Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Wrong Turn


__ADS_3

"Hai Bry, oh, maaf bukan, maaf, aku harus bersikap professional terhadapmu, walaupun kamu temanku" sahutku.


" Kapan kamu tiba disini?" tanyaku lagi. Bry masih tetap tersenyum.


"Kemarin" jawabnya santai.


"Apa motif yang mendasarimu sehingga kamu menjadi penyelundup waktu ilegal?" tanyaku lagi. Kai memperhatikan setiap pertanyaan yang aku berikan.


"Ngga ada dasarnya, memang ini keinginanku. Apa salah?" tanyanya lagi dengan wajah yang sangat mengesalkan. Aku segera melupakan keprofessionalanku, tanpa sadar aku sudah berdiri dan menggebrak meja, Braaakkkk!!


"Hei, berpikirlah!! Tentu saja salah!! Jangan main-main dengan waktu. Kamu akan menjadi butiran pasir di dalam pusaran waktu kalau kamu memainkan waktu seperti ini, dan tidak akan ada seorang pun yang akan mengingatmu!" sahutku memperingatkan. Tapi reaksi Bry sungguh di luar dugaan, "Lebih baik seperti itu kan? Dan daritadi aku perhatikan, kamu sudah lebih dewasa dan wajahmu bukan wajah cengeng lagi" sahutnya.


Uuggghhh... mengesalkan sekali wanita ini, "Soal itu kita akan membahasnya lain waktu, dengar Bry, aku tidak mau menjadi tokoh antagonis di novel ini, jadi aku akan menahan emosiku, dan aku akan sabar." sahutku, "Dan tolong bekerja samalah, jawablah setiap pertanyaan kami dengan jelas, aku mohon padamu Bry, ini akan memudahkan proses yang akan berjalan" aku menambahkan padanya. Karena bagaimanapun, dia temanku apapun yang pernah ia lakukan kepadaku, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya, begitulah sifat tokoh utama wanita protagonis, bukan? 😎


"Bryanna, tolong bantu kami" sahut Kai membantuku, dan dengan suara berwibawanya. Bryanna berpaling kepadanya, dan mengacungkan ibu jarinya kepada Kai. Aku mengusulkan supaya Kai yang duduk untuk menginterogasinya, dan Kai setuju.


"Apa motifmu?" tanyanya singkat, "aku tidak akan mengulang pertanyaan, itu akan memperlambat waktu" sahutnya lagi.


"Aku ingin menikah disini." jawabnya. Aku terkejut mendengarnya, "Kamu gila Bry?" tanyaku. Namun Kai menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, "ssst" sahutnya.


"Kamu tau sistem menikah di tahun ini bagaimana bukan?" tanya Kai. Bry mengangguk. Namun Kai tetap membacakan sistem kalkulator kecocokan 100% kepada Bry. Setelah itu, dia menatap Bry lagi, "Setelah menikah, apa rencanamu?" tanya Kai lagi.


"Aku akan menetap disini" jawabnya. Emosiku sudah memuncak, dia tidak bisa menganggap sistem disini dengan sebercanda itu.


"Bry, tidak semudah itu. Ini bukan seperti kamu jalan ke luar negri, dan mengajukan permanent residence. Kamu butuh jaminan juga disini, apalagi ketika kamu memutuskan untuk pindah ke tahun waktu, maka keberadaanmu di tahun waktu sebelumnya akan terhapus" sahutku.

__ADS_1


"Apa karena V?" tanya Kai tiba-tiba. Raut wajah Bry yang menjawabnya iya, namun Bry menyanggahnya, "Tidak juga, aku hanya ingin saja disini. Melihat semua sistem disini berjalan dengan teratur dan semua di lakukan serba digital, aku tertarik" jawabnya.


"Itu mungkin alasan keduamu, alasan pertama kamu pasti V" sahut Kai.


"Itu juga" jawabnya, "Kamu tau, dia memutuskanku karena dirinya, dan itu membuatku kesal. Hubunganku bertahun-tahun kandas dalam sekejab hanya karena seseorang dari masa depan" sahutnya lagi melirik ke arahku, "Kalau aku disini, dia tidak akan muncul bukan? Dan memang aku berniat melupakannya" katanya lagi menambahkan. Aku dan Kai berpandangan, dan Kai mengajakku keluar.


"Apa yang akan kita lakukan kepadanya?" tanyaku. Kai meletakkan tangannya ke pinggang dan menghela nafas, "Kita tidak bisa mengijinkan hanya karena kita mengenalnya, Dream." sahut Kai.


"Ya, aku tau. Tapi maksudku, kita kasih dia percobaan tinggal dan menikah untuk sekian bulan, misalkan, bagaimana?" tanyaku. Kai berpikir, dahinya berkerut, dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aku akan coba koordinasikan dengan kepala divisi waktu, kalau ini di setujui, pasti akan mendapat tembusan langsung dari ayahmu, setelah itu, keputusan akan keluar. Untuk sementara, dia akan tinggal bersama dengan ibuku" jawab Kai.


