apa sedang di kamar? Aku mengintip kamar V, deeggg .. benar dugaanku. V sedang mencium Bry, dan sepertinya setelah ini meraka akan bermain cinta-cintaan, begitulah yang aku baca dari web masa lalu. Aku memberengut kesal, dan melangkah keluar.


"Aaahhh... bosannya!!" seruku. Tiba-tiba, ada seorang pria mendekatiku, "Kamu adiknya V kan?" tanyanya, aku mengangguk, "Iya...eh bukan!" sahutku mendadak. Pria itu mengernyitkan dahinya, "Kamu siapanya V?" tanyanya lagi. Baik, akan kusiarkan pada orang-orang di jaman ini bahwa aku adalah istri V dan kami sudah menikah, "Aku istrinya" jawabku. Pria itu kemudian tertawa, "Kamu lucu juga yah" katanya, "Siapa namamu?" tanyanya kepadaku. "Namaku Dream. Kamu?" tanyaku kepadanya. Pria itu mengulurkan tangannya, "Chaim" sahutnya. Aku mengamati pria itu, dan dia balas mengamatiku, kemudian tertawa lagi, "Kamu siapanya V sih? V itu sudah bertunangan setauku" katanya menjelaskan. "Tunangan? Apa itu?" tanyaku. Aku baru dengar kata tunangan.


"Kamu ngga tau apa itu tunangan?" tanyanya, dan aku menggeleng. "Tunangan itu maksudnya adalah proses pendekatan sebelum menikah. Misalkan, aku dan kamu, kita sudah berpacaran lama, tapi belum mau langsung menikah, maka kita bisa bertunangan dulu" jelasnya kepadaku. Aku mengangguk mengerti, "Siapa tunangan V?" tanyaku lagi.


"Bryanna" sahutnya. Aku membelakkan mataku, "Hah??!! Maksud kamu Bry? Mereka benar-benar akan menikah?" sahutku. Bagaimana nasibku? Pernikahanku baru berjalan sebulan lebih, aku akan memecahkan rekor di jamanku, Putri Perdana Mentri Mark Fransiskus, melakukan pembatalan pernikahan yang pertama kali sepanjang sejarah, setelah menikah hanya sebulan setengah dengan seorang pelintas waktu. Begitu pasti headline berita nantinya. Aku menutupi wajahku, aarrgh apa yang harus kulakukan? pikirku.


"Kamu suka dengan V?" tanya Chaim lagi. Aku mengangkat bahuku, "Apa bisa manusia suka sama orang yang sudah bertunangan?" tanyaku


"Bisa aja. Sebelum mereka menikah, kamu bisa merebut dia, persaingan sportif tapi bukan asal rebut " jelasnya.


" Apa yang harus kulakukan?" tanyaku penasaran.


"Berikan perhatian yang lebih untuk V, itu bisa mengalihkan hatinya dari tunangannya" katanya lagi. Aku mengangguk mantap! "Baiklah, demi nama baik papaku, aku akan melakukan itu!" sahutku. Chaim tertawa melihatku, "Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya lagi. Aku memandangnya, "Entahlah, mungkin aku bisa memberikan ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari." sahutku, "Apa dengan begitu dia bisa berdebar - debar? Dan memberikan cintanya kepadaku?" tanyaku lagi. Dia tertawa, "Hanya dengan ciuman? Itu akan berpengaruh padaku, tapi tidak dengan V. Carilah, dan semangat!" sahutnya, kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku kemudian pulang ke rumah V, dan bertanya pada diriku sendiri, apa si Bry itu sudah pergi atau ternyata mereka bermain cinta-cintaan?, ah, aku ngga sanggup memikirkannya. Aku berjalan mengendap-endap ke kamarku, berharap tidak mengganggu mereka, dan benar saja kamar V masih tertutup, kali ini aku tidak berani mengintipnya. Mungkin V melakukan apa yang di lakukannya kepadaku, bahkan mungkin lebih dari itu. Semakin aku memikirkan hal itu, hatiku terasa semakin sakit, sepertinya aku benar-benar terjangkit sakit cinta. Airmataku menetes tanpa di perintah, aku membenamkan wajahku ke bantal, dan kubiarkan segalanya tumpah disana.

__ADS_1


...----------------...


"Dream, kamu ngga mau makan bareng bersama kami?" aku mendengar V mengetuk pintu kamarku. Aku terbangun, dan tidak ada rasa lapar seperti biasa kalau aku ada di tahun ini. Aku membuka pintu kamarku, aku tidak berani menatap V, "Bolehkah aku pulang?" aku bertanya kepadanya. V melihatku, "Ada apa denganmu? Kamu sudah merindukan rumahmu?" tanyanya. Aku mengangguk, dan V mengangkat wajahku, "Kenapa kamu menangis?" tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku, "Aku kangen papaku dan Kai" jawabku.


