
Sudah lebih dari satu minggu aku bekerja sebagai pengasuh anak paruh waktu, dan aku, saat ini, sedang menagih janjiku.
"Lihat kan, aku bertahan hampir satu bulan." sahutku dengan bangganya.
"Baiklah, baiklah, apa yang kamu mau? Cintaku?" tanya Kai tersenyum menggodaku.
"Bweehh... aku tidak butuh cintamu. Cinta tidak dapat membeli sebuah ponsel. Jadi aku mau ponsel." sahutku tersenyum bangga.
"Untuk apa? Ingat, kita disini hanya sementara. SEMENTARA!" sahut Kai, "ada Lyn, bahkan Lyn seratus kali lipat lebih canggih daripada ponsel jaman ini." kata Kai lagi, menambahkan.
"Ya, supaya aku bisa menghubungi temanku." aku menjawabnya.
"Robbie Stans, yang kamu maksud?" tanya V tajam.
Aku memandangnya, "Aku belum pernah bertemu dengannya selama disana. Aku datang, dia sudah tidak ada, dan aku pulang, dia belum ada juga. Begitu saja setiap hari." jawabku.
Robbie Stans, ayah dari si kembar Jean dan Jeannete, aku belum pernah melihat dia di rumah itu sekalipun. Bahkan ibu dari si kembar pun tak pernah menampakan dirinya. Bagaimana mereka bisa dekat dengan anak mereka? Apa dengan padatnya jadwal anak-anak mereka, akan bisa menggantikan kasih sayang? Aneh sekali cara berpikirnya. Sepenting apakah dia? Sampai untuk mengurus anaknya sendiri pun, tidak ada waktu.
Papaku pun sibuk, bahkan di saat seperti ini pun, papa selalu menyempatkan dirinya untuk menghubungiku. Aku jadi merindukan papa.
"Lyn, hubungkan aku dengan papa." sahutku. Lyn berpendar-pendar, dan drrrt...ddrrrtt...syut...virtual hologram papa mulai muncul.
"Papa, bagaimana kabarmu disana?" tanyaku kepadanya.
"Aku baik..mamamu juga baik. Nah ini mama." katanya, dan aku melihat mamaku baru saja bergabung. Wajahnya nampak sayu, lelah, begitu pula dengan papa.
"Apa kalian baik-baik saja?" aku bertanya khawatir. Mereka mengangguk dan tersenyum.
"Kami harus menjalani sanksi hukuman, dan aku tidak tau berapa lama. Karena kekacauan yang sudah aku buat disini. Jadilah kuat, Dream. Dan kembalilah setelah kamu kuat. Pimpinlah negara ini dengan kekuatanmu, kebijaksanaanmu, dan dengan segenap jiwa ragamu. Besarkan negara ini sama seperti negara ini sudah membesarkanmu." sahut papa.
Apa sudah separah itukah kondisi disana? Aku sedih melihat orang tuaku seperti itu. Setelah berbincang-bincang dengan mereka lebih lama, aku menyudahinya.
"Kai...Kai.!" sahutku. Kai dan V mendekatiku dengan celemek di baju mereka, dan sutil di tangan V.
"Ada apa? Ada apa? Apa yang terjadi?" sahut mereka.
"Kai, aku ingin pulang, sebentar saja." pintaku.
Kai memelukku, "Sabarlah, Dream. Sebentar lagi yah." sahutnya menenangkan.
V membelai punggungku, "Apa kamu ingin berlibur hari ini? Atau kita menghabiskan waktu di rumah saja seharian?" tanya V lembut.
Aku menggeleng, dan menceritakan kepada mereka apa yang papa katakan kepadaku tadi.
"Kudeta. Mereka melakukan kudeta. Seperti sudah kubilang, sistem dianggap gagal, dan pasti terjadi kekacauan yang cukup parah disana." kata Kai menjelaskan.
Aku termangu mendengarkan penjelasan papa. Aku tidak bisa membantunya sama sekali. Hatiku sangat sakit membayangkan orang tuaku berjuang sendirian tanpa ada yang mendukungnya. Dan tak terasa, airmataku menetes perlahan, tuk!
V dan Kai mendekatiku, dan memelukku erat.
__ADS_1
...----------------...
"Dream, jam berapa kamu pulang nanti, biarkan aku menjemputmu." sahut V. Kai yang duduk di sebelah V mengangguk setuju.
"Dan soal ponsel, setelah pulang kerja, kita akan mencarinya bersama." sahut V.
"Benarkah? Terima kasih. Baiklah, aku masuk dulu. Jemput aku sekitar jam 5 sore nanti. Sampai nanti." sahutku, dan melambaikan tangan kepada mereka.
Ponsel baru asik sekali, dipakai setiap hari, harus punya demi gengsi, ponsel baru asik sekali....aku bersenandung sambil memasuki rumah si kembar dengan langkah riang dan gembira.
"Selamat pagi Nancy." sahutku ceria. Nancy tersenyum.
"Bapak Robbie sudah menunggumu Luna." jawabnya.
"Hah?! Apa dia tidak bekerja?" tanyaku kepada Nancy sambil berbisik.
"Dia ingin berbicara denganmu." jawab Nancy tersenyum dan sambil berbisik juga.
"Apa Jean dam Jeannete sakit?" tanyaku. Jantungku berdegup kencang, karena kemarin aku memberikan mereka jelly bean sebagai reward. Dan itu termasuk di larang, tapi kan tidak apa sesekali makan makanan manis agar mereka paham juga, hidup itu tidak selalu pahit, bukan?
