
"Papa, bisakah papa mendengarku dengan jelas?" tanyaku di suatu pagi, saat aku melakukan panggilan kepada papaku. Visual proyektor papa, nampak tersendat-sendat, "papa aku mau tinggal disini lebih lama lagi, tutup saja pintu waktunya" sahutku setengah berteriak. "Temui papa di lorong pusaran waktu" katanya. Aku mengangguk dan mengakhiri panggilanku, payah sekali, pikirku kesal.
"Selamat pagi Voltaire kesayangan aku" sapaku kepada V dengan ceria. V yang sedang menyesap kopi, tiba-tiba tersedak dan menyemburkan kopi yang baru saja di sesapnya, aku membantu menepuk lembut punggungnya.
"Pagi, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya heran. Aku mengangguk, "Aku sehat kok, oh iya, aku mau menemui papa di lorong pusaran waktu pagi ini, dan kemana Bry?" tanyaku kepada V. Aku memutar-mutarkan kepalaku, celingukan, demi mencarinya.
"Bry sudah pulang pagi-pagi sekali, dia harus bekerja. Berbeda sekali dengan seorang anak kecil yang bangunnya siang" katanya secara terang-terangan menyindirku. "Aku juga bekerja" jawabku.
"Kenapa papa ingin menemuimu?" tanya V. Aku memandangnya namun V mengalihkan pandangannya dariku, "Aku akan menetap disini sampai batas waktu yang hanya aku sendiri yang dapat menentukannya" jawabku tersenyum. V memandangku, "Aku pikir kamu akan pulang " katanya. Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak jadi, karena Bry-mu itu mengajakku bersaing, dan aku mengiyakan, walaupun aku kurang paham apa maksudnya bersaing disini" jawabku. V memandangku lagi, "Bersaing untuk apa?" tanyanya, sambil menyuap sesendok besar omelet.
"Tentu saja bersaing untuk mendapatkan cinta kamu" jawabku santai. V kembali tersedak, dia mengeluarkan sesuap telur yang baru saja disuapnya. "Aku rasa aku tidak akan berumur panjang dengan adanya kamu, dan sekarang Bry, biasanya dia sehat" sahutnya, dan bergegas berdiri untuk bersiap-siap kerja, "Oh, aku akan menemanimu bertemu papa, tunggu aku" sahutnya lagi.
Yesh, pagi ini aku mencetak score lebih dulu daripada Bry itu. Pagiku, cerahku, matahari bersinar, ku menyambut cintamu, di hatiku, senandungku dalam hati.
...----------------...
Aku dan V sudah tiba di lorong waktu, dan kami sudah memberi kabar kepada satuan kepolisian waktu untuk menjemput kami. Tidak lama, muncullah 2 orang pria berbadan tegap, memakai seragam hijau kecoklatan, menyambut kami, "Silahkan" sahutnya, dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam pusaran waktu. Dan disana, papa mamaku sudah menunggu kami. Aku berlari memeluknya, "Aku kangen kalian, ah tapi aku mau menetap disini untuk sementara" sahutku.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya mama.
"Aku ingin belajar disini, eh tapi biasanya pusaran ini berputar-putar?" tanyaku.
"Polisi waktu. Mereka memberhentikan waktu untuk sementara, baik itu di tahun waktu masa depan dan tahun waktu masa kini" jelas papa, "Maka dari itu, papa tidak bisa berlama-lama, kalau memang itu keputusanmu, maka pintu waktu akan ditutup. Dan jika, kamu ingin kembali, lakukanlah transaksi dengan memakai boneka dari Kai, itu adalah alat pendeteksi juga, setelah itu carilah lorong di dekatmu dimanapun kamu berada, pintu waktu akan terbuka selama 2 menit" kata papa menjelaskan. Aku dan V mengangguk, "Voltaire, tolong jaga Dream, jaga dia baik-baik" sambung papa lagi. V kembali mengangguk. Setelah berpamitan, kami keluar dari lorong dan waktu pun kembali berjalan.
"Aku akan bekerja, apa kamu hari ini akan bekerja lagi?" tanya V. Aku mengiyakan dengan mantap, kapan lagi aku bisa melihat pesona V saat memasak. Seksi sekali saat dia memotong ayam, membelah ikan, membumbuinya, atau saat dia mengaduk panci-panci itu.. Ah, suamiku memang tampan, sahutku dalam hati, dan tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. V memperhatikanku, "Dream, kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanyanya. Aku segera tersadar, "Tentu saja aku baik-baik saja saat ini, malah kelewat baik" sahutku. Aku melihat Chaim saat kami sudah dekat restoran tempat kami bekerja, aku melambaikan tanganku, "Chaim!!" teriakku kepada Chaim, dan dia membalas lambaian tangan dariku, "Hai Dream, hai V" sapanya. V memandangku, "Sejak kapan kamu mengenal Chaim?" tanyanya.