"Makanlah dulu, besok pagi aku antar tapi seperti yang sudah kukatakan kepadamu, aku tidak bisa kembali ke tahun waktumu." sahutnya. Aku mengangguk, "Aku mengerti V" sahutku. Dan aku melihat ada Bry disana, dan dia melambaikan tangannya kepadaku, aku tidak membalasnya. Selesai makan, Bry mengajakku untuk berbicang-bincang di halaman depan.


"Namamu Dream? Nama yang indah. Kamu pasti mempunyai mimpi yang indah juga" katanya sambil tersenyum, apa dia tau darimana asalku?


Aku mengangguk, "Yah, namamu juga bagus Bryanna." sahutku singkat. Bry tersenyum, dan menatapku heran, "V kah yang memberitahumu nama panjangku?" tanyanya, aku menggeleng, "Bukan, aku baru tau sore tadi dari teman kerja V yang namanya Chaim" jawabku, "V belum pernah menceritakan tentangmu kepadaku, apa kamu tunangannya?" tanyaku. Dan aku terkejut, karena dia menggelengkan kepalanya, "Aku bukan tunangannya, tapi yah aku kekasihnya," jawabnya, "bisakah aku menceritakan kepadamu suatu rahasia?" tanyanya kepadaku. Aku menoleh dan menatapnya, kemudian aku mengangguk.


"Aku lebih memilih karirku, jujur saja, posisiku sedang bagus saat ini, dan aku tidak mungkin melepasnya. Tapi V memintaku untuk menetap disini bersamanya saat kami menikah nanti, tentunya aku menolak. Tadinya, aku berniat memutuskan hubungan antara aku dan V, tapi ketika aku melihatmu, aku mengurungkan niatku" katanya. Aku mencerna apa yang baru saja ia katakan, "Jadi kamu tidak akan berakhir dengannya?" tanyaku. Dia menggeleng, "Ya begitulah, karena cara V menatapmu sama seperti V menatapku" jawabnya.


"Kita bersaing mendapatkan V" tantangnya, "Dia berubah karenamu" katanya lagi. Aku mengernyitkan keningku, "Tentu saja aku akan kalah. Aku tidak datang dari sini. Di tahun waktuku, V adalah suamiku" sahutku kepadanya. Gantian Bry yang terkejut, entah di bagian mana dari kata-kataku yang menbuatnya terkejut.


"Tahun waktu? Apa itu?" tanyanya. Aaahhh, aku kelepasan! Aku menepuk dahiku, "Ah bukan apa-apa" sahutku cepat-cepat, "Baiklah kalo itu yang kamu mau, kita akan bersaing mendapatkan V" sahutku.


"Itu akan lebih menguntungkan bagimu, karena kamu berada di dekatnya, aku hanya mau melihat, sampai sejauh mana V akan bertahan dengan kondisi seperti ini." jawabnya tersenyum.


Aku menuliskan pengingat di kepalaku, itu adalah tangisan terakhirku untuknya. Aku tidak boleh menangis lagi, karena musuhku mengajakku berjuang bersamanya, aneh bukan? Jantungku berdebar-debar hanya karena memikirkan ini, aneh sekali tinggal di tahun waktu ini.

__ADS_1


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Siapa dia V?" tanya Bry saat melihat Dream.


"Ah, dia kenalanku" jawabku singkat, ngga mungkin aku mengatakan kalo aku sudah menikah dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan, bukan?


"Caramu menatapnya berbeda kalau itu hanya kenalan biasa." usiknya lagi.


Aku membawa Bry ke kamarku, supaya Dream tidak mendengar percakapan kami.


"Tidak ada yang berubah Bry" jawabku, meyakinkannya, dan itu benar-benar sungguh keluar dari hatiku. Setelah, memastikan pintu kamar tertutup, tiba-tiba saja, Bry mendekatiku, dan ia menciumku. Aku membalas ciumannya, tapi ada yang aneh, entah aku yang berubah atau Bry yang berubah. Aku semakin memperdalam ciumanku hanya untuk memastikan perasaanku. Tidak lama, Bry melepas ciumannya, "Kamu berubah V, apa karena dia?" Bry bertanya kepadaku.


"Tidak ada yang berubah Bryanna!" sahutku.


"Tatapanmu V, dan apa yang kamu rasakan saat menciumku?" tanya Bry lagi. "Sama seperti sebelumnya " jawabku, tapi memang saat mencium Bry, bayangan Dream tiba-tiba lewat di depanku. Aku menghela nafasku, apa benar aku berubah karena anak kecil itu?

__ADS_1


__ADS_2