Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
IMYSM


__ADS_3

*Tiiit....


Tiiiit*...


Suara mesin elektrikardiogram menemaniku dan V yang belum terbangun di ruangan ini.


"Kapan kamu bangunnya sih V? Kamu tidak bosan tidur terus, nanti gendut loh." sahutku lirih.


Aku menatap jam yang berdetak, rasanya sudah lama sekali saat terakhir V mengecup keningku di hari pernikahan Kai. Kami juga belum sempat melintasi waktu untuk makan malam bersama. Tak terasa, airmataku menetes kembali.


"V, kumohon bangunlah." isakku, "kita belum sempat makan malam bersama...hiks...ayo bangun V...hiks...aku merindukanmu....hiks...aku rindu kebodohanmu...hiks...aku rindu canda tawamu... hiks...aku bahkan rindu keisenganmu, ayo V...hiks...bangunlah.. " aku mengusap airmataku dan aku membaringkan kepalaku disisi V, aku tertidur sambil memegang tangannya.


Aku tidak tau berapa lama aku tertidur, tapi ada suara yang membangunkanku,


"Dream...Dream, bangunlah." ucapnya lembut.


Aku memicingkan mataku untuk melihat lebih jelas.


"Oh, mama. Sedang apa mama disini?" aku bertanya kepada mama.


"Papamu bilang, kamu harus tetap bekerja. Kamu sudah absen selama tiga hari. Biarkan aku bergantian yang menjaga V. Untuk sementara Kai yang akan menggantikan posisi V." sahut mama.


"Tidak bisakah Kai menggantikanku?" tanyaku.


Mamaku menggeleng, dan tak lama, papa masuk ke dalam menemuiku juga.


"Bangkitlah Dream. Hidupmu harus terus berjalan walaupun V sedang dalam kondisi seperti ini. Banyak yang menunggu konfirmasi darimu atas kejadian itu." sahut papa.


Aku menengok, memandang V, kemudian aku mengecup keningnya, dan berbisik, "Semoga kamu bangun hari ini yah V. Aku harus pergi dulu sebentar." sahutku, berpamitan kepadanya.


Orangtuaku memandangku, dan memelukku, "Kuat yah sayang." sahut mereka.


Aku bergegas pergi, Bry sudah menjemputku, "Aku berniat menjenguk V dulu." katanya, "Tunggu disini, aku akan memgantarmu." tambah Bry lagi.


Sekitar 20 menit, Bry sudah keluar lagi, sepanjang perjalanan, Bry mengajakku berbicara, dengan maksud supaya aku tidak terlalu memikirkan V.


"Setelah ini kamu akan bertemu Kai untuk memgurus jadwalmu hari ini. Aku sudah berpesan kepadanya untuk tidak memforsir pekerjaanmu dahulu." jelas Bry kepadaku.


Aku mengangguk, "Terimakasih Bry."


Kai segera menemuiku ketika aku turun dari mobil, "Aku sudah menyiapkan konfrensi pers. Kamu butuh catatan atau apa? Katakan kepadaku, apa yang kamu butuhkan ya Dream. Dream?" tanya Kai.

__ADS_1


Aku menengok ke arahnya, "Oh, iya. Aku tidak membutuhkan apa pun, Kai." jawabku.


Kai dan Bry saling berpandangan, "Tidak dengan catatan juga?" tanya Kai.


"Tidak, aku tidak membutuhkan itu juga."


Kai menyiapkan konfrensi pers secara langsung maupun virtual.


"Lima belas menit lagi kita akan mulai, Dream. Kamu baik-baik saja?" tanya Kai.


Aku mengangguk.


"Aku akan mengulur waktu kalau kamu membutuhkan waktu tambahan." usul Kai.


Aku menggeleng, "Tidak perlu Kai. Lebih cepat lebih baik, kan?" sahutku.


15 minutes Later


"Saya Dreamy Eve, siang ini saya akan mengkonfirmasi apa yang terjadi empat hari yang lalu, di tempat kediaman saya. Pertama, tidak ada baku tembak, yang adalah hanyalah penembakan yang dilakukan untuk melindungi saya yang hampir di culik oleh seorang penyelundup waktu, bernama Robbie Stans." sahutku.


"Siapa itu Robbie Stans" tanya salah satu robot pengganti.


"Apa yang terjadi kepada Robbie?"


Aku melihat Kai mengambil alih, aku memberhentikan langkahnya, dan mengangguk ke arahnya.


"Seperti yang kalian dengar, aku sering bepergian ke luar tahun waktu, dengan beberapa project yang memang harus dilaksanakan. Dan disanalah, aku bertemu Robbie Stans. Saya dan dia pernah menjalin suatu hubungan spesial, dan tentu saja hal ini juga di ketahui oleh Kai Johnson dan istrinya, Bryanna, sebagai kepala dan petinggi parlemen. Robbie...." aku menarik nafas, dan memejamkan mataku, "Robbie mempunyai konektor yang terhubung dengan tahun waktu ini atau singkatnya dia akan bisa selalu menghubungiku dimana pun dan di tahun waktu manapun aku berada..."