Nancy menggeleng dan mengantarkanku kepada Robbie. Dan begitu sampai ruangannya aku kembali bertanya kepada Nancy.
"Apa aku mirip dengan seekor kucing?" tanyaku. Nancy tertawa kecil, "Masuklah." sahutnya.
Saat aku masuk ke dalam ruangan pak Robbie, dia sedang bermain dengan Jean dan Jeannete.
"Luar biasa." jawab mereka.
"Selamat pagi pak Robbie." sahutku kepada pak Robbie. Dia tersenyum dan menganggukan kepalanya kepadaku. Robbie sosok seorang pria yang cukup keras, dan itu terpampang nyata pada garis wajahnya. Memakai kacamata, dan dahinya berkerut. Cukup tampan untuk ukuran seorang ayah dengan dua orang anak. Beruntung sekali istrinya. Tubuhnya kekar, dan nampak jelas karena dia memakai kemeja stretch yang menonjolkan tubuh kekar.
"Duduklah." katanya kepadaku, kemudian dia membuka pintu dan memanggil Nancy, "Nancy, ajak anak-anak keluar dulu sebentar." katanya. Nancy tergopoh-gopoh mendekati ruangan, "Baik pak." sahutnya dan kemudian mengajak Jean dan Jeannete keluar ruangan.
"Namamu Luna?" tanya Robbie kepadaku.
Aku mengangguk, "Iya pak Robbie." jawabku.
"Panggil Robbie saja." katanya lagi, "Kamu sudah sebulan kerja disini, bagaimana kesanmu?" tanya Robbie.
"Tidak ada kesan tertentu yang aku dapatkan. Hanya aku terkadang merasa kasihan kepada anak-anakmu, mereka jarang sekali berinteraksi denganmu atau ibu mereka karena sibuknya kalian bekerja." jawabku.
"Hahahaha... kamu cukup bekerja dan fokus kepada anak-anakku saja, tidak perlu ikut campur sampai sejauh itu nona." jawabnya ketus.
Menyebalkan!
"Maaf, aku hanya menyampaikan isi hatiku. Maaf membuatmu tersinggung." jawabku meminta maaf.
"Jangan pernah meminta maaf kepadaku!" sahutnya galak. Dia memandangku dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku.
"Hari ini aku memintamu untuk menemaniku ke acara jamuan makan perusahaanku. Aku akan bertemu dengan mitra bisnisku. Untuk itu, aku harus membangun citra yang baik bukan? Karena itu aku akan mengajak Jean, Jeannette, dan kamu." katanya.
__ADS_1
"Baik Robbie." sahutku.
Setelah aku berkata demikian, Robbie keluar ruangan, dan aku bisa bernafas lega... fiuh...apa-apaaan orang itu?! Sombong sekali! sahutku dalam hati.
Tak lama, Robbie masuk lagi, sambil membawa sebuah kotak hadiah.
"Pakailah ini!" katanya, dan melemparkan kotak itu ke arahku, "Laura akan membantumu bersiap. Kita akan jalan sekitar satu jam lagi. Bersiaplah." sahut Robbie lagi, kemudian keluar ruangan dan meninggalkanku dalam ketidakjelasan. Begitu Robbie keluar, Laura si pelayan masuk. Dan membantuku memakaikan baju, dan merias wajahku.
30 menit kemudian, Robbie masuk kembali ke ruanganku, dan dia berhenti sejenak untuk melihatku.
"Kemana sepatumu?" tanya Robbie.
"Ini, kupakai." sahutku, dan memperlihatkan sepatu sneakers kesayanganku yang selalu kupakai untuk melintasi waktu. Dan Robbie memandangku dengan tidak percaya, "Ganti sepatumu!" sahutnya.
"Tidak. Ini sepatu kesayanganku." jawabku.
Robbie berteriak memanggil supirnya untuk menyiapkan mobil, "Dave, siapkan mobil sekarang!" teriaknya.
"Aku akan menunjukan kepadamu, seperti apa sepatu itu!! Ayo!!" katanya. Robbie menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam mobil. Dia mengemudikan mobil dengan sangat cepat, seakan terbang. Dan sampailah kami di sebuah butik.
"Bantu dia! 15 menit!" perintah Robbie.
"Baik pak." sahut pegawai butik itu. Dan memaksaku untuk duduk, dan tangan mereka dengan cepat melepas ini, memasang itu, mengusap ini, mengusap itu.
Tidak sampai 15 menit, aku sudah diberikan kepada Robbie lagi, dan aku merasa aku seperti badut.
Robbie memandangku dengan puas.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Apa yang kamu katakan kepada Dream?" tanyaku kepada Mark. Mark menjelaskan kepadaku tentang pembahasan masalahnya kepada Dream. Aku menghelas nafas.
"Seharusnya tidak kamu katakan kepadanya tentang itu, cepat atau lambat dia akan tau kalau dia akan menggantikanmu. Tapi tidak sekarang." aku menjelaskan.
"Aku tau Kai. Aku hanya mempersiapkan dia. Dan katamu, dimana dia bekerja?" tanya Mark.
"Robbie Stans sebagai pengasuh anak paruh waktu." aku menjawabnya.
"Pekerjaan yang bagus. Tolong jaga Dream, cari tau tentang Robbie, dan kabari aku secepatnya." perintah Mark. Aku mengangguk.
"Dream minta ponsel baru, bagaimana dengan itu?" tanyaku lagi.
"Berikanlah, dan awasi pemakaiannya. Sambungkanlah semua ke Lyn dan sistem komunikasi kamu atau V." jawab Mark.
Aku kembali mengangguk.
__ADS_1