Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Off My Face


__ADS_3

Minggu ini merupakan minggu kunjungan aku dan Jean Jeannette ke rumah Robbie, bagaimanapun janji adalah janji, harus kutepati.


"Luna Dream, kemana kita hari ini, kamu memintaku untuk bersiap?" tanya Jeannette.


"Kita akan ke tempat papa Robbie dan aku akan ikut bersama kalian." jawabku.


Sorakan riang menjadi jawabanku, aku tersenyum dan meninggalkan mereka untuk bersiap-siap.


Mereka tetap memanggilku, Luna Dream tanpa panggilan mama atau apa pun itu. Karena mereka mempunyai seseorang yang bisa mereka panggil mama, dan punya seseorang juga yang dapat mereka panggil dengan sebutan papa, jadi aku mempersilahkan mereka untuk memanggilku hanya dengan Luna Dream.


"Haruskah aku ikut?" tanya V.


Aku menggeleng, "Tidak perlu, aku bisa sendiri kok." jawabku, dan mengecup bibirnya.


Kami bergegas memasuki lorong waktu, masih dengan penjagaan yang super ketat. Kali ini Jean dan Jeannete sudah terbiasa melihat mereka bergerombol seperti itu, sehingga mereka tidak terkejut.


Sesampainya di depan rumah Robbie, seperti biasa Robbie sudah menunggu kami di balik pagar halaman depan rumahnya.


"Apa kabar Luna? Aku tidak terbiasa memanggilmu Dream." katanya.


"Tidak masalah." sahutku.


"Aku akan mengajak kalian barbequing disini. Teman-teman Jean dan Jeannete akan datang juga. Dan aku sudah menyiapkan baju untukmu, kamu selalu memakai baju putih, dan sekarang, lihat Jean dan Jeannete, mereka berpakaian putih juga sama sepertimu." ucap Robbie.


Dia tidak tau bahwa kami melintasi waktu dari masa depan ke masa lampau, dan dari sejak bertemu Robbie, dia selalu membelikanku baju, karena dia tidak suka dengan baju masa depan yang kukenakan.


"Baiklah, kamu silahkan atur saja." sahutku. Robbie melihat sepintas cincin yang kupakai, dan dia menangkap tangan pemakai cincinku.


"Kamu sudah bertunangan, Luna?" tanya Robbie, dan memperhatikan cincin yang melingkar di jari tengah kiriku.


"Oh, iya. Aku sudah bertunangan, dengan Voltaire. Kamu tau dia kan?" jawabku.


Robbie mengangguk lemas, "Ya, aku tau dia. Dia memukulku kemarin, kalau dia tunanganmu, kenapa dia harus begitu dekat dengan notaris cantik itu?" protes Robbie.


"Itu karena notaris itu saudaranya. Dan mereka sudah lama tidak bertemu. Aku juga sempat salah paham dengannya." sahutku.


"Benarkah? Mereka tidak seperti seorang saudara." tukas Robbie.


"Ya tapi seperti itu kenyataannya." jawabku.


Acara barbeque yang dibuat Robbie cukup meriah, banyak teman Jean dan Jeannete yang datang. Begitu pula dengan rekan Robbie.


Tapi ada yang aneh disini, dia mengenalkanku kepada tamu pertama yang datang sebagai teman dekatnya, namun lama kelamaan, dia mengenalkanku sebagai tunangannya, dan memperlihatkan cincin yang aku pakai.


"Hei, apa maksudmu seperti itu?" tanyaku kepadanya.


"Aku menginginkanmu menjadi seseorang di hidupku lagi. Dan aku tidak ingin teman-temanku mengejekki karena aku belum mempunyai pasangan." jawab Robbie.


"Ya bukan aku juga dong." sahutku.

__ADS_1


"Hanya ada kamu." bisik Robbie di telingaku.


Aku pergi dari sisinya, dan dia mengikutiku, "Luna, tunggu aku!" panggilnya.


...----------------...


Selesai dari acara Robbie, aku kembali ke tahun waktuku. Jean dan Jeannete tentu saja mengikutiku, mereka tidak mau menginap disana sendirian kata mereka.


"Dream....ayo kita berlibur." ucap Bry begitu kami sampai di rumahku.


"Benarkah? Itu sudah di ajukan?" tanyaku.


Bry mengangguk, "Tapi belum di setujui, berharaplah itu akan di setujui. Aku ingin ke pantai. Susah sekali disini mencari pantai." katanya, "Eh, tapi tunggu dulu. Itu kamu yang harus bertanya tangan. Kan kamu Dream sekarang pimpinannya. Jadi di setujui atau tidaknya, itu tergantung kamu." sahut Bry lagi.


"Ah maafkan aku, aku lupa sama sekali kalau aku sekarang menjabat sebagai perdana mentri, dan semua keputusan ada di tanganku, bagaimana ini, Bry?" sahutku lupa, "Dan benar sekali, disini tidak pantai. Kita harus melintasi waktu. Aku akan mencari dimana pantai yang indah." tambahku bersemangat.