"Darimana dia mendapatkan konektor tersebut?"


"Hubungan spesial seperti apa? Bisa anda jelaskan?"


"Apa ini ada hubungannya dengan guncangan politik yang terjadi setahun yang lalu?"


Rentetan pertanyaan kembali menghujaniku.


"Baik, akan dijawab satu persatu." seru Kai, dan mengaktifkan mode mute pada semua unit robot yang hadir saat itu. Kemudian, Kai mengangguk kepadaku, dan memintaku untuk melanjutkan.


"Robbie mendapatkannya dariku, hubungan spesial yang kami jalani adalah hubungan lebih dari seorang teman, hubungan antara pria dan wanita dewasa. Mark Fransiskus pun mengetahui hubungan saya dan Robbie." jawabku, kemudian aku kembali melanjutkan.


"Saat ini yang bersangkutan, sudah kami kembalik ke tahun waktu tempat dia berasal dengan sanksi, dan itu sudah di laksanakan olehnya, dengan penuh kesadaran." sahutku.

__ADS_1


Bry berdeham, dan menatap ke arahku. Kai memandangnya, dan merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh yang telah terjadi.


"Dan kami memohon maaf atas segala keributan yang telah kami timbulkan, dan kami juga memohon doa untuk keselamatan dari rekan kami, Voltaire Brian. Terimakasih." sahutku menutup konfrensi pers hari itu. Kemudian Kai memgambil alih dari situ, dan kembali mengaktifkan mode unmute pada semua unit robot yang hadir, dan menutup secara resmi konfrensi pers.


...----------------...


Kai menarik tanganku, "Apa yang kamu lakukan kepada Robbie? Apa sanksi yang kamu berikan?" tanya Kai.


Bry menatapku, "Kai, biarkan dia menjelaskan." serunya.


Kai melepaskanku, "Apa yang kamu lakukan terhadapnya?"


Aku memandanya, "Aku memasang chip di hipocampusnya, dan aku menghilangkan ingatannya tentangku." aku menjawabnya.


Kai tampak tidak percaya dengan apa yang aku lakukan, "Demi Tuhan, Dream. Itu suatu kejahatan!" sahutnya.


"Aku tau. Aku hanya tidak mau dia menjadi Robbie yang aneh, Robbie yang tidak aku kenal. Dan aku ingin mengambil anak-anaknya." ucapku menjelaskan.


"Apa??!! Si kembar itu maksudmu? Apa kamu gila, Dream?!" tukas Kai.


"Aku tidak gila! Tapi Robbie tidak pantas menjadi ayahnya. Mereka tidak mendapat perhatian yang cukup dari Robbie. Kamu memahami aku melebihi kedua orangtuaku memahamiku, Kai. Bagaimana aku ketika aku sudah mencintainya sesuatu atau seseorang. Mengertilah, Kai." sahutku.


Kai tampak mencerna apa yang baru saja aku katakan, dan tampak tidak yakin dengan keputusanku, "Aku tidak yakin, Dream, apakah kamu bisa mengurus mereka." tanya Kai meragu.


Aku mengangguk, meyakinkan diriku juga Kai atas keputusan yang sudah aku ambil, "Aku bisa. Aku tidak akan sendiri, kan? Ada kamu, ada Bry, dan tentu saja akan ada V juga." jawabku. Dan ketika menyebut nama V, hatiku sangat sakit, aku berharap sekali dia segera sadar. Airmataku kembali menetes, Kai dan Bry memelukku.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


"Kenapa kamu tidak kunjung bangun, V?" sahutku menatap V yang dipasangi selang untuk membantunya tetap hidup.


Aku memandangnya kosong, "V, bangunlah, temani Dream. Aku merestui kalian, menikahlah secepatnya, V. Tapi aku kesal juga kepadanya, kenapa kamu harus tertembak dulu, baru dia membuka hatinya untukmu. V yang malang. Ayo...bangunlah V!" seruku kepadanya.


Tak lama Dream masuk ke ruangan intensif ini, "Bagaimana Kai? Sudah ada perkembangankah dari V?" tanya Dream.


Aku menggeleng. Dan aku paling tidak suka melihat Dream sedih. Mungkin karena aku biasa menikmati senyum dan tawanya, jadi aku tidak terbiasa melihat tatapan sedihnya, itu membuatku ingin sekali memeluknya, jadi kulakukan itu, "Dia pasti akan segera bangun, Dream. Bersabarlah." seruku seraya memeluknya.


Dan benar saja, aku merasakan sesuatu yang hangat membasahi dadaku, dia menangis, sudah kuduga itu. Aku masih memeluknya, berharap bisa mengambil semua sedih dan luka-lukanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2