Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Our Vacay


__ADS_3

"Baiklah, aku sudah memutuskan, kita akan pergi berlibur berempat lagi...yeaaayyy...." aku berseru kegirangan.


"Luna Dream, bolehkah kami ikut berlibur?" tanya Jean.


V merendahkan posisinya untuk menjawab Jean dan Jeannete, "Tentu tidak.." katanya.


Jean dan Jeannete memandangnya dengan tatapan sangat sedih, "Kenapa?" tanya mereka.


V membisikan sesuatu di telinga mereka, tak lama mereka cekikikan berdua.


"Luna Dream, apa kamu akan membuat seorang bayi disana? Baiklah, kami akan menunggu bayimu disini. Semoga Luna Dream bisa membuat bayi yang cantik." seru Jeannette.


Aku menatap V tidak percaya, anak sekecil mereka di rusak kepolosannya dengan alasan seperti itu, kan bisa berikan alasan mereka belum libur sekolah..


"Bukan seperti itu juga, ah sudahlah, ayo kita tentukan kemana kita akan berlibur." ucapku.


Bry juga bersemangat mendengar bahwa kami akan pergi berlibur. Semenjak hari pernikahanku, dan tragedi tembakan itu, Bry jadi mudah trauma, dan takut dengan suara ledakan. Dan jadi lebih sensitif juga. Usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan. Jadi, kami mengajaknya berlibur sebelum Bry melahirkan. Dokter bilang anaknya perempuan, dia belum memberitahukan kepada Kai, katanya surprise, "Aku ingin memberikan kejutan untuknya. Dia tidak tau jenis kelamin anak kami. Aku sudah menyiapkan segala yang berwarna pink dan ungu, warna kesukaanmu, Dream, tapi Kai tidak mengetahuinya." ujarnya.


Saat itu, aku terharu sekali mendengarnya, dia memakai warna unguku untuk anaknya, aku memeluknya erat, "Bry, aku sayang kamu selamanya." sahutku. Bry tersenyum dan mengusap tanganku.


Kami memutuskan akan berangkat sekitar 10 hari lagi, karena masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan terlebih dahulu.


Masih ada satu orang lagi yang sangat repot, mamaku.


"Dream, mama kembali saja deh ke rumah mama sendiri. Mama tidak enak kepada Voltaire, dia jadi tidak bisa tidur bersamamu." ucap mama saat itu.


"Beneran, mama mau pulang? Nanti sama siapa disana?" aku bertanya kepadanya.


Dan dengan santai, mama menjawab, "Ibu Kai." begitu jawabnya. Dan permintaan itu diucapkan setiap hari sampai akhirnya aku mengabulkan permintaannya, dan mengantar mama kembali ke rumahnya.


Belum ada 3 hari disana, suatu hari ibu Kai tergopoh-gopoh menghubungiku, "Nona Dream, nyonya menangis dan tidak bisa tidur, karena teringat tuan Mark." katanya.


Akhirnya detik itu juga, aku menjemput mama yang terisak-isak. Aku memeluknya, "Maaf yah Dream, mama pikir mama sudah bisa tinggal sendiri disana, tapi ternyata belum bisa." sahut mama.


"Tidak apa-apa, pelan-pelan kita pasti bisa kok mah." seruku, berusaha menghiburnya.


"Nanti mama tidur di kamar tamu saja, jadi kamu bisa tidur bersama Voltaire." kata mama. Aku mengangguk, "Gampang itu, nanti bisa aku atur." sahutku tersenyum.

__ADS_1


Dan malam itu, aku dan V sudah siap bermain cinta-cintaan, pemanasan kami sudah cukup bagus, tinggal play nya, namun tiba-tiba pintu kamarku di ketuk, dan ketika aku mengintipnya, itu mama, "Dream... maaf, boleh tidak mama tidur bersamamu?" tanyanya.


Aku dan V saling berpandangan, "Yah, gagal lagi kita." bisik V kemudian mencium bibirku. V masih sempat membuatkan cokelat panas untuk mama supaya tenang, baru kemudian V masuk ke dalam kamar tamu dengan memberikanku ciuman jauh.


Jadi, ketika aku memutuskan untuk pergi berlibur, mamalah orang yang paling bersemangat menyambut usulku itu, dan mengusulkan beberapa tempat yang layak kami kunjungi.


Kami sudah memesan hotel, akomodasi serta tiket pesawat untuk pergi ke tempat kami berlibur. Para lelaki itu, tidak tau kemana kami akan pergi berlibur, mereka hanya tau, kami akan liburan.


Satu hari sebelum keberangkatan kami, mamaku tiba-tiba menjadi sangat sensitif, "Dream, berapa lama kamu akan pergi? Mama tidak mau ditinggal lama-lama yah, Dream." ucapnya dengan nada agak merengek. Akhirnya satu hari itu, aku menghabiskan waktu bersamanya. Berbelanja bersama, berjalan-jalan, bermain bersama Jean dan Jeannete. Segalanya kami lakukan di hari itu.


Dan saat hari keberangkatan, mama memelukku erat sekali, "Harus pergi hari ini yah? Mama pikir mama tidak akan kesepian, ternyata mama sudah kesepian, padahal kamu belum jalan." isak tangis mama membuat keraguanku muncul.