"Ya, sejak aku berkenalan dengannya dong" sahutku, dan dengan ceria, aku menyusul Chaim.
"Jadi aku harus memakai kostum-kostum ini saat malam hari?" tanyaku. Chaim mengangguk.
"Tapi darimana aku bisa mendapatkannya?" tanyaku lagi.
"Pilihlah 1 atau 2 kostum, aku akan membelikanmu" jawab Chaim. Mataku berbinar-binar, "Benarkah?" tanyaku. Chaim kembali mengangguk. "Asssiiikkk! Terimakasih Chaim" sahutku.
...----------------...
__ADS_1
Beberapa hari berikutnya, Chaim memberikanku sebuah kotak, dan itu adalah kostum yang Chaim belikan untukku.
"Pakailah malam ini, dan lihatlah reaksi V" katanya menasihatiku.
"Apa dengan memakai ini sudah pasti aku dan V akan bermain cinta-cintaan?" tanyaku. Chaim mengangguk, "Tentu saja " jawabnya sambil mengacungkan ibu jarinya.
Malam itu, selesai aku dan V makan malam, aku masuk ke dalam kamarku, dan mencoba memakai baju berdosa ini , agak susah memakainya karena ada banyak tali di sisi kanan dan kiri baju, begitu juga di bagian leher belakang, apakah aku hanya mengikatnya begini saja, dan bagaimana kalau terlepas, aku berpikir, tapi, justru bagus kan? hehehehe...membayangkannya saja sudah membuatku meleleh, kamu sungguh berdosa, Dream. Selesai memakai kostum itu, aku membuka pintu kamarku, tapi segera kututup kembali, apa yang harus kukatakan kepada V nanti? Ayo, berpikirlah Dream. Aku menghela dan menghembuskan nafasku panjang-panjang, baiklah! Aku berjalan keluar, dan kuselimuti tubuhku saat berjalan mendekati V, dan aku duduk di sebelahnya. V melihatku keheranan dan tertawa, "Hei Dream, kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanyanya masih tertawa, "kenapa denganmu? Dan kenapa kamu keluar dengan selimut di tubuhmu?" tanyanya lagi. Namun aku tetap berusaha seolah tidak ada yang aneh. Tapi ini panas sekali, aku terlalu malu untuk menunjukkan kepada V baju berdosa ini. V menyadari bahwa aku kepanasan, dan dia membuka selimut yang menyelimuti tubuhku, aku menahannya, "Tidak perlu dibuka V, aku bisa membukanya di kamar" sahutku panik, dan saat aku bergegas berjalan ke kamarku, aku tersandung selimut yang sebagian sudah di lepas oleh V. Sisa selimut yang melilit tubuhku pun terjatuh, lepas semua harapanku malam ini untuk bermain cinta-cintaan bersama V. Melihat itu semua, V tertawa terpingkal-pingkal, "Apa yang kamu pakai Dream?" tanyanya sambil tertawa, "Astaga, apa yang akan kamu lakukan dengan baju ini?" tanyanya lagi masih sambil tertawa. Aku terlalu malu untuk melihat wajahnya, aku hanya bisa memberengutkan wajahku, namun V membantuku berdiri. Ketika aku sudah berdiri, V membantuku untuk melepas semua selimut yang melilitku, masih sambil tertawa.
"Lain kali jangan terlalu dekat dengan Chaim, Chaim itu otaknya kotor." sahutnya. Aku menatapnya kesal! Dan segera berbalik ke kamar. Sesampainya di kamar, aku mengutuki Chaim. Chaim bodoh, bukannya sukses bermain cinta-cintaan dengan V, aku malah mempermalukan diriku sendiri di depannya! Ah aku kesal!
...----------------...
**EPILOG
V POV**
Seharian ini, entah apa yang terjadi dengan Dream. Tapi Dream cukup menghiburku hari ini. Seperti malam ini, aku tidak tahu apa yang dia rencanakan, dengan memakai lingerie merah dan terbalutkan selimut. Aku merapikan selimut yang ditinggalkan Dream di lantai, dan segera mengembalikannya kepada Dream. Aku mengetuk pintu kamarnya, "Dream, apakah kamu sudah tidur?" tanyaku, namun tak ada jawaban darinya. Apa aku harus masuk saja? Tapi tidak, aku menahan diriku sendiri. Aku mengetuk pintu kamar Dream lagi, tetap tidak ada jawaban. Akhirnya aku memberanikan diriku untuk masuk ke kamarnya, dan ternyata Dream sudah tertidur, masih dengan memakai kostum aneh itu. Alih-alih menyelimutinya, aku malah memandanginya, ada rasa ingin menggodanya malam ini, tapi kubuang jauh-jauh pikiranku itu. Aku bergegas menyelimutinya, dan aku mengecup keningnya tanpa sadar. Entah kapan, aku memandang Dream bukan lagi seorang anak kecil.
__ADS_1