Bry menggandeng tanganku, dan berjalan bersamaku, "Bagaimana dengan dua makhluk ini?" tanya Bry.


"Tentu saja aku akan mengajaknya bersama kita." kataku.


"Kita tidak akan bisa berdua-duaan kalau seperti itu Dream." sahut Bry.


"Ah, benar juga yah. Aku akan titipkan mereka pada Robbie, atau akan meminjam Nancy untuk ikut bersama kami." usulku.


"Ide bagus, Dream." sahut Bry setuju dengan usulku.


"Bisakah aku menitipkan Jean dan Jeannete pekan ini? Karena kami akan ada acara di hari itu?" tanyaku kepada Robbie.


"Acara? Siapa yang kamu maksud dengan kami disini?" tanyanya detail.


"Aku, Voltaire, Bryanna dan Kai." jawabku.


"Kenapa tidak ada namaku disana?" tanyanya lagi sambil bersungut-sungut.


"Eh, oh, bagaimana maksudmu?" aku bertanya lagi.


"Kenapa aku tidak diajak bersama kalian? Aku cukup pandai, aku berbakat, pintar, tampan, dan cukup kaya. Aku pasti akan berguna sekali disana." jawabnya.


"Astaga! Kamu bahkan bukan bagian dari keluargaku, Rob." sahutku sambil menggelengkan kepalaku. Mengerikan sekali kalau dia ikut, Bry dan Kai bisa berduaan dengan damai. Sedangkan aku, bisa kubayangkan aku akan menyaksikan pertarungan tinju sengit sepanjang malam. Aku bergidik ngeri membayangkan.


"Ajaklah aku bersama kalian." sahutnya memaksa.


"Maafkan aku, tapi tidak. Kalau kamu tidak mau membantuku, aku hanya akan meminjam Nancy." balasku, dan aku mencari Nancy di dalam.


Aku bertanya kepadanya, dan dia mau ikut bersama kami. Syukurlah. Tinggal makhluk besar satu ini, yang akan sulit sekali di bujuk.


"Aku akan membawa Nancy bersama kami. Permisi. Nanti malam, aku akan menjemput Jean dan Jeannete." sahutku.


Robbie berteriak, "Kenapa denganku, Luna?!" tanyanya.

__ADS_1


"Aku tidak menyukaimu, Rob. Dan aneh sekali jika kami mengajakmu." sahutku.


"Cobalah!" pintanya mendesak.


"Tidak bisa kecuali kalau kamu membawa pasangan." sahutku menantangnya.


Dia memberengut kesal, dan menggerutu tidak jelas. Kemudia aku berpamitan kepada Jean dan Jeannete dan meminta mereka untuk menikmati waktu mereka bersama Robbie.


Karena aku akan menandatangani permohonan untuk liburan, jadi aku bergegas melintasi waktu lagi, dan begitu sampai, aku langsung meresmikannya.


"Dream... Terimakasih. Akhirnya, kita liburan juga." sahut Bry.


Aku mengangguk senang, "Iya, Bry. Ayo kita cari pantai dan penginapannya. Jadi kita bisa menyiapkan semua yang kita butuhkan."


Bry setuju denganku, "Benar sekali, kita tidak bisa mengharapkan pria-pria itu untuk mengepack barang, kan?" sahutnya.


Aku kembali mengangguk, menyetujui pendapatnya. Kami pun segera mencari pantai di tahun waktu kami, dan berharap kami menemukannya.


...----------------...


EPILOG


V POV


"Wanita-wanita itu menakutkan." sahutku. Kai mengangguk, setengah bergidik.


"Benar sekali, sepanjang siang mereka berbelanja, mencari penginapan, cekakak-cekikik tidak jelas." sahut Kai.


"Yang lebih mengerikan lagi, mereka bahkan membahas berapa kali ingin melakukan itu, maksudku, bagaimana kalau waktu itu meleset kan?" tanya Kai lagi.


"Benarkah?? Aku belum tau soal ini! Mereka gila." sahutku.


Dan benar saja, tiba-tiba mereka datang dengan memakai bikini untuk di perlihatkan kepada kami.


Dream menggandeng tanganku, dan memintaku untuk menamaninya mencari apa yang aku butuhkan.


"Kapan acara liburan ini?" tanyaku.


"Oh, sebentar lagi, V. Apa kamu tidak tau?" tanya Dream terkejut.


Aku menggeleng, "Memangnya kapan?" tanyaku lagi.


"Pertengahan bulan depan. Karena aku masih harus datang ke beberapa rapat dan acara kenegaraan, sehingga baru ada kosong pertengahan bulan. Maka itu, ayo kita harus mengumpulkan apa yang akan kita bawa kesana nanti, V!" perintah Dream


"Ya Tuhan, Dream. Itu masih lebih dari sebulan lagi...ckckckck." sahutku tak habis pikir.


"Itu sebentar lagi. Hari akan berlalu dengan cepat, ya kan?" sahutnya riang dan tidak mempedulikan pendapatku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2