Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
The Complicated Robbie


__ADS_3

"Mau tidak mau, kamu harus menikah Dream, kalau kamu benar-benar berniat mengadopsi mereka." seru Kai kepadaku.


"Kamu tau, Kai. Alasan dia berbuat seperti itu hanya karena saham atas nama Jean dan Jeannete tidak bisa dipindah tangankan." sahutku panas, "Berapa harga saham yang Jean dan Jeannete miliki? Aku akan menggantinya." usulku.


"Mereka mempunyai masing-masing 6% saham di perusahaan Robbie, dan karena perusahaan Robbie perusahaan yang berkembang dengan pesat, maka nilai bunganya cukup tinggi, harusnya ada seseorang atau ahli hukum yang rutin datang pada saat Rapat Umum Pemegang Saham, tapi siapa dia? Kita harus mencari orang ini dulu, Dream." ucap Kai.


Bry ikut menimpali, "itu akan sulit, karena saham ini sudah di atas namakan, hanya orang yang namanya tertulis di saham tersebut yang bisa datang. Posisi Jean dan Jeannete bukan sebagai ahli waris, tapi pemilik saham." sahutnya, "dan dari data yang aku pelajari saham Jean dan Jeannete, saham yang cukup kuat. Andai perusahaan Robbie bangkrut, nilai sahamnya akan tetap tinggi. Mungkin itu warisan yang diberikan kepada orangtua kandung mereka untuk mereka besar nanti. Bukan uang pengganti pengasuhan atas mereka." sahut Bry lagi.


Aku mengangguk, "Dengan kata lain, Robbie secara tidak langsung, meminta kita untuk memberi tahunya siapa sebenarnya orang di balik nama saham Jean dan Jeannete ini. Begitu kan? Dan begitu tau nilai dan jenis saham mereka, maka Robbie meminta untuk di pindah tangankan." sahutku.


"Kurang lebih. Aku akan membantumu, dulu aku bekerja di bidang ini walaupun tidak bersentuhan langsung, tapi aku akan mencoba semampuku." seru Bry.


Aku menatapnya, "Terimakasih Bryanna yang baik." sahutku, memeluknya.


"Kapan kunjunganmu berikutnya, Dream?" tanya Bry.


"Minggu depan lagi." sahutku.


"Apakah kamu bisa menghubungi pengacaramu yang disana Kai?" tanya Bry.


Kai mengangguk, "Aku akan menghubunginya hari ini. Akan kukabari secepatnya." seru Kai.


"Dan dimana V?" tanyaku, karena sepanjang pagi ini aku belum melihatnya.


"V sedang aku delegasikan untuk mewakilimu, Dream. Karena ini lebih penting untukmu, menurutku." jawab Kai.


"Dan kalau kalian menikah, otomatis saham tersebut akan menjadi miliknya secara tidak langsung, karena kalian orang tuanya." jelas Kai menambahkan.


"Aku akan mencari tahu tentang ibu Jean dan Jeannete, atau bahkan ayahnya." ucap Kai, "dan Dream, tolong jangan gegabah, tenang, dinginkan kepalamu, baru bertindak." seru Kai memperingatkanku.


Itu sulit. Yang ada di dalam pikiranku adalah, aku akan meracuni Robbie. Aku akan memberinya amatoksin, racun yang perlahan-lahan menyebabkan kematian. Aku memegang ujung kepala kanan dan kiriku, aku rasa sebentar lagi aku akan mengeluarkan tanduk. Sabar Dream...sabarlah.


...----------------...


Minggu berikutnya adalah minggu kunjunganku, aku mengajukan dokumen hak asuh ditemani Kai, Bry, dan tentu saja V, yang sudah mengaku ayah dari Jean dan Jeannete, dan bahkan meminta mereka memanggilnya dengan sebutan papa V.


"Hai, Jean, Jeannette, mulai minggu ini dan seterusnya, panggil aku dengan sebutan papa. Papa V, ini papa Kai, itu mama Bry, dan ini..."