"Hanya lima hari kok, mah. Nanti Dream akan sering-sering menghubungi mama." jawabku, dan membalas pelukannya.


Aku tau ini berat sekali untuk mama walaupun hanya pergi berlibur, dalam kondisi papaku sudah tidak ada, mama benar-benar masih sulit beradaptasi dengan kesendiriannya. Dan aku memaklumi itu, mama terbiasa ada papa, dan tiba-tiba papa hilang, dan mama di paksa untuk bertahan sendiri.


Dengan isak tangis dan drama mau ikut dari Jean dan Jeannete yang bergabung dalam drama tangis mama, akhirnya kami berhasil jalan juga.


Kami melintasi waktu, dan naik pesawat untuk tiba ke tempat tujuan kami.


"Ah, akhirnya sampai juga." ujarku sambil berguling-guling di atas kasur.


Oh, iya liburan kali ini V meminta kamar terpisah dengan Kai dan Bryanna. Dia ingin menuntaskan bulan madu kami yang tertunda lama.


"Pokoknya selama 3 hari ke depan, aku dan Dream tidak akan keluar kamar atau pergi kemana pun." katanya saat itu dengan bersemangat.


Kai memandangnya dengan ngeri, "Hati-hati tulangmu keropos V." balas Kai.


Jadi, begitulah, pada akhirnya kamar kami terpisah. Dan benar saja, V sudah memulai aksinya. Saat ini kami sedang saling berbalas ciuman, tangan V mulai meracau kemana-mana.


"Tunggu V...kita lanjutkan lima belas menit lagi, aku butuh kesadaranku terkumpul dulu." sahutku. Karena kepalamu masih pusing karena pesawat itu.


"Baiklah." kata V, kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu geser kamar kami yang langsung berhadapan dengan pantai.


Aku menyusul V yang berdiri di balkon, dan menghirup udara pantai. Udara pantai ini sanggup menghilangkan pusingku.


Aku menyandarkan kepalaku ke pundak V, "Nyaman sekali disini, sepanjang mata memandang hanya ada pantai. Aku ingin berenang." sahutku.

__ADS_1


"Kita punya private pool, Dream. Tidak perlu repot untuk ke kolam renang." sahutnya, "mau berenang sekarang?" tanya V lagi.


Aku mengangguk, dan dalam hitungan menit, kami sudah bermain air di kolam renang. V mendekatiku, dan kali ini dia menciumku perlahan. Aku membalas ciumannya lagi, dan karena saat ini pusing sudah hilang jadi tidak ada interupsi apa pun.


Karena disini tidak bisa di ceritakan detail bagaimana Dream dan V bermain, jadi dengan amat sangat berat hati kita skip bagian ini 🤭🤭


Kami bertemu Kai dan Bryanna hanya saat makan malam. Selesai makan, Bry mengajakku bermain di pinggir pantai. V mengijinkanku untuk menemani Bry, "Ingat, Dream. Jangan lama-lama, karena kita harus menuntaskan tadi siang." sahut V sombong lebih kepada Kai.


Kai tertawa, "Oh, jadi sudah? Selamat V. Akhirnya kamu berhasil melakukan cinta-cintaan secara resmi. Pantas saja ada bunyi dak dak duk duk dari kamarmu..hahahaha." sahutnya, "tapi, kita baru datang, masih tersisa banyak hari, nikmatilah daerah sini, jangan hanya di kamar." Kai menambahkan dengan geli.


V tersenyum, "Aku tau itu, maka itu aku turun ke bawah untuk makan bersamamu." jawab V.


"Aku dan Bry kesana dulu yah, kalau sudah mau kembali, susul kami disana." sahutku.


...----------------...


EPILOG


V POV


Siang itu, di dalam kolam renang, aku sedang menikmati waktu bersama Dream istriku di dalam kolam renang, karena dia berkata ingin berenang jadi aku mengajaknya.


"Dream, kenapa kalung Josh kamu pakai?" tanyaku, yang baru sadar bahwa dia memakai kalung pemberian Josh.


Dream melihat ke arah kalung itu, dan memegang liontin jam pasirnya, "Entahlah, menurut Josh ini dari papa, jadi aku memakainya. Aku masih merindukan papa, dan saat aku memakainya aku merasa papa ada di dekatku." jawab Dream.


"Bagaimana pendapatmu tentang Josh?" tanyaku lagi kepadanya.


Dream mengangkat bahunya, "Entahlah. Aku pikir semua perkataannya jujur, maksudku dia tidak mengarang semua itu." jawab Dream.


Aku mengangguk, "Semoga kita tidak perlu memakai kalung itu yah Dream. Rasanya akan aneh sekali jika kita memutar kembali waktu hanya untuk memperbaiki sesuatu, kan?" tanyaku,


"Benar. Tapi aku akan memakainya jika kita benar-benar dalam kondisi terdesak, dan tidak ada waktu untuk memperbaikinya selain memutar kembali waktu. Aku pikir itulah fungsi jam pasir ini. Dan aku masih ingat, hanya 3 kali putaran." jawabnya.


Aku memeluknya dan mengecup ujung kepalanya, dan berharap dalam hati, semoga kami tidak pernah memakai jam pasir itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2