
"Kai!! Apa kamu sudah dengar rencana gila, Dream?" tanya V yang berteriak-teriak setelah aku menanyakan rencanaku untuk mengajak Robbie kesini.
Kai memandangku, kemudian mengangguk lemas, "Cepatlah kalian menikah, setelah itu buatlah anak sebanyak mungkin, jadi kamu..." sahut Kai menunjukku, "tidak akan sempat memikirkan orang lain atau sesuatu yang gila." kata Kai menambahkan.
"Aku tidak gila, Kai. Hanya kasihan saja padanya." sahutku membela diri.
"Itu lingkaran setan yang tidak akan ada habisnya, Dream. Kamu bersimpati kepadanya, lalu kamu bawa kesini, dia mengacaukan pernikahanmu, kalian tidak jadi menikah, lanjutkan saja seperti itu!" seru Kai.
"Ya, bagaimana lagi, Kai. Lihat saja raut muka si author, dia sendiri bingung mau akhiri Robbie bagaimana enaknya, apalagi aku kan? Salahkan dia, jangan aku!" tukasku kesal.
"Sudahlah, Dream, lupakan dia. Seperti kata Kai, itu hukum alam, karena kamu sudah tidak ada di hidupnya lagi, begitu pula yang terjadi dengan Quincy atau Sarah. Kita akan memudar di tahun waktu mereka." sahut V.
Aku mengangguk, "Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi."
"10 hari, Dream. Dalam 10 hari, dia akan melupakanmu, maupun Jean dan Jeannette dalam 10 hari. Kuatlah, Dream." sahut Kai.
Aku berusaha untuk mengikuti ucapan Kai. Aku berusaha untuk fokus ke Jean, Jeannette dan pernikahanku. Aku sudah berkoordinasi dengan mentri pengurus tata kota, bahwa saat aku menikah nanti, aku tidak mau ada pers dalam bentuk robot, surrogate, atau bahkan manusia sungguhan datang ke pernikahanku.
Sebaliknya, aku akan menyiarkan ini melalui videtron hologram, yang akan ada di 4 taman lainnya. Pernikahanku akan di adakan di Paradise Park. Dan para pers itu hanya bisa menyaksikan pernikahanku melalui video hologram tersebut.
Begitulah, untuk gaun dan lain-lain, aku akan memakai yang waktu itu aku gunakan saja. Aku tidak mau repot untuk membeli yang baru. Aku hanya akan membeli untuk Jean dan Jeannette.
"Aahhh.... kalian manis sekali." sahutku, saat Jean dan Jeannette mencoba gaun pengantin berwarna ungu dengan perpaduan warna silver, dan renda di lengan gaun itu, menambah kesan manis untuk mereka. Dan nantinya mereka akan menjadi pembawa cincin, dengan masing-masing yang akan diberikannya untukku dan untuk V.
Aku memilihkan Bry dan Kai gaun dan kemeja serta jas dengan warna senada. Begitu pula dengan orangtuaku. Aku tidak sabar dengan acara pernikahanku.
"Kamu akan memakai gaun yang kemarin? Lalu kenapa aku harus berbeda?" protes V.
"Kan untuk menyamakan warnanya, V." jawabku, "Kalau aku, lebih suka berwarna putih." sahutku.
V menggoyangkan dua jarinya di depanku, "No...no! Warna gaunmu harus sama dengan kami. Ayo!" katanya, dan menarik tanganku.
"Tolomg ukur dia. Buatkan dia gaun seperti ini, dengan perpaduan warna ini, dan aku ingin ada ininya disini, dan disana. Ikuti saja gambar polanya." seru V.
"Gaun model apa itu?" tanyaku, melongok dengan berjinjit untuk melihat gambar yang diberikan V kepada robot penjahit.
V menarikku lagi, "Sekarang rambutmu. Aku suka rambut hitammu." katanya.
__ADS_1
Aku memegang rambutku, "Tidak akan V. Aku tidak akan menghitamkannya lagi!" sahutku.
V tertawa, "Tidak. Aku suka dengan dirimu yang mana saja, Dream. Percayalah, semua gaun-gaun dan hiasan rambut itu tidak akan gunanya saat malam hari." kata V tertawa.
"Lantas, kenapa juga aku harus membuat gaun baru?" tanyaku tidak percaya.
"Ini hari kita, Dream. Hari dimana kamu bisa dan boleh tampil cantik." jawab V. Aku tersenyum mendengar jawabannya, dan menggandeng tangannya.
...----------------...
Tak terasa sudah 7 hari berlalu semenjak kunjungan terakhirku ke rumah Robbie. Seperti kata Kai, ini seperti hukum alam, dalam 10 hari dia akan melupakan kami, jadi aku tidak boleh memikirkannya lagi.
Dan minggu ini, benar-benar kunjungan kami yang terakhir kesini, jadi aku berharap Robbie belum melupakan anak-anaknya.