"Lunaku!!" sahut mereka berbarengan, memotong ucapan V. Aku tersenyum lebar.


"Baiklah, Lunaku." sahut V lagi.


"Kalian tunggulah disini bersama Nancy aku dan Luna akan mengurus beberapa dokumen penting." sahut V dengan lembut kepada mereka. Aku memandangnya, manis sekali pria ini.


V menangkap tatapanku, "Ada apa denganmu?" tanyanya.


Aku mengedikkan bahuku, dan tersenyum," tidak ada apa-apa. Ayo." sahutku.

__ADS_1


Jadwal kami cukup padat hari ini, karena Robbie tidak mau bernegosiasi, jadi kami harus menyiapkan pengacara, hari ini juga kami akan bertemu dengannya.


Setelah menyerahkan dokumen pemindahan hak asuh, kami pergi menemui pengacara, teman Kai.


Kami berjanji akan bertemu dengannya di sebuah restoran hotel, dan begitu kami sampai di hotel tersebut, aku melihat seorang pria melambaikan tangan ke arah kami, tidak ada yang akan tau bahwa pria itu adalah seorang pengacara, bahkan dia hanya memakai kaos, celana pendek, dan sepasang sandal gunung, jauh dari pandanganku tentang pengacara elit.


"Derrick," katanya menjabat tangan kami, "Duduk....duduklah, silahkan duduk." sahutnya mempersilahkan kami untuk duduk, "Apa kabar kamu, Kai?" tanyanya.


"Kabar baik, sobat. Bagaimana denganmu?" balas Kai.


"Selalu baik, aku selalu baik." jawabnya tersenyum ramah.


Kai menyerahkan dokumen permintaan pembatalan adopsi Jean dan Jeannete kepada Derrick, kemudian Derrick membacanya sambil sesekali mengangguk. Setelah membaca, dia bertanya kepada Kai tentang bagaimana situasi saat ini, dan Kai menjelaskan dengan singkat dan padat.


"Karena saham? 6% dari keuntungan per kapita perusahaan itu cukup kecil loh, kenapa mau dipindah tangankan? Toh keuntungan Robbie lebih besar. Serakah sekali. Aku pikir permasalahan utamanya bukan pada saham." jelas Derrick.


Aku memainkan bibirku, dan menatap Kai, "Dia mengajukan syarat." seruku kepada Derrick.


"Pernikahan? Apa kalian pernah berhubungan sebelumnya?" tanya Derrick lagi.


Aku memandang teman-temanku, "Pernah." jawabku singkat kepada Derrick.


"Apa mungkin kalian putus dengan tidak baik?" tanya Derrick lagi.


Kai akhirnya menjelaskan, "Maksudku, tidak mungkin kan dia mengingat moment itu, sedangkan mengingat aku dan V saja dia tidak bisa." jelas Kai.


"Aku sudah mengirimkan pesan kepadanya, untuk bertemu kita disini." jawab Kai.


"Oke, berarti kita tinggal menunggu kan? Mari makan dulu." katanya, dan memanggil waitress untuk memesan makanan.


Beberapa jam kemudian, Robbie datang dengan membawa segala kepongahannya, dan di belakangnya dua orang pengacara menemaninya. Aku akui, Robbie memang terlihat tampan, ah tapi perasaanku sudah hilang terbawa badai sejak dia berusaha menculikku dalam kondisi mabuk.


"Halo, silahkan di lanjut, dan aku pikir, pengacaramu bisa berdiskusi dengan pengacaraku." sahutnya sombong. Bisa terlihat pengacara yang dibawanya adalah pengacara terkenal, karena begitu mereka masuk, banyak orang yang mengalihkan perhatiannya ke arah pengacara Robbie.


Kami menunggunya, Derrick santai sekali menanggapi segala tuntutan yang di ajukan oleh Robbie dan pengacaranya, dan Robbie tampak bangga dan yakin akan memenangkan kasus ini.