"Tinggal bersamaku juga ngga masalah kok Kai." sahutku. Kai menggeleng, "No, jangan berikan dia fasilitas apapun, karena dia benar-benar harus beradaptasi dengan tahun waktu ini." sahut Kai, "Waktu itu, dia melihat kamu dengan fasilitasmu, dengan segala robot dan pelayan melayanimu, makanya dia ingin disini, tapi kalau dia tinggal bersama dengan ibuku, apakah dia masih ingin tinggal dan menetap disini,? Itu point utamaku, Dream." jawabnya. Aku mengangguk setuju.


"Bernie, tolong buatkan laporan hasilnya seperti ini, dan selama belum ada vonis keputusan, maka, Brissia Bryanna, akan menjalani masa kurungan 1x24 jam." sahutku. Bernie memindahkan visual proyektor ke macbox miliknya, dan membawa Bry.


"Kamu kan penyelundup waktu ilegal Bry, dan kami juga menunggu keputusan dari atasan kami." jawabku.


"Atasanmu kan ayahmu. Ayahmu mengenalku kan, Dream?" tanyanya lagi. Aku menggeleng, "Maaf Bry, kamu tidak bisa menawar hukumanmu hanya karena atasanku adalah ayahku sendiri, disini sudah berbeda dari peradaban di jamanmu" sahutku, "Tinggallah disana, aku akan mengunjungimu, begitu pekerjaanku selesai, dan terima kasih karena harusnya hari ini aku santai, tapi berkat kamu, sekarang aku harus membuat laporan ini dan itu, nikmatilah waktumu dan renungkan lagi keinginanmu, Bry" sahutku, dan meminta Bernie untuk segera membawanya ke sel kurungan.


...----------------...


"Aku mau makanan padat, siang ini benar- benar menguras pikiran dan hati" sahutku kepada Kai, saat jam istirahat.


"Tidak ada disini makanan padat, hanya ada aku saat ini yang berwujud benda padat, paling tidak bisa kamu gigit" jawabnya. Aku tersenyum, "Nanti tema novel ini akan berubah, kalau aku memakan kamu. Akan berubah jadi horor kan?" sahutku tertawa. Kai ikut tertawa.

__ADS_1


"Kira-kira bagaimana dengan Bry?" tanyaku lagi. Kai mengangkat bahunya, "Entahlah, semua hasil kita serahkan kepada kepala divisi waktu dan ayahmu, Dream." jawab Kai.


"Apa aku harus berbicara secara informal dengan papa terkait masalah Bry ini?" tanyaku. Kai menggeleng, "Belum perlu, aku tidak menutup kemungkinan untuk kita nantinya akan membantu dia, tapi untuk sementara ini, kita hanya tinggal menunggu keputusan saja dari atas" jawab Kai lagi.


"Kadang aku bingung, aku pernah merasakan apa yang aku pikir itu rasa cinta, sakit memang, tapi aku pikir aku lebih cinta kepadaku diriku sendiri, itu sebabnya aku cepat melupakan V" sahutku.


"Selain itu, antara Bry dengan V, mereka sudah menjalin hubungan ini bertahun-tahun Dream, dan jangan samakan dengan kamu,yang baru berhubungan dalam hitungan bulan. Rasa saling memiliki biasanya akan tumbuh setelah berhubungan bertahun-tahun, wajar Bry seperti ini. Dia tidak menunjukkan kelemahannya itu sudah jauh lebih hebat, kan?" kata Kai menambahkan. Aku mengangguk, benar juga sih apa kata Kai. Entahlah aku bisa merasakan berdebar-debar lagi atau tidak. Aku masih menginginkannya, tapi entahlah. Aku hanya akan mengikuti kata hatiku saja, menunggunya untuk berdebar di saat yang tepat.


......................


**EPILOG


Kai POV**


"Hai Bry" sapaku kepada Bry, yang saat ini sedang berada di dalam sel kurungan.


"Hai Kai, mana Dream?" tanyanya, matanya terus menatapku. Aku berusaha membaca apa yang diinginkannya.


"Dream sedang menghadap kepala divisi waktu, dia akan mempresentasikan laporan tentangmu" jawabku. Bry mengangguk, tidak ada penyesalan di wajahnya, hanya seakan kosong dan tidak ada aura yang memancar seperti terakhir kami bertemu.


"Jadi, apa tujuanmu kesini?" tanyaku lagi. Dia menghela nafas, "Sudah kukatan aku ingin menikah,." katanya. Suaranya mulai bergetar, dan aku melihat perjuangannya untuk menahan runtuhnya airmata.


"Kenapa harus disini?" tanyaku, aku masih belum paham apa maksudnya.


"Untuk melupakan rasa sakitku, Kai. Kamu tau hubunganku dengan V, dan tiba-tiba dia memutuskanku dengan alasan dia ragu dengan perasaannya sendiri. Nonsense menurutku" jawabnya, "Dan aku ingin mencari tau, apa karena Dream?" tanyanya kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku, "Aku bukan pembaca pikiran, Bry. Dream pun sudah melupakannya, dan aku tidak tau bagaimana V terhadap Dream, atau sebaliknya" jawabku, "Belajarlah untuk merelakannya, Bry, aku tau kamu bisa. Dan kami disini sedang memperjuangkanmu, kalau memang kamu yakin ingin menetap disini, maka kami akan membantumu" kataku lagi, mencoba membuatnya mengerti dengan kondisinya. Bry mengangguk, "Makasih yah Kai" sahutnya. Aku mengangguk dan meninggalkannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2