Sesampainya di rumah Robbie, yang menyambut kami adalah Nancy, dan sama seperti Robbie, ingatannya tentang kami memudar dan perlahan menghilang. Perlu waktu cukup lama baginya untuk mengingat kami.
"Luna? Luna siapa? Kayaknya aku pernah dengar nama itu, namanya tidak asing. Dan ini anak-anak siapa?" tanya Nancy kebingungan. Sampai akhirnya dia mengingatnya.
Rasanya sedikit menyakitkan melihat orang lain melupakan kita persis di depan mata kita sendiri. Kami menemui Robbie, dan reaksinya adalah, dia terdiam beberapa saat,
"Tunggu sebentar, aku pernah melihat kalian sebelumnya. Tapi....tunggu...tunggu... siapa namamu tadi? Luna....Luna... Luna siapa yah? Dan ini? Anak-anakmu kah?" tanyanya.
"Begini, aku berasal dari masa depan, dan kita pernah berhubungan sekitar setahunan yang lalu......" aku menceritakan kepada Robbie siapa aku, darimana asalku, bagaimana kita bertemu, bagaimana kami gagal melanjutkan hubungan kami.
"Apa??! Kamu menanam chip di kepalaku??!!! Tidak...tidak....tidak mungkin!!" sahutnya.
"Dengar dulu, biarkan aku menyelesaikan ceritaku!!" sahutku kesal.
Aku melanjutkan ceritaku, saat kedua kalinya aku bertemu dengannya, dan bagaimana anak-anaknya bisa ada padaku. Selesai aku bercerita, Robbie hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja aku ceritakan kepadanya.
"Jadi, kamu dari masa depan? Bagaimana kamu bisa ada disini? Maksudku, yang aku tau, itu hanya ada di film Doraemon. Kamu tau apa itu Doraemon, kan? Aku rasa tidak tau. Apa kamu melewati laci dengan jam di sekelilingnya?" tanya Robbie beruntut.
Aku hanya mengangguk, "Ya, kira-kira seperti itu." jawabku.
"Dan laci mana yang kalian gunakan?" tanyanya.
Aku tertawa, "Itu rahasia." sahutku.
__ADS_1
"Jika aku menolak untuk melupakanmu, apa yang terjadi?" tanya Robbie lagi.
"Kamu pasti akan melupakanku, Rob. Dan sebelum kamu melupakanku sepenuhnya, aku hanya ingin mengatakan sesuatu lagi, kali ini tidak akan panjang." sahutku.
Aku mendekatkan wajahku, dan mencium bibir Robbie, "Bagaimana pun kamu pernah berada di dalam hidupku, dan aku pernah mencintaimu. Ingatlah sepanjang hari ini, bahwa, ada sedikit ruang yang aku tinggalkan untukmu, dan disana aku penuhi dengan semua kenangan tentang kita, Rob. Kamu selalu mendapatkan ruang di hatiku. Jadi, kumohon, jangan pernah kesepian lagi." sahutku.
Robbie menangkupkan telapak tangannya di wajahku dan menciumku lembut, "Aku tidak tau siapa dirimu, dan sejauh apa hubungan kita, aku tidak bisa merasakannya, hanya saja, dari dalam lubuk hatiku, mereka enggan melepasmu. Maafkan aku kalau aku menciummu." katanya lagi, dan menciumku kembali. .
Tepat pukul 00.00....
Dia melepaskan ciumanku, dan kemudian dia memberikanku sejumlah uang, "Sepertinya aku terlalu banyak minum, bahkan aku tidak sadar aku membawa pulang seorang wanita lagi. Pergilah." sahutnya cuek.
Aku mengajak Jean dan Jeannette yang sudah tertidur, dan aku letakkan mereka di dorongan yang aku bawa, aku menuju lorong waktu. V dan Kai sudah menungguku disana.
Bye, Robbie. Semoga kamu selalu berbahagia, doaku dalam hati.
.
***Bonus : Visual Robbie.
Pria dewasa yang tampan, dengan suara yang dalam, dan seksi***.
...----------------...
EPILOG
V POV
"Bagaimana dengan Dream, V?" tanya Kai.
"Dia masih menangis." aku menjawabnya. Setelah kami menjemputnya tadi malam, Dream segera masuk ke dalam ruangannya, mengunci dirinya sendiri disana.
"Biarkan dia, V. Robbie mempunyai tempat yang cukup besar di hatinya. Wajar kalau dia seperti itu. Cukuplah berada di sisinya tanpa komentar apapun. Begitulah cara menenangkannya." sahut Kai.
Aku mengangguk, menuruti nasihat Kai. Kai ibarat pawangnya Dream. Dia tau segala yang Dream butuhkan, bahkan hanya dengan tatapan mata Dream, Kai sudah bisa paham, apa yang dia perlukan.
__ADS_1
Jadi, aku akan menunggunya di depan kamar Dream, dan berharap dia segera keluar dan mau membagi kegalauan serta kesedihannya.
...----------------...