"Hei, V. Aku akan pergi ke toko bahan kimia, aku akan membeli sianida dalam jumlah besar. Semakin lama keinginanku untuk meracuni Robbie semakin besar." bisikku kepada V.


V tertawa keras, semua memandangnya, "Maaf, maafkan aku." katanya membungkuk dan berdiri, "Kamu lucu sekali, Dream. Aku jadi ingin menciummu." kata V.


"Bodoh sekali kamu! Mana ada lucu jadi ingin mencium!" sahutku.


"Dulu kamu terkena racun Robbie sampai kalian tidak bisa lepas satu sama lain, dan sekarang kamu akan meracuninya." sahut V masih tertawa kecil, "Menikahlah denganku, maka masalah ini akan dapat kita menangkan." sahutnya lagi.


"Aku sudah berkali-kali menyampaikan kepadamu, tunggu aku memenangkan kasus ini, baru aku akan menikah denganmu." sahutku membalas bisikannya.


Robbie sedari tadi memperhatikan aku dan V yang asik berbisik, dan tiba-tiba saja dia berdiri, dan berjalan ke arah para pengacara yang sedang berdiskusi, kemudian dia berbisik kepada salah satu pengacaranya, dan setelah itu dia pergi.

__ADS_1


Kami memandangnya dengan heran, "Aku semakin ingin memenangkan hak asuh Jean dan Jeannete, bisa sawan mereka melihat kelakuan ayahnya yang seperti itu " sahutku.


Tak lama, Derrick datang, "Ehem, jadi semua tuntutan dibatalkan, dengan syarat, Luna harus menikah dengannya, tidak boleh dengan orang lain." jelas Derrick, "menurut pengacaranya, pertimbangannya adalah kamu sudah mengenal anaknya dengan baik, jadi tidak ada masalah jika kalian menikah, pertimbangan yang kedua, kliennya tidak menyukai V yang dianggapnya terlalu dekat denganmu." tambah Derrick.


"Aku rasa, kita harus mundur dulu, Dream. Kasihan Jean dan Jeannete mereka akan bingung. Kita tidak diam saja, kita bergerak dalam ketenangan, tanpa emosi. Mencari tau keberadaan ibu Jean dan Jeannete. Dia kunci dari segalanya." jelas Kai.


"Baiklah, aku setuju." sahutku dan mengakhiri pertemuan hari itu.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Mengapa kalian menyukai Lunaku?" tanyaku saat Jean dan Jeannete bermain di tahun waktu kami.


"Dia lucu."


"Dia baik."


"Dia pintar."


"Dan dia cantik."


"Aku yakin semua pria menyukai wanita cantik. Dan Lunaku memiliki segalanya.". jawab Jeannette.


"Ya, aku pun menyukainya." sahutku.


"Papa Robbie juga. Walaupun banyak tante yang papa bawa, tapi setiap kali kami habis bermain bersama Luna, papa selalu bertanya tentang Luna." sahut Jean atau Jeannette, aku belum pandai membedakan mereka.


"Bagaimana dengan ibu kalian?" tanyaku lagi.


"Mami Quincy. Papa pernah memberitahukan kami, nama mami kami itu mami Quincy, iya kan Jean?" jawab Jeannette, yang ternyata rambutnya lebih ikal daripada saudaranya.


"Aku ngga mau mami Quincy, Jeannette, aku mau Luna!" sahut Jean.


"Aku juga mau Luna, aku ngga mau mami Quincy atau pap Robbie." sahut saudaranya.


"Kenapa tidak mau dengan papa Robbie?" tanyaku menyelidik.


"Papa Robbie menyuruh mami Quincy pergi, pergi..pergi...katanya." sahut Jean.


Jeannette mengangguk, "Iya. Seram." sahutnya.


Aku mengamati mereka berdua, mereka punya trauma yang cukup dalam di usia sekecil itu. Wajar saja Dream memperjuangkan mereka. Dan itu memang bukan keputusan mudah untuknya, tapi itu keputusan terbaik yang bisa dia pikirkan. Aku semakin mencintai wanita yang keras kepala itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2